Search for:

Posyandu Kambing Desa Musuk Boyolali

Kegiatan Posyandu kambing yang pertama kali dilakukan oleh Kelompok Perempuan Rukun Makmur, Desa Musuk, Kabupaten Boyolali pada 17 Agustus 2014 bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republic Indonesia ke 69, dimana kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada anggota kelompok maupun masyarakat sekitar bahwa hewan ternak  juga memerlukan perhatian kusus dalam pemeliharaanya. Selain itu, kegiatan juga bertujuan agar kelompok mampu melakukan monitoring secara berkala (2 bulan sekali) untuk melihat perkembangan dan tumbuh kembang kambing, seperti penambahan berat badan, panjang dan lingkar badan kambing serta keluhan apa saja yang ditemui saat memelihara kambing.

Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang dari 15 orang anggota kelompok Rukun Makmur. bertempat di Posko Kelompok di rumah Ibu Surani (ketua kelompok) jam 13.00 WIB. Diawali dengan pemberian informasi tentang bagaimana mengetahui gejala ternak yang sakit, oleh bapak Margono yang memang memiliki ketrampilan dalam hal kesehatan kambing . Bagaimana  cara pengobatan tahap pertama dan apa manfaat suplemen/obat cacing untuk tumbuh kembang ternak kambing. Kegiatan posyandu kambing ini diikuti 5 ekor kambing dari 7 kambing yang dimiliki kelompok (perguliran dana dari SPEK-HAM). Satu ekor kambing tidak datang karena sedang hamil tua dan satu lagi karena pemiliknya sedang pergi.

Kegiatan diawali dengan pendataan nama pemilik dan nama kambing, kemudian dilanjutkan penimbangan dan pemberian obat cacing yang dilakukan oleh bapak Margono, serta konsultasi kondisi kambing dan apa yang harus dilakukan. Karena anggota Kelompok Rukun Makmur ini semua perempuan, maka pada saat penimbangan menjadi hal yang lucu karena ada beberapa kambing berontak pada saat mau dimasukan sarung dan ditimbang. Kegiatan ini akan dilakukan lagi pada awal bulan Oktober 2014. (nocko alee/spekham.org)

Paingan di Pasar Sapi

LSM SPEK HAM Solo bekerjasama dengan KPA, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan RSUD Pandanarang Boyolali melakukan sosialisasi HIV dan AIDS yang bertempat di Pasar Sapi Singkil pada hari Sabtu, 16 Agustus 2014. Pada kegiatan ini SPEK PAINGAN DI PASAR SAPI 1HAM membagikan juga brosur informasi kepada para pengunjung yang berada di Pasar Sapi agar selain mengetahui mengenai HIV AIDS dari sosialisasi yang diberikan juga bisa dengan membaca brosur tersebut. Selain brosur, juga dibagikan beberapa alat untuk pencegahan virus HIV AIDS seperti kondom.

Warga yang datang ke Pasar Sapi sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Selain ada sosialisasi terkait virus HIV AIDS, pada kesempatan ini juga diadakan layanan tes VCT gratis untuk umum. Pada acara sosialisasi ini juga disuguhi hiburan dangdut dan juga banyak door prize sehingga masyarakat banyak yang tertarik untuk mendekat ke tempat sosialisasi. (atik/spekham.org)

Pasar Sapi Singkil dan HIV AIDS

Rabu, 2 Juli 2014

Beberapa staf Divisi Kesehatan Masyarakat dari LSM SPEK HAM memberikan sosialisasi mengenai HIV AIDS di Pasar Sapi Singkil Boyolali, tepatnya berada di dalam kios gigi milik Bapak Sutris.  Selain memberikan sedikit sosialisasi juga memberikan alat pencegahan penyakit HIV AIDS ini seperti kondom.

Selain adanya sosialisasi dan pemberian kondom juga terjadi tanya jawab mengenai bagaimana cara memakai alat kontrasepsi tersebut dan tanya jawab seputar HIV AIDS. Lalu membicarakan lebih lanjut mengenai waktu yang tepat untuk diadakan sosialisasi HIV AIDS dan pemeriksaan VCT di Pasar Sapi Singkil yang pada akhirnya diadakan hari  Sabtu 16 Agustus 2014. (fikha/spekham.org)

Situasi ODHA Terkini

Temuan terbaru pengidap HIV AIDS saat ini terjadi pada ibu rumah tangga (IRT), hal ini disebabkan pasangan atau suaminya yang terlebih dahulu terkena virus penyakit tersebut. Banyaknya IRT pengidap HIV tentunya mempunyai dampak resiko tinggi terhadap anak-anaknya. Ibu rumah tangga adalah korban, karena mereka sebagai istri yang mengurus rumah tangga tertular dari pasangan atau suami yang tidak setia.

