Cerita dari Karangasem: Ketika Sampah Berubah Jadi Rupiah

Kader perempuan Karangasem tengah membuat aksesoris buatan tangan dari pemilahan sampah pada Rabu (16/9/2026). (Foto: Magang SPEK-HAM)
Kader perempuan Karangasem tengah membuat aksesoris buatan tangan dari pemilahan sampah pada Rabu (16/9/2026). (Foto: Magang SPEK-HAM)

 

Penulis: Eugenia Eligia Boru Siahaan & Lutfi Oktafian Saputra

 

Pagi itu, suasana di Bank Sampah Gajah Putih, RT 03/RW 09, Karangasem, Laweyan, Surakarta tampak berbeda. Tumpukan sampah yang biasanya menjadi pemandangan mengganggu di pinggir jalan, di tempat ini justru dipandang sebagai peluang emas.

 

 

Pada Rabu, 16 September 2026, para warga bersama mahasiswa berkumpul untuk mengurai salah satu masalah lingkungan terbesar di perkotaan yakni pengelolaan sampah.

 

 

Bagi warga setempat, sampah tak lagi sekadar barang buangan yang harus disingkirkan. Di tangan para pegiat lingkungan yang penuh kerelaan, limbah rumah tangga disulap menjadi produk bernilai ekonomis yang mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah sekaligus menjaga lingkungan tetap asri.

 

 

Kerja Sama Rutin dan Edukasi Tanpa Henti

 

 

Sistem pengangkutan sampah anorganik di RT 03/RW 09 dijalankan secara berkala setiap dua minggu sekali. Jenis sampah yang dikumpulkan mulai dari botol plastik, botol obat, hingga cakram bekas.

 

 

Seluruh limbah ini dibawa ke Bank Sampah untuk dipilah dan dikemas rapi sebelum disalurkan ke pengepul yang telah bekerja sama.

 

 

Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Sebagian warga diakui masih belum sepenuhnya paham cara memilah sampah yang benar. Di sinilah peran edukasi dan pendampingan menjadi sangat krusial.

 

 

Kehadiran mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi membawa energi segar. Mereka tidak hanya datang berkunjung, tetapi juga terjun langsung melakukan pendampingan lapangan, membantu pemilahan, hingga mengedukasi warga.

 

 

“Bantuan mesin pencacah plastik dari berbagai pihak sebenarnya sangat membantu. Namun, tantangannya ada pada keterbatasan tenaga atau operator yang paham cara mengoperasikannya secara maksimal,” ungkap salah satu pengurus dalam sesi tanya jawab.

 

 

Siklus Maggot BSF: Solusi Cerdas Limbah Organik

 

 

Tak hanya sampah anorganik, limbah dapur dan sisa makanan dari acara hajatan maupun katering warga juga mendapatkan perhatian khusus.

 

 

Sejak dikembangkan pada tahun 2021, Bank Sampah Gajah Putih mengolah sampah organik menjadi media budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

 

 

Budidaya ini menuntut kedisiplinan tinggi. Pengurus harus mencatat siklus hidup lalat BSF secara teliti, mulai dari penetasan telur hingga masa panen maggot.

 

 

Sisa makanan yang membusuk rutin diberikan sebagai pakan hingga habis bertahap. Hasil panen maggot ini memiliki nilai jual yang menjanjikan sebagai pakan lele dan ayam, sementara sisanya (kasgot) dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas.

 

 

 

Sentuhan Kreativitas dalam Kelompok

 

 

 

Sesi pungkasan pelatihan diisi dengan aksi reka cipta bahan bekas. Warga dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan lima orang.

 

 

 

Dari bahan plastik bekas yang sama, setiap kelompok saling beradu ide membuat kerajinan tangan unik seperti aksesori fashion hiasan topi yang unik dan estetik.

 

 

Perlengkapan rumah seperti keranjang hias multi-guna dan vas bunga. Dekorasi menjadi bunga hias berbahan plastik daur ulang.

 

 

 

Pengelolaan sampah pada akhirnya bukan sekadar urusan membuang barang bekas pada tempatnya, melainkan tentang membangun kepedulian, keikhlasan, dan kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkatan RT. ***