Berdaya Bersama Program ACCESS: 4 Asosiasi UMKM Perempuan Resmi Berdiri di Gunungkidul

Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).
Peserta dari empat asosiasi UMKM perempuan tampak antusias mengikuti kegiatan yang difasilitasi program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions) yang berlangsung selama 3 bulan di 4 desa terpisah di Kabupaten Gunungkidul, DIY. (Foto: M.T Huda/SPEK-HAM).

GUNUNGKIDUL – Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendorong kemandirian dan ketahanan ekonomi masyarakat, empat asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan resmi terbentuk di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kehadiran organisasi kolektif ini menjadi langkah awal yang sangat strategis untuk memperkuat kelembagaan pelaku usaha perempuan sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam mengembangkan potensi ekonomi yang inklusif di tingkat desa.

Pembentukan asosiasi ini merupakan bagian dari capaian penting dalam pelaksanaan Program ACCESS (Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions). Program ini lahir dari wujud kolaborasi konsorsium antara Habitat for Humanity Indonesia, Yayasan SPEK-HAM, dan Yayasan SAPDA. Dalam kemitraan strategis tersebut, Yayasan SPEK-HAM bertanggung jawab secara langsung mendampingi penguatan kapasitas, kepemimpinan, serta tata kelola kelembagaan agar UMKM perempuan memiliki wadah organisasi yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.

Empat asosiasi yang resmi didirikan meliputi Berkah Mandiri di Kalurahan Pilangrejo, Srikandi UMKM Pengkol di Kalurahan Pengkol, Berkah Nyawiji di Kalurahan Katongan, serta Griya Boga Nglipar di Kalurahan Nglipar. Pembentukan kelembagaan ini tidak dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui serangkaian proses pendampingan partisipatif yang terbagi dalam tiga tahapan pertemuan terstruktur sepanjang bulan April hingga Juni 2026.

Tahapan pendampingan organisasi tersebut dirancang secara sistematis untuk memastikan adanya rasa kepemilikan penuh (ownership) serta partisipasi aktif dari seluruh anggota. Pada pertemuan pertama, kegiatan difokuskan pada pengenalan program, pemetaan aspirasi, serta penguatan pemahaman mengenai manfaat berorganisasi secara kolektif. Tahap kedua dilanjutkan dengan pembentukan struktur kepengurusan secara formal melalui musyawarah, penandatanganan kesepakatan komitmen peserta, serta imbauan pencatatan keuangan dasar usaha. Pertemuan ketiga berfokus pada penyusunan aturan internal organisasi, penetapan mekanisme komunikasi, dan perumusan rencana kerja tahunan.

Melalui diskusi dan kesepakatan bersama, setiap asosiasi berhasil merumuskan agenda kerja prioritas yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing. Kegiatan prioritas tersebut meliputi pelaksanaan pertemuan rutin, promosi dan pembuatan katalog produk, penyusunan profil usaha, pencitraan merek (branding) organisasi, inisiatif pemasaran digital, koordinasi dengan pemerintah desa, hingga persiapan legalisasi kelembagaan. Guna memperkuat pijakan evaluasi program di masa depan, pendampingan ini juga dilengkapi dengan pengumpulan data dasar (baseline) kondisi keuangan dan manajemen usaha menggunakan aplikasi Kobo.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, proses pendampingan menghadapi beberapa dinamika teknis, seperti variasi tingkat kehadiran peserta akibat tingginya beban domestik keluarga dan kesibukan usaha harian. Menghadapi tantangan tersebut, tim fasilitator menerapkan pendekatan personal secara individual untuk memastikan seluruh anggota memahami hak, peran, serta manfaat jangka panjang dari Program ACCESS yang akan berlangsung selama tiga tahun ini.

Ke depan, keberadaan asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi tawar pelaku UMKM perempuan dalam menjalin kemitraan strategis dengan pihak pemerintah, dunia usaha, maupun lembaga penyedia layanan keuangan. Pada triwulan berikutnya, Yayasan SPEK-HAM bersama para mitra konsorsium akan melanjutkan pendampingan intensif yang berfokus pada pelaksanaan rencana kerja, penguatan tata kelola administrasi, fasilitasi proses legalisasi badan hukum, serta peningkatan kapasitas manajemen usaha secara berkelanjutan demi mendorong kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.***