Perempuan dan Kambing Betinanya (Cerita Posyandu Kambing Kelompok Sekar Putri)

Suasana saat Posyandu kambing

Perempuan berjalan, menuntun kambing-kambingnya. Senyum , kelegaan hati terpencar lewat senyum lebarnya . Suara embekan,   mengiringi langkah bak lagu-lagu riang puluhan ekor kambing berjalan berirama. 

RABU, 27  Maret 2019. Hampir di ujung bulan dengan agenda kegiatan di komunitas begitu padat.  Jika dua hari lalu berkegiatan dengan para perempuan lereng merapi dengan bunga mawarnya, maka hari ini datanglah waktu yang ditunggu-tunggu setelah penantian empat bulan yakni Posyandu Kambing (Posyambing). Posyambing adalah sebuah kegiatan yang sudah dilakukan sejak tahun 2015. Waktu itu yang meresmikan adalah Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Saat itu even yang menarik tersebut menjadi booming/viral di media karena publikasi yang gencar. Dan perkembangannya saat ini ada 175 kegiatan serupa dilakukan, yang semula hanya 76 kegiatan

Hal ini berpengaruh dalam penganggaran, kalau sebelumnya Posyambing bisa dilakukan empat kali di dua kelompok yang didampingi SPEK-HAM yaitu Kampung Sekar Putri dan Kampung Rukun Makmur sekarang hanya dilakukan dua kali dalam setahun, dikarenakan anggaran terbatas tetapi yang ingin mengakses meningkat. “Hampir 85%,” begitu kata team dari Puskeswan Kecamatan Mojosongo Boyolali setahun lalu

Pagi ini kegiatan dilakukan di Kelompok Perempuan Sekar Putri yang beralamat di Kampung Karanglo Selatan. Kegiatan ini dilakukan mulai jam 09.00 sampai jam 10.00 dengan jumlah kambing 26 ekor.  Karena ada empat anggota yang berhalangan hadir dan tidak bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Padahal biasanya tidak kurang dari 38 ekor kambing terlibat dalam kegiatan monitoring kesehatan dan pengobatan secara berkala. Satu jam kemudian tim  Puskesmas Hewan (Puskeswan) pindah ke Kelompok Perempuan Rukun makmur yang masih berada di Desa Musuk tetapi beralamatkan di Kampung Pengkol dan bertempat di rumah Ibu Sri Surani.

Tidak kurang dari 32 kambing sudah menunggu di halaman dan siap diperiksa serta diukur berat badan dan panjangnya. Setelah itu kambing-kambing akan diberikan obat, vitamin, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sesuai dengan kebutuhannya masing-masing kambing .

Kegiatan ini sekilas hanya seperti biasa, ibu-ibu datang membawa kambing. Sebagian ibu-ibu ada yang menjadi petugas, pengkur berat badan dengan timbangan, pencatatan, pemberian PMT dan penyampaian hasil pemeriksan oleh tim Puskeswan. Masih seperti konsep lalu, belum banyak inovasi dan kreativitas bahkan cenderung menurun  karena promosi makanan kas lokal sudah tidak ada apalagi kesenian tradisional. Seakan hanya rutinitas untuk monitoring kesehatan kambing secara berkala. Padahal empat tahun lalu konsep Posyambing adalah salah satu kegiatan di kampung kambing. Rencananya Desa Musuk menjadi sentra peternakan kambing di tahun 2015. Karena banyak kendala , kurangnya dukungan maka program ini belum teresalisasi.

Bicara kambing dalam perspektif perempuan memang cukup menarik, ini bukan hanya soal memelihara kambing, gemuk lalu dijual. Tapi ini berbicara bagaimana perempuan memelihara kambing seperti mereka memperlakukan diri sendiri: dari kandang untuk tinggal yang belum layak, bagaimana kalau kambing sakit, kambing mau birahi dan akhirnya bunting. Bagaimana ketika kambing mau melahirkan, para peternak perempuan rela menunggu dan tidak beraktivitas di tempat jauh agar bisa memastkan kambing yang dipelihara lahiran dengan selamat.

