Search for:

SPEK-HAM Gelar Pertemuan Awal Pembentukan Asosiasi UMKM Perempuan di Empat Kalurahan Kapanewon Nglipar

SPEK-HAM menggelar pertemuan awal pembentukan asosiasi UMKM perempuan di empat kalurahan Kapanewon Nglipar di Kabupaten Gunungkidul pada akhir April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Program Advancing Climate-Resilient Communities through Empowering Sustainable Solutions (ACCESS) yang berfokus pada penguatan ekonomi perempuan melalui pendampingan usaha dan pengembangan kelompok. Pertemuan dilaksanakan di Kalurahan Pilangrejo, Katongan, Pengkol, dan Nglipar di Kabupaten Gunungkidul dengan melibatkan perempuan pelaku UMKM penerima manfaat program.

Kegiatan dihadiri oleh pemerintah kalurahan, jajaran manajemen SPEK-HAM, serta tim pelaksana program. Dalam forum ini, peserta diajak untuk saling mengenal, memperkenalkan jenis usaha yang dijalankan, serta menyampaikan harapan terhadap pengembangan usaha ke depan. Suasana diskusi berlangsung hangat karena peserta berasal dari beragam jenis usaha, mulai dari olahan makanan, jajanan tradisional, hingga usaha berbasis produk lokal.

Selain perkenalan dan diskusi kelompok, peserta juga mengikuti asesmen usaha sebagai langkah awal pemetaan kebutuhan pendampingan. Proses ini dilakukan untuk mengetahui kondisi usaha peserta, termasuk tantangan yang dihadapi dalam produksi, pemasaran, maupun pengembangan usaha. Tim program mendampingi secara langsung proses pengisian asesmen agar data yang diperoleh sesuai dengan kondisi usaha peserta di lapangan.

Direktur SPEK-HAM menyampaikan bahwa penguatan ekonomi perempuan perlu dibangun melalui proses belajar bersama dan penguatan jejaring antar pelaku usaha. Melalui program ini, perempuan pelaku UMKM diharapkan tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga semakin percaya diri dalam mengembangkan usahanya. Dukungan dari pemerintah kalurahan juga menjadi bagian penting dalam memperkuat keberlanjutan program di tingkat desa.

Pertemuan awal ini menjadi langkah penting sebelum proses pembentukan asosiasi UMKM perempuan dilakukan pada tahap berikutnya. Melalui pertemuan rutin dan pendampingan berkelanjutan, peserta diharapkan dapat membangun kerja sama yang lebih kuat serta saling mendukung dalam pengembangan usaha masing-masing. SPEK-HAM berharap program ini dapat membuka ruang tumbuh bagi perempuan pelaku UMKM di desa agar semakin mandiri dan berdaya.

(Muhammad Ta’aruf Huda, Community Organizer)

Perempuan Cluntang dan Ruang Baru yang Tumbuh dari Mawar

Di Desa Cluntang, Kabupaten Boyolali, bunga mawar telah lama menjadi salah satu potensi lokal yang dibudidayakan masyarakat. Perempuan turut terlibat dalam proses budidaya, mulai dari penanaman hingga panen. Selama bertahun-tahun, hasil mawar umumnya dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul sebagai sumber penghasilan keluarga. Pada masa itu, perempuan belum banyak memiliki akses terhadap pengetahuan pengolahan hasil panen maupun keterlibatan dalam proses bersama untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Perubahan mulai hadir ketika perempuan memperoleh akses pendampingan dan pelatihan dari SPEK-HAM. Melalui proses tersebut, terbentuklah Kelompok Putri Mawar sebagai wadah belajar dan berkembang bersama bagi perempuan di Desa Cluntang. Dari kelompok ini, perempuan mulai memperoleh ruang untuk memperluas pengetahuan, membangun jejaring, serta terlibat lebih aktif dalam berbagai kegiatan bersama.

Melalui pelatihan yang diikuti, perempuan mulai mengenal berbagai olahan berbahan dasar mawar. Mereka belajar mengolah bunga mawar menjadi teh, sirup, hingga keripik, sekaligus memahami proses produksi, pengemasan, dan nilai tambah dari produk olahan. Pengetahuan tersebut membuka pengalaman baru bagi perempuan dalam melihat potensi mawar yang selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah.

“Awalnya mawar hanya dijual ke pengepul, sekarang kami jadi tahu banyak olahan mawar yang bisa dibuat, seperti jadi teh, sirup, dan keripik,” ujar Ibu Sri Mulyani, Ketua Kelompok Putri Mawar.

Proses belajar tersebut membuka akses pengetahuan baru bagi perempuan. Pengalaman mengikuti pelatihan juga mendorong tumbuhnya rasa percaya diri untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang ada di desa. Perempuan tidak lagi hanya terlibat dalam budidaya, tetapi juga mulai mengambil peran dalam proses pengolahan dan pengembangan produk.

Perubahan ini turut membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi perempuan. Dari yang sebelumnya hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, kini perempuan terlibat dalam proses produksi hingga menghasilkan produk olahan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

“Sekarang perempuan jadi punya kegiatan bersama dan ikut mengembangkan usaha kelompok. Hasilnya juga bisa membantu menambah penghasilan,” ungkap Ibu Sri Mulyani.

Kelompok Putri Mawar juga menjadi forum bersama bagi perempuan untuk membangun jejaring dan memperluas relasi sosial. Perempuan mulai aktif dalam kegiatan kelompok, membangun kebiasaan berdiskusi, serta saling berbagi pengalaman satu sama lain. Kegiatan bersama tersebut menghadirkan ruang baru bagi perempuan untuk lebih terlibat dalam kehidupan sosial di tingkat desa.

“Yang paling terasa itu wawasan dan pengalaman. Dulu belum tahu apa itu berkelompok, sekarang jadi tahu dan bisa menjalin jejaring,” ujar Ibu Sri Mulyani.

Keterlibatan dalam kelompok turut membuka kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan bersama. Perempuan mulai aktif dalam musyawarah kelompok untuk menentukan kegiatan maupun arah pengembangan usaha. Ruang musyawarah ini membuat perempuan semakin terbiasa menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses diskusi bersama.

“Kalau ada kegiatan atau rencana usaha, sekarang kami biasa berdiskusi bersama dulu. Perempuan juga ikut menyampaikan pendapat,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, produk olahan mawar dari Kelompok Putri Mawar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Berbagai kegiatan kelompok yang terus berjalan juga mendorong perempuan semakin aktif dan percaya diri dalam menjalankan perannya di berbagai aspek kehidupan.

Penulis : Fitria Sandrina Duhita, Florista Aminati Mawadah (Mgg Sosiologi UNS) | Editor : Muhammad Ta’aruf Huda (CO Divisi Sustainable Livelihood)

PERTEMUAN KELOMPOK PEREMPUAN KELURAHAN KAMPUNG SEWU

Pada hari Selasa, 19 Desember 2023 SPEK-HAM mengadakan pertemuan Kelompok Perempuan Kelurahan Sewu yang bertempat di rumah Ibu Handayani dengan dihadiri oleh lebih dari 10 orang dan didampingi oleh Pakdhe Padmin. KPKS sendiri merupakan suatu kelompok yang memiliki tujuan untuk merangkul masyarakat dalam kegiatan seperti kursus atau kegiatan lainnya dengan harapan dapat  memberikan pengetahuan bagi masyarakat melalui media google bisnis. Kegiatan kali ini diawali dengan pembukaan dan diskusi mengenai pengembangan produk usaha makanan yang sedang dirintis oleh ibu-ibu di Kelurahan Sewu. Beberapa dari mereka juga membawa contoh produk usahanya seperti sup matahari, gudeg ceker, nasi bakar, dan cemilan ringan berupa peyek dan kripik jagung. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan berdiskusi tentang NIB atau Nomor Induk Berusaha dan Sertifikat Halal yang harus dimiliki oleh semua anggota KPKS. Produk-produk tersebut nantinya akan dipasarkan melalui marketplace berupa instagram maupun facebook. Selanjutnya, kegiatan ini juga membahas mengenai anggaran di mana mencakup adanya anggaran sosial, simpan pinjam, bahkan iuran pokok maupun wajib. Terdapat pula beberapa usulan yang disepakati bersama seperti mendatangkan narasumber yang berkompeten dalam bidang marketing. Hal ini bertujuan  untuk memberikan arahan dan wawasan tentang bagaimana mengatur strategi yang baik dalam pemasaran suatu produk. Kegiatan ini ditutup dengan diskusi singkat mengenai RAT (Rapat Anggota Tahunan) di mana hal tersebut bertujuan untuk membahas rencana anggaran tahun berikutnya.

