Search for:

Relawan Peduli Aids Surakarta Berikan Tuntutan pada Pemerintah Kota untuk Perhatikan ODHA dan ADHA

Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia dengan tema “Satukan langkah cegah HIV,
Semua Setara Akhiri AIDS” yang jatuh setiap tanggal 1 Desember, Kami relawan peduli AIDS
yang tergabung dalam District Taskforce Kota Surakarta yang terdiri dari Kelompok Dampingan
Sebaya Solo Plus, Komunitas rentan HIV-AIDS , OPSI Jateng, Yayasan Mitra Alam, Yayasan Lentera, dan Yayasan SPEK-HAM memberikan tuntutan kepada Pemerintah Kota Surakarta dalam rangka mewujudkan Three Zero HIV-AIDS ( Zero new infection, zero death related, zero stigma discrimination)

Pada saat ini biaya yang harus dikeluarkan bagi ODHIV untuk melakukan tes Viraload di kota
Surakarta adalah sebesar Rp135.000.00,- yang digunakan untuk pendaftaran dan laboratorium.
Harga tersebut tentunya sangat memberatkan bagi ODHIV dengan kondisi ekonomi menengah ke
bawah, karena tes ini harus dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali untuk mengetahui efektivitas
dari kepatuhan terapi ARV. Sedangkan ODHIV juga membutuhkan pemeriksaan yang lainnya diantaranya SGOT/SGPT dan Pemeriksaan CD4 yang saat ini hanya bisa diakses dengan biaya
besar karena tidak ada program khusus dari pemerintah.

Melalui kegiatan District Task Force yang merupakan Program Community Strenghten System Human Right (CSS-HR) SPEK-HAM, mempertemukan beberapa elemen pegiat dan relawan AIDS diatas untuk membahas beberapa poin tuntutan yang ditujukan pada pemerintah Kota Surakarta, supaya komunitas Orang yang Hidup dengan HIV AIDS (ODHA) dan Anak yang hidup dengan HIV AIDS (ADHA) memperoleh bantuan nutrisi, adanya rumah singgah serta adanya program pemberdayaan ekonomi bagi ODHA, serta pembebasan biaya tes viraload. Beberapa poin tuntutan lainnya di perjelas pada press release yang sudah dibuat dalam kegiatan ini.

SPEKHAM merupakan salah satu SSR di bawah SR OPSI untuk Program Penguatan Komunitas untuk Hak Asasi Manusia yang bekerja sejak tahun 2022 di wilayah intervensi Kota Surakarta dan Kota Semarang.

Silahkan download Press Relesase disini

Karnaval Budaya Klaten “Kebudayaan Membangun Manusia”

Kabupaten Klaten selalu menggelar agenda tahunan untuk memperingati HUT Kabupaten Klaten dan HUT Republik Indonesia dalam bentuk Karnaval. Kegiatan ini diikuti oleh 26 Kecamatan dan 16 SKPD serta puluhan Komunitas Seni yang ada di Klaten. Tidak ketinggalan pula KPA Kabupaten Klaten dan SPEK HAM sebagai Lembaga yang mengangkat isu HIV & AIDS juga ikut dalam acara karnaval.

Karnaval Budaya 2Karnaval digelar selama dua hari, Senin & Selasa, 18 & 19 Agustus 2014, di sepanjang Jl. Pemuda Klaten. Karnaval dimulai pukul 13.00-17.00 WIB dan dibagi dalam dua agenda, yakni Karnaval “Pembangunan” dan Karnaval “Budaya” sebagai acara puncak. KPA dan SPEK HAM ikut berpartisipasi dalam Karnaval “Budaya” dengan menyertakan kelompok-kelompok dampingan (SMK Kesehatan, PMR SMU Negeri 1, Teater Gligik, KomPak, Ikatan Waria Klaten, Forum Nahdiyin Peduli HIV & AIDS, Stand up Komedi, musik RAP, Beatbox) yang tergabung dalam “Forum Peduli HIV & AIDS Kabupaten Klaten” dengan menampilkan potensi dari komunitas seperti tari, mocopat, teatrikal dan musik beatbox.

Disaksikan langsung oleh Bupati Klaten beserta segenap tamu undangan di pangung kehormatan, dan juga ribuan masyarakat di sepanjang jalan, arak-arakan budaya ini berlangsung meriah. Pada kesempatan ini pula diserahkan hasil temuan Kasus HIV & AIDS di Kabupaten Klaten dari tahun 2007-2014, dan hasil temuan kasus HIV & AIDS tahun 2014 dari Nonik (perwakilan dari IWAK) dan Antonius Danang (Perwakilan dari LSM SPEK HAM) kepada Bapak Sunarno,SH (Bupati Klaten).

Kegiatan ini dikemas dalam 5W ; Wasis, Wareg, Waras, Wisma, Wutuh, yang merupakan penjabaran misi dari Kabupaten Klaten yaitu terwujudnya Toto, Titi, Tentrem, Kerto Raharjo. “Wasis berarti pendidikan, Wareg berarti ketersediaan pangan, Waras berarti kesehatan, Wisma berarti tempat tinggal, dan Wutuh berarti persatuan.” jelasnya.

Pelestarian budaya merupakan perwujudan dari salah satu misi Bupati Klaten dengan mengembangkan budaya-budaya lokal yang ada di Kabupaten Klaten. “Ini adalah sebuah kegiatan tahunan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Klaten, memberikan apresiasi kepada seniman dan mereka yang berkecimpung dalam seni budaya sekaligus juga menghibur masyarakat.” dan sekalian sebagai ajang mengkampanyekan program-program Instansi dan Lembaga-lembaga yang ada di Klaten, seperti isu HIV dan AIDS yang diangkat oleh SPEK HAM dan KPA. (danang/spekham.org)