Search for:

Cintai Diri Sendiri, Paralegal Desa Pentur Perkuat Kesadaran Perempuan Melindungi Diri dari Kekerasan

Pertemuan Paralegal Pentur, Boyolali pada Selasa (27/10/2026). (Foto: Henrico Fajar Kristiarji/SPEK-HAM)
Pertemuan Paralegal Pentur, Boyolali pada Selasa (27/10/2026). (Foto: Henrico Fajar Kristiarji/SPEK-HAM)

Penulis: Henrico Fajar Kristiarji

BOYOLALI – Mencintai diri sendiri bukan sekadar menerima kelebihan dan kekurangan, tetapi juga berani menghargai diri, mengenali potensi, serta melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan. Pesan inilah yang mengemuka dalam Pertemuan Paralegal Desa Pentur yang berlangsung di Balai Desa Pentur, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali Selasa 27/10.

 

 

Kegiatan yang diikuti 20 orang perempuan ini diawali dengan berbagi pengalaman dan cerita mengenai kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk saling mendengarkan, berbagi pengalaman, sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan kekerasan berbasis gender (KBG).

 

 

Selanjutnya, peserta diajak mengikuti aktivitas menggambarkan simbol diri. Melalui gambar yang dibuat, peserta diminta merefleksikan perasaan, karakter, dan bagaimana mereka memandang dirinya sendiri.

 

 

Dalam penyampaian materi Self Love, fasilitator mengingatkan bahwa banyak orang terlalu sibuk mencintai dan memenuhi kebutuhan orang lain hingga melupakan dirinya sendiri. Padahal, setiap orang berhak mendapatkan perhatian, penghargaan, dan perlindungan.

 

 

“Mencintai diri sendiri bukan berarti egois. Self love adalah kemampuan menghargai diri, mengenali kebutuhan, menjaga batasan, dan menyadari bahwa diri sendiri juga berharga,” ujar salah satu peserta, menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut.

 

 

Pentingnya membangun kesadaran diri juga dikaitkan dengan situasi kekerasan berbasis gender di Indonesia. Berdasarkan data Komnas Perempuan yang disampaikan dalam materi, sepanjang tahun 2025 tercatat 376.529 kasus KBG, meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen terjadi di ranah personal.

 

 

Data tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Perempuan perlu memiliki kesadaran atas hak-haknya, mengenali situasi berisiko, membangun kepercayaan diri, dan berani mengambil langkah untuk melindungi dirinya.

 

 

Peserta juga diajak mengenali diri melalui refleksi bertajuk “Inilah Aku Sesungguhnya”. Mereka diajak mengidentifikasi kelebihan, kekurangan, keunikan, potensi, hingga impian yang ingin dicapai. Proses ini diharapkan membantu peserta memahami bahwa setiap individu memiliki nilai dan kemampuan yang tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.

 

 

Materi juga membahas tujuh langkah membangun self love, yaitu afirmasi positif, berbicara positif kepada diri sendiri (self talk), bersyukur, memaafkan diri, berhenti membandingkan diri, menyediakan waktu untuk diri sendiri, serta melakukan aktivitas penyegaran seperti olahraga.

 

 

Selain itu, peserta diperkenalkan pada kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah agar lebih bijaksana dalam menghadapi persoalan dan mengambil keputusan.

 

 

Melalui pertemuan ini, Paralegal Desa Pentur diharapkan tidak hanya semakin memahami pentingnya mencintai diri sendiri, tetapi juga mampu menerapkan kesadaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan kerja-kerja pendampingan di masyarakat.

 

 

Mencintai diri sendiri adalah langkah awal untuk menghargai martabat dan melindungi diri. Karena itu, upaya pencegahan kekerasan perlu dimulai dengan membangun kesadaran bahwa setiap orang berharga, berhak merasa aman, dan berhak terbebas dari segala bentuk kekerasan.***

Ketika Dapur Rumahan Dewi Handayani Bertemu Solidaritas Komunitas UMKM Nglipar

Dewi Handayani dalam diskusi kelompok usaha Griya Boga Nglipar. (Foto: Muhammad Taaruf Huda/SPEK-HAM)
Dewi Handayani dalam diskusi kelompok usaha Griya Boga Nglipar. (Foto: Muhammad Taaruf Huda/SPEK-HAM)

Penulis: Muhammad Ta’aruf Huda

Dari sebuah rumah di Nglipar, Gunungkidul, berderet jajanan pasar di sebuah meja dapur. Dari sudut belakang rumah itu pula, Dewi Handayani melakoni usahanya selama 20 tahun belakangan. Sejak tahun 2006, ia menekuni usaha makanan rumahan bernama “Berkah Catering”.

