LUMBUNG PEREMPUAN: Share to Change the World

lumbung-perempuan

lumbung-perempuan

LUMBUNG PEREMPUAN: Share to Change the World

SPEK-HAM menyadari bahwa tidak ada satu institusi manapun yang mampu bekerja sendiri, seberapapun banyak sumber daya dan kompetensi yang dimilikinya. Kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak sangatlah dibutuhkan, tidak hanya untuk memastikan keberlanjutan sebuah program, namun juga untuk meningkatkan rasa tanggung jawab bersama. Membangun kesetaraan peran dari semua pemangku kepentingan merupakan kunci komitmen SPEK-HAM dalam mendorong keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Kami percaya, penyatuan nilai-nilai dan kepentingan bersama dari berbagai pemangku kepentingan (pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat), akan menghasilkan sebuah koalisi yang kuat untuk perubahan dunia secara signifikan.

Menapaki tahun ke-17, SPEK-HAM berkarya bersama masyarakat untuk membangun keberlanjutan secara mandiri. Melalui moment 17 tahun SPEK-HAM, kami  melakukan program penggalangan dana publik dengan nama “Lumbung Perempuan”. Lumbung Perempuan merupakan program untuk menggalang dan mengelola dana dari publik. Dana donasi publik ini akan didedikasikan untuk pencegahan-pemulihan perempuan dan anak korban kekerasan, pencegahan kasus-kasus kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan ODHA (orang dengan HIV-AIDS), serta pemberdayaan ekonomi untuk perempuan miskin dan kepala keluarga.  Lumbung Perempuan ini dilaksanakan oleh Yayasan SPEK-HAM, dan didedikasikan bagi perempuan dan anak di seluruh Indonesia.

 

MENGAPA BERNAMA LUMBUNG PEREMPUAN?

Istilah Lumbung, sudah dimengerti oleh masyarakat Indonesia. Secara umum, lumbung merupakan tempat menyimpan hasil bumi/pertanian dan berbagai benih/bibit. Sejak zaman dulu, lumbung berfungsi untuk menopang ketahanan pangan yang mampu meningkatkan posisi tawar petani. Lumbung telah hidup dan menjadi bagian perkembangan kebudayaan masyarakat, serta menjadi kelembagaan sekaligus sistem pangan yang tahan banting.

Di jaman modern ini, produk yang dihasilkan dan disimpan masyarakat dalam lumbung, bukan melulu hasil pertanian, namun juga bisa berupa uang, ataupun produk lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk menopang kehidupan. Dalam praktiknya, lumbung melibatkan laki-laki dan perempuan. Perempuan berperan penting dalam seluruh proses dan kegiatan, mulai dari penyimpanan, pengelolaan benih, produksi, motor bagi pengelolaan keuangan mikro, leader bagi proses pendidikan pangan, hingga pengaturan pola konsumsi untuk keluarga.

Dalam konteks penggalangan dana publik ini, “Lumbung Perempuan” dimaknai sebagai penopang kehidupan bagi perempuan agar berdaya sehingga menjadi kekuatan yang berdiri setara dengan lelaki untuk mengubah dunia lebih adil, damai, dan penuh kasih sayang. Lumbung Perempuan memiliki logo “Perempuan Merengkuh Bumi”, yang berarti melambangkan kasih sayang dan kedamaian bagi seluruh mahluk hidup di alam semesta. Lumbung Perempuan juga memiliki tagline “Share to Change the World”, merupakan spirit yang mengajak semua pihak untuk ambil bagian dalam merubah dunia yang lebih baik. Dunia yang berkeadilan gender, damai, penuh kasih sayang, tidak ada lagi kekerasan dan kemiskinan yang dialami oleh perempuan (dan anak).

MENGAPA LUMBUNG PEREMPUAN ADA?

Komnas Perempuan mencatat ada 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan (KtP) yang terjadi sepanjang tahun 2015. Kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) menjadi kasus yang paling menonjol terjadi, yaitu sebesar 316.742 kasus, dan kekerasan seksual menempati urutan kedua dengan jumlah 3.325 kasus yang terlaporkan. Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun oleh Forum Pengada Layanan (FPL) Jateng terdapat 1.227 orang perempuan yang menjadi korban kekerasan pada tahun 2015, dan 70% diantaranya menjadi korban kekerasan seksual.