Karena banyak kasus kematian kambing diakibatkan oleh keteledoran peternak laki-laki seperti mati tercekik tali pengikat, melahirkan anak-anaknya mati, karena terinjak-injak kambing yang lain saking tidak pekanya kalau ada kambing yang mau melahirkan. Berbeda dengan para peternak perempuan ini. Mereka selalu mengecek kebersihan kandang meski sederhana yang penting nyaman. Bagaimana makanan yang sudah disiapkan lalu ditiriskan. Kalau peternak laki-laki mengambil dari ladang basah langsung diberikan ke kambing.  Sehingga banyak yang sakit bahkan mati. Bagaimana kepekaan perempuan ketika kambingnya selama bunting sampai melahirkan bahkan pascamelahirkan. Ketelitian, rasa keibuan, tercurah dalam kegiatan beternak kambing ini, seperti yang diutarakan Ibu Komah “Ini dua kambing saya yang satu bunting tiga bulan yang satu baru birahi, akhirnya akan punya anak juga.”

Perempuan dan kambing-kambing betinanya

Ibu Komah adalah perempuan kepala keluarga dengan dua anak yang menjadi janda berbarengan dengan empat cucunya.  Suaminya lama tidak peduli/menelantarkan keluarga hampir 20 tahun. Setelah ikut menggaduh kambing kelompok bantuan dari dinas peternakan ini dia sangat telaten kelihatan dua kambingnya sehat, bulunya bagus dan sekarang sudah bunting, “Itulah kambing kalau dirawat dengan hati” kata Ibu Yulianti. 

Beda lagi dengan pengalaman Ibu Supadmi, perempuan single parent dengan cucu yang baru berusia enam bulan ini datang ke kegiatan Posyambing karena dia tidak memelihara kambing lagi.  Ia bercerita kalau dalam proses beternak kambing itu malu kalau kambingnya birahi, Sebagai seorang perempuan saya malu kalau harus mencarikan pejantan untuk betina saya,begitu kata Ibu Supadmi sambil menggendong cucunya. Hampir semua anggota Kelompok Rukun Makmur berbahagia melihat kambing-kambing bantuan dari dinas pada bunting dan sebagian sudah ada yang beranak-pinak. Tentunya kondisi ini membuat para peternak perempuan semakin bersemangat.  

Kondisi ini tentunya yang akan digunakan senjata advokasi kepada pemerintah Kabupaten Boyolali untuk mendorong program-program seperti pengadaan timbangan digital, penambahan bantuan ternak kambing serta penambahan kuantitas obat-obatan dan tim medis. Ini kemudian menjadi kebutuhan kegiatan monitoring kesehatan kambing secara berkala yang benar-benar mafaatnya dapat dirasakan oleh komuntas seperti yang di sampaikan Ibu Hartani, Ketua Kelompok Perempuan Sekar putri saat sambutan Kepala Puskeswan Mojosongo. Saya selaku pribadi atau selaku ketua kelompok sangat terbantu dengan adanya kegiatan pemeriksaan kesehatan ini dan semoga kami diprioritaskan untuk kegiatan.”  

Begitupun kata Ibu Sri Surani, Ketua Kelompok Rukun Makmur “Kami merasa terbantu begitu pun dengan ibu-ibu anggota rukun makmur, kambing kami menjadi sehat, bunting dan lahirannya lancar karena kesehatan terpantau.Di akhir acara kemudian mereka bersama melakukan evaluasi hasil pantau kesehatan dari petugas Puskeswan yang menyampaikan hasilnya di mana ada yang terkena penyakit gatal, peyakit kutu kaki, yang bunting hanya diberi vitamin dan diakhiri dengan ngeteh bersama.

Perempuan dan kambing, bak harmoni alam yang serasi. Kambing dipelihara dengan hati, dia akan melahirkan anak-anak yang akan menjadi sumber keuntungan bagi perempuan pedesaan sebagai penggerak ekonomi keluarga. (Noko Alee)  

Share This: