Cegah Burnt Out dan Femisida, PWKI Surakarta Gelar Seminar Self-Care bagi Perempuan dan Pendamping Korban Kekerasan

Direktur SPEK-HAM Surakarta, Rahayu Purwaningsih dalam sesi materi pada acara Seminar Self Care PWKI, Sabtu (19/9/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Direktur SPEK-HAM Surakarta, Rahayu Purwaningsih dalam sesi materi pada acara Seminar Self Care PWKI, Sabtu (19/9/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

Penulis: I.K Nino Sativara

SURAKARTA – Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Cabang Surakarta menggelar seminar interaktif bertema self care di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Penumping, Surakarta pada Sabtu (19/9/2026).

 

Agenda tersebut digelar sebagai pengingat pentingnya merawat kesehatan fisik dan mental bagi perempuan, terutama bagi mereka yang aktif mendampingi para korban kekerasan.

 

Melalui edukasi self care, para aktivis dan pendamping masyarakat diharapkan tidak terlarut secara psikologis dalam persoalan emosional yang dihadapi para korban kekerasan.

 

Penjagaan kondisi emosional secara berkelanjutan dinilai penting agar pendamping tidak mengalami kekalahan mental (burnt out) serta dapat terus memberikan bantuan secara optimal.

 

Hadir sebagai narasumber utama, Direktur SPEK-HAM Surakarta, Rahayu Purwaningsih, S.Sos., M.Si., memaparkan potret mengkhawatirkan terkait eskalasi kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia belakangan ini.

 

Rahayu menyoroti peningkatan tajam fenomena femisida pembunuhan terhadap perempuan karena gender yang dinilainya sudah dalam tahap darurat.

 

“Di tahun 2024 saja, tercatat sebanyak 290 perempuan meninggal dunia di tangan pasangannya sendiri,” ungkap Rahayu saat memaparkan materi.

 

Ia menjabarkan bahwa femisida dipicu oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari eskalasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang berulang hingga kondisi himpitan ekonomi.

 

Fenomena ini juga marak terjadi di kawasan Solo Raya, di mana para pelaku mayoritas merupakan orang terdekat korban. Selain konflik domestik dan tekanan ekonomi, sejumlah kasus juga dipicu oleh motif penguasaan aset serta tindak kriminal lainnya.

 

PWKI Surakarta berharap forum interaktif ini dapat membekali para peserta dengan pemahaman self care yang utuh. Dengan menjaga kestabilan fisik dan psikologis, para perempuan diharapkan mampu membentengi diri sendiri sekaligus melanjutkan peran pendampingan di tengah masyarakat secara sehat dan berkelanjutan. ***