Search for:

Perjuangan Merubah Nasib

“Pengelolaan Sumber Daya untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan”

Ibu Wastip dulunya hanyalah seorang buruh tani yang dalam sehari dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lain demi memenuhi kebutuhan dapur. Begitu pula dengan sang suami yang juga berprofesi sebagai buruh tani dan tak jarang untuk menambah penghasilan dengan mencari belalang ke tengah hutan untuk dijual.

Itulah sekilas kehidupan Bu Wastip sebelum bergabung dengan Kelompok Perempuan Mekar Mulia, Dusun Cikrowok, Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Brebes.

Sejak Oktober tahun 2014, Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) melakukan program pemberdayaan perempuan melalui pertanian dan peternakan terpadu ramah lingkungan. Brebes merupakan kabupaten miskin di Jawa Tengah dengan angka kemiskinan 25,98% (Statistik Brebes 2010), mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani, sementara itu lahan yang ada sangat luas namun kering disaat musim kemarau.

Melalui kegiatan pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan, diharapkan mampu mengembalikan kesuburan tanah dan berdampak pada peningkatan produksi pertanian. Lahan yang awalnya mangkrak karena “nelo” saat musim kemarau, sedikit demi sedikit diolah dengan jenis tanaman yang cocok seperti jahe gajah, sereh wangi, dan pepaya california. Selain dalam hal produksi pertanian, SPEK-HAM juga mendampingi kelompok perempuan dalam mengolah hasil pertanian paska panen menjadi aneka olahan makanan untuk meningkatkan nilai ekonomis.

Kini, kehidupan Ibu Wastip mulai berubah. Beliau beserta suaminya sudah tidak lagi menjadi buruh tani ataupun pencari belalang, saat ini beliau menjadi produsen kripik pisang yang cukup terkenal di dusun Cikrowok, desa Buara, kecamatan Ketanggungan, Brebes. Pisang cukup mudah ditemukan di Desa Buara, jika dijual harganya tidak terlalu tinggi. Namun jika diolah menjadi keripik memiliki nilai jual yang cukup menggiurkan.

“Yang lain udah ga bikin mba, tapi saya terus bikin soalnya ga ada kerjaan lain, apa lagi kalau kemarau bener-bener susah. Saya sangat berterimakasih kepada SPEK-HAM karena sudah mendampingi terus, mungkin sudah jalannya saya ikut kelompok dan ketemu SPEK-HAM” begitu tuturnya.

Setiap harinya omset yang diperoleh antara 200-400 ribu, tanpa perlu berpanas-panasan lagi di bawah terik matahari seperti ketika masih menjadi buruh. Hingga saat ini beliau mengaku sudah dapat membeli motor untuk mempermudah pengiriman produk, walaupun banyak juga konsumen yang datang sendiri ke rumah. Selain menjadi produsen keripik, Bu Wasti pun menerima pesanan pembuatan kue-kue basah untuk acara hajatan. (Amalia Astuti/Nila Ayu)

Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup di “GRIYA LILIN“

Selasa, 2 Desember 2014 jam 10.10 WIB, kami mendapatkan telephone dari Badan Lingkungan Hidup Surakarta bahwa akan ada kunjungan dari Kementrian Lingkungan Hidup yang akan mendarat jam 11.00 WIB di Bandara Adi Sumarmo. Meski agak terburu-buru, tapi saya tetap menyanggupinya. Saya koordinasikan hal tersebut dengan team dari Griya Lilin yang terdiri dari Ibu Dwi S, Ibu Nana, Ibu Linda, Ibu Yulaikah, Ibu Haryani, Ibu Triyani Wahyuni, Ibu Jasmin, Ibu Makmis, Ibu Kedah.

Kami menunggu sejak jam 11 sampai team dari SPEK HAM juga datang, tetapi tamu juga belum datang sampai jam 13.00 WIB. Saya konfirmasi ke pihak Kelurahan Joyosuran, ternyata tamu dari Kementrian masih ada agenda di Balekota. Tanggal 3 Desember 2014, sekitar pukul 09.00 WIB, team dari Kemetrian Lingkungan Hidup Jakarta datang di Griya Lilin. Ada 3 orang dari Kementrian Lingkungan Hidup, 2 orang aktifis lingkungan hidup, 1 orang dari BLH Kota Surakarta dan 1 orang dari Kelurahan Joyosuran.

Diawali dengan perkenalan dari team yang diwakili Bapak Prayoga dari KLH , Bapak Mukti dari Team Adipura dan Bapak Bani dari BLH Kota Surakarta. Team Adipura tersebut ingin tahu bagaimana pengelolaan sampah dan limbah pada kegiatan home industry ini. Saya bersama Kunjungan Kementrian Lingkungan Hidup (Large)dengan teman-teman dari Griya Lilin saling menambahkan menjawab “Dalam kegiatan ini hampir tidak ada limbah, karena bahan utama lilin tidak ada yang dibuang, bahkan kami mengelola limbah sampah seperti kain perca, plastic, botol-botol yang kami padu padankan menjadi kerajinan seperti tempat tissue, tempat lilin, dan souvenir lainya”. Team Adipura sangat tertarik dengan tas-tas dan aksesoris yang terbuat dari plastik  bekas (plastik kresek). Hampir semua pengunjung yang datang ke Griya Lilin tertarik dengan hasil karya ibu-ibu di Kelompok Permata ini. Produk jenis itu sangat sulit pemasarannya. Paling kalau ada orang-orang asing yang kebetulan datang berkunjung di Kelompok Usaha Perempuan Griya Lilin ini yang membelinya. Lebih lanjut Ibu Eky menyampaiakan bahwa ke depannya, usaha kelompok perempuan ini masih banyak sekali kendala, dari penyadaran kepada warga untuk memilah sampah, memberikan ketrampilan dan setup pemasaran yang lebih menjamin keberlangsungan UKM-UKM di Joyosuran ini.

Ibu Nana lebih lanjut menjelaskan bahwa Griya Lilin ini masuk dalam kegiatan di KPJ, khususnya untuk pemberdayaan perempuannya. Selain untuk kegiatan UKM, ibu dua anak itu juga menjelaskan program pengelolaan lingkungan yang diwadahi dalam kegiatan merawat kali jenes, dimana kali dan bantarannya yang memiliki panjang 734 meter ini menjadi potensi yg baik  bagi perempuan karena ada tiga hal besar yang akan dilakukan yaitu normalisasi kali, penanaman tanaman pangan pinggir kali, dan pengelolaan sampah. Kesemuanya akan terkonsentrasi untuk penciptaan lingkungan di bantaran kali pada kususnya, dan di seluruh wilayah Joyosuran pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dan nyaman. Harapan Ibu Eky, Ibu Nana dan teman-teman, setiap kunjungan dari Pemerintah seperti ini hendaknya bisa disampaikan keluhan dan kondisi kelompok UKM seperti Griya Lilin ini sehingga tidak hanya menjadi sekedar kunjungan kedinasan yang hanya ceremonial dan tugas dinas saja. (nocko alee/dok photo : kpj/spekham.org)