Search for:

GELIAT KELOMPOK WANITA TANI SUBUR MAKMUR MENGOPTIMALKAN LAHAN PEKARANGAN

Kelompok Wanita Tani Subur Makmur menjadi salah satu dari 3 Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Brebes yang mendapatkan Program Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan (OPP) dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. KWT Subur Makmur merupakan salah satu kelompok yang di dampingi SPEK-HAM sejak tahun 2014. Kelompok ini terpilih karena dilihat dari keaktifan kegiatan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan kelompok yang diketuai oleh Wiwin ini adalah budidaya jahe gajah dan tanaman sayuran lainnya di kebun bersama. Di samping kegiatan pertanian, KWT juga membentuk Pra Koperasi yang hingga saat ini masih berjalan lancar. Pertemuan rutin pun dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Program OPP ini bertujuan meningkatkan kemampuan KWT dalam memanfaatkan lahan pekarangan untuk kesejahteraan keluarga. Program ini terbagi dalam 3 tahap :

  1. Tahap pertama dilaksanakan pada bulan Juli 2018, meliputi sarana produksi untuk seperti pupuk kandang, polybag, tray semai dan terpal untuk budidaya perikanan.
  2. Tahap keduan diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Oktober 2018, meliputi pengadaan bibit tanaman (bibit jambu air dan bibit jambu kristal) dan sarana pertanian (benih tanaman sayuran : sawi, cesim, tomat, kacang panjang, terong, cabe rawit, pare dan paranet serta plastik UV)
  3. Tahap ketiga diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Oktober 2018 meliputi bibit ikan lele dan sarana budidaya perikanan (pakan ikan type I dan II, shadingnet dan probiotik kolam)

Setelah mendapat bantuan tahap I, kelompok membuat kolam ikan lele sembari menunggu bantuan tahap II. Hal ini dikarenakan, kolam harus disiapkan jauh-jauh hari agar terbentuk habitat yang sesuai untuk lele dengan indikator sudah terbentuk lumut alami. Kolam terdiri dari 2 kolam untuk lele besar dan 2 kolam untuk lele kecil dan penyortiran dengan ukuran masing-masing 2×3 m.

Berbagai dinamika pelaksanaan program ini dirasakan oleh kelompok. Proses pembuatan kolam ini tidaklah mudah, KWT melakukan pertemuan khusus untuk membahas bantuan OPP ini. Karena kendala utama di Buara saat musim kemarau seperti sekarang ini adalah ketersediaan air yang sangat langka, bahkan untuk mandi dan kegiatan rumah tangga lainnya saja sudah sangat sulit. Musim kemarau bagaikan musim paceklik di desa ini, tidak ada pemasukan dari sektor pertanian yang merupakan matapencaharian utama di desa ini. Supaya pengelolaan ternak lele optimal nantinya akan dibuat jadwal pemberian pakan sehari 2 kali yang harus dilakukan oleh anggota, sedangkan untuk penggantian air 2 minggu sekali, pemanenan, penyortiran akan dilakukan oleh semua anggota kelompok secara bersama-sama.

Oleh : Amalia Astuti (Community Organizer Brebes)

Perjuangan Merubah Nasib

“Pengelolaan Sumber Daya untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan”

Ibu Wastip dulunya hanyalah seorang buruh tani yang dalam sehari dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lain demi memenuhi kebutuhan dapur. Begitu pula dengan sang suami yang juga berprofesi sebagai buruh tani dan tak jarang untuk menambah penghasilan dengan mencari belalang ke tengah hutan untuk dijual.

Itulah sekilas kehidupan Bu Wastip sebelum bergabung dengan Kelompok Perempuan Mekar Mulia, Dusun Cikrowok, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes.

Sejak Oktober tahun 2014, Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) melakukan program pemberdayaan perempuan melalui pertanian dan peternakan terpadu ramah lingkungan. Brebes merupakan kabupaten miskin di Jawa Tengah dengan angka kemiskinan 25,98% (Statistik Brebes 2010), mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani, sementara itu lahan yang ada sangat luas namun kering disaat musim kemarau.

Melalui kegiatan pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan, diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah dan berdampak pada peningkatan produksi pertanian. Lahan yang awalnya mangkrak karena “nelo” saat musim kemarau, sedikit demi sedikit diolah dengan jenis tanaman yang cocok seperti jahe gajah, sereh wangi, dan pepaya california. Selain dalam hal produksi pertanian, SPEK-HAM juga mendampingi kelompok perempuan dalam mengolah hasil pertanian paska panen menjadi aneka olahan makanan untuk meningkatkan nilai ekonomis.

Kini, kehidupan Ibu Wastip mulai berubah. Beliau beserta suaminya sudah tidak lagi menjadi buruh tani ataupun pencari belalang, saat ini beliau menjadi produsen kripik pisang yang cukup terkenal di dusun Cikrowok, desa Buara, kecamatan Ketanggungan, Brebes. Pisang cukup mudah ditemukan di Desa Buara, jika dijual harganya tidak terlalu tinggi. Namun jika diolah menjadi keripik memiliki nilai jual yang cukup menggiurkan.

“Yang lain udah ga bikin mba, tapi saya terus bikin soalnya ga ada kerjaan lain, apa lagi kalau kemarau bener-bener susah. Saya sangat berterimakasih kepada SPEK-HAM karena sudah mendampingi terus, mungkin sudah jalannya saya ikut kelompok dan ketemu SPEK-HAM” begitu tuturnya.

Setiap harinya omset yang diperoleh antara 200-400 ribu, tanpa perlu berpanas-panasan lagi di bawah terik matahari seperti ketika masih menjadi buruh. Hingga saat ini beliau mengaku sudah dapat membeli motor untuk mempermudah pengiriman produk, walaupun banyak juga konsumen yang datang sendiri ke rumah. Selain menjadi produsen keripik, Bu Wasti pun menerima pesanan pembuatan kue-kue basah untuk acara hajatan. (Amalia Astuti/Nila Ayu)