Pertemuan Rutin KP3A Agendakan Transfer Pengetahuan

suasana pertemuan KP3A

Transfer pengetahuan antara pemangku kebijakan yang lama ke baru penting dilakukan. Seperti halnya yang terjadi di Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KP3A), dampingan SPEK-HAM yang diketuai oleh Suji, bersama SPEK-HAM dan beberapa perangkat desa melakukan tranfer pengetahuan dan pemahaman terkait keberadaan KP3A yang ada di Desa Kuncen sejak tahun 2013. Bertempat di Balai Desa Kuncen, pada Selasa (18/6) pertemuan yang bertajuk agneda rutin pertemuan KP3A berlangsung dengan lancar.    

Dalam perjalananannya baik ketika didampingi maupun tidak, KP3A melakukan inovasi-inovasi dan ada pembelajaran. Seperti diungkapkan oleh Suji bahwa KP3A sudah bekerja sama dengan SPEK-HAM berupa pemeriksaan HIV-AIDS gratis dan disamut positif dan antusias oleh masyarakat. Inisiatif dengan dukungan SPEK-HAM, komunitas lalu menanam jahe dan gagal, serta melakukan budidaya cacing. “Mindset kami, kita bisa bekerja sendiri dan punya tempat sendiri dan mencari bahannya sendiri, lalu kita membuat kompos. Waktu itu kia juga membuat ikon akan mengadakan sedekah sampah. Jika berjalan lancar maka menambah penghasilan, namun hanya “obor blorok,”terang Suji.  Ia menambhkan bahwa yang dibutuhkan adalah tempat tertutup. “Lalu terkait soal pembuatan pupuk kompos kita sudah berhasil, namun impas, tidak untung, modal kembali,” imbuh Suji.

Muryadi, kepala desa Kuncen yang baru lalu menanggapi bahwa ia sepenuhnya mendukung dan berupaya akan memenuhi kebutuhan KP3A seperti kebutuhan tanah lapang dan tertutup untuk menampung sedekah sampah.

Di pertemuan bulan lalu di Desa Kuncen adalah istimewa karena dibicarakan tentang dari KP3A bagaimana kemajuan kelompok ini, berani berbuat dan bertanggung jawab, namun  hasil akhirnya adalah menuntut bagaiamana peran pemerintah desa. “karena kami kemarin diback-up oleh pemerintah desa. Kami sudah dibantu dengan dana desa. Kemarin waktu bertemu dinsos, kami sudah diapresiasi baik,”terang Cobawati, sekretaris KP3A.  

Diskusi kemudian merembuk tentang inovasi desa. Masyarakat/kommunitas bisa berkembang dengan didorong. Terkait produk unggulan di karang taruna sudah berinovasi membuat ikon produk Desa Kuncen adalah ceriping singkong. Pertanyaannya adalah bahan baku berasal dari mana, daerah mana, lalu siapa yang memasarkan. Kalau buat semua bisa , ke depannya masih banyak tantangan. “Pemasaran itu yang utama artinya kalau tidak punya pasar, barang bagus apa pun laku, tetapi kalau tidak punya pasar barang sebagus apa pun tidak laku,”pendapat Suji. Kemudian terlkait produk ceriping singkong ini tidak berjalan mulus, walauoun modal masih ada. Kepala desa bisa memilih ikon desa akan berupa produk apa atau seperti apa. Sebenarnya sudah ada produk yang sudah bertahun-tahun ada yakni emping, namun menurut kata dokter emping penyumbang asam urat. (red)

Share This:

Post Tagged with ,