Bank Sampah Sumber Rejeki: Merawat Bumi, Menabung Investasi

Anggota Bank Sampah Sumber Rejeki sedang memilah sampah untuk ditimbang, Kamis (20/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)
Anggota Bank Sampah Sumber Rejeki sedang memilah sampah untuk ditimbang, Kamis (20/8/2026). (Foto: I.K Nino Sativara/SPEK-HAM)

Dari balik gedung-gedung tinggi tak jauh dari koridor Gatot Subroto, suara nyaring bersautan di memecah keheningan pagi. Di sudut gang tak jauh dari pos ronda tampak keramaian membawa tumpukan sampah anorganik untuk ditimbang. Pagi itu, Endang (54), petugas dari Bank Sampah Sumber Rejeki mencatat dengan rapi setiap sampah yang ditimbang. “Alhamdulilah lima kilo (kilogram)!,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

 

Kegiatan tersebut sudah menjadi rutinitas warga RW 02 Kemlayan, Serengan, Surakarta setiap bulan sekali selama 8 tahun terakhir bersama SPEK-HAM. Kali ini hasil timbangan berhasil mencapai angka 25 kilogram. Sampah anorganik rumah tangga seperti kertas, kardus bekas, kantong plastik, hingga botol dan barang-barang bekas turut ditimbang. “Dari sampah yang sudah ditimbang nanti dikumpulkan jadi satu,” ungkap Endang.

 

Kader perempuan yang sudah aktif bersama Bank Sampah Sumber Rejeki sejak lama itu dengan penuh antusias mengarahkan para warga yang datang untuk menimbang. Pada musim-musim tertentu jumlah sampah yang dikumpulkan warga bisa membeludak, khususnya pasca hari raya. “Setelah lebaran atau natal itu bank sampah penuh. Karena rutinitas kita kan sebulan sekali, jadi tertahan karena libur. Setelahnya numpuk banyak, tapi gak masalah malah rejeki,” ungkap Endang.

 

Harapan Penghidupan Berkelanjutan

 

‘Sumber Rejeki’, persis seperti namanya kegiatan penimbangan dan pengumpulan sampah di RW 02 Kemlayan ini memberdayakan ekonomi lewat tangan-tangan para perempuan. Sampah yang berhasil terkumpul akan dijual ke pengepul. Hasilnya kemudian ditabung ke dalam kas koperasi yang setahun sekali akan dibagikan lagi secara proporsional ke anggota. “Sekali penimbangan itu rata-rata ya sekitar Rp 500 ribuan,” tambah Endang.

 

Ketua Bank Sampah Sumber Rejeki, Dumasariganti Nasution bercerita jika awalnya kegiatan tersebut menimbulkan pertentangan di masyarakat. Ketika SPEK-HAM masuk mendampingi pada 2018, perlahan namun pasti persepsi masyarakat kian berubah dan menjadi antusias. “Wah dulu pertama ya dihujat sana sini, ada yang bilang kok seperti pemulung. Ya kita nggak fokus ke situ, yang penting berjalan dulu,” ujar Duma.

 

Praktik Baik Perempuan Berdaya

 

Perjalanan panjang dan konsistensi kemudian membuktikan Bank Sampah Sumber Rejeki. “2019 kita sempat menang lomba bank sampah tingkat kota. Dapat juara harapan,” tambah dia. Saat ini jumlah anggota aktif terdapat 25 orang. Tak hanya menerima sampah dari warga RW 02, praktik baik ini berhasil memantik inisiatif dari warga tetangga lainnya.

 

“Warga RW 01 ada yang ikut ke sini juga dulu di awal. Nah sekarang mereka punya sendiri. Alhamdulilah kegiatan kita menginspirasi tetangga lain,” terang Duma. Hal senada diungkapkan oleh pendamping kelompok perempuan dari SPEK-HAM, Sopeadmin. Pria yang akrab disapa “pakdhe” ini dengan telaten mendampingi Bank Sampah Sumber Rejeki.

 

“Dulu kita ajak menabung sampah sedikit di awal. Semakin ke sini ada perkembangan bagus, bahkan punya tempat pengumpulan yang baik, sampai sudah bekerja sama dengan pengepul dan jadi tambahan ekonomi untuk warga,” tandasnya.

 

Praktik baik yang dilakukan warga RW 02 Kemlayan menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tak hanyaberhenti di level edukasi semata, namun juga aksi nyata yang mampu berdampak terhadap kehidupan sosial. Melalui pendampingan SPEK-HAM, Bank Sampah Sumber Rejeki menjadi lumbung penghidupan berkelanjutan bagi para kader perempuan di RW 02 Kemlayan, Surakarta.***