Search for:
Email

official@spekham.org

Call Center

+62 838-3666-2020

Alamat

Jalan Srikoyo No.20 RT 01 RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta

Kreativitas untuk Perubahan

Kreativitas untuk Perubahan adalah simpul semangat SPEK HAM dalam meretas tantangan sosial secara solutif dan inklusif. Kami percaya bahwa perjuangan menegakkan hak-hak perempuan dan keadilan gender membutuhkan keberanian berpikir di luar batas menghadirkan pendekatan baru yang relevan, komunikatif, dan berdaya guna tinggi demi mewujudkan masyarakat yang adil, aman, dan setara.

Inklusif

Inklusif

Pluralis

Pluralis

Egaliter

Egaliter

image
image
image
image
image
image

Apa yang kami lakukan?

SPEK-HAM bergerak secara inklusif memperjuangkan hak kesehatan perempuan, mencegah dan menangani kekerasan berbasis masyarakat, memperkuat kapasitas internal melalui riset, serta menggalang dukungan untuk keberlanjutan dampak sosial.

Kesehatan Masyarakat

Mewujudkan hak dan akses kesehatan reproduksi yang terjangkau bagi perempuan.

Sustainable Livelihood

Perempuan berdaya mengembangkan potensi lokal untuk kehidupan yang lebih baik

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat

Mendorong kemandirian masyarakat dalam mencegah kekerasan dan memberikan penanganan yang aman, tanggap, serta berpihak pada korban.

Riset, Institusi, & SDM

Optimalisasi potensi sumber daya manusia dan menyediakan riset kelembagaan untuk mendukung pengambilan keputusan serta keberlanjutan dampak organisasi.

image

Kreativitas Untuk Perubahan

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia

KABAR TERBARU

Ketika Perempuan Jelok Meretas Sekat Gender dan Kekerasan

Kader perempuan di Desa Jelok, Boyolali tampak sedang menyusun dokumen dalam diskusi layanan berbasis komunitas pada Kamis (13/8/2026). (Foto: Magang UNS/SPEK-HAM)
Kader perempuan di Desa Jelok, Boyolali tampak sedang menyusun dokumen dalam diskusi layanan berbasis komunitas pada Kamis (13/8/2026). (Foto: Magang UNS/SPEK-HAM)

 

BOYOLALI – Di Desa Jelok, Boyolali stereotype lama masih membendung ruang gerak perempuan. Anggapan bahwa perempuan tak elok pulang malam sementara laki-laki bebas melangkah, hingga narasi bahwa tempat perempuan hanyalah di dalam rumah, masih menjadi realita keseharian. Namun, kesadaran baru mulai menyala dari sudut desa ini.

 

 

Kamis (13/8) suasana hangat menyelimuti jalannya diskusi bertajuk “Regular Discussion For Community Based Service” yang berlangsung di balai desa. Dipandu oleh Henrico Fajar, staf SPEK-HAM, kelompok perempuan dan kader setempat berkumpul untuk membedah akar ketidakadilan gender, kekerasan berbasis gender (KBG), hingga pemahaman mendasar mengenai perbedaan seks biologis dan konstruksi sosial gender. “Materi ini diharapkan dapat membuka wawasan kita semua tentang kesetaraan gender di Desa Jelok,” tutur Karni, salah seorang kader dalam sambutannya penuh harap.

 

Diskusi berlangsung interaktif.

 

 

Henrico menegaskan bahwa kapasitas dan kepemimpinan seseorang tidak boleh dibatasi oleh gender. Perempuan memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk memimpin, baik di dunia kerja maupun organisasi. “Suatu pekerjaan tidak dibatasi oleh gender, tidak hanya laki laki tetapi perempuan juga bisa, tidak hanya di pekerjaan di organisasi perempuan juga bisa menjadi pemimpin,” ungkapnya.

 

 

Isu sensitif pun turut dikupas, seperti fakta bahwa penyebaran HIV kerap menyerang ibu rumah tangga akibat perilaku berisiko pasangan di luar rumah, hingga meluruskan stigma maskulinitas. “Seorang laki-laki itu harus tegas, tetapi selalu disalahartikan dengan kekerasan,” ungkap Henrico mendobrak pemahaman keliru yang selama ini mengakar.

