Perkuat Peran Perempuan Desa, SPEK-HAM Gelar Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok di Desa Jelok

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)
Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SPEK-HAM di Balai Desa Jelok, Boyolali. (Foto: SPEK-HAM)

BOYOLALI –SPEK-HAM menggelar kegiatan bertajuk “Pemetaan Persoalan dan Visioning Kelompok Perempuan” di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, pada Jumat (29/5/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong terbentuknya kelompok perempuan desa yang mandiri, aktif, dan berdaya melalui pengenalan potensi serta penyusunan mimpi bersama di tingkat komunitas.

 

 

Hadir sebagai narasumber, Henrico Fajar dan Danang Wijayanto (Manajer SPEK-HAM) membekali para peserta terutama para kader PKK dan penggerak desa mengenai hak asasi perempuan, pemahaman kelompok rentan, serta pengorganisasian berbasis komunitas.

 

 

Dalam sesi pertama, Henrico Fajar menekankan pentingnya pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang sering dihadapi perempuan, seperti isu kesehatan reproduksi, kekerasan berbasis gender, hingga hambatan ekonomi. “Perempuan masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun ekonomi. Melalui pengorganisasian kelompok, perempuan tidak hanya mendapat ruang berkumpul, tetapi juga sarana belajar bersama untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kritis,” ujar Henrico.

 

 

Sesi dilanjutkan oleh Manajer SPEK-HAM, Danang Wijayanto, yang memandu peserta melakukan analisis menggunakan metode Pohon Komunitas dan Visioning. Metode ini mengajak warga memetakan persoalan desa sebagai akar masalah, sekaligus menginventarisasi potensi lokal, seperti keberadaan kader posyandu yang aktif, usaha UMKM, peternakan, hingga semangat gotong royong warga, sebagai modal perubahan.

 

 

Dari hasil diskusi partisipatif, peserta berhasil memetakan sejumlah tantangan nyata di lapangan, mulai dari minimnya pemahaman alur pelaporan kasus KDRT karena masih dianggap aib, masalah kehamilan di bawah umur, hingga ketimpangan relasi dalam program KB keluarga. Di sisi lain, Desa Jelok memiliki potensi besar berupa aktifnya jejaring kader PKK/Posyandu serta berbagai sektor UMKM dan pertanian yang produktif.

 

 

Sebagai langkah konkret, kelompok perempuan Desa Jelok menyepakati sejumlah rencana aksi satu tahun ke depan, antara lain pembentukan jejaring komunikasi perlindungan hak perempuan di tingkat RT, prioritas perlindungan korban kekerasan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga komitmen pemberdayaan ekonomi lokal dengan mengutamakan belanja produk UMKM sekitar. Melalui kegiatan ini, SPEK-HAM berharap kelompok perempuan di Desa Njelok dapat menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan desa yang inklusif, ramah perempuan, dan sejahtera. ***