Menjahit Kain, Menyambung Kepedulian

Suprapti di depan meja jahitnya. (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Suprapti di depan meja jahitnya. (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

Penulis: I.K Nino Sativara

Suara mesin jahit terdengar samar dari jendela rumah joglo di sebuah desa, di Sukoharjo. Di dalamnya, seorang perempuan dengan jemari tangan mendorong perlahan kain batik yang menjuntai hingga ke lantai. Batik itu adalah pesanan langsung seorang tetangga yang tak lama lagi akan dikenakan di hari istimewanya. “Yu, kain-ku sudah jadi belum?,” panggil tetangga dari depan rumah. Suprapti segera bergegas, membawa sehelai kain yang baru saja ia jahit. “Iki lho, sudah jadi!,” ucap dia. 

 

 

Rutinitas sebagai penjahit tersebut sudah ia lakoni sejak muda. Di tengah kesibukannya menjahit itu, Suprapti masih aktif mengikuti sejumlah kegiatan sosial di desanya. “Saya juga ikut kader posyandu, dan tentu ikut juga sebagai pengurus LBK (Layanan Berbasis Komunitas) yang didampingi oleh SPEK-HAM lewat Program Arunika,” ungkapnya saat ditemui pada Kamis (17/9/2026). 

 

 

Setiap hari, penjahit yang akrab dipanggil Prapti ini mengawali hari dengan memasak dan membersihkan rumah bersama suaminya. Ketika anak-anak berangkat sekolah dan sang suami pergi bekerja, jiwa kreativitas Prapti mendorong langkah kaki menuju meja kerjanya di sudut rumah. 

 

 

“Alat jahit ini warisan orang tua, ya alhamdulilah bisa dipakai bekerja untuk menjahit pesanan,” cerita dia. Setumpuk kain bahan hampir menutupi setengah ruang kerja yang sederhana di balik jendela. Angin sejuk meniup pelan ketika sepotong kain melambai meminta disatukan hingga menjadi pakaian. 

 

 

“Pesanan ini saya kerjakan dengan senang hati, kadang kalau ada kegiatan ya saya tinggal dulu. Baru setelahnya saya lanjutkan. Biasanya kalau seragam atau kemeja seperti itu butuh waktu 3 hari sampai 5 hari lah,” ungkap ibu dua anak ini. Meski tergolong lambat, namun pekerjaan Prapti terbukti dipercaya banyak pelanggan. Mulai dari teman lama, tetangga, hingga perangkat desa tak pernah absen mempercayakan kebutuhan sandang mereka ke jasa Prapti. 

 

 

Menjahit Harapan untuk Bebas dari Kekerasan 

 

 

“Dari menjahit ini saya bisa menambah pemasukan keluarga juga. Saya pikir tidak lagi eranya perempuan di rumah Cuma urus dapur, tapi harus berkarya, bergerak gitu lho!,” tambah dia. Ucapan itu bukan sekedar basa basi, bagi Prapti gerak lincah kreativitas tangannya tak hanya membantu perekonomian keluarga, namun juga untuk pemberdayaan sosial di lingkungan rumah. 

 

 

“Jadi sejak 2024 itu saya mendengar ada kegiatan Arunika di balai desa, tapi waktu itu saya belum begitu paham dan tidak ikut karena tidak diundang. Setelah saya diberi tahu ada tetangga yang ikut, saya jadi tertarik untuk masuk,” ucap sang penjahit. 

 

 

Rasa keprihatinan Prapti kepada situasi kekerasan yang sering terjadi namun tidak teratasi kemudian menggerakkan hatinya untuk kemudian aktif dalam Layanan Berbasis Komunitas (LBK) di Kabupaten Sukoharjo. Partisipasinya tak main-main, ia segera dipercaya menjadi sekretaris. “Ya saya tidak keberatan, malah jadi semangat karena bisa ikut melakukan aksi nyata menangani dan mencegah langsung tindak kekerasan khususnya terhadap perempuan dan anak ya di wilayah,” cerita Prapti. 

 

 

Layanan Berbasis Komunitas (LBK) menghimpun perempuan dalam melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan di tingkat desa. Perkenalan awal Prapti dengan LBK bermula ketika dia bergabung sebagai kader perempuan pada Program Arunika. “Ya ikut ke kader perempuan yang didampingi SPEK-HAM, jujur malah awalnya tidak tahu apa itu Program Arunika. Tapi kemudian saya tahu itu untuk mencegah adanya kekerasan gitu, lalu saya ikut gabung,” terangnya. 

 

 

Ampuhnya Deteksi Dini Sang Penjahit 

 

 

Selain aktif sebagai Sekretaris di Layanan Berbasis Komunitas, Prapti juga telah lama menjadi kader posyandu. Perjumpaan awalnya dalam menangani kekerasan justru terjadi secara tidak sengaja. “Saya kunjungan rumah untuk pemeriksaan rutin, lha kok melihat ada anak yang murung tidak mau sosialisasi lalu saya coba pendekatan,” ungkapnya. 

 

 

Rasa kepedulian Prapti berbanding lurus dengan keterbukaan anak tersebut untuk bercerita. Ia kemudian mendapati bahwa sang anak sudah mengalami perundungan hingga tak mau lagi bersekolah. “Saya segera berkoordinasi sama Ketua Kader Perempuan Ibu Endang Erlina, dan melapor juga ke UPTD PPA Sukoharjo,” cerita Prapti. 

 

 

Proses pendekatan Prapti tak berhenti hanya pada penyintas, namun juga orangtua. Ia memberi pemahaman agar sang anak mau untuk didampingi agar trauma yang dialami pulih. “Setelah saya ikut dampingi dan beri pemahaman orangtuanya akhirnya mau untuk kooperatif,” ujar dia. 

 

 

Proses penanganan kemudian bergulir. Perlahan namun pasti, anak tersebut menunjukkan perubahan. Ia tak lagi murung dan mengurung diri di rumah. Ia bahkan sudah berani untuk bermain keluar lagi dengan anak sebayanya. “Pendampingan oleh psikolog maupun dari kami tim LBK juga masih berjalan, alhamdulillah anaknya pelan-pelan jadi lebih berani. Sudah punya niatan sekolah lagi, meski belum masuk,” pungkas Prapti. 

 

 

Kehadiran kader yang responsif dan peka sangat penting karena terkadang kekerasan tak selalu terlihat secara fisik. Lewat dedikasinya di sela-sela kesibukan sebagai penjahit, Suprapti membuktikan bahwa kepedulian mampu menjadi pelita dan harapan untuk melindungi sekitar dari kekerasan. Setiap komunitas membutuhkan sosok seperti Suprapti yang mampu memberikan rasa aman kepada penyintas untuk bercerita hingga memperoleh layanan. “Saya nggak mikir rugi untung atau gimana-gimana, yang penting anak-anak dan perempuan bisa hidup sejahtera dan aman, dah gitu aja,” pungkas dia menutup obrolan. ***

 

Cerita ini merupakan bagian Program ARUNIKA (Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Bebas Kekerasan) yang dilaksanakan oleh Yayasan IPAS Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kanada.