BANK SAMPAH GAJAH PUTIH DINOBATKAN SEBAGAI SRIKANDI LINGKUNGAN TINGKAT KOTA

Bank Sampah Gajah Putih RT 3 RW 09 Kelurahan Karangasem merupakan bank sampah yang didampingi oleh SPEK-HAM sejak berdiri tahun 2017.

Awal mulanya dari pertemuan SPEK-HAM dengan ketua PKK RT 03 RW 09 pada acara Peresmian program Warga Bebas Asap Rokok. Ibu Rini selaku ketua PKK waktu itu menyampaikan mulai mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga, tetapi terkendala proses penjualan karena tidak tau mau dijual kemana dan belum adanya kepengurusan bank sampah.

Mengetahui kondisi tersebut, SPEK-HAM melakukan edukasi memberikan pemahaman detail mengenai bank sampah serta bagaimana aturan main dan cara agar bank sampah dapat berjalan pada saat pertemuan PKK RT 03 RW 09 Kelurahan Karangasem. Selanjutnya anggota PKK, ditambah dukungan dari kelompok bapak-bapak, membentuk Bank Sampah yang diberi nama “Gajah Putih”.
Dalam perjalanannya, Bank Sampah Gajah Putih berjalan sangat baik, bahkan kehadirannya dilirik oleh stakeholder setempat. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya dukungan bantuan Sarana & Prasarana dari Pemerintah Kota, Dinas Lingkungan Hidup, Telkom Solo, PDAM Solo, serta bank ternama yaitu MAYBANK. Hal tersebut tak lepas dari dukungan pendampingan dari SPEK-HAM, serta koordinasi rutin dari pengurus Gajah Putih kepada SPEK-HAM.

Penimbangan Bank Sampah rutin dilakukan setiap dua minggu sekali, jumlah sampah an organik yang terkumpul selalu mengalami peningkatan jumlah. Dari catatan Bank Sampah Gajah Putih hingga November 2022 ini sudah berhasil menjual kurang lebih 4 ton sampah plastic dan kertas. Melihat komitmen dan kerja keras seluruh anggota bank sampah, maka ketua Bank Sampah kemudian memberanikan diri mengajukan proposal bantuan sarana prasana administrasi kepada Walikota Surakarta.

Pada tanggal 3 Oktober 2022 yang lalu, Bank Sampah Gajah Putih menerima hibah dari Walikota Surakarta sebesar Rp 15.000.000,00 yang kemudian peruntukannya untuk membeli laptop, printer dan proyektor yang akan menunjang kerja-kerja administrasi bank sampah. Tidak hanya sampai di sini prestasi dan dukungan dari seluruh stakeholder. Baru-baru ini ketua Bank Sampah Gajah Putih menyabet juara 1 kader lingkungan di Kota Surakarta dan dinobatkan sebagai “SRIKANDI LINGKUNGAN” tingkat Kota Surakarta. Atas prestasinya mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,00 yang akan digunakan untuk pengembangan kegiatan Bank Sampah Gajah Putih. Semoga dengan semakin bertambahnya sarana dan prasarana yang dimiliki, Bank Sampah Gajah Putih semakin berkembang dan menjadi salah satu bank sampah percontohan dan menginsipirasi di Kota Surakarta. (Pakde Padmin – Divisi SL

Terima Kunjungan Perusahaan asal Jerman, Produk Olahan Mawar Mulai Dilirik Pangsa Internasional