 

 

Tak sekadar menjadi ruang edukasi, forum ini menandai langkah konkret pembentukan Layanan Berbasis Komunitas di Desa Jelok, Boyolali. Layanan ini nantinya akan memuat berbagai lini, mulai dari pencegahan, kampanye, sosialisasi, hingga pencatatan kasus. Berbekal pengalaman SPEK-HAM dalam menangani kasus perundungan anak di Simo bersama dinas dan psikolog, para kader diajarkan pentingnya prinsip kerahasiaan, layanan medis, pendampingan hukum, serta sistem rujukan.

 

 

Ke depan, serangkaian rencana aksi telah disiapkan, antara lain seperti edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan KDRT, sosialisasi bagi remaja, hingga pembentukan tim paralegal desa. SPEK-HAM menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi penguatan kapasitas kader di Desa Jelok.

 

 

Pelan tapi pasti, lewat kolaborasi berkelanjutan ini, Desa Jelok tengah merajut asa baru untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan responsif dalam melindungi perempuan serta anak.***

Membangun Asa Usai Bencana: Kelompok Wanita Tani di Kampung Sewu Bangkit bersama SPEK-HAM

Anggota KWT Dewi Sri, Kampung Sewu tengah merabuk tanaman di selasar teras rumah. (Foto: SPEK-HAM)
Anggota KWT Dewi Sri, Kampung Sewu tengah merabuk tanaman di selasar teras rumah. (Foto: SPEK-HAM)

SURAKARTA- Bayang-bayang luapan Bengawan Solo masih teringat di benak Iwuk, warga Kelurahan Kampung Sewu, Jebres, Surakarta yang wilayahnya sempat lumpuh diterjang banjir besar pada 2007. Kala itu air setinggi 3 meter menutup setinggi pintu rumahnya. Berminggu-minggu setelah banjir, lingkungan sekitar tak terurus. Lumpur dan tanah menguasai jalanan.

 

 

Ingatan lampau itu mendorong Iwuk untuk tak henti ikut memberdayakan warga kampungnya lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri yang tumbuh bersama pendampingan Yayasan SPEK-HAM. “Sejak 2005 sebenarnya sudah berdiri. Baru setahun kemudian kami mendapat dana pemberdayaan. Jumlahnya tidak banyak, tapi sudah cukup untuk melangkah,” ujar dia. Jumat (30/7/2026) pagi.

 

 

Tak jauh dari Iwuk berdiri, sejumlah anggota KWT Dewi Sri tampak sibuk mengubah galon bekas menjadi kebun sayur. Kampung Sewu adalah kawasan padat penduduk yang nyaris tidak menyisakan tanah kosong untuk bercocok tanam. Keterbatasan lahan tak menyurutkan semangat para kader perempuan itu untuk menanam.

 

 

“Solusinya, anggota KWT memanfaatkan galon-galon bekas sebagai media tanam pengganti lahan. Tomat, terong, cabai, dan kacang panjang jadi pilihan utama karena tomat dan terong dikenal cepat panen, sementara cabai meski lebih rentan penyakit tetap bisa dipangkas dan pulih kembali,” ungkap Iwuk.

 

 

Saat panen tiba, hasilnya lebih banyak dijual ke sesama anggota dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar. “Saat harga cabai sedang mahal, sebelum uangnya diputar kembali untuk membeli bibit baru, kita jual untuk memenuhi rumah tangga anggota KWT,” terang salah seorang kader perempuan.  Siklus modal kecil namun efektif ini terbukti menjaga kebun mereka tetap hidup.

 

 

Bangkit dari Bencana bersama SPEK-HAM

 

 

Keterlibatan SPEK-HAM dalam perjalanan KWT Dewi Sri bermula justru dari bencana, tepatnya pasca banjir yang melanda Surakarta pada 2007 lalu. Bencana itu merendam hampir seluruh Kampung Sewu termasuk wilayah RW 1 dan RW 7 yang paling terdampak.

 

 

“Kami senang, jadi bersama SPEK-HAM dalam pendampingan itu bukan sekadar soal bertani. Ada pelatihan pembuatan pupuk, pemetaan wilayah pasca banjir, studi banding ke Boyolali dan Yogyakarta untuk belajar teknik menanam di lahan terbatas, termasuk kisah lahan pesisir laut yang ternyata tetap bisa ditanami,” ungkap Iwuk.

