Ketika Perempuan Jelok Meretas Sekat Gender dan Kekerasan

BOYOLALI – Di Desa Jelok, Boyolali stereotype lama masih membendung ruang gerak perempuan. Anggapan bahwa perempuan tak elok pulang malam sementara laki-laki bebas melangkah, hingga narasi bahwa tempat perempuan hanyalah di dalam rumah, masih menjadi realita keseharian. Namun, kesadaran baru mulai menyala dari sudut desa ini.
Kamis (13/8) suasana hangat menyelimuti jalannya diskusi bertajuk “Regular Discussion For Community Based Service” yang berlangsung di balai desa. Dipandu oleh Henrico Fajar, staf SPEK-HAM, kelompok perempuan dan kader setempat berkumpul untuk membedah akar ketidakadilan gender, kekerasan berbasis gender (KBG), hingga pemahaman mendasar mengenai perbedaan seks biologis dan konstruksi sosial gender. “Materi ini diharapkan dapat membuka wawasan kita semua tentang kesetaraan gender di Desa Jelok,” tutur Karni, salah seorang kader dalam sambutannya penuh harap.
Diskusi berlangsung interaktif.
Henrico menegaskan bahwa kapasitas dan kepemimpinan seseorang tidak boleh dibatasi oleh gender. Perempuan memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk memimpin, baik di dunia kerja maupun organisasi. “Suatu pekerjaan tidak dibatasi oleh gender, tidak hanya laki laki tetapi perempuan juga bisa, tidak hanya di pekerjaan di organisasi perempuan juga bisa menjadi pemimpin,” ungkapnya.
Isu sensitif pun turut dikupas, seperti fakta bahwa penyebaran HIV kerap menyerang ibu rumah tangga akibat perilaku berisiko pasangan di luar rumah, hingga meluruskan stigma maskulinitas. “Seorang laki-laki itu harus tegas, tetapi selalu disalahartikan dengan kekerasan,” ungkap Henrico mendobrak pemahaman keliru yang selama ini mengakar.
Tak sekadar menjadi ruang edukasi, forum ini menandai langkah konkret pembentukan Layanan Berbasis Komunitas di Desa Jelok, Boyolali. Layanan ini nantinya akan memuat berbagai lini, mulai dari pencegahan, kampanye, sosialisasi, hingga pencatatan kasus. Berbekal pengalaman SPEK-HAM dalam menangani kasus perundungan anak di Simo bersama dinas dan psikolog, para kader diajarkan pentingnya prinsip kerahasiaan, layanan medis, pendampingan hukum, serta sistem rujukan.
Ke depan, serangkaian rencana aksi telah disiapkan, antara lain seperti edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan KDRT, sosialisasi bagi remaja, hingga pembentukan tim paralegal desa. SPEK-HAM menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi penguatan kapasitas kader di Desa Jelok.
Pelan tapi pasti, lewat kolaborasi berkelanjutan ini, Desa Jelok tengah merajut asa baru untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan responsif dalam melindungi perempuan serta anak.***