Kunjungan OFI ke Kelompok Putri Mawar

Kelompok wanita tani Putri Mawar dampingan SPEK-HAM menerima kunjungan dari perwakilan perusahaan Mega Inovasi Produk (MIO) dan Organic Food Indonesia (OFI) pada hari Rabu, 8 Juni 2022. Kunjungan tersebut dalam rangka penjajakan potensi organik lokal yang ada di Desa Cluntang. Selain itu untuk mengetahui aneka produk yang telah dibuat dari produk olahan mawar. “Kami bermaksud untuk survei potensi produk yang bisa dikembangkan di jerman, serta melihat produksi yang sudah ada” tutur Kohf (55), salah satu perwakilan dari OFI.

MIO dan OFI merupakan anak perusahaan salah satu pabrik yang ada di Jerman yang berfokus pada pengolahan hasil pertanian organic dan  diantaranya diolah menjadi produk organic yang menyehatkan seperti vanilla, cocoa, dan lain sebagainya. MIO dan OFI terkesan dengan produk olahan mawar yang diproduksi oleh KWT Putri mawar, terlebih pada produk sirup mawar karena memiliki aroma yang khas dan sangat eklusif di pasaran. “Selama ini kami memasarkan produk pada pasar lokal, dengan menjual nilai-nilai kesehatan yang ada pada produk olahan mawar” ungkap Sri Mulyani (46) menjelaskan pemasaran produk.

Kelompok Putri Mawar dan Produk Olahan Mawar

Produk olahan mawar ini telah tersertifikasi halal dari MUI dan P-IRT sehingga dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tentunya menyehatkan karena mengandung anti oksidan 70%. Produk olahan mawar dibuat dari petal bunga mawar khas lereng merapi dengan jenis Javanese rose serta diolah secara berkualitas menggunakan berbagai alat produksi seperti cabinet dryer dan spinner

Produk olahan mawar dapat dibeli secara online maupun secara offline. Melalui kunjungan oleh MIO dan OFI diharapkan semakin mengenalkan produk olahan mawar khas Desa Cluntang pada pangsa pasar nasional dan internasional, sehingga mampu membawa angin segar pada usaha ekonomi perempuan. Tak dapat dipungkiri badai pandemi sangat berdampak pada ekonomi perempuan, salah satunya usaha produk olahan mawar. Mari terus mendorong usaha ekonomi produktif perempuan agar perempuan semakin kuat dan berdaya. (Muhammad Ta’aruf Huda- CO Divisi SL)

Pelatihan Budidaya Perikanan Lele dalam Ember (Budikdamber) Bersama KWT Srikandi Gilingan

Senin, 04 Oktober 2021, Kelompok Srikandi Gilingan mengikuti pelatihan budidaya perikanan lele dalam ember (Budikdamber) yang diinisiasi oleh SPEK-HAM Surakarta dengan dukungan BAZNAS Kota Surakarta dan kerjasama dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Surakarta. Pelatihan ini sebagai respon dari kegelisahan Kelompok Srikandi Gilingan yang mengalami kegagalan dalam proses budidaya perikanan lele sebelumnya. Pelatihan tersebut dihadiri oleh anggota KWT Srikandi sejumlah 20 orang. Pelatihan budikdamber mendatangkan dua narasumber yaitu Bu Adri dan Pak Zani dari Dinas Pertanian KPP Kota Surakarta. Beliau dengan sabar menjelaskan proses demi proses pemilihan benih, pemindahan benih hingga panen ikan lele maupun kangkung yang juga ditanam pada tutup ember lele budikdamber. Sebelumnya, pelatihan budikdamber telah diberikan kepada sebagian langsung dan mendapat bimbingan dari ahlinya.

Budidaya lele dalam ember ini dapat dikatakan susah susah gampang, karena lele yang dipakai hanya 50 ekor sehingga risiko kematian massalnya pun dapat diminimalisir dan dapat maksimal dalam budidayanya. Namun jika tidak rutin dalam memeliharanya, seperti pemberian pakan, penggantian air, dan yang lainnya akan membuat lele stres dan mati. Langkah pertama dalam budidaya lele dalam ember adalah mengendapkan air selama 2-3 hari, selanjutnya tambahkan probiotik guna memunculkan plankton-plankton alami untuk pakan lele. Setelah memasukkan bibit lele, jangan diberi makan selama sehari agar lele dapat beradaptasi dan hanya memakan pakan alami tersebut. Lele merupakan salah satu hewan kanibal, sehingga proses penyortiran lele sangat diperlukan pada tahap awal untuk menghindari lele yang berukuran besar akan melahap lele dengan ukuran yang lebih kecil. Selain penyortiran, pemilihan ukuran bibit juga diperlukan, dimana bibit lele yang dimasukkan sebaiknya berukuran kurang lebih 57 cm. Ukuran bibit yang terlalu kecil akan berakibat pada rawannya penyakit dan menyebabkan kematian. Indukan lele berkualitas dapat dilihat dari warnanya yang mengkilat dan mempunyai gerakan gesit, serta telah bersertifikat. Sedangkan penanaman kangkung dalam tutup botol cukup mudah, dimulai dengan memasukkan arang dan kapas pada gelas plastik kecil yang telah dilubangi sebelumnya, sebar biji kangkung dan siram. Tunggu selama 3 hari hingga kangkung telah bertumbuh. (Mufadlila & Mutiara Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, Oktober 2021)

Mengulik Pemberdayaan di Desa Cluntang, Musuk, Boyolali

Cluntang merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Musuk, Boyolali dimana lokasinya berada di lereng Gunung Merapi yang membuat iklim di Cluntang sejuk dan dingin. Pemandangan Gunung Merapi yang bersembunyi di balik Gunung Bibi menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya. Peluang inilah yang diambil oleh salah satu warga Cluntang untuk membuat sebuah objek wisata Tanjakan Cinta, begitulah orang sekitar  menyebutnya. Wisata yang berdiri sejak 2019 ini selalu ramai dikunjungi, sampai akhirnya pandemi menyerang sehingga mau tidak mau tempat wisata di Cluntang harus tutup.

Kelurahan yang berlokasi di lereng Gunung Merapi ini menjadikan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Berbagai macam tanaman dan sayuran tumbuh subur, seperti kubis, cabai, bawang merah, kentang, tomat, bunga mawar, dan tembakau. Sampai sekarang produksi tanaman dan sayuran dari Cluntang terus berkembang, hal tersebut tidak lepas dari peran SPEK HAM dan Baznas Boyolali dalam program Zakat Community Development sebagai pendamping dengan anggota 67 orang. Salah satu produk dampingan SPEK HAM adalah produksi olahan bunga mawar, yang sebelumnya hanya dijual rancangan menjadi olahan berupa teh mawar, keripik mawar, pilus, dan sirup. Masyarakat yang memproduksi olahan mawar tergabung dalam Kelompok Putri Mawar, diinisiasi oleh SPEK HAM tahun 2016. Kelompok Putri Mawar ini telah mempunyai alat produksi sendiri, seperti cabinet dryer sebagai pengering, mesin spinner untuk penghilang minyak, timbangan, alat press manual kantong teh, dan alat pendukung lainnya.

Kondisi lingkungan yang mendukung akan pertumbuhan bunga mawar membuat hampir setiap rumah memiliki tanaman mawar. Jenis tanaman ini dapat dipanen setiap hari, sehingga produksi mawarnya pun sangat melimpah. Teh mawar dan keripik mawar merupakan produk yang paling laku di pasaran, olahan mawar ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh, online, dan melalui mulut ke mulut. Produk mawar yang telah mempunyai sertifikat halal dan izin PIRT ini, 1 kotak teh celup mawar 20 gr seharga 15.000, sedangkan kripik mawar seharga 10.000. Selain produksi olahan mawar, Cluntang juga kaya akan produksi bawang merah. Berkah Tani merupakan kelompok petani bawang merah di Cluntang yang berdiri tahun 2017 dengan anggota 21 orang. Penanaman bawang merah diminimalisirkan penggunaan pupuk kimia agar bersifat ramah lingkungan.  Namun dengan begitu, ketika sampai di pasar bawang merah organik dan non organik masih dijadikan satu, sehingga perolehan harga belum terdapat perbedaan yang signifikan. SPEK-HAM bekerja sama dengan Baznas Boyolali juga memberikan beberapa ekor kambing kepada 5 warga Cluntang, harapannya dari ternak kambing tersebut dapat meningkatkan produktivitas masyarakat. (Hanifah Aufia R Mahasiswa UGM_Magang SPEK-HAM, September 2021)

Perempuan Gilingan Berdaya dengan Budidaya Tanaman Pekarangan

Pelatihan Budidaya Tanaman Pekarangan (KWT Srikandi Gilingan)

Kamis (30/09) SPEK-HAM bersama BAZNAS Kota Surakarta menggandeng Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta melakukan pelatihan budidaya tanaman pekarangan di Kelurahan Gilingan yang diikuti oleh 13 orang anggota KWT Srikandi.  Pelatihan dilaksanakan di Balai Posyandu Kelurahan Gilingan mulai pukul 09.00 sampai 11.00 WIB.

Kelurahan Gilingan terletak di belakang Pasar Gilingan dan berada di bantaran Sungai Pepe. Kondisi pemukiman padat penduduk di kawasan perkotaan tentu menghadirkan permasalahan sosial seperti pengangguran dan tingkat perekonomian masyarakat yang kurang sejahtera. Hal tersebut mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi mendapatkan program pemberdayaan berupa pelatihan bertani sederhana di pekarangan rumah. Pelatihan budidaya tanaman pekarangan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas ibu-ibu rumah tangga serta meningkatkan ketahanan pangan di kawasan perkotaan yang tidak memiliki lahan untuk bertani. Pelatihan budidaya tanaman pekarangan tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi anggota KWT Srikandi dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Pelatihan yang ditujukan kepada KWT Srikandi tersebut juga dihadiri oleh Pimpinan BAZNAS Kota Surakarta yang memberikan sambutan kegiatan. Peserta pelatihan diberikan ilmu pertanian berupa teori dan praktek secara langsung. Materi disampaikan oleh Ibu Atik dan Pak Anang (Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Perikanan). KWT Srikandi diberikan bimbingan untuk melakukan penanaman dengan polybag di pekarangan rumah mereka. Guna mendukung pelatihan tersebut Dinas Pertanian KPP memberikan benih, media tanam dan polybag untuk praktik pemindahan tanaman.            

Meskipun dilaksanakan di bawah terik sinar matahari, anggota KWT Srikandi tetap semangat dan excited mendengarkan, kemudian mengikuti praktik pemindahan tanaman dengan dampingan pihak Dinas Pertanian KPP. Pelatihan dimulai dengan pemindahan benih tanaman seperti terong, cabai dan sawi yang sudah tumbuh dalam polybag kecil ke dalam polybag besar agar dapat tumbuh secara optimal. Langkah pertama dilakukan dengan menjepit dan mengepal benih yang telah disediakan. Kemudian media tanam di masukan kedalam polybag besar lalu benih dimasukan dan ditata dengan rapi. Setelah dipindahkan tanaman tidak diperbolehkan terkena sinar matahari secara langsung dalam beberapa hari untuk penyesuaian media tanam baru.

Sesi selanjutnya anggota KWT Srikandi mengajukan beberapa pertanyaan terkait budidaya tanaman sayur. Mendengar suara anggota KWT Srikandi tersebut, narasumber dari Dinas Pertanian KPP Kota Surakarta memberi tips and trick untuk penggunaan pupuk organik cair dan pestisida nabati untuk membunuh penyakit tanaman, namun juga menjaga kualitas tanaman tetap baik. Seperti pupuk organik cair dari air leri dan pupuk organik dari kotoran hewan atau pupuk kandang. Pengetahuan terkait cara penanaman, pupuk, dan pestisida nabati dapat menjadi ilmu yang membantu anggota KWT Srikandi terus berkembang secara mandiri. (Mufadlila Dienul Z Mahasiswa UGM _Magang SPEK-HAM, September 2021)