Kasus KtP cenderung selalu naik setiap tahun, itupun masih menjadi fenomena gunung es, artinya fakta sesungguhnya lebih besar terjadi dari pada kasus yang terlaporkan. Setiap hari selalu ada perempuan yang mengalami kekerasan berbasis gender di seluruh Indonesia. Bahkan Komnas Perempuan mencatat bahwa dalam waktu tiga belas tahun terakhir, kasus kekerasan seksual berjumlah 93.960 kasus dari total 400.939 kasus kekerasan yang dilaporkan (Januari 2013). Artinya, setiap hari ada 20 perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Disebutkan lebih lanjut bahwa pada tahun 2013 kasus kekerasan seksual bertambah menjadi 5.629  kasus dari 4.336 kasus di tahun 2012. Ini artinya setiap 3 jam setidaknya ada 2 perempuan menjadi korban kekerasan seksual.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan yang kompleks, karena rentetan dampak yang dialami korban sangat banyak, mulai dari dampak psikologis, sosial, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. KdRT yang dialami perempuan juga berdampak pada tumbuh kembang anak, bahkan tidak sedikit anak dari perempuan korban harus mengalami drop out dari sekolahnya karena faktor ekonomi. Untuk itu Lumbung Perempuan hadir sebagai upaya kita bersama turut serta mengambil peran untuk pemenuhan hak korban (baik perempuan maupun anak) dari pencegahan hingga tahap pemulihan.

Persoalan kesehatan reproduksi juga tidak kalah memprihatinkan. Berdasarkan data KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), estimasi jumlah penduduk Indonesia yang mengidap HIV-AIDS sebanyak 683.000 kasus. Sampai September 2015, jumlah kasus yang ditemukan di Indonesia sebanyak 184.929 kasus. Jawa Tengah menjadi propinsi urutan tertinggi ke-5, dengan jumlah temuan kasus sebesar 12.267 kasus HIV-AIDS. Sementara itu, per Desember 2015, angka kasus temuan HIV-AIDS di Solo Raya sudah mencapai angka 1.721 kasus.

Pihak yang paling menderita dari kasus kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS adalah perempuan. Mengapa? Karena perempuan adalah korban dari ketidaktahuan informasi. Ibu rumah tangga memiliki posisi tawar yang lebih rendah dalam menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangan, sehingga jumlah ibu rumah tangga yang terinveksi HIV-AIDS semakin meningkat. Dampak secara luas dari HIV-AIDS adalah menurunnya kualitas hidup warga negara. Perempuan ODHA sebagian besar menjadi tulang punggung keluarga, karena suami lebih dahulu meninggal terkena HIV-AIDS. Perempuan ODHA rentan mengalami kekerasan sosial dari masyarakat berupa pengucilan, diskriminasi di tempat kerja, pemecatan, hingga tidak terpenuhinya hak sebagai warga negara. Belum lagi mereka memiliki anak dengan kondisi kesehatan yang buruk, karena kendala ekonomi dalam memenuhi gizi anak. Bahkan banyak anak yang menjadi yatim piatu karena orang tuanya meninggal dengan HIV-AIDS. Untuk itulah Lumbung Perempuan hadir mengajak orang-orang yang peduli kemanusiaan untuk membantu perempuan ODHA dan keluarganya kembali berdaya menata kehidupan yang layak.

Kelompok rentan dan marginal yang lainnya adalah perempuan kepala keluarga. Berdasarkan data yang dirilis  oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, jumlah penduduk miskin di Indonesia sampai dengan bulan September 2015 sebanyak 4.557 rumah tangga. Di Jawa Tengah tercatat sebesar 2.243 kepala keluarga perempuan, 60% mereka hidup dalam rumah rumah tangga miskin. Perempuan kepala keluarga yang dimaksud adalah perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena berbagai sebab seperti ditinggal suaminya, suami sakit keras hingga tidak mampu bekerja, bahkan yang tidak pernah dinafkahi suaminya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka  banyak mengandalkan usaha di sektor informal alias kerja serabutan, misalnya berdagang, menjadi buruh tani/ternak, pekerja rumah tangga, buruh menjahit, dan lain-lain. Secara sosial perempuan kepala keluarga menjadi kelompok marginal yang seringkali tidak terpenuhi hak-haknya. Untuk itulah Lumbung Perempuan hadir mengajak semua pihak untuk mengulurkan tangan mengentaskan kemiskinan perempuan miskin dan perempuan kepala keluarga agar berdaya memperjuangkan kehidupan yang sejahtera.

MENGAPA PENTING MENDUKUNG MEREKA?

