Search for:

Waspada Love Scamming, Perempuan Desa Pundungan Klaten Dibekali Literasi Digital

Warga Pundungan mengikuti kegiatan pencegahan love scamming bertempat di Balai Desa Pundungan, Klaten pada Rabu (2/9/2026). (Foto: Antonius Danang Wijayanto/SPEK-HAM)
Warga Pundungan mengikuti kegiatan pencegahan love scamming bertempat di Balai Desa Pundungan, Klaten pada Rabu (2/9/2026). (Foto: Antonius Danang Wijayanto/SPEK-HAM)

Penulis: Antonius Danang Wijayanto

KLATEN– Kejahatan siber berbasis manipulasi emosional atau love scamming kian marak menyerang masyarakat, tak terkecuali kelompok perempuan di wilayah pedesaan. Guna membentengi warga dari ancaman penipuan berkedok asmara ini, kegiatan edukasi literasi digital bertajuk “Ngobrol Sore Bareng Komunitas Perempuan, Cerita Kita tentang Love Scamming” sukses digelar di Aula Kantor Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada Rabu (2/9/2026).

 

 

Sesi edukasi interaktif ini menghadirkan Antonius Danang Wijayanto, Manager Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM sebagai narasumber utama. Sebanyak 20 orang peserta yang terdiri dari anggota kelompok perempuan Desa Pundungan hadir dan berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.

 

 

Dalam pemaparannya, Antonius Danang menjelaskan secara mendalam mengenai definisi, modus operandi, serta dampak buruk yang ditimbulkan oleh kejahatan love scamming.

 

 

“Pelaku umumnya menggunakan profil palsu berwajah menarik dengan latar belakang profesi terpandang (tentara, dokter, atau pebisnis),” ungkap dia. Selain itu, Danang juga menjelaskan sejumlah indikator bahaya yang sering menyertai modus para pelaku seperti Love bombing yaitu pemberian perhatian berlebih secara instan.  Lalu menolak dihubungi lewat video call atau ditemui secara langsung.

 

 

Ada pula modus lain seperti meminta bantuan dana darurat dengan alasan medis, bea cukai, atau investasi. Dampak kerugian yang bisa terjadi tak hanya kerugian finansial yang mencapai miliaran rupiah per bulan di Indonesia. Namun korban juga dapat mengalami trauma psikologis yang berat seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) serta rasa malu untuk melapor.

 

 

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pundungan, Rini Dwi Lestari menambahkan bahwa Love scamming bukan sekadar penipuan finansial biasa, melainkan bentuk eksploitasi emosional. “ Jadi seringnya pelaku sengaja membangun ikatan kasih sayang yang intens dalam waktu singkat untuk mematikan rasionalitas korban sebelum akhirnya meminta uang dengan berbagai skenario darurat,” ungkap perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Paralegal Desa Pundungan ini.

 

Rompi Pelidung dengan Strategi Pencegahan

 

 

Guna mencegah berkembangnya korban baru di tingkat lokal, para peserta dibekali panduan praktis untuk melindungi diri dan kerabat di ruang digital. Pertama dengan memaksimalkan penggunan Reverse Image Search. Fitur tersebut memungkinkan pengguna untuk memeriksa foto profil kenalan baru melalui mesin pencari untuk mendeteksi penggunaan identitas curian.

 

 

Kedua, menerapkan prinsip No Money Transfer. Jangan pernah mengirimkan uang atau akses finansial kepada siapa pun yang belum pernah ditemui secara fisik. Selain dua hal tersebut, para peserta juga diperkenalkan metode pencegahan lewat verifikasi tatap muka dengan meminta komunikasi video secara berkala.

 

 

Faktor lain yang bisa mendukung pencegahan adalah keterbukaan diri untuk bercerita kepada keluarga. “Terbuka pada keluarga atau teman dan selalu mendiskusikan hubungan baru dengan orang asing mampu meningkatkan pencegahan dini,” tambah Danang.

