Cintai Diri Sendiri, Paralegal Desa Pentur Perkuat Kesadaran Perempuan Melindungi Diri dari Kekerasan

Penulis: Henrico Fajar Kristiarji
BOYOLALI – Mencintai diri sendiri bukan sekadar menerima kelebihan dan kekurangan, tetapi juga berani menghargai diri, mengenali potensi, serta melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan. Pesan inilah yang mengemuka dalam Pertemuan Paralegal Desa Pentur yang berlangsung di Balai Desa Pentur, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Selasa 27/10.
Kegiatan yang diikuti 20 orang perempuan ini diawali dengan berbagi pengalaman dan cerita mengenai kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk saling mendengarkan, berbagi pengalaman, sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan kekerasan berbasis gender (KBG).
Selanjutnya, peserta diajak mengikuti aktivitas menggambarkan simbol diri. Melalui gambar yang dibuat, peserta diminta merefleksikan perasaan, karakter, dan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri.
Dalam penyampaian materi Self Love, fasilitator mengingatkan bahwa banyak orang terlalu sibuk mencintai dan memenuhi kebutuhan orang lain hingga melupakan dirinya sendiri. Padahal, setiap orang berhak mendapatkan perhatian, penghargaan, dan perlindungan.
“Mencintai diri sendiri bukan berarti egois. Self love adalah kemampuan menghargai diri, mengenali kebutuhan, menjaga batasan, dan menyadari bahwa diri sendiri juga berharga,” ujar salah satu peserta, menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut.
Pentingnya membangun kesadaran diri juga dikaitkan dengan situasi kekerasan berbasis gender di Indonesia. Berdasarkan data Komnas Perempuan yang disampaikan dalam materi, sepanjang tahun 2025 tercatat 376.529 kasus KBG, meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen terjadi di ranah personal.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Perempuan perlu memiliki kesadaran atas hak-haknya, mengenali situasi berisiko, membangun kepercayaan diri, dan berani mengambil langkah untuk melindungi dirinya.
Peserta juga diajak mengenali diri melalui refleksi bertajuk “Inilah Aku Sesungguhnya”. Mereka diajak mengidentifikasi kelebihan, kekurangan, keunikan, potensi, hingga impian yang ingin dicapai. Proses ini diharapkan membantu peserta memahami bahwa setiap individu memiliki nilai dan kemampuan yang tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.
Materi juga membahas tujuh langkah membangun self love, yaitu afirmasi positif, berbicara positif kepada diri sendiri (self talk), bersyukur, memaafkan diri, berhenti membandingkan diri, menyediakan waktu untuk diri sendiri, serta melakukan aktivitas penyegaran seperti olahraga.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah agar lebih bijaksana dalam menghadapi persoalan dan mengambil keputusan.
Melalui pertemuan ini, Paralegal Desa Pentur diharapkan tidak hanya semakin memahami pentingnya mencintai diri sendiri, tetapi juga mampu menerapkan kesadaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan kerja-kerja pendampingan di masyarakat.
Mencintai diri sendiri adalah langkah awal untuk menghargai martabat dan melindungi diri. Karena itu, upaya pencegahan kekerasan perlu dimulai dengan membangun kesadaran bahwa setiap orang berharga, berhak merasa aman, dan berhak terbebas dari segala bentuk kekerasan.***













