Bank Sampah Sadarela Dorong Budidaya Magot Lewat Pemilahan Sampah

Anggota Bank Sampah Sadarela sedang melakukan mapping perencanaan untuk pengolahan maggot lewat pemilahan sampah organik di Posko Sadarela Gilingan pada Jumat (2/10/2026). (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)
Anggota Bank Sampah Sadarela sedang melakukan mapping perencanaan untuk pengolahan maggot lewat pemilahan sampah organik di Posko Sadarela Gilingan pada Jumat (2/10/2026). (Foto: Soepadmin/SPEK-HAM)

Penulis: Soepadmin

SURAKARTA – Posko Sadarela RW 03 Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta mendadak riuh oleh diskusi anak muda pada Jumat (2/10/2026) sore. Dimulai pukul 15.00 WIB, para pengurus, anggota, serta puluhan remaja berkumpul bersama pendamping dari SPEK-HAM untuk mematangkan langkah nyata pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

 

 

Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Sadarela, Yulianto, mengapresiasi kehadiran para pemuda yang menjadi pilar pendukung utama organisasi. Dalam sambutannya, ia menjelaskan penimbangan sampah anorganik kini disesuaikan menjadi satu bulan sekali sesuai alur penyerapan pengepul. Yulianto menekankan pentingnya merangkul seluruh remaja di lingkungan RW 03 untuk aktif dalam gerakan kelestarian lingkungan ini.

 

 

Langkah ini memperkuat program Pemerintah Kota Surakarta dalam menekan volume limbah yang dibuang ke TPA Putri Cempo. Ketua RW 03 Gilingan, Hariyanto, yang baru saja mengikuti pelatihan di Yogyakarta, turut membagikan pengalamannya mengenai potensi nilai ekonomi dari sampah. Menurutnya, pemanfaatan sampah organik sebagai pakan magot Black Soldier Fly (BSF) tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga terbukti mendatangkan penghasilan tambahan bagi warga.

 

 

Guna memperkuat pemahaman dasar, SPEK-HAM Surakarta turut membekali peserta dengan materi klasifikasi tiga jenis limbah. Adapun tiga jenis limbah tersebut dijelaskan secara rinci oleh Community Organizer SL SPEK-HAM, Soepadmin.

 

 

“Sisa makanan, sayuran, kulit buah, dan daun kering yang mudah membusuk dikategorikan sebagai sampah organik. Jenis limbah ini dapat diolah menjadi pupuk kompos maupun Pupuk Organik Cair (POC),” ujar dia.

 

 

Soepadmin juga menjelaskan sampah anorganik yakni bahan buatan manusia seperti plastik, botol kaca, kaleng, dan kertas yang dapat didaur ulang atau diolah menjadi kerajinan tangan bernilai tinggi.

 

 

Terakhir, Sopeadmin turut mengingatkan kesadaran masyarakat tentang adanya sampah B3 yakni limbah berbahaya seperti baterai bekas, lampu neon, obat kedaluwarsa, hingga pembalut bekas. “Hati-hati kalau menemukan jenis itu. Sampah B3 memerlukan penanganan di tempat pembuangan khusus,” tambah dia.

 

 

Diskusi berlangsung interaktif saat para remaja diminta merumuskan peta gagasan menggunakan kertas tiga warna. Mewakili rekan-rekannya, Purista Putri membacakan poin harapan, yakni terwujudnya pengurangan sampah organik hingga 50% dari rumah tangga. Hasil pemilahan sampah organik tersebut diproyeksikan sebagai pakan magot, yang nantinya menghasilkan pupuk kasgot serta pakan alternatif berprotein tinggi untuk budidaya lele dan ayam.

 

 

Di sisi lain, Naila memaparkan sejumlah tantangan di lapangan, seperti masih rendahnya kesadaran sebagian warga dalam memilah sampah harian, keterbatasan lahan budidaya, hingga perlunya petugas khusus yang terlaten mengelola magot.

 

 

Menjawab tantangan tersebut, rencana tindak lanjut peserta berfokus pada edukasi masif, pelatihan pengolahan limbah, hingga pengembangan pakan organik untuk magot maupun ulat Jerman. Salah satu inovasi yang sudah berjalan di wilayah ini adalah pemanfaatan galon bekas oleh warga sebagai wadah pembuatan POC.

 

 

Sekretaris BSU Sadarela, Menik, mengapresiasi seluruh aspirasi tersebut. Pihaknya berkomitmen menindaklanjuti ide-ide kreatif remaja melalui keikutsertaan dalam pelatihan bulanan BSU tingkat Kota Surakarta serta menghadirkan narasumber ahli demi mengoptimalkan peran Bank Sampah Sadarela.***