IRT ODHA dalam hal ini adalah merupakan korban yang berlapis, selain harus menyandang status sebagai ODHA, tidak sedikit IRT adalah janda dimana dia harus menghidupi anak-anaknya dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya. (atik/spekham.org)

Pojok Informasi HIV AIDS di Cafe Radio dan Cafe Lincak

Hasil diskusi dan ngobrol bareng dengan beberapa siswa SMU. Menurut mereka, berdasarkan laporan dari berbagai sumber, penderita HIV AIDS di Klaten dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan ini, ujarnya, disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tetang HIV AIDS. “Selama ini yang sering kali terjadi adalah penderita tidak mengetahui jika diri atau keluarganya sedang terjangkit penyakit yang mematikan itu. Hal tersebut membahayakan orang-orang terdekatnya, yang tanpa sadar mereka terancam bahaya HIV/AIDS tersebut,” jelas salah satu dari siswa pada malam itu di Coffee Radio

Teman-teman juga mengungkapkan  bahwa AIDS masih tetap dipandang sebagai salah satu penyakit paling menakutkan dewasa ini. Bukan hanya karena belum ditemukan obatnya, melainkan karena laju penyebarannya pun dalam skala yang sangat mencemaskan. “Bukan karena korbannya hanya kaum homoseksual, tetapi telah merambat ke semua kalangan ; tua dan muda, kaya dan miskin, homoseksual dan heteroseksual.” Dalam diskusi bersama ini juga sempat terlontar dari salah satu pelajar yang pernah terkena dampak NARKOBA. Tidak ada orang yang ingin tertular penyakit HIV AIDS, karena hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya. “Meskipun telah ditemukan obat yang dapat menghambat akibat buruk dari HIV, tetapi obat-obatan tersebut masih jauh dari harapan penderitanya,” jelasnya. Atas dasar itu, mengingat tidak adanya obat yang ampuh untuk mencegah penyakit HIV AIDS ini, maka cara yang jitu untuk menanggulanginya adalah dengan memutuskan jalinan penularan penyakit itu atau mencegahnya.  .

Om Tri sebagai pemilik Coffee Radio juga ikut nimbrung bareng dengan tim SPEK HAM dengan membari wejangan. Siapapun yang telah positif terinfeksi HIV AIDS, maka tetaplah bersemangat dan jangan menyerah. “Anda tidak perlu resah dan berlarut-larut dalam kesedihan, meskipun pada saat ini belum ditemukan obat-obatan yang dapat menyembuhkan HIV AIDS. Hidup bahagia dengan mengidap HIV AIDS bukanlah suatu kemustahilan,” terangnya. “Banyak fakta yang menunjukkan bahwa mereka yang positif HIV tetap bisa hidup bertaun-tahun lamanya,” imbuhnya. Yang juga penting dipahami adalah pemahaman terhadap tips jitu pencegahan penyakit ini. Misalnya, 1) Hindari berbagai penggunaan jarum suntik, baik itu penggunaan secara bersamaan untuk penindikan, pemakaian narkoba, maupun membuat tato. Hindari penularan melalui transfusi darah dengan memastikan transfusi yang aman. 2) Bagi wanita yang hamil/menyusui, berhati-hatilah dengan resiko penularan terhadap anak anda dengan tidak memberikan ASI kepada mereka.

Kegiatan dalam bulan puasa yang dilakukan oleh tim Klaten ini sangatlah tepat karena berbarengan dengan kegiatan menunggu berbuka puasa, jadi sambil nongkrong sambil melakukan penyuluhan. Cofe Radio dipilih sebagai  tujuan karena tempat ini merupakan tempat nongkrong untuk kalangan pelajar SMU-Mahasiswa/i. Selain Cofe Radio, ada dua tempat yang menjadi target kunjungan yaitu Lincak Cafe dan Presco Cafe. Aktifitas ini dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama dimulai dari jam 16.00-19.00, dengan peserta dari temen-temen pelajar SMU. Kemudian dilanjutkan tahap kedua, jam 20.00-23.30 dengan peserta dari teman-teman Mahasiswa dan masyarakat umum.

Tim Klaten masih akan terus melakukan penyuluhan-penyuluhan  dan penjangkauan di angkringan-angkringan yang ada di sepanjang jalan Yogya-Solo. Untuk sementara kami hanya bisa melakukan di dua tempat yaitu Cafe Radio dan Lincak Cafe. (danang/spekham.org)

Sosialisasi HIV AIDS pada Populasi Kunci di Boyolali

Bulan Ramadhan tidak mempengaruhi Tim Penjangkau Lapangan dari Yayasan SPEK HAM untuk melakukan sosialisasi dan kampanye tentang HIV dan AIDS. Sosialisasi dilakukan pada hari Sabtu, 19 Juli 2014, bertempat di Warung Soto Boyolali di Jalan Bayem Boyolali. Kegiatan dimulai jam 16.00 WIB dan kemudian dilanjutkan dengan buka bersama. Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang yang berprofesi sebagai Pemandu Karaoke dan juga pasangannya.