 

 

Jika menemui kasus atau menjadi korban para peserta diajak melakukan langkah tegas dengan memutuskan seluruh kontak, mengamankan bukti percakapan dan transfer, melaporkan ke pihak berwajib (seperti bank dan kepolisian), serta segera mencari pendampingan psikologis.

 

 

Dengan demikian diharapkan warga Desa Pundungan dapat menjadi agen literasi digital di lingkungan keluarga dan tetangga sekitar, sehingga masyarakat makin waspada terhadap kejahatan siber berkedok asmara. ***

Perkuat Peran Perempuan Desa, SPEK-HAM Gelar Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok di Desa Jelok

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)

BOYOLALI –SPEK-HAM menggelar kegiatan bertajuk “Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok Perempuan” di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong terbentuknya kelompok perempuan desa yang mandiri, aktif, dan berdaya melalui pengenalan potensi serta penyusunan mimpi bersama di tingkat komunitas.

 

 

Hadir sebagai narasumber, Henrico Fajar dan Danang Wijayanto (Manajer SPEK-HAM) membekali para peserta terutama para kader PKK dan penggerak desa mengenai hak asasi perempuan, pemahaman kelompok rentan, serta pengorganisasian berbasis komunitas.

 

 

Dalam sesi pertama, Henrico Fajar menekankan pentingnya pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang sering dihadapi perempuan, seperti isu kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, hingga hambatan ekonomi. “Perempuan masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun ekonomi. Melalui pengorganisasian kelompok, perempuan tidak hanya mendapat ruang berkumpul, tetapi juga sarana belajar bersama untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kritis,” ujar Henrico.

 

 

Sesi dilanjutkan oleh Manajer SPEK-HAM, Danang Wijayanto, yang memandu peserta melakukan analisis menggunakan metode Pohon Komunitas dan Visioning. Metode ini mengajak warga memetakan persoalan desa sebagai akar masalah, sekaligus menginventarisasi potensi lokal, seperti keberadaan kader posyandu yang aktif, usaha UMKM, peternakan, hingga semangat gotong royong warga, sebagai modal perubahan.

 

 

Dari hasil diskusi partisipatif, peserta berhasil memetakan sejumlah tantangan nyata di lapangan, mulai dari minimnya pemahaman alur pelaporan kasus KDRT karena masih dianggap aib, masalah kehamilan di bawah umur, hingga ketimpangan relasi dalam program KB keluarga. Di sisi lain, Desa Jelok memiliki potensi besar berupa aktifnya jejaring kader PKK/Posyandu serta berbagai sektor UMKM dan pertanian yang produktif.

 

 

Sebagai langkah konkret, kelompok perempuan Desa Jelok menyepakati sejumlah rencana aksi satu tahun ke depan, antara lain pembentukan jejaring komunikasi perlindungan hak perempuan di tingkat RT, prioritas perlindungan korban kekerasan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga komitmen pemberdayaan ekonomi lokal dengan mengutamakan belanja produk UMKM sekitar. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM berharap kelompok perempuan di Desa Njelok dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan desa yang inklusif, ramah perempuan, dan sejahtera. ***

Setelah Sepuluh Tahun Mereka Masih Memilih Rumah yang Sama

Anggota Putri Mawar Cluntang di depan rumah produksi. (Foto: Muhammad Ta’aruf Huda/SPEK-HAM)

Rumah adalah tempat yang membuat seseorang ingin kembali. Ia menyimpan suara orang-orang yang kita kenal, percakapan yang pernah terjadi, kebiasaan-kebiasaan kecil, dan banyak cerita yang mungkin tidak pernah dituliskan. Karena itu, ketika sebuah rumah berubah, yang berubah bukan hanya bangunannya, tetapi juga kehidupan orang-orang yang menjadikannya tempat untuk pulang. Rumah secara fisik bisa dibangun dari bata, kayu, genteng, dan bahan-bahan lainnya. Namun rumah membutuhkan waktu untuk benar-benar menjadi rumah. Ia dirawat, dibersihkan, diperbaiki ketika ada bagian yang rusak, dan terus dihidupkan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya.

 

Begitu pula KWT Putri Mawar. Hampir sepuluh tahun sejak dibentuk pada 2016, kelompok ini telah melalui berbagai proses bersama perempuan-perempuan di Desa Cluntang. Dalam refleksi ini, mereka mencoba melihat Putri Mawar sebagai rumah yang telah mereka bangun bersama dan membayangkan bagaimana rumah itu akan tetap hidup sepuluh tahun ke depan.

 

Jawaban yang muncul sangat beragam. Ada yang menuliskan kesempatan mendapatkan ilmu, mengikuti pelatihan, bertemu dengan anggota lain, berbagi cerita, hingga merasakan manfaat dari koperasi simpan pinjam yang dibangun bersama. Bagi mereka, pengalaman menjadi anggota Putri Mawar telah menjadi bagian dari perjalanan masing-masing.

 

Ibu Tini, salah satu anggota kelompok, mengingat pengetahuan yang ia dapatkan tentang pengolahan bunga mawar. Ia masih mengingat bagaimana bunga yang selama ini mereka tanam dan panen ternyata dapat diolah menjadi makanan. “Bisa menjadikan bunga mawar yang dulunya tidak tahu kalau itu bisa jadi makanan” ujarnya.

 

Ingatan itu membawa kembali perjalanan Putri Mawar ke tahun-tahun awal. Pada 2016, perempuan di Desa Cluntang yang selama ini terlibat dalam budidaya mawar mulai mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan hasil panen mereka. Bunga yang sebelumnya banyak dijual dalam keadaan segar kepada pengepul kemudian diolah menjadi berbagai produk, seperti keripik mawar, teh mawar, pilus mawar, sirup, hingga minuman instan ekstrak mawar.

 

Dalam perjalanan tersebut, penguatan kelompok juga berkembang ke berbagai hal lain. Koperasi simpan pinjam menjadi salah satu ruang ekonomi bersama yang dirasakan manfaatnya oleh anggota, sementara berbagai pelatihan dan pendampingan bersama SPEK-HAM membuka kesempatan bagi mereka untuk terus belajar dan mengembangkan kelompok.

 

Hampir sepuluh tahun berjalan, mereka juga tahu bahwa ada bagian dari rumah itu yang perlu diperbaiki. Dalam refleksi, anggota menyebut pertemuan yang terkadang molor, kesibukan yang membuat kehadiran tidak selalu mudah, serta tugas yang belum selalu dijalankan sesuai kesepakatan. Mereka membicarakannya karena persoalan-persoalan tersebut memang mereka temui dalam perjalanan kelompok.

 

Dari sana, percakapan bergerak menuju pertanyaan yang lebih jauh. Jika Putri Mawar masih ada sepuluh tahun lagi, seperti apa kelompok yang ingin mereka lihat? Mereka ingin Putri Mawar tetap memiliki kegiatan. Mereka ingin anggota tetap kompak, produk semakin baik, pemasaran berkembang, dan kelompok terus memberikan manfaat bagi perempuan yang menjadi anggotanya. Ada harapan agar perempuan-perempuan yang datang kemudian tetap menemukan kesempatan belajar dan ruang untuk berkembang bersama.

 

Selama hampir sepuluh tahun, SPEK-HAM tumbuh bersama Putri Mawar dan menyaksikan bagaimana perempuan-perempuan di dalamnya terus belajar merawat kelompok yang mereka bangun bersama. Dalam perjalanan itu, anggota mendapat ruang untuk mengembangkan usaha, memperkuat kelembagaan ekonomi melalui koperasi, belajar dari pengalaman satu sama lain, dan membangun cara kerja yang sesuai dengan kebutuhan kelompok. Kini, ketika mereka membicarakan seperti apa Putri Mawar sepuluh tahun mendatang, semakin banyak keputusan tentang masa depan kelompok berada di tangan perempuan yang selama ini menjalaninya.

 

Sepuluh tahun ke depan masih menyimpan banyak kemungkinan. Anggota kelompok bisa berubah, produk bisa berkembang, cara pemasaran bisa berganti, dan tantangan baru mungkin muncul. Yang sudah mereka mulai hari ini adalah membicarakan apa yang ingin dipertahankan dan apa yang perlu dirawat agar Putri Mawar tetap memiliki tempat dalam kehidupan anggotanya. Mungkin itulah yang membuat sebuah rumah bertahan. Ada orang-orang yang masih bersedia datang, membuka pintu, duduk bersama, dan ikut merawatnya. Hampir sepuluh tahun telah berlalu sejak Putri Mawar tumbuh di Desa Cluntang. Kini, perempuan-perempuan di dalamnya sedang menyiapkan perjalanan berikutnya. Sepuluh tahun lagi, mereka berharap masih ada rumah yang sama, dengan pintu yang tetap terbuka dan perempuan-perempuan yang masih ingin datang. (Nadya Nur Anissa, Mgg Sosiologi UNS)

Ketika Mawar Tidak Lagi Sekadar Bunga: Cerita Perempuan Desa Menciptakan Nilai dari Komoditas Lokal

Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Miftahul Huda/SPEK-HAM)
Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Muhammad Ta’aruf Huda/SPEK-HAM)

Apa yang terlintas ketika mendengar bunga mawar?

 

Bagi sebagian besar orang, mawar identik dengan keindahan. Bunga ini hadir dalam rangkaian buket, dekorasi pernikahan, atau menjadi simbol kasih sayang. Nilainya sering kali berhenti pada bentuknya sebagai bunga segar. Ketika kelopaknya mulai layu, nilainya pun dianggap ikut memudar.

 

Namun, cara pandang itu berbeda di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya mawar ini, sekelompok perempuan melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bunga. Bagi mereka, mawar bukan hanya hasil panen yang dijual kepada pasar, melainkan potensi lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi perempuan.

 

Kesadaran inilah yang mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Mawar mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar mawar, salah satunya keripik mawar. Langkah tersebut lahir dari keyakinan bahwa potensi lokal akan memiliki nilai yang lebih tinggi ketika diolah melalui pengetahuan, kreativitas, dan kerja bersama. Namun, mengembangkan usaha berbasis potensi lokal bukanlah perjalanan yang mudah. Selain harus memastikan kualitas produk tetap terjaga, kelompok juga menghadapi tantangan membangun kepercayaan pasar. Tidak sedikit masyarakat yang masih merasa asing dengan gagasan mengonsumsi olahan berbahan dasar bunga mawar.

“Yang susah itu meyakinkan warga. Banyak yang masih bingung, kok mawar dimakan?” ujar Sri Mulyani, anggota KWT Putri Mawar.

 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil diciptakan. Inovasi juga membutuhkan proses memperkenalkan cara pandang baru kepada masyarakat. Produk yang berbeda memerlukan edukasi, kesabaran, dan strategi pemasaran yang tidak sedikit.

 

Di sisi lain, kelompok juga harus berhadapan dengan fluktuasi harga mawar sebagai bahan baku utama. Ketika harga bunga meningkat, biaya produksi ikut naik, sementara harga jual produk tidak dapat disesuaikan secara drastis. Dilema ini menjadi tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha mikro yang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

 

Melihat tantangan tersebut, penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat desa. Tidak cukup hanya mendorong lahirnya produk inovatif, perempuan juga perlu memiliki akses terhadap pengetahuan, jejaring, strategi pemasaran, hingga penguatan kelembagaan agar usaha yang mereka bangun dapat bertahan dan berkembang.