 

 

Selain memberdayakan masyarakat di sektor pertanian dan ketahanan pangan, SPEK-HAM turut mendampingi pembentukan paralegal sebagai garda depan penanganan kasus KDRT. “Bagi anggota KWT, kehadiran SPEK-HAM inilah yang justru memantik semangat untuk membentuk kelompok tani perempuan sebagai wujud nyata dari ilmu yang mereka dapatkan,” ujar Rini, anggota lainnya.

 

 

Rini menceritakan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dari pendampingan terasa begitu berharga, karena datang tanpa harus mengeluarkan biaya sekolah formal. Baginya, bekal ilmu itulah yang kemudian bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kelompok perempuan di Kampung Sewu secara keseluruhan.

 

 

Memiliki tanaman sendiri di pekarangan membuat para kader perempuan KWT Dewi Sri tak perlu lagi membeli sayur saat harga sedang tinggi, cukup memetik dari galon di rumah. “Kesibukan merawat tanaman, menyiram, memupuk seminggu sekali, memangkas daun yang sakit juga menjadi bentuk tanggung jawab yang kami lakukan bergantian, sebuah kepedulian kecil yang dirasakan berdampak besar bagi ketahanan pangan keluarga,” ungkap Iwuk.

 

 

“Harapannya KWT itu tetap eksis ya. Tetap eksis, berkembang terus, jadi tanaman itu tidak berhenti. Jadi kalau sudah panen, ada bibit lagi.” Sebuah harapan agar pendampingan SPEK-HAM terus berlanjut, dan bantuan bibit datang lebih teratur, sehingga kebun-kebun galon di Kampung Sewu tak pernah benar-benar berhenti tumbuh.***

Perkuat Peran Perempuan Desa, SPEK-HAM Gelar Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok di Desa Jelok

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)

BOYOLALI –SPEK-HAM menggelar kegiatan bertajuk “Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok Perempuan” di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong terbentuknya kelompok perempuan desa yang mandiri, aktif, dan berdaya melalui pengenalan potensi serta penyusunan mimpi bersama di tingkat komunitas.

 

 

Hadir sebagai narasumber, Henrico Fajar dan Danang Wijayanto (Manajer SPEK-HAM) membekali para peserta terutama para kader PKK dan penggerak desa mengenai hak asasi perempuan, pemahaman kelompok rentan, serta pengorganisasian berbasis komunitas.

 

 

Dalam sesi pertama, Henrico Fajar menekankan pentingnya pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang sering dihadapi perempuan, seperti isu kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, hingga hambatan ekonomi. “Perempuan masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun ekonomi. Melalui pengorganisasian kelompok, perempuan tidak hanya mendapat ruang berkumpul, tetapi juga sarana belajar bersama untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kritis,” ujar Henrico.

 

 

Sesi dilanjutkan oleh Manajer SPEK-HAM, Danang Wijayanto, yang memandu peserta melakukan analisis menggunakan metode Pohon Komunitas dan Visioning. Metode ini mengajak warga memetakan persoalan desa sebagai akar masalah, sekaligus menginventarisasi potensi lokal, seperti keberadaan kader posyandu yang aktif, usaha UMKM, peternakan, hingga semangat gotong royong warga, sebagai modal perubahan.

 

 

Dari hasil diskusi partisipatif, peserta berhasil memetakan sejumlah tantangan nyata di lapangan, mulai dari minimnya pemahaman alur pelaporan kasus KDRT karena masih dianggap aib, masalah kehamilan di bawah umur, hingga ketimpangan relasi dalam program KB keluarga. Di sisi lain, Desa Jelok memiliki potensi besar berupa aktifnya jejaring kader PKK/Posyandu serta berbagai sektor UMKM dan pertanian yang produktif.

 

 

Sebagai langkah konkret, kelompok perempuan Desa Jelok menyepakati sejumlah rencana aksi satu tahun ke depan, antara lain pembentukan jejaring komunikasi perlindungan hak perempuan di tingkat RT, prioritas perlindungan korban kekerasan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga komitmen pemberdayaan ekonomi lokal dengan mengutamakan belanja produk UMKM sekitar. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM berharap kelompok perempuan di Desa Njelok dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan desa yang inklusif, ramah perempuan, dan sejahtera. ***

image