 

Dari dapur usahanya, ia membuat beragam makanan, mulai dari tahu bakso, pastel, dadar gulung, wajik, lumpia, arem-arem, hingga agar-agar. Ia juga menerima pesanan aneka jajanan pasar, makanan ringan, dan nasi kotak sesuai kebutuhan pembeli.

 

 

Bagi Dewi, berjualan menjadi salah satu cara untuk membantu menambah penghasilan keluarga. Usaha makanan memberinya kegiatan produktif yang dapat terus dijalankan dari rumah. Setiap pesanan membutuhkan persiapan bahan, proses memasak, dan pengaturan produksi agar makanan dapat disiapkan sesuai kebutuhan pelanggan.

 

 

Selama menjalankan Berkah Catering, Dewi berhadapan dengan persoalan yang akrab bagi pelaku usaha makanan rumahan. Modal harus tersedia untuk membeli bahan baku dan memenuhi kebutuhan produksi, sementara penjualan tidak selalu ramai. “Ya kadang ada masa pesanan banyak, ada juga penjualan terasa sepi. Nggak mesti, mas,” ujar dia. Sebelum mengikuti Program ACCESS, ia menganggap keadaan tersebut sebagai bagian dari keseharian berjualan dan belum banyak mengetahui apakah pelaku UMKM lain mengalami situasi serupa.

 

 

“Ternyata, Bukan Hanya Saya yang Mengalaminya”

 

 

Pengalaman Dewi mulai berubah ketika ia bergabung dalam kegiatan Program ACCESS yang didampingi SPEK-HAM. Melalui pertemuan bersama pelaku UMKM lainnya, ia berkesempatan bertukar cerita tentang usaha yang mereka jalankan. ”Setelah masuk ke komunitas UMKM, ternyata bukan Cuma saya yang merasakan penjualan tidak stabil,” tutur Dewi.

 

 

Pengalaman itu membuatnya merasa memiliki teman untuk berbagi. Persoalan yang sebelumnya ia hadapi dalam menjalankan Berkah Catering kini dapat menemukan solusi bersama perempuan lain yang memahami keseharian usaha makanan rumahan. Mereka sama-sama mengetahui bagaimana cara menyiapkan dagangan, berharap produk terjual, dan menghadapi hari-hari ketika pembeli tidak sebanyak yang diharapkan.

 

 

Bagi Dewi, terbentuknya kelompok UMKM Griya Boga Nglipar menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. “Saya jadi bisa berbagi pengalaman sekaligus bertukas informasi sama pelaku usaha lain. Ya bukan untk bersaing, tapi malah untuk saling mendukung,” ungkapnya. Melalui kelompok UMKM Griya Boga, Dewi juga mendapatkan kesempatan memperluas pertemanan dengan perempuan yang menjalani kesibukan serupa.

 

 

Dari Mawar hingga Legalitas Kelompok

 

 

Salah satu pengalaman yang membekas menurut Dewi adalah kunjungan Putri Mawar dari Boyolali. Dalam kegiatan tersebut, ia dan pelaku UMKM lainnya mendapatkan pengetahuan tentang pemanfaatan bunga mawar sebagai bahan olahan pangan. Bunga yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman hias ternyata dapat diolah menjadi produk seperti keripik mawar dan teh mawar.

 

 

Bagi pelaku usaha makanan seperti dia, pengalaman mengenal olahan berbahan mawar memperkenalkan kemungkinan pengembangan produk yang sebelumnya belum banyak diketahui. “Saya jadi mendapat ide tentang beragam produk yang bisa dipelajari dan saya kembangkan,” ungkap Dewi. Demi memperdalam minatnya, ia kemudian mengikuti sebuah lokakarya di Warung Limasan Kademangan, Kalurahan Nglipar, yang membahas pentingnya legalitas kelompok UMKM.

 

 

Selain kegiatan belajar bersama, Dewi dan anggota kelompok juga mendapatkan formulir pendataan pendapatan usaha yang diisi setiap bulan. Pendataan ini membantu mereka mengumpulkan catatan mengenai pendapatan usaha secara berkala. “Informasi dan materi seperti manajemen itu bermanfaat untuk saya terapkan, ya sekalian bisa merencanakan pengembangan berikutnya untuk usaha,” kata dia.

 

 

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari kegiatan penguatan UMKM dalam Program ACCESS. Melalui pendampingan SPEK-HAM, Dewi dan anggota Griya Boga Nglipar lainnya mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan, membangun hubungan antarpelaku usaha, serta mengenal aspek pengembangan usaha yang sebelumnya belum banyak mereka perhatikan.

 

 

Berkah Catering dan Harapan untuk Berjalan Bersama

 

 

Setelah menjalankan usaha selama lebih dari dua dekade, Dewi masih memiliki banyak ide pengembangan untuk Berkah Catering. Ia ingin produknya mampu menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus Kelompok Usaha Griya Boga Nglipar dapat terus tumbuh. “Harapannya dukungan SPEK-HAM dan pemerintah kalurahan dapat berlanjut njih, jadi kelompok usaha ini bisa berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri,” terang dia.

 

 

Lebih jauh, Dewi juga ingin hubungan yang telah terjalin dalam kelompok tetap terjaga. Kesempatan untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan belajar bersama menjadi sesuatu yang ingin terus dipertahankan. Ia berharap para perempuan pelaku UMKM dapat saling mendukung dalam mengembangkan usaha dan memperkenalkan produk lokal kepada lebih banyak orang.***

Pendirian LBK Jelok Boyolali: Perkuat Pencegahan Kekerasan di Tingkat Desa

Peresmian pembentukan LBK Desa Jelok, Boyolali bertempat di Komplek Kantor Dinas Pemerintah Kabupaten Boyolali pada Kamis (22/10/2026). (Foto: Antonius Danang Wijayanto/SPEK-HAM)

Penulis: Henrico Fajar Kristiarji

BOYOLALI – Upaya mendekatkan layanan bagi perempuan dan anak perempuan korban kekerasan terus didorong oleh Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM). Salah satunya melalui lokakarya pembentukan Layanan Berbasis Komunitas (LBK) dalam upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang digelar pada Kamis, 22 Oktober 2026, di Aula Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Boyolali.

 

 

Kegiatan yang didukung Victoria’s Secret ini melibatkan Kepala Desa, Perangkat Desa, 15 anggota komunitas perempuan anggota LBK dari Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, hadir pula Sekretaris DP2KBP3A, Kepala Bidang P3A dan Kepala UPT PP Kabupaten Boyolali. Lokakarya tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat keterlibatan masyarakat, khususnya kelompok perempuan, dalam mencegah kekerasan sekaligus mendukung penanganan kasus di lingkungan mereka.

 

 

SPEK-HAM menilai kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Berdasarkan data yang dicantumkan dalam kerangka acuan kegiatan, Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus KBG sepanjang 2025, meningkat 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar kasus terjadi di ranah personal, dengan jumlah 337.961 kasus.

 

 

Di Jawa Tengah, data yang dirujuk dalam dokumen kegiatan juga menunjukkan peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat sebanyak 939 kasus pada 2022, meningkat menjadi 955 kasus pada 2023, dan mencapai 1.019 kasus pada 2024.

 

Sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak meningkat dari 1.224 kasus pada 2022 menjadi 1.349 kasus pada 2024. Sementara itu data dari DP2KBP3A Kabupaten Boyolali periode Januari-Agustus 2026 menyebutkan angka kasus kekerasan terhadap perempuan 35 kasus dan kekerasan terhadap anak 35 kasus.

 

 

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya memperluas akses layanan agar perempuan dan anak perempuan korban kekerasan tidak menghadapi hambatan ketika membutuhkan pertolongan. Jarak menuju lembaga layanan yang umumnya berada di pusat kabupaten atau kota masih dapat menyulitkan penyintas yang tinggal di wilayah pedesaan.