 

Dalam proses inilah SPEK-HAM hadir sebagai mitra pendamping KWT Putri Mawar. Pendampingan tidak difokuskan pada peningkatan produksi semata, tetapi juga memperkuat kapasitas organisasi kelompok, mendorong pembelajaran bersama, memperluas cara pandang mengenai pengembangan usaha, serta mendukung perempuan agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengelola sumber daya ekonomi di komunitasnya.

 

Bagi SPEK-HAM, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak berhenti pada meningkatnya pendapatan. Ketika perempuan memiliki ruang untuk belajar, mengambil keputusan, berinovasi, dan membangun usaha secara kolektif, mereka juga sedang memperkuat posisi tawar dalam keluarga maupun masyarakat. Karena itu, penguatan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat anggota KWT Putri Mawar tetap terjaga.

“Harapannya kelompok kami tetap eksis, produk kami tetap laris, dan bisa membantu perempuan dari skala rumah tangga dulu saja,” tutur Sri Mulyani.

 

Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan makna yang lebih besar. Cerita KWT Putri Mawar memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Ia dapat tumbuh dari keberanian melihat peluang pada potensi yang telah lama ada, kemudian mengolahnya menjadi sumber penghidupan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pada akhirnya, nilai terbesar dari mawar di Desa Cluntang bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan. Nilai itu juga hadir dalam keberanian perempuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan membuktikan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi fondasi bagi ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan. (Silviana Putri Kapidayanti, Mgg Sosiologi UNS)

Bank Sampah Sekawan: Konsistensi Ubah Sampah Jadi Berkah

Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)
Warga RW 04, Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan berfoto bersama setelah melakukan pemilahan sampah, Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut telah konsisten dilakukan sejak 2018, dan berkomitmen untuk terus berlangsung. (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Sinar matahari merangkak naik menyambut hari bersamaan warga Karangasem, Laweyan, Surakarta yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Sekawan membawa kantong-kantong berisi sampah rumah tangga yang sudah dipilah menuju tempat pumpulan.

 

Pagi itu, Kamis (30/7/2026) antrian mengular diselingi senyum dan senda gurau para warga menanti sampah untuk ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan masing-masing. 8 tahun lamanya kegiatan penimbangan rutin ini berlangsung, menjadi salah satu program dampingan SPEK-HAM yang sampai saat ini terus berjalan.

 

“Komunitas ini sudah konsisten melakukan kegiatan pemilahan sampah. Dari 50 anggota yang terdaftar, 36 diantaranya tercatat aktif menyetorkan sampah secara rutin satu bulan sekali,” ujar Soepadmin, Community Organizer SPEK-HAM Surakarta yang mendampingi komunitas Bank Sampah Sekawan.

 

Soepadmin menyebut konsistensi yang terus terjaga itu menjadi bentuk prestasi tersendiri bagi para anggota komunitas Bank Sampah Sekawan. “Keberadaan bank sampah ini turut memberi arti tersendiri. Selain membantu menjaga lingkungan, program ini juga membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi secara ekonomi bagi keluarga,” ujar salah seorang anggota.

 

Sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai kini bisa diubah menjadi tambahan penghasilan rumah tangga, sekaligus menjadi bentuk nyata bahwa perempuan dapat berdaya dan mandiri secara ekonomi tanpa harus meninggalkan perannya di rumah.

 

Dukungan terhadap keberlanjutan bank sampah ini juga datang dari pemerintah kota. Sunarto, fasilitator dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta menyebut bahwa cara pandang masyarakat terhadap sampah perlu diubah sejak dari cara mengelolanya.

 

“Selama kita mau dan mampu mengolahnya, sampah itu sebenarnya bisa jadi aset. Kalau dibiarkan saja, sampah bisa menjadi liar. Tapi kalau diolah dengan baik, sampah justru bisa menjadi teman,” katanya.

 

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang terus dijaga oleh Bank Sampah Sekawan, bahwa perubahan besar untuk lingkungan dan ekonomi keluarga bisa dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. ***

Berdaya Bersama Program ACCESS: 4 Asosiasi UMKM Perempuan Resmi Berdiri di Gunungkidul

Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).
Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).

GUNUNGKIDUL – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendorong kemandirian dan ketahanan ekonomi masyarakat, empat asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan resmi terbentuk di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kehadiran organisasi kolektif ini menjadi langkah awal yang sangat strategis untuk memperkuat kelembagaan pelaku usaha perempuan sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam mengembangkan potensi ekonomi yang inklusif di tingkat desa.

Pembentukan asosiasi ini merupakan bagian dari capaian penting dalam pelaksanaan Program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions). Program ini lahir dari wujud kolaborasi konsorsium antara Habitat for Humanity Indonesia, Yayasan SPEK-HAM, dan Yayasan SAPDA. Dalam kemitraan strategis tersebut, Yayasan SPEK-HAM bertanggung jawab secara langsung mendampingi penguatan kapasitas, kepemimpinan, serta tata kelola kelembagaan agar UMKM perempuan memiliki wadah organisasi yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.

Empat asosiasi yang resmi didirikan meliputi Berkah Mandiri di Kalurahan Pilangrejo, Srikandi UMKM Pengkol di Kalurahan Pengkol, Berkah Nyawiji di Kalurahan Katongan, serta Griya Boga Nglipar di Kalurahan Nglipar. Pembentukan kelembagaan ini tidak dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui serangkaian proses pendampingan partisipatif yang terbagi dalam tiga tahapan pertemuan terstruktur sepanjang bulan April hingga Juni 2026.

Tahapan pendampingan organisasi tersebut dirancang secara sistematis untuk memastikan adanya rasa kepemilikan penuh (ownership) serta partisipasi aktif dari seluruh anggota. Pada pertemuan pertama, kegiatan difokuskan pada pengenalan program, pemetaan aspirasi, serta penguatan pemahaman mengenai manfaat berorganisasi secara kolektif. Tahap kedua dilanjutkan dengan pembentukan struktur kepengurusan secara formal melalui musyawarah, penandatanganan kesepakatan komitmen peserta, serta imbauan pencatatan keuangan dasar usaha. Pertemuan ketiga berfokus pada penyusunan aturan internal organisasi, penetapan mekanisme komunikasi, dan perumusan rencana kerja tahunan.

Melalui diskusi dan kesepakatan bersama, setiap asosiasi berhasil merumuskan agenda kerja prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing. Kegiatan prioritas tersebut meliputi pelaksanaan pertemuan rutin, promosi dan pembuatan katalog produk, penyusunan profil usaha, pencitraan merek (branding) organisasi, inisiatif pemasaran digital, koordinasi dengan pemerintah desa, hingga persiapan legalisasi kelembagaan. Guna memperkuat pijakan evaluasi program di masa depan, pendampingan ini juga dilengkapi dengan pengumpulan data dasar (baseline) kondisi keuangan dan manajemen usaha menggunakan aplikasi Kobo.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, proses pendampingan menghadapi beberapa dinamika teknis, seperti variasi tingkat kehadiran peserta akibat tingginya beban domestik keluarga dan kesibukan usaha harian. Menghadapi tantangan tersebut, tim fasilitator menerapkan pendekatan personal secara individual untuk memastikan seluruh anggota memahami hak, peran, serta manfaat jangka panjang dari Program ACCESS yang akan berlangsung selama tiga tahun ini.

Ke depan, keberadaan asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar pelaku UMKM perempuan dalam menjalin kemitraan strategis dengan pihak pemerintah, dunia usaha, maupun lembaga penyedia layanan keuangan. Pada triwulan berikutnya, Yayasan SPEK-HAM bersama para mitra konsorsium akan melanjutkan pendampingan intensif yang berfokus pada pelaksanaan rencana kerja, penguatan tata kelola administrasi, fasilitasi proses legalisasi badan hukum, serta peningkatan kapasitas manajemen usaha secara berkelanjutan demi mendorong kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.***

 

Kader Perempuan dari Tiga Desa di Boyolali Perdalam Mekanisme Rujukan Korban Kekerasan

Kader perempuan dari tigas desa berkumpul di Balai Desa Pentur, Boyolali, dalam pertemuan rutin perdalam mekanisme rujukan bagi korban, Rabu (22/7/2026). (Foto: SPEK-HAM)
Kader perempuan dari tigas desa berkumpul di Balai Desa Pentur, Boyolali, dalam pertemuan rutin perdalam mekanisme rujukan bagi korban, Rabu (22/7/2026). (Foto: SPEK-HAM)

BOYOLALI – Suasana diskusi yang aktif dan penuh antusiasme mewarnai pertemuan sejumlah kader perempuan dari Desa Pentur, Desa Kedung Lengkong, dan Desa Blumbang di Desa Pentur, Boyolali, Rabu (22/7/2026). Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan yang mengangkat tema “Mekanisme Rujukan dan Layanan Terkait Lainnya dalam Penanganan Kekerasan” sebagai upaya memperkuat kapasitas kader paralegal dalam memberikan pendampingan kepada korban kekerasan.

 

SPEK-HAM melalui Henrico Fajar selaku pemateri kegiatan menekankan pentingnya sistem rujukan sebagai mekanisme untuk menghubungkan korban kekerasan dengan layanan kesehatan, hukum, sosial, maupun layanan pendukung lainnya secara tepat dan terpadu.

 

“Mekanisme rujukan bertujuan memberikan perlindungan dan pemulihan bagi korban, memastikan akses terhadap layanan yang saling terintegrasi, serta menjamin hak-hak korban dapat terpenuhi secara menyeluruh,” ujar dia.

 

Seluruh proses pendampingan harus berlandaskan prinsip yang berpihak pada korban. Para kader juga ditekankan pentingnya keterbukaan untuk memperoleh persetujuan korban serta menjaga kerahasiaan informasi yang telah diberikan. “Pinsipnya tidak diskriminatif, setiap penanganan juga turut melibatkan koordinasi lintas sektor,” tandas Fajar.

 

Membangun Pendampingan yang Berpihak pada Korban

 

Sesi diskusi berlangsung interaktif melalui berbagai studi kasus yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Para peserta berbagi pandangan mengenai langkah pertama ketika menemukan korban kekerasan di lingkungan sekitar. “Korban harus terlebih dahulu didengarkan tanpa dihakimi, diberikan rasa aman, kemudian diarahkan menuju layanan yang sesuai apabila membutuhkan pendampingan lebih lanjut,” ungkap Ketua Paralegal Desa Pentur, Sulistyo.

 

Dalam sesi diskusi, Fajar juga mengingatkan bahwa tujuan utama pendampingan bukan membuat korban bergantung kepada pendamping, melainkan membantu mereka kembali berdaya. “Seorang pendamping harus menjaga profesionalisme, menghormati batas hubungan dengan korban, serta selalu mengedepankan kepentingan korban dalam setiap proses penanganan kasus,” tegasnya.

 

Pada tahap yang lebih lanjut, peserta diajak memahami tahapan penanganan kasus mulai dari pencatatan laporan, penilaian kebutuhan korban, pemberian layanan kesehatan dan hukum, hingga proses pemulihan. Korban yang mengalami ancaman serius dapat dirujuk ke rumah aman, sementara korban yang telah pulih diarahkan mengikuti program pemberdayaan agar mampu kembali menjalani kehidupan secara mandiri.

 

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perlindungan Korban

 

Pada sesi tanya jawab, peserta mengangkat berbagai persoalan yang kerap ditemui di masyarakat seperti topik pendampingan terhadap kelompok rentan, kasus kekerasan yang disertai ancaman dan teror, hingga pendekatan kepada korban yang enggan melapor. “Bagaimana pendampingan kami lakukan di level masyarakat tingkat bawah?,” ujar Betharia Sari, salah seorang peserta.

 

Menanggapi hal tersebut Fajar menegaskan bahwa setiap korban berhak memperoleh layanan tanpa diskriminasi, sedangkan kader paralegal memiliki peran penting dalam membangun ruang aman dan keberanian korban untuk menyampaikan pengalamannya.

 

Melalui kegiatan ini, para kader perempuan diharapkan semakin memahami alur mekanisme rujukan serta mampu menjalin koordinasi dengan berbagai lembaga layanan, sehingga setiap korban kekerasan dapat memperoleh perlindungan, pendampingan, dan pemulihan secara cepat, tepat, dan menyeluruh. Sinergi antara kader paralegal, pemerintah desa, layanan kesehatan, aparat penegak hukum, dan organisasi pendamping menjadi pondasi penting dalam mewujudkan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan dan kelompok rentan.***

 

SPEK-HAM Gelar Pertemuan Awal Pembentukan Asosiasi UMKM Perempuan di Empat Kalurahan Kapanewon Nglipar

SPEK-HAM menggelar pertemuan awal pembentukan asosiasi UMKM perempuan di empat kalurahan Kapanewon Nglipar di Kabupaten Gunungkidul pada akhir April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Program Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions (ACCESS) yang berfokus pada penguatan ekonomi perempuan melalui pendampingan usaha dan pengembangan kelompok. Pertemuan dilaksanakan di Kalurahan Pilangrejo, Katongan, Pengkol, dan Nglipar di Kabupaten Gunungkidul dengan melibatkan perempuan pelaku UMKM penerima manfaat program.

Kegiatan dihadiri oleh pemerintah kalurahan, jajaran manajemen SPEK-HAM, serta tim pelaksana program. Dalam forum ini, peserta diajak untuk saling mengenal, memperkenalkan jenis usaha yang dijalankan, serta menyampaikan harapan terhadap pengembangan usaha ke depan. Suasana diskusi berlangsung hangat karena peserta berasal dari beragam jenis usaha, mulai dari olahan makanan, jajanan tradisional, hingga usaha berbasis produk lokal.

Selain perkenalan dan diskusi kelompok, peserta juga mengikuti asesmen usaha sebagai langkah awal pemetaan kebutuhan pendampingan. Proses ini dilakukan untuk mengetahui kondisi usaha peserta, termasuk tantangan yang dihadapi dalam produksi, pemasaran, maupun pengembangan usaha. Tim program mendampingi secara langsung proses pengisian asesmen agar data yang diperoleh sesuai dengan kondisi usaha peserta di lapangan.

Direktur SPEK-HAM menyampaikan bahwa penguatan ekonomi perempuan perlu dibangun melalui proses belajar bersama dan penguatan jejaring antar pelaku usaha. Melalui program ini, perempuan pelaku UMKM diharapkan tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga semakin percaya diri dalam mengembangkan usahanya. Dukungan dari pemerintah kalurahan juga menjadi bagian penting dalam memperkuat keberlanjutan program di tingkat desa.

Pertemuan awal ini menjadi langkah penting sebelum proses pembentukan asosiasi UMKM perempuan dilakukan pada tahap berikutnya. Melalui pertemuan rutin dan pendampingan berkelanjutan, peserta diharapkan dapat membangun kerja sama yang lebih kuat serta saling mendukung dalam pengembangan usaha masing-masing. SPEK-HAM berharap program ini dapat membuka ruang tumbuh bagi perempuan pelaku UMKM di desa agar semakin mandiri dan berdaya.

(Muhammad Ta’aruf Huda, Community Organizer)