Audiensi Forum Peserta JKN Boyolali Bersama Kepala Cabang BPJS Kesehatan

Audiensi SPEK-HAM bersama Forum Peserta JKN Boyolali bersama Kepala Cabang BPJS Boyolali

Berlatar belakang temuan-temuan di masyarakat terkait juga untuk mendorong BPJS Kesehatan lebih memiliki perhatian dalam upaya pencegahan penyakit, terkait layanan IVA Test, forum peserta JKN Boyolali mengadakan audiensi kepada Kepala Cabang BPJS Kesehatan Boyolali, Juliansyah, Selasa (28/5). Rahayu Purwaningsih, Direktur SPEK-HAM yang mengikuti audiensi mengatakan bahwa adanya JKN, membantu perempuan untuk pencegahan penyakit. Dari 81 IVA Test yang telah dilakukan di faskes tingkat satu, terdeteksi 15 perempuan positif mengidap kanker serviks, dan 13 perempuan menderita penyakit kelamin. Namun banyak temuan kasus di masyarakat yang membutuhkan klarifikasi dari pihak BPJS Kesehatan.

Beberapa masalah terkait yang ditemukan di masyarakat adalah kamar untuk rawat inap yang selalu penuh jika hendak mengakses menggunakan JKN, juga layanan yang ramah pasien, seperti di salah satu puskesmas di Boyolali, tidak memberikan layanan yang ramah kepada pasien JKN, serta jam yang molor misalnya antre jam 8 pagi tetapi baru dilayani pukul 11 siang. ‘Masyarakat juga belum tahu mekanisme pengaduannya bagaimana, dan ke mana. Kami butuh tahu apakah BPJS sendiri ada monitoring dan evaluasi,” ujar Henrico Fajar dari SPEK-HAM.

SPEK-HAM sendiri menurut Rahayu Purwaningsih pernah melakukan riset tekait JKN di Kabupaten Boyolali dimulai tahun 2016 dan saat ini sudah tahap ketiga. SPEK-HAM juga terlibat JP2K Nasional. Selain itu juga bekerja bersama kelompok perempuan, mencoba menjaring persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan untuk mendapatkan akses layanan BPJS.” Beberapa temuan preventif seperti mendapatkan akses IVA test sebagai upaya pencegahan. Banyak perempuan yang datang ke layanan kesehatan disaat kondisinya sudah sakit, pendarahan dll,”terang Rahayu Purwaningsih. Rahayu juga menambahkan bagaimana dengan korban perkosaan terkait visum, apakah bisa diakseskan pada JKN BPJS.

suasana audiensi

Juliansyah, Kepala Cabang BPJS Kabupaten Boyolali memberi apresiasi yang bagus kepada SPEK-HAM yang telah membantu akses layanan promotif dan preventif. BPJS memiliki layanan preventif, kuratif dan promotif. Promotif dan preventif adalah upaya yang selalu digencarkan karena proses ini membutuhkan biaya relatif lebih kecil dibanding dengan proses kuratif, karena pembiayaan untuk kuratif mau diberikan dana sebesar apapun akan jebol juga.” Kita juga ada target IVA, semoga tahun ini bisa meningkat dengan bekerjasama dengan SPEK-HAM. Layanan IVA bisa dilakukan di Puskesmas tempat terdaftarnya faskes juga bisa dilakukan di swasta (Sarana Medika dan Prodia),”ujar Juliansyah. 

Menurutnya, deteksi dini sangat penting, karena jika sudah diketahui terlambat maka pembiayaan yang harus ditanggung BPJS juga semakin besar, karena biaya kemoterapi sangat mahal. Kebijakan ke depan upaya preventif dan promotif menjadi tanggung jawab puskesmas atau kemenkes bukan lagi menjadi tanggung jawab BPJS. BPJS menargetkan tahun ini untuk kepesertaan adalah 85% karena pada tahun lalu baru 80%. Angka yang masih di bawah dibandingkan Kabupaten Klaten sebesar 91%. (red).  

Share This: