Tiga Peran, Satu Kepedulian: Kisah Salma di Antara Ruang Kelas, Pers, dan Pendampingan Kekerasan

Penulis: I.K Nino Sativara
Di tengah ramainya lorong kampus dan tumpukan tugas perkuliahan, hari-hari Arsyida Salma bergerak dalam tempo yang sangat tinggi. Mahasiswi semester tiga ini tak hanya disibukkan oleh ritme akademis yang padat, tetapi juga harus membagi waktunya di ruang redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan juga menjadi kader pendamping kekerasan di desanya. Sebagai jurnalis muda di kampus, hari-harinya diwarnai rapat redaksi, pencarian ide liputan, hingga tenggat waktu penulisan berita yang kerap menguras energi.
Namun, aktivitas Salma tidak berhenti di batas benteng akademis. Di luar kampus, ia juga mengemban tanggung jawab sebagai kader remaja di kota kelahirannya, Surakarta, Jawa Tengah. Aktivitas pendampingan ini bukanlah tugas ringan, ia harus siap menjadi tempat berlabuh, memberikan dukungan psikologis awal, membantu menyusun kronologi kasus, hingga mengawal rujukan ke lembaga profesional.
Menjalani tiga peran secara bersamaan tentu bukan perkara mudah. Salma menekankan bahwa kunci utama untuk bertahan di tengah himpitan jadwal tersebut adalah manajemen waktu yang ketat serta skala prioritas yang jelas. “Cara membagi waktunya adalah dengan disiplin menetapkan prioritas,” tutur Salma saat ditemui pada Selasa (13/10/2026).
Ia memanfaatkan waktu perkuliahan secara fokus agar tidak menumpuk beban di luar jam belajar, menyisipkan jadwal kerja jurnalistik secara terstruktur, dan mendedikasikan energi emosionalnya untuk pendampingan warga saat situasi darurat membutuhkan keputusannya.
Ketika Intuisi Pewarta Melindungi Penyintas
Kepekaan dan kemampuan analisisnya diuji ketika sebuah kasus kekerasan justru terjadi di kampusnya. Salma dengan penuh empati membangun ruang aman agar korban mau terbuka. Untuk mencegah trauma berulang Salma menginisiasi penulisan kronologi kejadian secara terstruktur dan rinci. Dengan dokumen itu, ia merujuk kasus tersebut ke Yayasan SPEK-HAM dan UPTD PPA Kota Surakarta.
Proses pendampingan intensif yang memakan waktu hingga hampir lima bulan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis. Meski harus melewati alur birokrasi yang memakan waktu, korban akhirnya resmi mendapatkan penanganan medis dan terapi psikologis profesional secara cuma-cuma hingga kondisinya stabil dan pulih dari trauma.
Pelajaran Penting Jurnalis Muda
Dari perjalanan panjang menyeimbangkan peran ini, Salma memetik pembelajaran berharga tentang keikhlasan dan ketangguhan mental. Menjadi pendamping di tengah kesibukan kuliah dan pers mahasiswa memang berisiko memicu kelelahan psikis (mental fatigue). Namun, baginya, keberhasilan menyelamatkan satu nyawa manusia dari krisis trauma memberikan kepuasan emosional yang tak ternilai.
“Hampir lima bulan itu psikisku juga kena, capek mental iya,” ungkapnya jujur. “Tapi ketika kita mau membantu seseorang, kuncinya ikhlas. Senang rasanya setidaknya kita bisa menyelamatkan satu orang. Bukan berarti berlagak seperti pahlawan, tapi ketika punya kapasitas untuk membantu, ya bantulah,” jelas dia.
Melalui kisahnya, Salma membuktikan bahwa status mahasiswa dan jurnalis muda bukan halangan untuk terjun langsung menjadi agen perubahan di masyarakat. Ia berharap para perempuan dan anak muda berani menyuarakan hak-haknya serta berdiri tegak melawan segala bentuk kekerasan.
“Aku harap anak-anak muda dan para perempuan di mana pun berada lebih berani untuk menyuarakan diri kalian sendiri. Diri kalian itu berharga. Kita mungkin sering terstigma lemah, tapi kamu bisa menjadi versi terkuat dirimu sendiri. Jangan pernah berhenti di satu suara,” tutup wartawati muda itu.
Cerita ini bagian dari Program ARUNIKA (Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Bebas Kekerasan) yang dilaksanakan oleh Yayasan IPAS Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kanada.






