Bank Sampah Sadarela, Bukti Perempuan Gilingan Bergerak Jaga Lingkungan

Perempuan Gilingan berfoto bersama di Bank Sampah Sadarela pada Selasa, (28/7/2026). (Foto: Sustainable Livelihood/SPEK-HAM)
Perempuan Gilingan berfoto bersama di Bank Sampah Sadarela pada Selasa, (28/7/2026). (Foto: Sustainable Livelihood/SPEK-HAM)

 

Pagi itu Bank Sampah Sadarela di Kelurahan Gilingan, Surakarta mendadak ramai warga. Baju, celana, hingga sepatu tampak berjejer rapi di atas alas sederhana. “Monggo bu, monggo pak! Lima ribu saja,” teriak salah seorang warga yang menunggu di hadapan barang-barang tadi pada Selasa (28/7/2026).  Kegiatan thrifting atau jual beli barang bekas itu tak cuma memutar roda ekonomi lokal, melainkan turut menerapkan prinsip reuse untuk mengurangi sampah. Di sudut lainnya orang tua, kaum muda, bapak, ibu, hingga remaja tampak sinergi bergotong royong memilah berbagai macam sampah untuk dibuat menjadi komposter.

 

 

Sejak akhir 2025 lalu, kegiatan dampingan SPEK-HAM tersebut semakin berkembang. Menik, salah seorang pengurus Bank Sampah Sadarela, menyebut bahwa kesadaran warga untuk kembali bergerak muncul seiring dengan kondisi sampah yang semakin memprihatinkan.

 

 

“Selain program pemerintah untuk mengolah sampah, kita juga sadar kalau TPA Putri Cempo semakin penuh. Bagaimana kalau sampai tidak mampu mengangkut sampah kita?,” ujarnya. Lebih lanjut ia menambahkan, sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang besar, namun pengelolaannya tidak akan berjalan tanpa semangat dari warga sendiri. “Kalau punya kesadaran tanpa semangat, ya tidak bisa jalan,” tandasnya.

 

 

Fokus pada Sampah Anorganik dan Inovasi Warga

 

 

Berbeda dari pengelolaan sampah pada umumnya, Bank Sampah Sadarela tidak mengutamakan pengelolaan organik seperti maggot, karena perawatannya dinilai sulit, mahal, dan berisiko bagi kesehatan. Sampah anorganik menjadi fokus utama, sementara sampah organik diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC).

 

 

Sejak didampingi SPEK-HAM, Menik menyebutkan bahwa inovasi mulai bermunculan, mulai dari komposter galon bekas, budidaya ulat jerman, hingga lapak thrifting yang barangnya berasal dari sumbangan sukarela anggota. “Beda seperti dulu yang hanya pilah-pilah sampah,” kata Menik.

 

 

Mendobrak Stigma, Menguatkan Peran Perempuan

 

Kegiatan ini turut membuka ruang baru bagi perempuan. Proses melubangi galon menggunakan solder dan bor, yang selama ini identik dengan pekerjaan laki-laki, kini juga dilakukan oleh anggota perempuan. “Stigma masyarakat bisa berubah, jadi perempuan juga bisa berkontribusi setara. Apalagi bank sampah yang kotor-kotoran tidak identik dengan perempuan,” ujar Menik.

 

 

Meski baru berjalan efektif sekitar empat bulan manfaat langsung terasa. “Dampaknya langsung enak, karena rumah menjadi bersih dari sampah. Tidak bau,” katanya. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM bersama Bank Sampah Sadarela berkomitmen untuk terus tumbuh sebagai ruang belajar dan pemberdayaan warga, khususnya perempuan, dalam mengelola sampah sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan Kelurahan Gilingan. ***