Puskesmas Pedan dan Jalinan Kerja Sama Kembali

SPEKHAM bersama staf Puskesmas Pedan

Sudah satu tahun ini, Yulis Miharti selaku koordinator VCT tidak terhubung dengan SPEKHAM, namun kali ini, sejak Rabu (25/9) terjali kembali kerja sama. Hal ini tercetus saat terjadi diskusi di Puskesmas Pedan yang diikuti oleh 10 orang. SPEKHAM memiliki agenda memaparkan perkembangan program terkait HIV.

Pihak Puskesmas Pedan mengumumkan jika akan periksa VCT, maka harus di luar hari Senin yakni hari Selasa sampai Sabtu. Dan jika periksa di jam 9, satu jam sesudahnya yakni jam 10 hasilnya sudah bisa dilihat. Sebelum pemeriksaan, prosedurnya adalah memberitahukan dua hari sebelum pemeriksaan.

Henrico Fajar menanggapi dengan memberi penjelasan format kegiatan, jika dulu untuk kegiatan pemeriksaan untuk populasi biasanya diundang dan dikumpulkan langsung ke puskesmas, maka sekarang diminta untuk mendatangi setiap lapangan yang sering dikunjungi oleh teman populasi. Kecamatan Pedan menjadi tempat yang sering dikunjungi, beberapa wilayah yang tidak lagi diintervensi oleh Yayasan Spiritia meliputi Klaten dan Karanganyar.

Tujuan kegiatan pemeriksaan untuk membangun koordinasi dan komunikasi dengan pihak puskesmas terkait dengan penjangkauan, rujukan maupun pendampingan terhadap populasi berisiko. Klien yang biasanya dibawa oleh Penjangkau Lapangan (PL) biasanya merupakan klien beresiko. Banyak juga yang tidak mengaku jika mereka populasi yang terjangkit. Sedangkan prioritas border adalah Puskesmas Boyolali, dan  masih mendapatkan intervensi. Untuk penjangkaunnya setiap bulan hanya 10 orang.

Tanggapan dari Puskesmas Pedan, untuk mobile di atas jam 2 siang juga tidak masalah, akan tetapi jika ada kegiatan, dari pihak puskesmas tidak bisa setor laporan setiap bulan, mungkin laporannya tigabulanan. “Kemarin saat diadakan pemeriksaan yang datang hanya 4 hingga 9 orang saja. Padahal banyak yang menemukan populasi berisiko,” ujar salah seorang petugas Puskesmas Pedan.

Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak yang takut untuk melakukan pemeriksaan padahal dari puskesmas sudah memberikan pelayanan. Kemarin yang terinfeksi dari kelompok napza, curan, dan lainnya. Untuk target sasaran yang akan digunakan ke depan berasal dari data orang yang datang pada pemeriksaan sebelumnya, sehingga dapat berubah ubah. Target adalah orang Pedan dan belum tahu dan dia termasuk ke dalam kelompok apa. Hanya diketahui sebagai penduduk wilayah Pedan.

Untuk Wanita Pekerja Seks (WPS), mereka melakukan pemeriksaan setiap 3 bulan di balai desa dan pihak Puskesmas Pedan merelakan waktu untuk mendatangi. Biasanya pihak Puskesmas Pedan mendapatkan rujukan dari Puskesmas lain. “Kemarin ada yang datang namun tidak mengaku jika risti sehingga dari pihak puskesmas tidak mau melayani. Hal tersebut dikarenakan belum ada peraturan dari Pemkab yang membolehkan untuk melakukan pemeriksaan secara umum,”jelas pihak dari Puskesmas Pedan lagi. Menurut Henrico Fajar, memang banyak yang risti namun tidak mau mengaku.

Puskesmas Pedan meiliki kebijakan, jika pabrik mengajukan ke dinas, lalu dinas mengkoordinasi untuk terjun, puskesmas akan datang. Dan selama ini para pekerja pabrik belum ditemukan adanya orang risti. “Yang pernah booming pada tahun 2017, diantaranya ada LSL, beberapa ada yang mengaku secara langsung. Tanggal 31 agustus kemarin terdapat pasien terjangkit namun tidak mengaku, setelah dipaksa baru mengaku,”pungkas pihak Puskesmas Pedan. (mhhswmgg/red)

Share This:

Post Tagged with