Gunakan media alternatif ditengah Covid-19, Jagongan online tentang Kespro di dua kecamatan di Klaten libatkan kader kesehatan dan remaja.

Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus corona menjadi pembicaraan yang istimewa saat ini, paska di temukannya pasien positif meninggal di kota Surakarta yang akhirnya dikeluarkannya kebijakan-kebijakan di semua Kabupaten sekitar. Kabupaten Klaten merupakan wilayah dampingan SPEK-HAM yang mengeluarkan kebijakan yang sangat cepat mengikuti kebijakan yang dibuat kota Surakarta, diantaranya meliburkan sekolah dari tingkat PAUD, TK, SMP dan SMA serta menunda semua kegiatan-kegiatan yang mengumpulkan masa, baik kegiatan yang dilakukan bupati maupun kegiatan-kegiatan organisasi tingkat desa. Kebijakan pemerintah tentunya juga berimbas terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan SPEK-HAM bersama komunitas di Kabupaten Klaten, di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah dalam program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) bersama dengan IPAS Indonesia.

SPEK-HAM mulai menggunakan alternatif beberapa media online untuk terus melakukan edukasi seputar kesehatan reproduksi pada kelompok dampingan program PEKERTi di Klaten, ditengah mewabahnya COVID-19 dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang membatasi/menunda kegiatan yang melibatkan massa. Atas inisiasi teman-teman CO , dorongan dan keinginan komunitas untuk bertemu, maka kami mewadahi keinginan tersebut dengan mebuat ruang-ruang diskusi melalui media online di WA group, dimana didalam diskusi tersebut terdapat moderator sebagai pengatur jalannya diskusi dan juga ada Narasumber, yang melibatkan SPEK-HAM maupun dari OPD terkait. Kecamatan Klaten Tengah mengawali kegiatan diskusi online dengan tema “ Kesehatan Reproduksi dan Pemihakan Desa/kelurahan “ dengan narasumber Mbak. Rahayu Purwaningsih dari SPEK-HAM dan Moderator mbak.Liza, diksusi online ini diikuti oleh 25 kader kesehatan perempuan dewasa Kecamata Klaten Tengah. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dalam diskusi pada Jumat Malam, 20 Maret 2020, 19.00 s/d 20.00 : Kelurahan / desa bisa didorong untuk melakukan pemihakan untuk posyandu remaja melalui program dan dana desa/kelurahan, Posyandu remaja bisa menjadi sarana untuk melakukan edukasi bagi remaja dan kita sebagai pendamping harus kreatif dengan penggunaan metode pembelajaran, banyaknya AKI di kelompok ibu remaja karena keguguran, anemia dan kekurangan gizi, dikarenakan minimnya edukasi, angka kehamilan remaja yang tinggi menjadi keprihatinan bersama.

Diskusi oline yang ke dua dilakukan di Kecamatan Bayat bersama dengan kelompok remaja perempuan dengan pokok pembahasan tentang “ Kekerasan Dalam Pacaran “, Moderator kegiatan ini adalah Ayun dan Elizabet Yulianti sebagai narasumber . Banyak sekali muncul cerita dari diskusi ini diantaranya bentuk kekerasan, baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Selama hampir satu jam berdiskusi, group remaja perempuan bayat sudah memahami seluk beluk kesehatan reproduksi terkait dengan hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memberi dampak positif untuk kedua belah pihak, tidak boleh ada kekerasan, ancaman, ataupun bentuk apa pun yg bersifat menyakiti. Kekerasan dalam Pacaran ada 3 : kekerasan fisik : memukul, menampar, menendang. kekerasan verbal/ berupa perkataan/ yang diucapkan:berkata kasar, membentak, ancaman dan bullying. Kekerasan psikis: dibohongi, dipaksa, diancam, ditakut-takuti, di posesif in. Kegiatan ini merupakan rangkaian awal paska Surat Edaran Bupati Klaten tentang pencegahan COVID-19 di keluarkan. Danang Wijayanto – Manager Divisi Kesmas

Share This:

Post Tagged with , ,