Membangun Asa Usai Bencana: Kelompok Wanita Tani di Kampung Sewu Bangkit bersama SPEK-HAM

SURAKARTA- Bayang-bayang luapan Bengawan Solo masih teringat di benak Iwuk, warga Kelurahan Kampung Sewu, Jebres, Surakarta yang wilayahnya sempat lumpuh diterjang banjir besar pada 2007. Kala itu air setinggi 3 meter menutup setinggi pintu rumahnya. Berminggu-minggu setelah banjir, lingkungan sekitar tak terurus. Lumpur dan tanah menguasai jalanan.
Ingatan lampau itu mendorong Iwuk untuk tak henti ikut memberdayakan warga kampungnya lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri yang tumbuh bersama pendampingan Yayasan SPEK-HAM. “Sejak 2005 sebenarnya sudah berdiri. Baru setahun kemudian kami mendapat dana pemberdayaan. Jumlahnya tidak banyak, tapi sudah cukup untuk melangkah,” ujar dia. Jumat (30/7/2026) pagi.
Tak jauh dari Iwuk berdiri, sejumlah anggota KWT Dewi Sri tampak sibuk mengubah galon bekas menjadi kebun sayur. Kampung Sewu adalah kawasan padat penduduk yang nyaris tidak menyisakan tanah kosong untuk bercocok tanam. Keterbatasan lahan tak menyurutkan semangat para kader perempuan itu untuk menanam.
“Solusinya, anggota KWT memanfaatkan galon-galon bekas sebagai media tanam pengganti lahan. Tomat, terong, cabai, dan kacang panjang jadi pilihan utama karena tomat dan terong dikenal cepat panen, sementara cabai meski lebih rentan penyakit tetap bisa dipangkas dan pulih kembali,” ungkap Iwuk.
Saat panen tiba, hasilnya lebih banyak dijual ke sesama anggota dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar. “Saat harga cabai sedang mahal, sebelum uangnya diputar kembali untuk membeli bibit baru, kita jual untuk memenuhi rumah tangga anggota KWT,” terang salah seorang kader perempuan. Siklus modal kecil namun efektif ini terbukti menjaga kebun mereka tetap hidup.
Bangkit dari Bencana bersama SPEK-HAM
Keterlibatan SPEK-HAM dalam perjalanan KWT Dewi Sri bermula justru dari bencana, tepatnya pasca banjir yang melanda Surakarta pada 2007 lalu. Bencana itu merendam hampir seluruh Kampung Sewu termasuk wilayah RW 1 dan RW 7 yang paling terdampak.
“Kami senang, jadi bersama SPEK-HAM dalam pendampingan itu bukan sekadar soal bertani. Ada pelatihan pembuatan pupuk, pemetaan wilayah pasca banjir, studi banding ke Boyolali dan Yogyakarta untuk belajar teknik menanam di lahan terbatas, termasuk kisah lahan pesisir laut yang ternyata tetap bisa ditanami,” ungkap Iwuk.
Selain memberdayakan masyarakat di sektor pertanian dan ketahanan pangan, SPEK-HAM turut mendampingi pembentukan paralegal sebagai garda depan penanganan kasus KDRT. “Bagi anggota KWT, kehadiran SPEK-HAM inilah yang justru memantik semangat untuk membentuk kelompok tani perempuan sebagai wujud nyata dari ilmu yang mereka dapatkan,” ujar Rini, anggota lainnya.
Rini menceritakan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dari pendampingan terasa begitu berharga, karena datang tanpa harus mengeluarkan biaya sekolah formal. Baginya, bekal ilmu itulah yang kemudian bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kelompok perempuan di Kampung Sewu secara keseluruhan.
Memiliki tanaman sendiri di pekarangan membuat para kader perempuan KWT Dewi Sri tak perlu lagi membeli sayur saat harga sedang tinggi, cukup memetik dari galon di rumah. “Kesibukan merawat tanaman, menyiram, memupuk seminggu sekali, memangkas daun yang sakit juga menjadi bentuk tanggung jawab yang kami lakukan bergantian, sebuah kepedulian kecil yang dirasakan berdampak besar bagi ketahanan pangan keluarga,” ungkap Iwuk.
“Harapannya KWT itu tetap eksis ya. Tetap eksis, berkembang terus, jadi tanaman itu tidak berhenti. Jadi kalau sudah panen, ada bibit lagi.” Sebuah harapan agar pendampingan SPEK-HAM terus berlanjut, dan bantuan bibit datang lebih teratur, sehingga kebun-kebun galon di Kampung Sewu tak pernah benar-benar berhenti tumbuh.***