Kelompok tersebut di atas merupakan kelompok perempuan (dan anak) korban ketidakadilan struktural dan budaya yang membutuhkan penguatan dari pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya (pangan, sandang, papan, pengobatan, dll.). Keterbatasan ekonomi, kondisi fisik, kondisi psikologis, kondisi kesehatan, faktor pendidikan, dll. menyebabkan kelompok perempuan dan anak korban kekerasan, perempuan HIV positif, perempuan kepala keluarga, dan kelompok perempuan miskin perlu mendapatkan dukungan dari kita bersama. Mereka berjumlah sangat banyak, menjadi pihak yang memiliki hak untuk hidup aman, damai, berkeadilan, bebas dari kekerasan, dan juga berhak hidup layak. Jika kita membiarkan mereka, sama dengan membiarkan kehancuran masa depan kehidupan sebuah bangsa, bahkan dunia. Dukungan kita semua pada mereka, merupakan perbuatan baik yang dianjurkan oleh semua agama/keyakinan yang mengajarkan nilai-nilai universal tentang kemanusiaan.

APA TUJUAN LUMBUNG PEREMPUAN

Secara umum tujuan Lumbung Perempuan sebagai berikut:

  1. Menggalang dana publik untuk pencegahan hingga pemulihan korban kekerasan pada perempuan dan anak, pencegahan kasus kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan ODHA, serta pemberdayaan ekonomi untuk perempuan miskin dan kepala keluarga.
  2. Mengelola partisipasi masyarakat untuk aktif berperan dalam perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.
  3. Membuka ruang bagi masyarakat untuk menyatakan keprihatinan dan dukungannya pada perempuan dan anak korban kekerasan, perempuan dan anak penyandang HIV-AIDS, perempuan kepala keluarga, serta kelompok perempuan miskin dan marginal.

 

KEMANA LUMBUNG PEREMPUAN DISALURKAN

Dana Lumbung Perempuan yang terkumpul akan dikelola oleh Yayasan SPEK-HAM, secara khusus diimplementasikan saat ini oleh Unit Khusus Penggalangan Dana Publik. Donasi akan disalurkan kepada perempuan dan anak korban kekerasan, perempuan dan anak penyandang HIV-AIDS, perempuan kepala keluarga, serta kelompok perempuan miskin dan marginal melalui program-program pencegahan, pendampingan, pemulihan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di seluruh Indonesia, yang dimulai dari wilayah Jawa Tengah. Melalui program ini diharapkan perempuan (dan anak) memperoleh: (1) pemahaman tentang informasi dan hak-haknya; (2) terpenuhi kebutuhan dasar dan memperoleh keadilan; (3) pemulihan kepercayaan diri; (4) pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan mengatasi persoalan dan mengambil keputusan yang terbaik; (5) Berdaya secara ekonomi, sosial, budaya, dan politik; (6) memiliki kehidupan yang lebih sehat, layak, dan sejahtera.

BAGAIMANA PERTANGGUNGJAWABAN LUMBUNG PEREMPUAN

Sebagai bentuk pertanggungjawaban Lumbung Perempuan kepada masyarakat, setiap bulan ada launching laporan bulanan penggalangan dana publik melalui website SPEK-HAM: www.spekham.org, dan setiap tahun dana Lumbung Perempuan diaudit oleh akuntan publik. Selain itu, secara reguler Lumbung Perempuan membuat laporan naratif dan laporan keuangan yang kami kirim kepada donatur maupun publik yang terkait.

 

ALUR PENGELOLAAN DANA LUMBUNG PEREMPUAN

Pengelolaan dana Lumbung Perempuan dilakukan secara transparan dan akuntable. Alur pengelolaan dana dari donatur masuk ke rekening Lumbung Perempuan. Selanjutnya dikelola sesuai dengan peruntukan program yaitu untuk pencegahan dan pemulihan korban KtPA, Pencegahan kasus kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan ODHA, serta pemberdayaan ekonomi untuk perempuan miskin dan kepala keluarga.

Bagan Alur Pengelolaan Dana Lumbung Perempuan

Dukungan Anda Kekuatan bagi Perempuan & Anak

Jadilah Penyangga Lumbung Perempuan dengan cara:

  1. Berpartisipasi sebagai relawan dalam berbagai kegiatan Lumbung Perempuan
  2. Membeli berbagai merchandise Lumbung Perempuan
  3. Menyumbang secara langsung atau tunai melalui kegiatan penggalangan dana yang dilakukan Lumbung Perempuan
  4. Menyumbang secara rutin dengan mentransfer ke rekening Lumbung Perempuan:

          BRI Cabang Solo

          Yayasan SPEK-HAM

          No Rek: 0334-01-001170-30-8

Laporan Donasi per 7 Oktober bisa didownload di SINI

Share This: