Search for:

Komnas Perempuan dan SPEK-HAM Perkuat Kolaborasi Ruang Aman di Kampus

Ketua Komisi Nasional Perempuan, Maria Ulfah Anshor bersama Pembina Yayasan SPEK-HAM, Indriyanti Suparno, dan Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih setelah sesi diskusi di Kantor SPEK-HAM, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Ketua Komisi Nasional Perempuan, Maria Ulfah Anshor bersama Pembina Yayasan SPEK-HAM, Indriyati Suparno, dan Direktur SPEK-HAM, Rahayu Purwaningsih setelah sesi diskusi di Kantor SPEK-HAM, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

SURAKARTA- Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Maria Ulfah Anshor melakukan kunjungan kerja ke kantor SPEK-HAM yang beralamat di Jalan Srikoyo No.20 Karangasem, Laweyan, Surakarta pada Kamis (6/8/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi serta mendiskusikan situasi dan dinamika penanganan kekerasan terhadap perempuan di wilayah Surakarta dan sekitarnya.

 

 

Diskusi ini turut dihadiri oleh perwakilan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) dari berbagai institusi pendidikan dan keagamaan, di antaranya UIN Raden Mas Said, UIN Salatiga, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), serta Pondok Pesantren Al-Muayyad.

 

 

Dalam pemaparannya, Maria Ulfah Anshor menegaskan bahwa situasi kekerasan terhadap perempuan di daerah terus menjadi perhatian serius Komnas Perempuan. Pihaknya ingin memahami secara langsung kompleksitas yang dihadapi para pendamping dan aktivis di lapangan. “Satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan di institusi pendidikan merupakan garis depan dalam menciptakan ruang aman bagi para peserta didik, agar mereka dapat belajar tanpa rasa takut dari ancaman kekerasan,” ujar Maria.

 

 

Menanggapi hal tersebut, Direktur SPEK-HAM Surakarta, Rahayu Purwaningsih, menyambut baik kolaborasi antara Satgas PPKPT di lingkungan pendidikan dengan lembaga swadaya masyarakat independen. SPEK-HAM berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan penanganan kasus secara pro bono melalui berbagai program nyata.

 

 

Rahayu menilai, keterbukaan perguruan tinggi dalam menangani kasus kekerasan saat ini menunjukkan tren positif. “Pengalaman selama ini menunjukkan teman-teman di perguruan tinggi semakin terbuka. Makin banyak korban yang berani melapor adalah indikasi perbaikan situasi yang signifikan dibandingkan sebelumnya,” jelas Rahayu.

 

 

Meski keberanian korban untuk melapor meningkat, proses penanganan di lapangan tidak lepas dari tantangan kompleks. Ketua Satgas PPKPT UMS, Marisa Kurnianingsih, membagikan pengalamannya terkait kondisi psikologis para pelapor yang kerap tidak stabil saat menyampaikan aduan. Guna memastikan setiap laporan ditangani secara obyektif dan tepat sasaran, Satgas PPKPT UMS menerapkan mekanisme asesmen yang komprehensif.

 

 

“Kondisi psikologis pelapor sering kali berada pada posisi tidak stabil, bahkan kami pernah menerima laporan dari pelapor yang mengalami halusinasi. Oleh karena itu, kami tidak hanya menyiapkan tim konseling, tetapi juga menerjunkan tim psikolog untuk melakukan pemeriksaan awal guna memastikan laporan yang masuk didasarkan pada fakta,” ungkap Marisa.

 

 

Melalui pertemuan ini, para pemangku kepentingan berharap sinergi antara Komnas Perempuan, organisasi pengada layanan seperti SPEK-HAM, dan Satgas PPKPT di berbagai kampus dapat semakin solid dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.***

Ketika Mawar Tidak Lagi Sekadar Bunga: Cerita Perempuan Desa Menciptakan Nilai dari Komoditas Lokal

Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Miftahul Huda/SPEK-HAM)
Kader perempuan sedang merapikan bunga mawar. (Foto: Miftahul Huda/SPEK-HAM)

Apa yang terlintas ketika mendengar bunga mawar?

 

Bagi sebagian besar orang, mawar identik dengan keindahan. Bunga ini hadir dalam rangkaian buket, dekorasi pernikahan, atau menjadi simbol kasih sayang. Nilainya sering kali berhenti pada bentuknya sebagai bunga segar. Ketika kelopaknya mulai layu, nilainya pun dianggap ikut memudar.

 

Namun, cara pandang itu berbeda di Desa Cluntang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra budidaya mawar ini, sekelompok perempuan melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bunga. Bagi mereka, mawar bukan hanya hasil panen yang dijual kepada pasar, melainkan potensi lokal yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang ekonomi bagi perempuan.

 

Kesadaran inilah yang mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Mawar mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar mawar, salah satunya keripik mawar. Langkah tersebut lahir dari keyakinan bahwa potensi lokal akan memiliki nilai yang lebih tinggi ketika diolah melalui pengetahuan, kreativitas, dan kerja bersama. Namun, mengembangkan usaha berbasis potensi lokal bukanlah perjalanan yang mudah. Selain harus memastikan kualitas produk tetap terjaga, kelompok juga menghadapi tantangan membangun kepercayaan pasar. Tidak sedikit masyarakat yang masih merasa asing dengan gagasan mengonsumsi olahan berbahan dasar bunga mawar.

“Yang susah itu meyakinkan warga. Banyak yang masih bingung, kok mawar dimakan?” ujar Sri Mulyani, anggota KWT Putri Mawar.

 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil diciptakan. Inovasi juga membutuhkan proses memperkenalkan cara pandang baru kepada masyarakat. Produk yang berbeda memerlukan edukasi, kesabaran, dan strategi pemasaran yang tidak sedikit.

 

Di sisi lain, kelompok juga harus berhadapan dengan fluktuasi harga mawar sebagai bahan baku utama. Ketika harga bunga meningkat, biaya produksi ikut naik, sementara harga jual produk tidak dapat disesuaikan secara drastis. Dilema ini menjadi tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha mikro yang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

 

Melihat tantangan tersebut, penguatan kapasitas perempuan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat desa. Tidak cukup hanya mendorong lahirnya produk inovatif, perempuan juga perlu memiliki akses terhadap pengetahuan, jejaring, strategi pemasaran, hingga penguatan kelembagaan agar usaha yang mereka bangun dapat bertahan dan berkembang.

 

Dalam proses inilah SPEK-HAM hadir sebagai mitra pendamping KWT Putri Mawar. Pendampingan tidak difokuskan pada peningkatan produksi semata, tetapi juga memperkuat kapasitas organisasi kelompok, mendorong pembelajaran bersama, memperluas cara pandang mengenai pengembangan usaha, serta mendukung perempuan agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam mengelola sumber daya ekonomi di komunitasnya.

 

Bagi SPEK-HAM, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak berhenti pada meningkatnya pendapatan. Ketika perempuan memiliki ruang untuk belajar, mengambil keputusan, berinovasi, dan membangun usaha secara kolektif, mereka juga sedang memperkuat posisi tawar dalam keluarga maupun masyarakat. Karena itu, penguatan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat anggota KWT Putri Mawar tetap terjaga.

“Harapannya kelompok kami tetap eksis, produk kami tetap laris, dan bisa membantu perempuan dari skala rumah tangga dulu saja,” tutur Sri Mulyani.

 

Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan makna yang lebih besar. Cerita KWT Putri Mawar memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Ia dapat tumbuh dari keberanian melihat peluang pada potensi yang telah lama ada, kemudian mengolahnya menjadi sumber penghidupan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pada akhirnya, nilai terbesar dari mawar di Desa Cluntang bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan. Nilai itu juga hadir dalam keberanian perempuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan membuktikan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi fondasi bagi ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkeadilan. (Silviana Putri Kapidayanti, Mgg Sosiologi UNS)