Case Conference terkait Program HIV dan AIDS di Puskesmas Boyolali

Suasana diskusi

Selasa (24/9) bertempat di Puskesmas Boyolali, beberapa pendapat diperoleh dari pegiat di Jakarta, penilaian tentang program HIV dan AIDS, temuan positif yang sangat rendah. Mestinya ketika banyak sosialiasi HIV seharusnya banyak yang datang untuk periksa namun pada kenyataannya masih rendah. “Seharusnya ada pada garis positif red, program kita three zero,” ungkap Henrico Fajar, staf SPEKHAM.

Menurut Henrico Fajar, untuk menghentikan kematian, butuh kemampuan menemukan HIV positif yang tinggi dan segera ditangani agar bisa menghadapi hidup kembali.

Catatan pentingnya yakni bagaimana para penjangkau lapangan dapat menaikkan/menemukan catatan positif yang sampai hari ini masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ kita bersama.

Mengenai fenomena MSM juga terdapat perubahan, jika dulu berfokus pada hotspot namun sekarang juga melalui media sosial dan ada aplikasinya. Berita baik tentang perkembangan dari MSM, yakni sudah mau periksa sendiri setiap tiga bulan sekali.

Mengenai cakupan populasi kunci, para penjangkau lapangan juga berkomitmen bahwa sudah membantu populasi lainnya selain waria dan MSM.

Para penjangkau lapangan tidak hanya konsentrasi di isu populasi kunci namun juga Ibu Rumah Tangga (IRT). Dengan intervensinya di tingkat Solo Raya, mereka memberikan pelayanan dan pendampingan. Sedangkan di tingkat provinsi memiliki wadah sendiri untuk para IRT yang mengidap HIV.  

Beberapa wilayah punya nama sendiri dan berjejaring dengan pemerintah daerah bersama dinas pemberdayaan. Fasilitas sudah tersedia namun ada beberapa yang butuh support untuk menggali keterampilan (misal keterampilan wirausaha dan lain sebagainya). IRT dengan HIV positif merupakan korban kekerasan karena mereka tertular dari suaminya. Saat ini penjangkauan HIV di Boyolali sudah tidak aktif, yang kemudian menjadi ranah Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).

Dari pihak Puskesmas Boyolali memaparkan bahwa banyak pasien yang drop out (DO) dan akhir-akhir ini banyak yang berjatuhan. Dalam kurun beberapa bulan ada kematian B20. Penjangkau lapangan yang tidak jalan, jadi three zero tidak jalan pula.

Ada pasien yang berobat setelah itu lalu menghilang. Kadang nomer ponsel diblokir, dihubungi tidak membalas. Namun sebenarnya dari pihak puskesmas sudah menghubungi akan tetapi kadang hanya janji-janji saja untuk berobat kembali.

Selama ini penjangkau lapangan hanya seorang saja, namanya Menik. Jika satu kabupaten hanya dijangkau satu orang saja tetap tidak mampu dan tidak efektif. Hal ini berakibat pasien banyak berjatuhan. Menjadi ironis di Solo Raya hanya Boyolali yang tidak ada pendampingan, Klaten dan Sukoharjo masih ada. “Sukoharjo bagus mereka membuat KDS yang berbadan hukum. Berapa personil tahu ada manfaatnya, karena mereka bisa mengakses dari dana APBD, dan hal ini belum muncul di Boyolali,”tutur narasumber mewakili Puskesmas Boyolali.

Tantangan ke depan adalah bagaimana cara untuk menyampaikan pada orang-orang seperti Menik untuk merapatkan barisan SDM. Hal ini menjadi tugas KDS yang memiliki PEKA sebagai lembaga di atasnya. Kalau di Kabupaten Klaten, PEKA ada kunjungan namun hanya berfokus membahas kasus di Klaten saja. Dan untuk Boyolali ini kesulitan mencari petugas, apalagi teman-teman HIV banyak yang menghilangkan kontak dan banyak yang meninggal.

PEKA di tingkat nasional satu organisasi dengan SPEK-HAM, namun mereka memang secara jobdisk berbeda. Kalau SPEKHAM bertugas menjangkau dan merujuk, PEKA mendampingi sebaya. Kebijakan PEKA memangkas, KDS Boyolali berbarengan dengan Salatiga sehingga dananya juga untuk bersama, dan hal tersebut menghambat kinerja penjangkau. Di dalam intern kadang ada perbedaan. Seharusnya di kalangan internal harus ada koordinasi terlebih dahulu, dulu setelah bertemu HIV positif kemudian dipantau sehingga bisa efektif. 

Yayasan SPEKHAM bergabung dengan PEKA maka idealnya harus lebih bersinergi untuk temuan HIV positif yang lebih banyak lagi. Terkait dengan masukan untuk SPEKHAM untuk menemukan temuan-temuan berisiko termasuk populasi kunci itu bagaimana supaya lebih maksimal. Misalnya dari layanan puskemas sendiri ditemukan B20 dan tidak didampingi SPEKHAM apakah dari pihak SPEKHAM minta datanya. Kalau B20 ditemukan dari populasi kunci maka SPEKHAM  minta data. Kalau di karaoke masuk dalam WPS namun SPEKHAM juga membantu. (red)

Dari evaluasi di kantor pusat Jakarta, untuk target B20 tidak ada namun target VCT ada yakni melakukan VCT 600 jiwa namun yang ditemukan hanya tiga positif maka hal ini dipertanyakan. “Sudah banyak yang terindikasi namun teman-teman belum menjangkau dan belum bisa membongkar jaringan yang sulit. Boyolali pinggir yang berbatasan dengan Karanganyar dan Sukoharjo belum disentuh karena jauh,”ujar Henrico Fajar memberi paparan kembali.

Saran dan masukan dari Puskemas Boyolali 1 adalah untuk lebih bisa menjangkau dan memperhatikan sekolah-sekolah, dan tempat nongkrong anak SMA/SMK. Karena sekarang mulai dari lulus SMA sudah banyak jaringan. Ditemukan lulusan SMK yang orangnya berperilaku sedikit ‘melambai’ dan sudah mengakui. Di Kecamatan Musuk juga banyak waria.

Pihak puskemas menemukan HIV dengan TB MDR. Ditemukan juga WPS di Boyolali dan dipulangkan ke Sragen, dan belum bertemu dengan SPEKHAM. Ia hanya mengambil obat satu kali kemudian menghilang. Padahal kerjanya tetap di Boyolali, yang menjadi masalah adalah kenapa harus dipulangkan ke Sragen. Spekulasi dipulangkan karena ada perda yang akan menutup lokalisasi. Belum lagi keluarga di Mojosongo, sering menghubungi untuk mau mengambil obat namun tidak diambil. (mhhsw mgg/red)

Share This: