Pendidikan bukan untuk Sri ?!

Sri, begitu biasa saya dipanggil. Nama yang cukup terkenal saat ini. Setiap media menyebut namanya berkali-kali, entah karena kasus yang orang bilang ikut terlibat dalam penyalahgunaan uang rakyat atau karena diajak bank dunia. Ah penduli amat saya tidak paham kasus apa itu. Tapi saya ikut senang karena nama SRI menjadi terkenal. Memang nama Sri itu “ndeso” dan saya tetap bangga, lha wong memang saya orang desa dan berbukit. Saya lahir dikota kecil, tapi kota saya diapit dua kota yang terkenal. Kata guru saya, kota yang terletak disebelah barat disebut kota Pelajar dan yang sebelah timur disebut kota Budaya. Meski begitu untuk mencapai ibukota dikotaku, perjalanan panjang dan berliku harus kutempuh. Kurang lebih 30 km harus kutapaki untuk melihat indahnya kotaku dan mendapatkan banyak hal yang tidak ada didesaku. Jika mau cepat dan tidak susah motor pribadi adalah pilihannya. Kalau mau naik bis umum lama nunggunya, berdesak-desakan dan terbatas jamnya. Mungkin alasan inilah yang membuat keluargaku dan hampir semua tetanggaku berlomba-lomba membeli motor. Tak peduli punya uang atau tidak. Kredit yang berujung belenggu hutang menjadi makanan sehari-hari.

Sriyanti, itu nama lengkap saya. Usia saya 16 tahun, bagiku usia yang cukup dewasa karena seragam abu-abu sudah boleh kupakai. Kata iklan di TV yang kulihat “Sekolah Gratis”. Iya bener di SD dekatku memang tidak bayar SPP tapi kadang-kadang disuruh bayar ini itu. Semua anak didesaku mau sekolah SD karena dekat jadi bisa bareng-bareng dan bermain-main. Tingkat selanjutnya SMP, hanya ada 2 SMP yang dekat dan itu sekolah negeri. Syarat diterima tentu pake NEM dan jaraknya lebih dari 5 km. Dua syarat yang membuat anak-anak bertumbangan sehingga putus sekolah. Apalagi anak perempuan macam saya kalau sudah putus sekolah, menikah adalah jawabannya. Untung saya masih bisa masuk sekolah itu. Kalau jaman dulu sekolah jauh itu biasa dan itu merata disemua daerah. Lain dulu lain sekarang, lain ladang lain belalang. Kalimat jimat yang digunakan oleh “Bapak Ibu yang terhomat” untuk membeda-bedakan pembangunan di kota, desa, gunung, jawa dan luar jawa.

Saya senang sekolah karena bertemu dengan teman-teman dan dapat ilmu baru. Meski saya belajar berulang-ulang disela-sela waktu membantu orangtuaku mencari uang tetap saja nilaiku pas-pasan. Semua guru mewajibkan murid-muridnya pinter tanpa peduli latar belakanganya. Karena harus lulus ujian, begitu perintah pusat. Singkat cerita saya lulus SMP dengan nilai pas-pasan.

SMA atau yang sederajat makin jauh dari rumah. Paling dekat 20km dan itu sekolah negeri. Sedikit jauh lagi ada 2 sekolah negeri  dan 1 swasta. Nilaiku tak kuasa menjangkau sekolah negeri itu, kalau yang swasta kantong orangtuaku tak cukup tebal. Meski tadi saya bisa berkisah tentang ibukota kotaku, sebenarnya saya amat sangat jarang kesana. Tapi apa boleh buat demi sekolah saya harus mencoba kepusat kotaku. Saya diterima disalah satu sekolah kejuruan swasta yang murah dan pas dengan nilaiku. Awalnya orangtuaku mau mengantarku, tapi ini tidak mungkin terjadi setiap hari karena orang tuaku harus bekerja.

Pagi-pagi sekali saya harus berangkat kepusat kotaku. Bertanya berkali-kali harus kulalui untuk mencapai tujuanku. Entah mengapa setiap sampai pusat kota, ingatanku tentang arah jadi hilang. Bingung jadinya. Saking bingungnya saya sering kesasar. Kebangganku mengenakan seragam  abu-abu tidak bertahan lama. Kebiasaanku yang bingungan jika sampai dipusat kota tidak bisa kuatasi. Disisi lain orangtuaku juga tidak tahu harus berbuat apa, wong mereka juga tidak pernah merasakannya. Aku tidak lagi tertarik untuk sekolah. Orang tuaku menanggapi biasa saja, karena putus sekolah sudah menjadi barang lumrah didesaku. Pikir orang tuanku “tidak apa-apa perempuan tidak sekolah karena nanti juga akan menjaga rumah, didesa ini nantinya juga akan bekerja cari pasir”.

Tepat genap satu bulan sri merasakan seragam abu-abunya diusia 16 tahun. Setelah itu kerja mencari pasir sudah menunggu. (Maria)

Share This:

Comments are closed.