Ketika Dapur Rumahan Dewi Handayani Bertemu Solidaritas Komunitas UMKM Nglipar

Dewi Handayani dalam diskusi kelompok usaha Griya Boga Nglipar. (Foto: Muhammad Taaruf Huda/SPEK-HAM)
Dewi Handayani dalam diskusi kelompok usaha Griya Boga Nglipar. (Foto: Muhammad Taaruf Huda/SPEK-HAM)

Penulis: Muhammad Ta’aruf Huda

Dari sebuah rumah di Nglipar, Gunungkidul, berderet jajanan pasar di sebuah meja dapur. Dari sudut belakang rumah itu pula, Dewi Handayani melakoni usahanya selama 20 tahun belakangan. Sejak tahun 2006, ia menekuni usaha makanan rumahan bernama “Berkah Catering”.

 

Dari dapur usahanya, ia membuat beragam makanan, mulai dari tahu bakso, pastel, dadar gulung, wajik, lumpia, arem-arem, hingga agar-agar. Ia juga menerima pesanan aneka jajanan pasar, makanan ringan, dan nasi kotak sesuai kebutuhan pembeli.

 

 

Bagi Dewi, berjualan menjadi salah satu cara untuk membantu menambah penghasilan keluarga. Usaha makanan memberinya kegiatan produktif yang dapat terus dijalankan dari rumah. Setiap pesanan membutuhkan persiapan bahan, proses memasak, dan pengaturan produksi agar makanan dapat disiapkan sesuai kebutuhan pelanggan.

 

 

Selama menjalankan Berkah Catering, Dewi berhadapan dengan persoalan yang akrab bagi pelaku usaha makanan rumahan. Modal harus tersedia untuk membeli bahan baku dan memenuhi kebutuhan produksi, sementara penjualan tidak selalu ramai. “Ya kadang ada masa pesanan banyak, ada juga penjualan terasa sepi. Nggak mesti, mas,” ujar dia. Sebelum mengikuti Program ACCESS, ia menganggap keadaan tersebut sebagai bagian dari keseharian berjualan dan belum banyak mengetahui apakah pelaku UMKM lain mengalami situasi serupa.

 

 

“Ternyata, Bukan Hanya Saya yang Mengalaminya”

 

 

Pengalaman Dewi mulai berubah ketika ia bergabung dalam kegiatan Program ACCESS yang didampingi SPEK-HAM. Melalui pertemuan bersama pelaku UMKM lainnya, ia berkesempatan bertukar cerita tentang usaha yang mereka jalankan. ”Setelah masuk ke komunitas UMKM, ternyata bukan Cuma saya yang merasakan penjualan tidak stabil,” tutur Dewi.

 

 

Pengalaman itu membuatnya merasa memiliki teman untuk berbagi. Persoalan yang sebelumnya ia hadapi dalam menjalankan Berkah Catering kini dapat menemukan solusi bersama perempuan lain yang memahami keseharian usaha makanan rumahan. Mereka sama-sama mengetahui bagaimana cara menyiapkan dagangan, berharap produk terjual, dan menghadapi hari-hari ketika pembeli tidak sebanyak yang diharapkan.

 

 

Bagi Dewi, terbentuknya kelompok UMKM Griya Boga Nglipar menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. “Saya jadi bisa berbagi pengalaman sekaligus bertukas informasi sama pelaku usaha lain. Ya bukan untk bersaing, tapi malah untuk saling mendukung,” ungkapnya. Melalui kelompok UMKM Griya Boga, Dewi juga mendapatkan kesempatan memperluas pertemanan dengan perempuan yang menjalani kesibukan serupa.

 

 

Dari Mawar hingga Legalitas Kelompok

 

 

Salah satu pengalaman yang membekas menurut Dewi adalah kunjungan Putri Mawar dari Boyolali. Dalam kegiatan tersebut, ia dan pelaku UMKM lainnya mendapatkan pengetahuan tentang pemanfaatan bunga mawar sebagai bahan olahan pangan. Bunga yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman hias ternyata dapat diolah menjadi produk seperti keripik mawar dan teh mawar.

 

 

Bagi pelaku usaha makanan seperti dia, pengalaman mengenal olahan berbahan mawar memperkenalkan kemungkinan pengembangan produk yang sebelumnya belum banyak diketahui. “Saya jadi mendapat ide tentang beragam produk yang bisa dipelajari dan saya kembangkan,” ungkap Dewi. Demi memperdalam minatnya, ia kemudian mengikuti sebuah lokakarya di Warung Limasan Kademangan, Kalurahan Nglipar, yang membahas pentingnya legalitas kelompok UMKM.

 

 

Selain kegiatan belajar bersama, Dewi dan anggota kelompok juga mendapatkan formulir pendataan pendapatan usaha yang diisi setiap bulan. Pendataan ini membantu mereka mengumpulkan catatan mengenai pendapatan usaha secara berkala. “Informasi dan materi seperti manajemen itu bermanfaat untuk saya terapkan, ya sekalian bisa merencanakan pengembangan berikutnya untuk usaha,” kata dia.

 

 

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari kegiatan penguatan UMKM dalam Program ACCESS. Melalui pendampingan SPEK-HAM, Dewi dan anggota Griya Boga Nglipar lainnya mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan, membangun hubungan antarpelaku usaha, serta mengenal aspek pengembangan usaha yang sebelumnya belum banyak mereka perhatikan.

 

 

Berkah Catering dan Harapan untuk Berjalan Bersama

 

 

Setelah menjalankan usaha selama lebih dari dua dekade, Dewi masih memiliki banyak ide pengembangan untuk Berkah Catering. Ia ingin produknya mampu menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus Kelompok Usaha Griya Boga Nglipar dapat terus tumbuh. “Harapannya dukungan SPEK-HAM dan pemerintah kalurahan dapat berlanjut njih, jadi kelompok usaha ini bisa berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri,” terang dia.

 

 

Lebih jauh, Dewi juga ingin hubungan yang telah terjalin dalam kelompok tetap terjaga. Kesempatan untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan belajar bersama menjadi sesuatu yang ingin terus dipertahankan. Ia berharap para perempuan pelaku UMKM dapat saling mendukung dalam mengembangkan usaha dan memperkenalkan produk lokal kepada lebih banyak orang.***