“Panggil Kami SRI”

SRI di tengah-tengah para perempuan penggerak di komunitasnya.

“Tiga tahun dengan hal-hal yang dianggap kecil, ternyata sekarang berdampak besar bagi perempuan “

Tiga tahun lalu tepatnya Februari tahun 2017, sesuatu yang dianggap tidak nalar oleh akal sehat terjadi. Di bulan Januari 2017 ada teman dari Washington DC USA  ibu Nelly Vandoor datang ke rumah Noko Alee, pegiat komunitas dari Yayasan SPEK-HAM. Sebulan kemudian Ibu Wilhelmina dan temannya dari Belanda datang ke rumah Noko Alee juga. Beberapa bulan kemudian Ibu Claudya dan temannya dari Jerman turut bertandang pula.

Di balik kehadiran orang-orang mancanegara tersebut ada persahabatan yang telah dijalani Noko seperti dengan Haryani Saptyaningtyas yang sejak tahun 2000 berteman dalam gerakan dan isu-isu hak anak. Haryani Saptaningtyas banyak berproses dengan buruh anak dan Noko Alee sangat concern di isu anak jalanan. “Semua diawali dengan komitmen dan rasa cinta,”begitu kata Haryani Saptyaningtyas yang saat ini juga mengambil studi di Belanda untuk program doktoralnya.  

Pengalaman bertemu, lalu berdiskusi ini tentunya tidak hanya untuk diri pribadi, namun institusi dan peluang serta kesempatan yang ada juga diinformasikan oleh Noko kepada perempuan-perempuan yang kala itu baru Kelompok Perempuan Rukun Makmur Desa Musuk dan Kelompok Perempuan Sekar Putri yang juga berada di Desa Musuk.  “Pertama saya ajak ibu-ibu anggota kelompok perempuan Rukun Makmur sekitar 6 orang,  bertemu dengan kawan-kawan dari SRI Belanda di rumah saya. Mereka sangat senang dan antusias. Mereka bercerita tentang kegiatan mereka. Mengajak berkunjung ke kandang kambing maupun ke rumah mereka untuk melihat tanaman pekarangan, memperlihatkan warung sederhana yang dikelola kelompok.

Tamu dari SRI  Belanda pun sangat antusias. Mereka bertanya cara membeli dan memelihara kambing, siapa yang menjual, siapa yang menerima uangnya, dan banyak cerita yang tentunya disambut sangat antusias oleh ibu-ibu Rukun Makmur maupun Sekar Putri” terang Noko Alee. Di tahun kedua tepatnya di tahun 2018, mereka juga datang kembali dan tidak hanya Rukun Makmur dan Sekar Putri yang ikut menyambut tetapi kelompok perempuan dari Cluntang pun ikut mengobrol dan bahkan mengajak untuk berkunjung ke Desa Cluntang yang berada di lereng Merapi. 

Hingga pada 10 dan 11 Maret 2019, mereka datang kembali ke Kecamaan Musuk, untuk menyapa, memberikan senyuman penuh cinta. “Yang tiga tahun ditanamkan atas nama komitmen dan cinta,” kata Wilhelmina. Dan tidak hanya Rukun Makmur, Sekar Putri dan Putri Mawar yang ikut menyambut, tetapi bertambah ada Kelompok Perempuan Berkah Mandiri, Tim Peduli Tindak Pidana Perdagangan Orang (TP-TPPO), TC Management, Team Sekolah Tani, Bumdes Lentera  unit usaha wisata yang ikut berdiskusi yang lokasinya pindah ke Dukuh Tutup Cluntang pada hari Minggu , 9 maret 2019 jam 12.00 s/d jam 16.00 WIB. 

SRI bersama SPEK-HAM dan beberapa kelompok perempuan beraudiensi dengan Pemkab Boyolali

“Panggil kami SRI saja “, Wilhelmina menjawab pertanyaan saat SRI beraudiensi dengan Bapak Boni, Setda yang mewakili Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama SPEK-HAM dan beberapa kelompok perempuan di Kecamatan Musuk, Senin (11/3). “Di Indonesia khususnya Jawa nama Sri sangatlah popular apalagi orang-orang kampung pasti banyak yang bernama SRI,” katanya lagi. SRI sendiri singkatan dari Stitching Reggenteunttje Indonesie, adalah organisasi nirlaba, yang terdiri dari orang-orang Belanda, maupun orang Indonesia yang sudah naturalisasi dan menjadi penduduk Belanda  dan sangat cinta dan peduli dengan gerakan perempuan Indonesia khususnya yang tinggal di pedesaan. SRI mensupport berbagai kegiatan pelatihan, refreshing program, penulisan buku untuk kisah perempuan pedesaan selama dua tahun. Dan di tahun 2019 ini mereka sepakat akan mensupport training untuk perempuan pengada layanan di Pos Pelayanan Terpadu (PPT) tingkat desa dan jambore produk komunitas.

Dalam kesempatan bertemu Pemerintah Kabupaten Boyolali, SRI juga banyak bercerita , hal-hal yang dianggap kecil di tiga tahun lalu, sekarang berdampak cukup besar dan jaringan perempuan yang di namakan Kembang Wangi sekarang sudah menyeluruh di 20 desa Di Kecamatan Musuk. “Ini sangat luar biasa,” kata Wihelmina dan Haryani dari SRI Belanda. “Respon pemerintah boyolali juga sangat luar biasa, sehingga perlu diperkuat pada jaringan yang lebih luas,” imbuhnya. Begitupun respon dari Ibu Dasih Wiryastuti dari Dinas DP2KBP3A Kabupaten Boyolali dan Bapak Chusnul dari Bappeda serta Bapak Boni dari Setda Boyolali yang mengapresiasi atas kerja-kerja perempuan di Kecamatan Musuk. SPEK-HAM  sebagai lembaga yang menginisiasi,  merasa perlu untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan kelompok. Banyak peluang yang akan didukung oleh SPEK-HAM seperti pembuatan PIRT produk, penganggaran desa dan akan dibantu untuk mengkomunikasikan kepada masing-masing kepala desa.  

“Luar biasa, kata Wilhelmina di penghujung pertemuan dengan para pemangku kebijakan di Kabupaten Boyolali. Dan cerita ini pasti akan dibawa oleh mereka berdua ke Belanda, dan buku kisah dan cerita perempuan-perempuan Kecamatan Musuk juga akan bisa berbicara secara internasional. Sehingga hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa akan menjadi sesuatu yang besar di mata dunia, karena komitmen dan cinta menjadi kunci utama yang harus dimiliki para kader maupun pengerak di komunitas.

Siang itu pertemuan ditutup dengan makan bersama di sebuah rumah makan khas Boyolali yaitu Soto. Sambil bercerita banyak tentang berbagai hal para perempuan penggerak ini menikmati harinya. Dan di ujung perjumpaan Wilhelmina dan Yanie dari SRI mengucapkan pesannya , Tetap semangat, tetap bergerak  untuk perempuan, terus berikan cinta, dan kami akan banyak berbicara dengan teman-teman di dunia , sampai ketemu tahun depan yaaa…karena kalian bukan perempuan biasa. “ (Noko Alee)

Share This: