Search for:

Ketika Perempuan Jelok Meretas Sekat Gender dan Kekerasan

Kader perempuan di Desa Jelok, Boyolali tampak sedang menyusun dokumen dalam diskusi layanan berbasis komunitas pada Kamis (13/8/2026). (Foto: Magang UNS/SPEK-HAM)
Kader perempuan di Desa Jelok, Boyolali tampak sedang menyusun dokumen dalam diskusi layanan berbasis komunitas pada Kamis (13/8/2026). (Foto: Magang UNS/SPEK-HAM)

 

BOYOLALI – Di Desa Jelok, Boyolali stereotype lama masih membendung ruang gerak perempuan. Anggapan bahwa perempuan tak elok pulang malam sementara laki-laki bebas melangkah, hingga narasi bahwa tempat perempuan hanyalah di dalam rumah, masih menjadi realita keseharian. Namun, kesadaran baru mulai menyala dari sudut desa ini.

 

 

Kamis (13/8) suasana hangat menyelimuti jalannya diskusi bertajuk “Regular Discussion For Community Based Service” yang berlangsung di balai desa. Dipandu oleh Henrico Fajar, staf SPEK-HAM, kelompok perempuan dan kader setempat berkumpul untuk membedah akar ketidakadilan gender, kekerasan berbasis gender (KBG), hingga pemahaman mendasar mengenai perbedaan seks biologis dan konstruksi sosial gender. “Materi ini diharapkan dapat membuka wawasan kita semua tentang kesetaraan gender di Desa Jelok,” tutur Karni, salah seorang kader dalam sambutannya penuh harap.

 

Diskusi berlangsung interaktif.

 

 

Henrico menegaskan bahwa kapasitas dan kepemimpinan seseorang tidak boleh dibatasi oleh gender. Perempuan memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk memimpin, baik di dunia kerja maupun organisasi. “Suatu pekerjaan tidak dibatasi oleh gender, tidak hanya laki laki tetapi perempuan juga bisa, tidak hanya di pekerjaan di organisasi perempuan juga bisa menjadi pemimpin,” ungkapnya.

 

 

Isu sensitif pun turut dikupas, seperti fakta bahwa penyebaran HIV kerap menyerang ibu rumah tangga akibat perilaku berisiko pasangan di luar rumah, hingga meluruskan stigma maskulinitas. “Seorang laki-laki itu harus tegas, tetapi selalu disalahartikan dengan kekerasan,” ungkap Henrico mendobrak pemahaman keliru yang selama ini mengakar.

 

 

Tak sekadar menjadi ruang edukasi, forum ini menandai langkah konkret pembentukan Layanan Berbasis Komunitas di Desa Jelok, Boyolali. Layanan ini nantinya akan memuat berbagai lini, mulai dari pencegahan, kampanye, sosialisasi, hingga pencatatan kasus. Berbekal pengalaman SPEK-HAM dalam menangani kasus perundungan anak di Simo bersama dinas dan psikolog, para kader diajarkan pentingnya prinsip kerahasiaan, layanan medis, pendampingan hukum, serta sistem rujukan.

 

 

Ke depan, serangkaian rencana aksi telah disiapkan, antara lain seperti edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan KDRT, sosialisasi bagi remaja, hingga pembentukan tim paralegal desa. SPEK-HAM menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi penguatan kapasitas kader di Desa Jelok.

 

 

Pelan tapi pasti, lewat kolaborasi berkelanjutan ini, Desa Jelok tengah merajut asa baru untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan responsif dalam melindungi perempuan serta anak.***

Membangun Asa Usai Bencana: Kelompok Wanita Tani di Kampung Sewu Bangkit bersama SPEK-HAM

Anggota KWT Dewi Sri, Kampung Sewu tengah merabuk tanaman di selasar teras rumah. (Foto: SPEK-HAM)
Anggota KWT Dewi Sri, Kampung Sewu tengah merabuk tanaman di selasar teras rumah. (Foto: SPEK-HAM)

SURAKARTA- Bayang-bayang luapan Bengawan Solo masih teringat di benak Iwuk, warga Kelurahan Kampung Sewu, Jebres, Surakarta yang wilayahnya sempat lumpuh diterjang banjir besar pada 2007. Kala itu air setinggi 3 meter menutup setinggi pintu rumahnya. Berminggu-minggu setelah banjir, lingkungan sekitar tak terurus. Lumpur dan tanah menguasai jalanan.

 

 

Ingatan lampau itu mendorong Iwuk untuk tak henti ikut memberdayakan warga kampungnya lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri yang tumbuh bersama pendampingan Yayasan SPEK-HAM. “Sejak 2005 sebenarnya sudah berdiri. Baru setahun kemudian kami mendapat dana pemberdayaan. Jumlahnya tidak banyak, tapi sudah cukup untuk melangkah,” ujar dia. Jumat (30/7/2026) pagi.

 

 

Tak jauh dari Iwuk berdiri, sejumlah anggota KWT Dewi Sri tampak sibuk mengubah galon bekas menjadi kebun sayur. Kampung Sewu adalah kawasan padat penduduk yang nyaris tidak menyisakan tanah kosong untuk bercocok tanam. Keterbatasan lahan tak menyurutkan semangat para kader perempuan itu untuk menanam.

 

 

“Solusinya, anggota KWT memanfaatkan galon-galon bekas sebagai media tanam pengganti lahan. Tomat, terong, cabai, dan kacang panjang jadi pilihan utama karena tomat dan terong dikenal cepat panen, sementara cabai meski lebih rentan penyakit tetap bisa dipangkas dan pulih kembali,” ungkap Iwuk.

 

 

Saat panen tiba, hasilnya lebih banyak dijual ke sesama anggota dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar. “Saat harga cabai sedang mahal, sebelum uangnya diputar kembali untuk membeli bibit baru, kita jual untuk memenuhi rumah tangga anggota KWT,” terang salah seorang kader perempuan.  Siklus modal kecil namun efektif ini terbukti menjaga kebun mereka tetap hidup.

 

 

Bangkit dari Bencana bersama SPEK-HAM

 

 

Keterlibatan SPEK-HAM dalam perjalanan KWT Dewi Sri bermula justru dari bencana, tepatnya pasca banjir yang melanda Surakarta pada 2007 lalu. Bencana itu merendam hampir seluruh Kampung Sewu termasuk wilayah RW 1 dan RW 7 yang paling terdampak.

 

 

“Kami senang, jadi bersama SPEK-HAM dalam pendampingan itu bukan sekadar soal bertani. Ada pelatihan pembuatan pupuk, pemetaan wilayah pasca banjir, studi banding ke Boyolali dan Yogyakarta untuk belajar teknik menanam di lahan terbatas, termasuk kisah lahan pesisir laut yang ternyata tetap bisa ditanami,” ungkap Iwuk.

 

 

Selain memberdayakan masyarakat di sektor pertanian dan ketahanan pangan, SPEK-HAM turut mendampingi pembentukan paralegal sebagai garda depan penanganan kasus KDRT. “Bagi anggota KWT, kehadiran SPEK-HAM inilah yang justru memantik semangat untuk membentuk kelompok tani perempuan sebagai wujud nyata dari ilmu yang mereka dapatkan,” ujar Rini, anggota lainnya.

 

 

Rini menceritakan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dari pendampingan terasa begitu berharga, karena datang tanpa harus mengeluarkan biaya sekolah formal. Baginya, bekal ilmu itulah yang kemudian bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kelompok perempuan di Kampung Sewu secara keseluruhan.

 

 

Memiliki tanaman sendiri di pekarangan membuat para kader perempuan KWT Dewi Sri tak perlu lagi membeli sayur saat harga sedang tinggi, cukup memetik dari galon di rumah. “Kesibukan merawat tanaman, menyiram, memupuk seminggu sekali, memangkas daun yang sakit juga menjadi bentuk tanggung jawab yang kami lakukan bergantian, sebuah kepedulian kecil yang dirasakan berdampak besar bagi ketahanan pangan keluarga,” ungkap Iwuk.

 

 

“Harapannya KWT itu tetap eksis ya. Tetap eksis, berkembang terus, jadi tanaman itu tidak berhenti. Jadi kalau sudah panen, ada bibit lagi.” Sebuah harapan agar pendampingan SPEK-HAM terus berlanjut, dan bantuan bibit datang lebih teratur, sehingga kebun-kebun galon di Kampung Sewu tak pernah benar-benar berhenti tumbuh.***

Perkuat Peran Perempuan Desa, SPEK-HAM Gelar Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok di Desa Jelok

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)

BOYOLALI –SPEK-HAM menggelar kegiatan bertajuk “Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok Perempuan” di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong terbentuknya kelompok perempuan desa yang mandiri, aktif, dan berdaya melalui pengenalan potensi serta penyusunan mimpi bersama di tingkat komunitas.

 

 

Hadir sebagai narasumber, Henrico Fajar dan Danang Wijayanto (Manajer SPEK-HAM) membekali para peserta terutama para kader PKK dan penggerak desa mengenai hak asasi perempuan, pemahaman kelompok rentan, serta pengorganisasian berbasis komunitas.

 

 

Dalam sesi pertama, Henrico Fajar menekankan pentingnya pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang sering dihadapi perempuan, seperti isu kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, hingga hambatan ekonomi. “Perempuan masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun ekonomi. Melalui pengorganisasian kelompok, perempuan tidak hanya mendapat ruang berkumpul, tetapi juga sarana belajar bersama untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kritis,” ujar Henrico.

 

 

Sesi dilanjutkan oleh Manajer SPEK-HAM, Danang Wijayanto, yang memandu peserta melakukan analisis menggunakan metode Pohon Komunitas dan Visioning. Metode ini mengajak warga memetakan persoalan desa sebagai akar masalah, sekaligus menginventarisasi potensi lokal, seperti keberadaan kader posyandu yang aktif, usaha UMKM, peternakan, hingga semangat gotong royong warga, sebagai modal perubahan.

 

 

Dari hasil diskusi partisipatif, peserta berhasil memetakan sejumlah tantangan nyata di lapangan, mulai dari minimnya pemahaman alur pelaporan kasus KDRT karena masih dianggap aib, masalah kehamilan di bawah umur, hingga ketimpangan relasi dalam program KB keluarga. Di sisi lain, Desa Jelok memiliki potensi besar berupa aktifnya jejaring kader PKK/Posyandu serta berbagai sektor UMKM dan pertanian yang produktif.

 

 

Sebagai langkah konkret, kelompok perempuan Desa Jelok menyepakati sejumlah rencana aksi satu tahun ke depan, antara lain pembentukan jejaring komunikasi perlindungan hak perempuan di tingkat RT, prioritas perlindungan korban kekerasan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga komitmen pemberdayaan ekonomi lokal dengan mengutamakan belanja produk UMKM sekitar. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM berharap kelompok perempuan di Desa Njelok dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan desa yang inklusif, ramah perempuan, dan sejahtera. ***

Bank Sampah Sadarela, Bukti Perempuan Gilingan Bergerak Jaga Lingkungan

Perempuan Gilingan berfoto bersama di Bank Sampah Sadarela pada Selasa, (28/7/2026). (Foto: Sustainable Livelihood/SPEK-HAM)
Perempuan Gilingan berfoto bersama di Bank Sampah Sadarela pada Selasa, (28/7/2026). (Foto: Sustainable Livelihood/SPEK-HAM)

 

Pagi itu Bank Sampah Sadarela di Kelurahan Gilingan, Surakarta mendadak ramai warga. Baju, celana, hingga sepatu tampak berjejer rapi di atas alas sederhana. “Monggo bu, monggo pak! Lima ribu saja,” teriak salah seorang warga yang menunggu di hadapan barang-barang tadi pada Selasa (28/7/2026).  Kegiatan thrifting atau jual beli barang bekas itu tak cuma memutar roda ekonomi lokal, melainkan turut menerapkan prinsip reuse untuk mengurangi sampah. Di sudut lainnya orang tua, kaum muda, bapak, ibu, hingga remaja tampak sinergi bergotong royong memilah berbagai macam sampah untuk dibuat menjadi komposter.

 

 

Sejak akhir 2025 lalu, kegiatan dampingan SPEK-HAM tersebut semakin berkembang. Menik, salah seorang pengurus Bank Sampah Sadarela, menyebut bahwa kesadaran warga untuk kembali bergerak muncul seiring dengan kondisi sampah yang semakin memprihatinkan.

 

 

“Selain program pemerintah untuk mengolah sampah, kita juga sadar kalau TPA Putri Cempo semakin penuh. Bagaimana kalau sampai tidak mampu mengangkut sampah kita?,” ujarnya. Lebih lanjut ia menambahkan, sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang besar, namun pengelolaannya tidak akan berjalan tanpa semangat dari warga sendiri. “Kalau punya kesadaran tanpa semangat, ya tidak bisa jalan,” tandasnya.

 

 

Fokus pada Sampah Anorganik dan Inovasi Warga

 

 

Berbeda dari pengelolaan sampah pada umumnya, Bank Sampah Sadarela tidak mengutamakan pengelolaan organik seperti maggot, karena perawatannya dinilai sulit, mahal, dan berisiko bagi kesehatan. Sampah anorganik menjadi fokus utama, sementara sampah organik diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC).

 

 

Sejak didampingi SPEK-HAM, Menik menyebutkan bahwa inovasi mulai bermunculan, mulai dari komposter galon bekas, budidaya ulat jerman, hingga lapak thrifting yang barangnya berasal dari sumbangan sukarela anggota. “Beda seperti dulu yang hanya pilah-pilah sampah,” kata Menik.

 

 

Mendobrak Stigma, Menguatkan Peran Perempuan

 

Kegiatan ini turut membuka ruang baru bagi perempuan. Proses melubangi galon menggunakan solder dan bor, yang selama ini identik dengan pekerjaan laki-laki, kini juga dilakukan oleh anggota perempuan. “Stigma masyarakat bisa berubah, jadi perempuan juga bisa berkontribusi setara. Apalagi bank sampah yang kotor-kotoran tidak identik dengan perempuan,” ujar Menik.

 

 

Meski baru berjalan efektif sekitar empat bulan manfaat langsung terasa. “Dampaknya langsung enak, karena rumah menjadi bersih dari sampah. Tidak bau,” katanya. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM bersama Bank Sampah Sadarela berkomitmen untuk terus tumbuh sebagai ruang belajar dan pemberdayaan warga, khususnya perempuan, dalam mengelola sampah sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan Kelurahan Gilingan. ***

Setelah Sepuluh Tahun Mereka Masih Memilih Rumah yang Sama

Anggota Putri Mawar Cluntang di depan rumah produksi. (Foto: Muhammad Ta’aruf Huda/SPEK-HAM)

Rumah adalah tempat yang membuat seseorang ingin kembali. Ia menyimpan suara orang-orang yang kita kenal, percakapan yang pernah terjadi, kebiasaan-kebiasaan kecil, dan banyak cerita yang mungkin tidak pernah dituliskan. Karena itu, ketika sebuah rumah berubah, yang berubah bukan hanya bangunannya, tetapi juga kehidupan orang-orang yang menjadikannya tempat untuk pulang. Rumah secara fisik bisa dibangun dari bata, kayu, genteng, dan bahan-bahan lainnya. Namun rumah membutuhkan waktu untuk benar-benar menjadi rumah. Ia dirawat, dibersihkan, diperbaiki ketika ada bagian yang rusak, dan terus dihidupkan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya.

 

Begitu pula KWT Putri Mawar. Hampir sepuluh tahun sejak dibentuk pada 2016, kelompok ini telah melalui berbagai proses bersama perempuan-perempuan di Desa Cluntang. Dalam refleksi ini, mereka mencoba melihat Putri Mawar sebagai rumah yang telah mereka bangun bersama dan membayangkan bagaimana rumah itu akan tetap hidup sepuluh tahun ke depan.

 

Jawaban yang muncul sangat beragam. Ada yang menuliskan kesempatan mendapatkan ilmu, mengikuti pelatihan, bertemu dengan anggota lain, berbagi cerita, hingga merasakan manfaat dari koperasi simpan pinjam yang dibangun bersama. Bagi mereka, pengalaman menjadi anggota Putri Mawar telah menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.

 

Ibu Tini, salah satu anggota kelompok, mengingat pengetahuan yang ia dapatkan tentang pengolahan bunga mawar. Ia masih mengingat bagaimana bunga yang selama ini mereka tanam dan panen ternyata dapat diolah menjadi makanan. “Bisa menjadikan bunga mawar yang dulunya tidak tahu kalau itu bisa jadi makanan” ujarnya.

 

Ingatan itu membawa kembali perjalanan Putri Mawar ke tahun-tahun awal. Pada 2016, perempuan di Desa Cluntang yang selama ini terlibat dalam budidaya mawar mulai mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan hasil panen mereka. Bunga yang sebelumnya banyak dijual dalam keadaan segar kepada pengepul kemudian diolah menjadi berbagai produk, seperti keripik mawar, teh mawar, pilus mawar, sirup, hingga minuman instan ekstrak mawar.

 

Dalam perjalanan tersebut, penguatan kelompok juga berkembang ke berbagai hal lain. Koperasi simpan pinjam menjadi salah satu ruang ekonomi bersama yang dirasakan manfaatnya oleh anggota, sementara berbagai pelatihan dan pendampingan bersama SPEK-HAM membuka kesempatan bagi mereka untuk terus belajar dan mengembangkan kelompok.

 

Hampir sepuluh tahun berjalan, mereka juga tahu bahwa ada bagian dari rumah itu yang perlu diperbaiki. Dalam refleksi, anggota menyebut pertemuan yang terkadang molor, kesibukan yang membuat kehadiran tidak selalu mudah, serta tugas yang belum selalu dijalankan sesuai kesepakatan. Mereka membicarakannya karena persoalan-persoalan tersebut memang mereka temui dalam perjalanan kelompok.

 

Dari sana, percakapan bergerak menuju pertanyaan yang lebih jauh. Jika Putri Mawar masih ada sepuluh tahun lagi, seperti apa kelompok yang ingin mereka lihat? Mereka ingin Putri Mawar tetap memiliki kegiatan. Mereka ingin anggota tetap kompak, produk semakin baik, pemasaran berkembang, dan kelompok terus memberikan manfaat bagi perempuan yang menjadi anggotanya. Ada harapan agar perempuan-perempuan yang datang kemudian tetap menemukan kesempatan belajar dan ruang untuk berkembang bersama.

 

Selama hampir sepuluh tahun, SPEK-HAM tumbuh bersama Putri Mawar dan menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan di dalamnya terus belajar merawat kelompok yang mereka bangun bersama. Dalam perjalanan itu, anggota mendapat ruang untuk mengembangkan usaha, memperkuat kelembagaan ekonomi melalui koperasi, belajar dari pengalaman satu sama lain, dan membangun cara kerja yang sesuai dengan kebutuhan kelompok. Kini, ketika mereka membicarakan seperti apa Putri Mawar sepuluh tahun mendatang, semakin banyak keputusan tentang masa depan kelompok berada di tangan perempuan yang selama ini menjalaninya.

 

Sepuluh tahun ke depan masih menyimpan banyak kemungkinan. Anggota kelompok bisa berubah, produk bisa berkembang, cara pemasaran bisa berganti, dan tantangan baru mungkin muncul. Yang sudah mereka mulai hari ini adalah membicarakan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang perlu dirawat agar Putri Mawar tetap memiliki tempat dalam kehidupan anggotanya. Mungkin itulah yang membuat sebuah rumah bertahan. Ada orang-orang yang masih bersedia datang, membuka pintu, duduk bersama, dan ikut merawatnya. Hampir sepuluh tahun telah berlalu sejak Putri Mawar tumbuh di Desa Cluntang. Kini, perempuan-perempuan di dalamnya sedang menyiapkan perjalanan berikutnya. Sepuluh tahun lagi, mereka berharap masih ada rumah yang sama, dengan pintu yang tetap terbuka dan perempuan-perempuan yang masih ingin datang. (Nadya Nur Anissa, Mgg Sosiologi UNS)

Komnas Perempuan dan SPEK-HAM Perkuat Kolaborasi Ruang Aman di Kampus

Ketua Komisi Nasional Perempuan, Maria Ulfah Anshor bersama Pembina Yayasan SPEK-HAM, Indriyanti Suparno, dan Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih setelah sesi diskusi di Kantor SPEK-HAM, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Ketua Komisi Nasional Perempuan, Maria Ulfah Anshor bersama Pembina Yayasan SPEK-HAM, Indriyati Suparno, dan Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih setelah sesi diskusi di Kantor SPEK-HAM, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Maria Ulfah Anshor melakukan kunjungan kerja ke kantor SPEK-HAM yang beralamat di Jalan Srikoyo No.20 Karangasem, Laweyan, Surakarta pada Kamis (6/8/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi serta mendiskusikan situasi dan dinamika penanganan kekerasan terhadap perempuan di wilayah Surakarta dan sekitarnya.

 

 

Diskusi ini turut dihadiri oleh perwakilan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) dari berbagai institusi pendidikan dan keagamaan, di antaranya UIN Raden Mas Said, UIN Salatiga, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), serta Pondok Pesantren Al-Muayyad.

 

 

Dalam pemaparannya, Maria Ulfah Anshor menegaskan bahwa situasi kekerasan terhadap perempuan di daerah terus menjadi perhatian serius Komnas Perempuan. Pihaknya ingin memahami secara langsung kompleksitas yang dihadapi para pendamping dan aktivis di lapangan. “Satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan di institusi pendidikan merupakan garis depan dalam menciptakan ruang aman bagi para peserta didik, agar mereka dapat belajar tanpa rasa takut dari ancaman kekerasan,” ujar Maria.

 

 

Menanggapi hal tersebut, Direktur SPEK-HAM Surakarta, Rahayu Purwaningsih, menyambut baik kolaborasi antara Satgas PPKPT di lingkungan pendidikan dengan lembaga swadaya masyarakat independen. SPEK-HAM berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan penanganan kasus secara pro bono melalui berbagai program nyata.

 

 

Rahayu menilai, keterbukaan perguruan tinggi dalam menangani kasus kekerasan saat ini menunjukkan tren positif. “Pengalaman selama ini menunjukkan teman-teman di perguruan tinggi semakin terbuka. Makin banyak korban yang berani melapor adalah indikasi perbaikan situasi yang signifikan dibandingkan sebelumnya,” jelas Rahayu.

 

 

Meski keberanian korban untuk melapor meningkat, proses penanganan di lapangan tidak lepas dari tantangan kompleks. Ketua Satgas PPKPT UMS, Marisa Kurnianingsih, membagikan pengalamannya terkait kondisi psikologis para pelapor yang kerap tidak stabil saat menyampaikan aduan. Guna memastikan setiap laporan ditangani secara obyektif dan tepat sasaran, Satgas PPKPT UMS menerapkan mekanisme asesmen yang komprehensif.

 

 

“Kondisi psikologis pelapor sering kali berada pada posisi tidak stabil, bahkan kami pernah menerima laporan dari pelapor yang mengalami halusinasi. Oleh karena itu, kami tidak hanya menyiapkan tim konseling, tetapi juga menerjunkan tim psikolog untuk melakukan pemeriksaan awal guna memastikan laporan yang masuk didasarkan pada fakta,” ungkap Marisa.

 

 

Melalui pertemuan ini, para pemangku kepentingan berharap sinergi antara Komnas Perempuan, organisasi pengada layanan seperti SPEK-HAM, dan Satgas PPKPT di berbagai kampus dapat semakin solid dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.***

Ketika Mawar Tidak Lagi Sekadar Bunga: Cerita Perempuan Desa Menciptakan Nilai dari Komoditas Lokal

Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Miftahul Huda/SPEK-HAM)
Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Muhammad Ta’aruf Huda/SPEK-HAM)

Apa yang terlintas ketika mendengar bunga mawar?

 

Bagi sebagian besar orang, mawar identik dengan keindahan. Bunga ini hadir dalam rangkaian buket, dekorasi pernikahan, atau menjadi simbol kasih sayang. Nilainya sering kali berhenti pada bentuknya sebagai bunga segar. Ketika kelopaknya mulai layu, nilainya pun dianggap ikut memudar.

 

Namun, cara pandang itu berbeda di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya mawar ini, sekelompok perempuan melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bunga. Bagi mereka, mawar bukan hanya hasil panen yang dijual kepada pasar, melainkan potensi lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi perempuan.

 

Kesadaran inilah yang mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Mawar mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar mawar, salah satunya keripik mawar. Langkah tersebut lahir dari keyakinan bahwa potensi lokal akan memiliki nilai yang lebih tinggi ketika diolah melalui pengetahuan, kreativitas, dan kerja bersama. Namun, mengembangkan usaha berbasis potensi lokal bukanlah perjalanan yang mudah. Selain harus memastikan kualitas produk tetap terjaga, kelompok juga menghadapi tantangan membangun kepercayaan pasar. Tidak sedikit masyarakat yang masih merasa asing dengan gagasan mengonsumsi olahan berbahan dasar bunga mawar.

“Yang susah itu meyakinkan warga. Banyak yang masih bingung, kok mawar dimakan?” ujar Sri Mulyani, anggota KWT Putri Mawar.

 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil diciptakan. Inovasi juga membutuhkan proses memperkenalkan cara pandang baru kepada masyarakat. Produk yang berbeda memerlukan edukasi, kesabaran, dan strategi pemasaran yang tidak sedikit.

 

Di sisi lain, kelompok juga harus berhadapan dengan fluktuasi harga mawar sebagai bahan baku utama. Ketika harga bunga meningkat, biaya produksi ikut naik, sementara harga jual produk tidak dapat disesuaikan secara drastis. Dilema ini menjadi tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha mikro yang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

 

Melihat tantangan tersebut, penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat desa. Tidak cukup hanya mendorong lahirnya produk inovatif, perempuan juga perlu memiliki akses terhadap pengetahuan, jejaring, strategi pemasaran, hingga penguatan kelembagaan agar usaha yang mereka bangun dapat bertahan dan berkembang.

 

Dalam proses inilah SPEK-HAM hadir sebagai mitra pendamping KWT Putri Mawar. Pendampingan tidak difokuskan pada peningkatan produksi semata, tetapi juga memperkuat kapasitas organisasi kelompok, mendorong pembelajaran bersama, memperluas cara pandang mengenai pengembangan usaha, serta mendukung perempuan agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengelola sumber daya ekonomi di komunitasnya.

 

Bagi SPEK-HAM, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak berhenti pada meningkatnya pendapatan. Ketika perempuan memiliki ruang untuk belajar, mengambil keputusan, berinovasi, dan membangun usaha secara kolektif, mereka juga sedang memperkuat posisi tawar dalam keluarga maupun masyarakat. Karena itu, penguatan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat anggota KWT Putri Mawar tetap terjaga.

“Harapannya kelompok kami tetap eksis, produk kami tetap laris, dan bisa membantu perempuan dari skala rumah tangga dulu saja,” tutur Sri Mulyani.

 

Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan makna yang lebih besar. Cerita KWT Putri Mawar memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Ia dapat tumbuh dari keberanian melihat peluang pada potensi yang telah lama ada, kemudian mengolahnya menjadi sumber penghidupan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pada akhirnya, nilai terbesar dari mawar di Desa Cluntang bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan. Nilai itu juga hadir dalam keberanian perempuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan membuktikan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi fondasi bagi ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan. (Silviana Putri Kapidayanti, Mgg Sosiologi UNS)

Bank Sampah Sekawan: Konsistensi Ubah Sampah Jadi Berkah

Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)
Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Sinar matahari merangkak naik menyambut hari bersamaan warga Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan membawa kantong-kantong berisi sampah rumah tangga yang sudah dipilah menuju tempat pumpulan.

 

Pagi itu, Kamis (30/7/2026) antrian mengular diselingi senyum dan senda gurau para warga menanti sampah untuk ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan masing-masing. 8 tahun lamanya kegiatan penimbangan rutin ini berlangsung, menjadi salah satu program dampingan SPEK-HAM yang sampai saat ini terus berjalan.

 

“Komunitas ini sudah konsisten melakukan kegiatan pemilahan sampah. Dari 50 anggota yang terdaftar, 36 diantaranya tercatat aktif menyetorkan sampah secara rutin satu bulan sekali,” ujar Soepadmin, Community Organizer SPEK-HAM Surakarta yang mendampingi komunitas Bank Sampah Sekawan.

 

Soepadmin menyebut konsistensi yang terus terjaga itu menjadi bentuk prestasi tersendiri bagi para anggota komunitas Bank Sampah Sekawan. “Keberadaan bank sampah ini turut memberi arti tersendiri. Selain membantu menjaga lingkungan, program ini juga membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara ekonomi bagi keluarga,” ujar salah seorang anggota.

 

Sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai kini bisa diubah menjadi tambahan penghasilan rumah tangga, sekaligus menjadi bentuk nyata bahwa perempuan dapat berdaya dan mandiri secara ekonomi tanpa harus meninggalkan perannya di rumah.

 

Dukungan terhadap keberlanjutan bank sampah ini juga datang dari pemerintah kota. Sunarto, fasilitator dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta menyebut bahwa cara pandang masyarakat terhadap sampah perlu diubah sejak dari cara mengelolanya.

 

“Selama kita mau dan mampu mengolahnya, sampah itu sebenarnya bisa jadi aset. Kalau dibiarkan saja, sampah bisa menjadi liar. Tapi kalau diolah dengan baik, sampah justru bisa menjadi teman,” katanya.

 

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang terus dijaga oleh Bank Sampah Sekawan, bahwa perubahan besar untuk lingkungan dan ekonomi keluarga bisa dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. ***