Pertemuan Penyintas Teguhkan Semangat Perempuan Bebas dari Kekerasan

Manajer Divisi PPKBM SPEK-HAM, Fitri Junianto tengah mengisi pembekalan dalam pertemuan penyintas pada Jumat (11/9/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Manajer Divisi PPKBM SPEK-HAM, Fitri Junianto tengah mengisi pembekalan dalam pertemuan penyintas pada Jumat (11/9/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

Penulis: I.K Nino Sativara

SURAKARTA- Suara riuh tawa pecah di sudut kantor SPEK-HAM Surakarta, Jumat siang (11/9/2026). Di ruangan yang hangat itu, sekat-sekat canggung perlahan menguap. Puluhan perempuan penyintas kekerasan dari Surakarta dan Sukoharjo berkumpul, duduk melingkar bersama para pendamping yang selama ini setia berjalan di samping mereka.

 

 

Tidak ada raut muram atau atmosfer serba berat yang biasa melekat pada isu kekerasan terhadap perempuan. Hari itu, mereka berkumpul bukan untuk membuka kembali luka lama, melainkan untuk menyembuhkannya bersama-sama.

 

 

Manajer Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat (PPKBM) SPEK-HAM Surakarta, Fitri Junianto, membuka pertemuan dengan senyum hangat. Ia menegaskan sejak awal bahwa ruang ini hadir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk merawat harapan.

 

 

“Terima kasih sudah datang di sini. Tentu kita hari ini tidak akan membahas apa yang sudah-sudah, namun ingin mengajak teman-teman semua melangkah ke depan dan bersuka ria menghadapi kehidupan,” ujar Fitri menyapa para peserta.

 

 

 

Suasana semakin mencair ketika Hana, Community Organizer program Arunika, mengambil alih panggung. Lewat permainan sederhana berbasis kelompok, Hana mengajak para peserta berdinamika. Permainan yang tampak sederhana itu perlahan memecahkan kebekuan. Gelak tawa berbalas, tepuk tangan bergemuruh, dan pelukan singkat mulai terjalin antarperserta yang tadinya saling asing.

 

 

 

Bagi para penyintas, menemukan ruang di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa dihakimi adalah hal yang mahal. Rasa lega itu terpancar jelas dari raut wajah salah satu peserta.

 

 

 

Setelah melewati masa-masa berat, berada di tengah sesama penyintas memberikan kekuatan baru.”Saya senang mengikuti kegiatan hari ini karena akhirnya bisa plong, sharing, dan dikuatkan lagi di sini,” ungkapnya dengan mata berbinar. Ruang itu berhasil menjadi wadah di mana beban rasa trauma diecer bersama, hingga tak lagi terasa membendung di dada.

 

 

Fitri menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk merekatkan keakraban sekaligus saling menguatkan antar penyintas. “Kegiatan ini tentu harapannya lebih dari sekadar ajang kumpul-kumpul dan meluapkan rasa bahagia,” tambah Fitri.

 

 

Melalui simpul dukungan komunitas yang makin erat, SPEK-HAM ingin menegaskan kembali pesan paling krusial bagi seluruh perempuan di mana pun berada. Aman dari kekerasan bukanlah sebuah hadiah atau kebetulan, melainkan hak hakiki yang harus dijamin dan diperjuangkan bersama.***