 

 

Melalui pembentukan LBK, SPEK-HAM mendorong komunitas perempuan agar memiliki pemahaman dan perspektif yang sama mengenai pencegahan kekerasan, mengenali berbagai bentuk kekerasan, serta terlibat dalam mendukung penanganan kasus. Komunitas diharapkan dapat menjadi lingkungan yang lebih aman dan mendukung perempuan maupun anak perempuan yang mengalami kekerasan.

 

 

Keterlibatan masyarakat juga sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, yang menjadi landasan penting dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan.

 

 

Pembentukan layanan berbasis komunitas diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi berkembang menjadi komitmen bersama untuk membangun mekanisme dukungan yang aman, mudah dijangkau, dan berorientasi pada kebutuhan penyintas.

 

 

Melalui penguatan peran komunitas perempuan Desa Jelok, SPEK-HAM mendorong tumbuhnya solidaritas di tingkat desa agar perempuan dan anak perempuan tidak menghadapi kekerasan sendirian serta memperoleh dukungan untuk mengakses layanan dan memperjuangkan hak-haknya.***

Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, TP PKK Desa Jelok Dorong Jadi Garda Terdepan

Tim Penggerak PKK Desa Jelok Boyolali mengikuti sesi materi pencegahan dan penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak pada Rabu (21/10/2026) bertempat di Balai Desa. (Foto: Henrico Fajar/SPEK-HAM)
Tim Penggerak PKK Desa Jelok Boyolali mengikuti sesi materi pencegahan dan penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak pada Rabu (21/10/2026) bertempat di Balai Desa. (Foto: Henrico Fajar/SPEK-HAM)

Penulis: Henrico Fajar Kristiarji

BOYOLALI – Pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Menyadari pentingnya peran tersebut, sebanyak 30 orang pengurus dan anggota TP PKK Desa Jelok mengikuti diskusi komunitas pada Rabu, 21 Oktober 2026 di Balai Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali untuk membahas situasi kekerasan serta upaya pencegahan dan penanganannya di tingkat desa.

 

 

Dalam diskusi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai beragam bentuk kekerasan, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual terhadap anak, hingga kekerasan berbasis gender online (KBGO). Peserta juga diajak memahami dampak kekerasan terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan masa depan korban.

 

 

Kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak menjadi salah satu perhatian serius. Paparan dalam kegiatan menyoroti bahwa kekerasan dapat terjadi di lingkungan terdekat korban, termasuk dalam lingkup keluarga. Situasi ini menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat serta keberanian untuk melaporkan dugaan kekerasan.

 

 

Persoalan kekerasan juga berkaitan dengan kesehatan mental remaja dan ancaman di ruang digital. Perundungan, tekanan sosial, serta penyalahgunaan media digital dapat berdampak pada kondisi psikologis anak dan remaja. Karena itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang aman sekaligus membuka ruang bagi anak untuk bercerita tanpa takut disalahkan.

 

 

Diskusi ini juga menekankan pentingnya pemenuhan hak anak, termasuk hak atas pengasuhan, pendidikan, kesehatan, identitas, ruang bermain, dan partisipasi. Korban kekerasan harus mendapatkan perlindungan dan pendampingan, bukan stigma atau diskriminasi yang justru memperburuk kondisi mereka.

 

 

Sebagai tindak lanjut, kader PKK dan tokoh desa didorong untuk memperkuat edukasi pencegahan kekerasan, membangun kelompok peduli kekerasan di tingkat desa, serta mengembangkan jejaring rujukan dengan layanan kesehatan, pemerintah, dan lembaga pendamping korban.

 

 

SPEK-HAM, yang memberikan layanan pengaduan dan pendampingan kekerasan secara gratis, khususnya di wilayah Solo Raya, turut menjadi bagian dari penguatan akses masyarakat terhadap layanan bantuan.

 

 

Melalui kegiatan ini, Desa Jelok diharapkan semakin memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam mencegah kekerasan. Upaya tersebut membutuhkan kepedulian bersama, keberanian untuk melapor, serta komitmen untuk memastikan setiap perempuan dan anak dapat hidup aman, memperoleh haknya, dan terbebas dari kekerasan.***

Dari Dapur Rumah ke Panggung Pameran: Lumpia Anisa Buktikan UMKM Gunungkidul Digdaya

Senyum Anisa menyambut pembeli di booth UMKM miliknya. (Foto: Muhammad Taaruf HudaT Huda/SPEK-HAM)
Senyum Anisa menyambut pembeli di lapak UMKM miliknya. (Foto: Muhammad Taaruf Huda/SPEK-HAM)

Penulis: Muhammad Ta’aruf Huda

Sang surya mulai menyinari Gunungkidul saat lembaran telur dadar berjejer rapi di dapur rumah Anisa. Suara riuh aktivitas memasak dan mengolah bahan dasar hingga menjadi lumpia sudah dimulai sejak adzan subuh berakhir. Sejak tahun 2022, Anisa Dian Pertiwi mulai berjualan lumpia isi untuk menambah penghasilan. Sebuah jalan awal menjadi UMKM Gunungkidul yang lebih jauh.

 

 

Usaha itu berawal dari keinginannya memiliki kegiatan produktif yang bisa memberikan pemasukan tambahan. Dari rumahnya di Kebonjero, Kalurahan Pengkol, ia mulai memasarkan lumpia kepada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Penjualan belum menentu, dan kegiatan usahanya masih berjalan dengan cara sederhana.

 

 

Saat itu, perhatian Anisa masih tertuju pada produksi dan penjualan sehari-hari. Ia belum banyak memikirkan sertifikasi produk, pengembangan pemasaran, maupun berbagai persiapan yang diperlukan untuk memperluas jangkauan usaha. “Pelanggan saya saat awal-awal dulu masih berasal dari lingkungan terdekat. Kalau untuk memperkenalkan produk ke konsumen di luar wilayah belum banyak sih,” ujar dia.

 

 

Perjalanan membangun usaha ke tahap yang lebih lanjut semakin menjadi ketika keterlibatannya dalam Program ACCESS yang didampingi SPEK-HAM memberinya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan usaha dengan lebih serius.

 

Anisa mulai memberikan perhatian pada berbagai aspek yang sebelumnya belum banyak ia pikirkan, termasuk kesiapan produk dan peluang pemasaran. Ia juga mendapatkan kesempatan mengikuti pameran, sebuah pengalaman yang membawanya keluar dari lingkup penjualan yang selama ini ia kenal.

 

 

Ketika Lumpia Bertemu Pelanggan Baru

 

 

Sebelum mengikuti kegiatan program, Anisa lebih banyak mengandalkan penjualan di sekitar tempat tinggalnya. Melalui kesempatan mengikuti pameran, ia dapat memperkenalkan lumpia buatannya kepada lebih banyak orang. “Saya akhirnya mendapat kesempatan untuk bisa mempromosikan produk ke konsumen yang lebih luas,” ungkap dia. Menurutnya, pameran menjadi ruang pemasaran yang berbeda dari kesehariannya, sekaligus membuka peluang untuk mendapatkan pelanggan baru.

 

 

Pengalaman tersebut membuat Anisa semakin bersemangat menjalankan usaha. Ia tidak lagi hanya memikirkan penjualan kepada pelanggan di sekitar rumah, tetapi juga mulai melihat kesempatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Setiap peluang berjualan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produknya kepada orang-orang yang sebelumnya belum mengenal usahanya.

 

 

Anisa juga merasakan perkembangan dalam penjualan harian. Ia menyampaikan bahwa penjualan kini lebih rutin dan stabil dibandingkan sebelumnya. “Sekarang ini sudah ada pelanggan tetap, orderan bisa dibilang ada terus. Alhamdullilah ini makin semangat menjalankan usaha saya juga makin aktif memasarkan produk ke luar wilayah,” cerita dia.

 

 

Bersamaan dengan itu, Anisa mulai memikirkan kebutuhan usahanya secara lebih serius. Sertifikasi produk menjadi salah satu hal yang ingin ia lengkapi. Ia juga ingin mengembangkan pemasaran agar lumpia buatannya dapat menjangkau pelanggan di luar daerah tempat tinggalnya. Baginya, memperluas pasar membutuhkan persiapan dan kemauan untuk terus mempelajari hal-hal baru.

 

 

Menyiapkan Langkah Berikutnya

 

 

Menjalankan usaha kini menjadi pengalaman belajar bagi Anisa. Kesempatan mengikuti pameran memberinya pengalaman memasarkan produk di lingkungan yang lebih luas, sementara perkembangan penjualan harian membuatnya semakin bersemangat untuk melanjutkan usaha. Ia mulai melihat berbagai kebutuhan yang perlu dipersiapkan agar lumpianya dapat dipasarkan dengan jangkauan yang lebih luas.

 

 

Sebagai anggota UMKM Srikandi Pengkol, Anisa juga menjadi bagian dari kelompok perempuan yang sedang mengembangkan usaha masing-masing. Melalui kegiatan pengembangan UMKM dalam Program ACCESS, para pelaku usaha perempuan mendapatkan ruang untuk memperkuat kapasitas dan membangun peluang bagi usaha mereka. Pendampingan SPEK-HAM menjadi bagian dari proses yang mendukung perjalanan tersebut.

 

 

Anisa berharap usaha lumpianya semakin berkembang, penjualan meningkat, dan produknya dikenal oleh lebih banyak pelanggan. “Ya ke depan ingin lebih serius dalam meningkatkan kualitas lewat sertifikasi produk juga kepengen sering-sering ikut kegiatan pemasaran ke luar,” ungkapnya.

 

 

Usaha yang dimulai pada 2022 untuk menambah penghasilan kini menjadi sesuatu yang ingin Anisa kembangkan lebih jauh. Ia telah merasakan pengalaman berjualan di pameran dan perkembangan penjualan yang lebih rutin. Dengan bekal pengalaman tersebut, Anisa terus melangkah untuk memperluas pasar lumpianya dan mempersiapkan usahanya agar semakin berkembang.***

Komunitas Perempuan Pentur Gandeng Remaja Perkuat Pemahaman KBG dan KBGO

Peserta tengah mengikuti kegiatan diskusi KBG dan KBGO pada Sabtu (17/10/2026). (Foto: Henrico Fajar/SPEK-HAM)
Peserta tengah mengikuti kegiatan diskusi KBG dan KBGO pada Sabtu (17/10/2026). (Foto: Henrico Fajar/SPEK-HAM)

Penulis : Henrico Fajar Kristiarji

BOYOLALI – Sebanyak 30 orang komunitas perempuan dan remaja mengikuti diskusi tentang pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bentuk-bentuk kekerasan, dampaknya terhadap korban, serta pentingnya perlindungan hak asasi manusia (HAM).

 

 

Dalam diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa kekerasan berbasis gender tidak hanya berupa kekerasan fisik dan seksual, tetapi juga kekerasan psikis, ekonomi, serta sosial dan budaya. Ketimpangan kekuasaan, diskriminasi, dan budaya patriarki menjadi sejumlah faktor yang dapat memperkuat terjadinya kekerasan.

 

 

Perhatian khusus diberikan pada KBGO yang semakin menjadi ancaman di ruang digital. Bentuknya antara lain pelecehan melalui pesan atau komentar, ancaman daring, penyebaran data pribadi tanpa izin, penyebaran konten intim tanpa persetujuan, penggunaan akun palsu untuk merusak reputasi, hingga penguntitan secara digital.

 

 

Kekerasan tersebut dapat menimbulkan trauma, kecemasan, depresi, pengucilan sosial, serta mengganggu pendidikan dan pekerjaan korban. Karena itu, ruang digital harus menjadi ruang yang aman bagi semua orang, bukan tempat untuk melakukan intimidasi dan pelecehan.

 

 

Diskusi juga menyoroti berbagai hambatan dalam penanganan kekerasan, seperti stigma masyarakat, ketakutan korban untuk melapor, keterbatasan akses bantuan hukum, serta kecenderungan menyalahkan korban. Peserta diajak memahami pentingnya memberikan dukungan tanpa menghakimi dan memastikan korban memperoleh pendampingan medis, psikologis, sosial, serta hukum.

 

 

Dalam sesi tanya jawab, peserta membahas sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari prosedur pemeriksaan medis atau visum bagi korban kekerasan, batasan orang tua dalam mendidik anak, hingga hak siswi SMP atau SMA yang mengalami kehamilan untuk tetap memperoleh akses pendidikan.

 

 

“Perlindungan terhadap perempuan dan anak perlu dilakukan dengan mengutamakan keselamatan, martabat, hak, dan kepentingan korban. Nasihat orang tua tidak otomatis menjadi kekerasan, tetapi penghinaan, ancaman, pemaksaan berlebihan, dan tindakan yang merusak kondisi psikologis anak perlu diwaspadai,” ujar salah seorang peserta.

 

 

Melalui kegiatan ini, Komunitas Perempuan Pentur diharapkan semakin mampu mengenali tanda-tanda kekerasan, memahami hak-hak korban, serta berperan aktif dalam pencegahan KBG dan KBGO di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

 

 

Pencegahan kekerasan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Penguatan literasi digital, pendidikan kesetaraan gender dan HAM, keberanian melaporkan kekerasan, serta kerja sama antara masyarakat, pemerintah, lembaga layanan, dan aparat penegak hukum menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.***

 

Tiga Peran, Satu Kepedulian: Kisah Salma di Antara Ruang Kelas, Pers, dan Pendampingan Kekerasan

Arsyida Salma tengah memimpin diskusi kader remaja. (Foto: Firda Nuril/SPEK-HAM)
Arsyida Salma tengah memimpin diskusi kader remaja. (Foto: Firda Nuril/SPEK-HAM)

Penulis: I.K Nino Sativara

Di tengah ramainya lorong kampus dan tumpukan tugas perkuliahan, hari-hari Arsyida Salma bergerak dalam tempo yang sangat tinggi. Mahasiswi semester tiga ini tak hanya disibukkan oleh ritme akademis yang padat, tetapi juga harus membagi waktunya di ruang redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan juga menjadi kader pendamping kekerasan di desanya. Sebagai jurnalis muda di kampus, hari-harinya diwarnai rapat redaksi, pencarian ide liputan, hingga tenggat waktu penulisan berita yang kerap menguras energi.

 

 

Namun, aktivitas Salma tidak berhenti di batas benteng akademis. Di luar kampus, ia juga mengemban tanggung jawab sebagai kader remaja di kota kelahirannya, Surakarta, Jawa Tengah. Aktivitas pendampingan ini bukanlah tugas ringan, ia harus siap menjadi tempat berlabuh, memberikan dukungan psikologis awal, membantu menyusun kronologi kasus, hingga mengawal rujukan ke lembaga profesional. 

 

 

Menjalani tiga peran secara bersamaan tentu bukan perkara mudah. Salma menekankan bahwa kunci utama untuk bertahan di tengah himpitan jadwal tersebut adalah manajemen waktu yang ketat serta skala prioritas yang jelas. “Cara membagi waktunya adalah dengan disiplin menetapkan prioritas,” tutur Salma saat ditemui pada Selasa (13/10/2026). 

 

 

Ia memanfaatkan waktu perkuliahan secara fokus agar tidak menumpuk beban di luar jam belajar, menyisipkan jadwal kerja jurnalistik secara terstruktur, dan mendedikasikan energi emosionalnya untuk pendampingan warga saat situasi darurat membutuhkan keputusannya.

 

 

Ketika Intuisi Pewarta Melindungi Penyintas

 

 

Kepekaan dan kemampuan analisisnya diuji ketika sebuah kasus kekerasan justru terjadi di kampusnya. Salma dengan penuh empati membangun ruang aman agar korban mau terbuka. Untuk mencegah trauma berulang Salma menginisiasi penulisan kronologi kejadian secara terstruktur dan rinci. Dengan dokumen itu, ia merujuk kasus tersebut ke Yayasan SPEK-HAM dan UPTD PPA Kota Surakarta.

 

 

Proses pendampingan intensif yang memakan waktu hingga hampir lima bulan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis. Meski harus melewati alur birokrasi yang memakan waktu, korban akhirnya resmi mendapatkan penanganan medis dan terapi psikologis profesional secara cuma-cuma hingga kondisinya stabil dan pulih dari trauma.

 

 

Pelajaran Penting Jurnalis Muda

 

 

Dari perjalanan panjang menyeimbangkan peran ini, Salma memetik pembelajaran berharga tentang keikhlasan dan ketangguhan mental. Menjadi pendamping di tengah kesibukan kuliah dan pers mahasiswa memang berisiko memicu kelelahan psikis (mental fatigue). Namun, baginya, keberhasilan menyelamatkan satu nyawa manusia dari krisis trauma memberikan kepuasan emosional yang tak ternilai. 

 

 

“Hampir lima bulan itu psikisku juga kena, capek mental iya,” ungkapnya jujur. “Tapi ketika kita mau membantu seseorang, kuncinya ikhlas. Senang rasanya setidaknya kita bisa menyelamatkan satu orang. Bukan berarti berlagak seperti pahlawan, tapi ketika punya kapasitas untuk membantu, ya bantulah,” jelas dia. 

 

 

Melalui kisahnya, Salma membuktikan bahwa status mahasiswa dan jurnalis muda bukan halangan untuk terjun langsung menjadi agen perubahan di masyarakat. Ia berharap para perempuan dan anak muda berani menyuarakan hak-haknya serta berdiri tegak melawan segala bentuk kekerasan. 

 

 

“Aku harap anak-anak muda dan para perempuan di mana pun berada lebih berani untuk menyuarakan diri kalian sendiri. Diri kalian itu berharga. Kita mungkin sering terstigma lemah, tapi kamu bisa menjadi versi terkuat dirimu sendiri. Jangan pernah berhenti di satu suara,” tutup wartawati muda itu.

 

 

Cerita ini bagian dari Program ARUNIKA (Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Bebas Kekerasan) yang dilaksanakan oleh Yayasan IPAS Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kanada.

SPEK-HAM dan UPT PPA Boyolali Godok SOP Layanan Integratif Korban Kekerasan

Yayasan SPEK-HAM Surakarta bersama UPT PPA Boyolali dalam rapat penyusunan SOP Layanan Terintegrasi pada Senin (19/10/2026). (Foto: Danang Wijayanto/SPEK-HAM)

Penulis: Antonius Danang Wijayanto

BOYOLALI – Upaya memperkuat penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan di Kabupaten Boyolali memasuki babak baru. Yayasan SPEK-HAM berkolaborasi dengan UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Boyolali menggelar giat penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Layanan Integratif pada Senin (19/10/2026).

 

 

Pertemuan strategis yang berlangsung di Ruang Rapat Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Boyolali ini hadir sebagai respons atas tingginya kebutuhan akan mekanisme penanganan korban yang cepat, tepat, dan ramah hak asasi.

 

 

Penyusunan SOP ini merujuk langsung pada amanat Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) No. 12 Tahun 2022 serta Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2024.

 

 

Melalui panduan operasional yang responsif gender dan terkoordinasi lintas sektor, layanan UPT PPA ditargetkan menjadi lebih mudah diakses, aman, serta menjamin keberlanjutan pemulihan bagi para korban.

 

 

Langkah kolaboratif ini juga menjadi bagian terintegrasi dari program “Pathways to Address Integrated Violence and Health Services”. Inisiatif global ini berfokus pada perluasan akses keadilan transformatif dan penjangkauan layanan kesehatan yang inklusif khususnya bagi penyintas kekerasan, pekerja seks perempuan, perempuan dengan HIV, hingga kelompok dengan keragaman gender dan seksualitas.

 

 

Melalui penyusunan SOP ini, SPEK-HAM dan UPT PPA Boyolali berkomitmen meruntuhkan sekat-sekat birokrasi dalam pelayanan publik.

 

Harapannya, setiap korban yang melapor tak hanya mendapatkan perlindungan hukum, tetapi juga pendampingan psikologis dan medis yang komprehensif tanpa diskriminasi.

 

Langkah konkret Boyolali ini sekaligus mempertegas komitmen daerah dalam mewujudkan ruang publik yang aman, inklusif, serta ramah bagi seluruh lapisan masyarakat. ***