Kegiatan ini lebih ditekankan pada pemberian informasi akan pentingnya tes IMS (Infeksi Menular Seksual), dimana IMS merupakan pintu masuk HIV. Orang yang terkena IMS 10 kali lebih berisiko untuk terkena penyakit HIV AIDS dibandingkan dengan orang yang tidak terkena IMS, oleh karena itu diperlukan upaya besar untuk melakukan pencegahan dan pemberian informasi secara terus menerus. Meningkatnya pengetahuan tentang IMS dan HIV AIDS mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. (atik/spekham.org)

LGBTIQ ; Realitas Kehidupan dan Orientasi Seksual

LGBTIQ (Lesbian, Gay, Transgender, Queer) sebagai bagian dari orientasi seksual selain heteroseksual harus diakui keberadaannya. LGBTIQ bukan merupakan fenomena modernisasi. Keberadaannya sendiri sudah dimulai sejak jaman Nabi-Nabi (Alkitab dan Al-Qur’an). LGBTIQ bukanlah merupakan gangguan kejiwaan. Hal ini dinyatakan oleh WHO 17 Mei 1990 dan kemudian Departemen Kesehatan RI meratifikasi ketetapan WHO ini dan mencantumkannya dalam Buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983.

Masyarakat dan Negara Indonesia pada umumnya masih melakukan diskriminasi dan memandang sebelah mata terhadap hak-hak dari kawan-kawan yang mempunyai orientasi seksual sebagai lesbian, gay, transgender dan queer. Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat bagi LGBTIQ untuk bisa mengeksplorasi dan mengekspresikan diri mereka serta menunjukkan potensi yang ada pada mereka. Seorang LGBTIQ dengan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki belum banyak mampu mengangkat keberadaan diri mereka ke “strata” yang setara ataupun lebih tinggi dari kawan-kawan heteroseksual.

“Kesadaran akan orientasi seksual sebagai seorang LGBTIQ harus berawal dari diri sendiri. Penerimaan akan diri sendiri sebagai seorang LGBTIQ akan mempermudah dalam penyadaran dan advokasi keluar untuk LGBTIQ” ungkap Reny Kristiyanti, Koordinator Talita Kum (Lembaga Advokasi Lesbian di Solo) pada acara Sarasehan “Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Perempuan dalam Perspektif Agama” di Hotel Loji, 14 Agustus 2014.

Kegiatan besutan Talita Kum, SPEK HAM dan HIVOS menghadirkan Husein Muhammad dari Komnas Perempuan, Stephen Suleeman dari STT Jakarta, Endang Listiani dari SPEK HAM dan Renny Kristiyanti dari Talita Kum sebagai narasumber. Selain berdiskusi terkait dengan hak-hak perempuan terhadap kesehatan seksual dan reproduksinya, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan Talita Kum sebagai lembaga yang konsern terhadap persoalan-persoalan perempuan khususnya adalah persoalan yang dialami oleh kawan-kawan lesbian di Solo.

Upaya membangun kesadaran akan hak-hak perempuan khususnya hak kesehatan seksual dan reproduksi terutama hak kawan-kawan lesbian untuk advokasi lebih lanjut kepada Pemerintah.

Apa yang anda lakukakan ketika tiba-tiba mengetahui anak anda seorang HOMOSEKSUAL?

(nuel oei/spekham/dok photo:spekham)

Kesehatan Reproduksi bagi Kelompok Dawis Banyuanyar

Kepedulian dan antusias Pengurus  Kelompok  Dawis 1 dan 2dari  RT03 RW 06, Kelurahan Banyuanyar, tentang kesehatan reproduksi sangat terlihat pada kegiatan Pemeriksaan bersama yang dilakukan di rumah Bapak Pramono Agung Nugroho, Pengurus RT 03 RW 06, Dukuhan Taruma Negara Gang U.I, Kelurahan Banyuanyar pada tanggal 6 Juni 2014.

DIGITAL CAMERAKegiatan dilakukan untuk Pemeriksaan IVA, IMS dan VCT. Merupakan kerjasama Yayasan SPEK HAM dan layanan Klinik IMS dan VCT dari Puskesmas Sangkrah. Semula direncanakan 20 orang akan mengikuti pemeriksaan ini. Karena kegesitan Ibu Itaselaku Pengurus Dawis dan didukung oleh Ibu PutriPramonoAgung selaku tuan rumah, akhirnya 27 orang ibu mengikuti pemeriksaan tersebut dengan antusias. (soepadmin/spekham)