RSUD Bagas Waras Beri Layanan Aspirasi Vakum Manual (AVM) untuk Tangani Aborsi

salah satu sudut RSUD Bagas Waras

Dr.Limawan Budiwibowo, M.Kes, Direktur RSUD Bagas Waras Klaten saat ditemui beberapa wartawan peserta pelatihan media berperspektif HKSR oleh Yayasan IPAS pada 8/8 lalu mengatakan pihaknya pada 25 Juli 2019 telah menerima alat Aspirasi Vakum Manual (AVM) untuk pasien aborsi dari Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) Indonesia melalui program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Terintegrasi (PEKERTi). AVM digunakan untuk mengurangi risiko yang terjadi bila dibanding penggunaan kuretasi tajam seperti pendarahan dan infeksi.

“Dari penerimaan sampai hari ini ada tiga pasien yang mengakses AVM,”tutur dr. Limawan Budiwibowo, M.Kes. Menurutnya, mekanismenya adalah pasien yang datang ke layanan RBUD Bagas Waras saat melakukan aborsi ditawarkan dengan memilih apakah masih menggunakan kuretasi tajam atau AVM.

Tidak hanya terkait AVK, rumah sakit juga memberikan layanan Asuhan Pascakeguguran Komprehensif (APK). Terkait APK, pihak rumah sakit dalam hal ini dokter rumah sakit spesialis kebidanan dan penyakit kandungan juga telah memiliki kemampuan dalam hal itu melalui pelatihan-pelatihan yang difasilitasi oleh IPAS. Setelah tindakan abortus, biasanya pasien dikembalikan ke puskesmas. Sedangkan untuk penguasaan alat AVM sendiri selama ini telah ada dua dokter dan empat bidan terlatih. “Kuretasi tajam lama-lama akan kami tinggalkan,”ungkap dr. Limawan.

Terkait tingginya angka kehamilan remaja di Klaten yakni 400 kehamilan di tahun 2018 dan angka 143 sampai semester tahun ini, dr. Limawan pun menyinggung bagaimana langkah-langkah yang perlu dikethui oleh masyarakat yakni dengan mensosialisasikan perencanaan Keluarga Berencana (KB) dan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Dikutip dari http://inajog.com/index.php/journal/article/view/879 yang ditulis oleh JM Seno Adjie, Faculty of Medicine Universitas Indonesia

“Departement of Obstetrics and Gynecology bahwa AVM efektif dan aman dibandingkan dengan kuret tajam pada penanganan abortusin komplit dibawah usia kehamilan 12 minggu dengan melihatdari lama tindakan, proporsi tingkat kebersihan evakuasi sisa konsepsi 1 minggu pasca tindakan, proporsigejala – gejalainfeksi 1 minggu pasca tindakan dan proporsi komplikasi pada saat tindakan AVM dan kuret tajam.

Penelitian ini merupakan metode penelitian kohort prospektif (observasional) dengan jumlah sampel 62 subjek yang berkunjung dengan abortusin komplit ke UGD RSCM, RS Fatmawati dan RSUD Karawang terbagi dalam 31 subjek pada kelompok prosedur AVM dan 31 subjek pada kelompok prosedur kuret tajam. Data dikumpulkan melalui pencatatanwaktu lama prosedur AVM dibandingkan kuret tajam, pemeriksaan klinis komplikasi selama prosedur berlangsung, pemeriksaan klinis kebersihan sisa konsepsi 1 minggu pasca tindakan dan gejala – gejala infeksi 1 minggu pasca tindakan.

Sebanyak 62 subjek (masing – masing 31 subjek), dimana didapatkan rerata dan simpang baku prosedur AVM 17,65 ± 4,128 menit dan kuret tajam 22,26 ± 4,611 menit dengan p = 0,00 dan IK 95% -4,513(-6,837 s/d -2,389), bermakna secara statistik. Pada perbandingan proporsi tingkat kebersihan evakuasi sisa konsepsi 1 minggu pasca tindakan didapatkan pada AVM 3,2% (n = 1) dan pada kuret tajam 6,5% (n = 2) terdapat sisa konsepsi dengan penilaian klinis, p = 0,554, RR = 1,034 dan IK95% 0,924 – 1,158 tidak memiliki perbedaan bermakna secara statistik. Pada perbandingan lainnya, tidak ditemukan gejala – gejala infeksi 1 minggu pasca prosedur dan komplikasi selama prosedur berlangsung pada prosedur AVM  dan kuret tajam.

AVM juga memiliki keunggulan dalam kebersihan sisa konsepsi namun tidak bermakna secara statitik dan memiliki keamanan yang setara dengan kuret tajam dari tingkat gejala infeksi dan komplikasi selama prosedur.” (red)

Share This: