Search for:

Budidaya Holtikultura di Dusun Buara dan Cikrowok, Brebes

Buara dan Cikrowok merupakan Dusun di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Buara dan Cikrowok terletak di tengah-tengah Kabupaten Brebes dan memiliki struktur tanah dataran rendah dan perbukitan. Walaupun berada di dataran perbukitan dan dikelilingi sungai besar tapi kerap kali mengalami kekeringan. Sawah dapat menghasilkan padi, jagung, lombok dan sayuran. Padi hanya bisa dipanen sekali dalam setahun. Sedangkan tanaman jagung, sayuran dan palawija dapat setiap saat.

Warga setempat berpendapat bahwa sumber daya alam yang ada di Buara dan Cikrowok bisa dikembangkan supaya menghasilkan panen dengan jumlah yang lebih besar, hanya saja mereka terkendala dengan permodalan dan pengembangannya. Beranjak dari hal tersebut, SPEK HAM melakukan penambahan kapasitas dan ketrampilan warga Dusun Buara dan Cikrowok, khususnya perempuan. Kegiatan pelatihan tanaman holtikultura dilakukan di Dusun Buara dan Cikrowok bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kebun/pekarangan dengan komoditas prioritas.

Kegiatan dibagi menjadi 3 tahap di tiap-tiap Dusun :

Dusun Buara, dilaksanakan di Peternakan Sugih Mukti

  • Pembuatan Media Tanam : 15 Desember 2014
  • Penanaman Bibit : 16 Desember 2014
  • Diskusi dengan PPL Pertanian : 25 Desember 2014

Dusun Cikrowok di Rumah Ibu Ruswi

  • Pembuatan Media Tanam : 23 Desember 2014
  • Penanaman Bibit : 24 Desember 2014
  • Diskusi dengan PPL Pertanian : 25 Desember 2014

Proses kegiatan diawali dengan pembuatan media tanam. Mengumpulkan tanah dan kompos yang dibawa ibu-ibu dari rumah, kemudian mencampurnya dengan perbandingan 40 kompos : 60 tanah. Setelah tanah dan kompos tercampur, langsung dimasukkan ke dalam polybag diameter 22 cm. Jumlah keseluruhan polybag yang akan digunakan sebagai media tanam adalah sebanyak 254.

unnamedPada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan penanaman bibit. Tim SPEK-HAM memberi pemaparan tentang tanaman holtikultura dan penanaman di pekarangan. Alat-alat yang dibutuhkkan antara lain polybag, cangkul, media tanam (kompos+tanah), bibit, pupuk organik cair dan paranet. Dapat juga ditambahkan dengan dedaunan yang sudah kering. Polybag yang akan diletakkan di pekarangan sebaiknya ditata pada lokasi yang cukup mendapat sinar matahari, terhindar dari gangguan binatang, dekat dengan sumber air. Paranet digunakan untuk melindungi tanaman dari gangguan hewan. Perawatan tanaman dilakukkan dengan penyiraman setiap hari bila tanah dalam polybag terlihat kering, namun jika tanah terlihat basah dapat dilakukkan dua hari sekali. Tanaman juga harus dihindarkan dari hama. Pemberian pupuk organik cair dapat dilakukan setelah tanaman berumur seminggu. Tanaman yang batangnya tidak kuat sebaiknya diberi bamboo. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman tanaman ke dalam polybag. Tanaman yang ditanam antara lain cabe, terong ungu, caisim dan tomat. Dedaunan segar yang dibawa ibu-ibu saat pembuatan media tanam, dijadikan pupuk dengan cara disiram dengan pupuk cair kemudian diikat rapat, dapat digunakan setelah warnanya berubah kehitaman. Setelah selesai, dilakukan penghitungan tanaman untuk mempermudah kontroling yaitu cabe sebanyak 137, terong ungu sebanyak 84, caisim sebanyak 31 dan tomat sebanyak 49. Kemudian disepakati tentang jadwal piket penyiraman. Penyiraman dilakukkan sehari sekali dan dilakukan oleh dua orang.

unnamed (3)Hari ketiga dilakukan diskusi antara peserta pelatihan dengan PPL Pertanian, acara dibuka oleh CO dan memperkenalkan Pak Siswoyo sebagai PPL Pertanian yang bertugas di Buara dan Cikrowok. Pak Siswoyo kemudian memaparkan tentang pemanfaatan lahan pekarangan. Yang dimaksud dengan pemanfaatan lahan pekarangan adalah memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk dimanfaatkan memelihara ternak ataupun tanaman yang hasilnya bisa sedikit banyak membantu perekonomian rumah tangga. Beliau menyontohkan di Sirampog, ada 2 desa yang mayoritas warganya adalah petani sayuran yang menanam sayuran di pekarangan rumah, kemudian membentuk beberapa kelompok yang tugasnya berbeda-beda. Ada kelompok yang tugasnya menanam sayuran A, ada kelompok lagi yang menanam sayuran B, ada juga kelompok yang tugasnya menjadi ‘’tengkulak’’ yang mengumpulkan sayuran-sayuran dari para petani kemudian memasarkannya kepada para pedagang sayuran dari daerah lain. Nanti hasilnya dimasukkan ke kas, untuk membeli bibit maupun saprotan yang lain dan juga sebagai wadah simpan pinjam. Kelompok-kelompok ini sudah berjalan sekitar 1,5 tahun. (spekham.org)

Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan di Brebes

IMPLEMENTASI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI BREBES

“PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK”

Praktek pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair ini merupakan kegiatan lapangan pendahuluan dalam program “Membangun Kepemimpinan Perempuan untuk Ekonomi Berkelanjutan Melalui Pertanian Ramah Lingkungan” kerjasama SPEK-HAM dengan HIVOS.  Empat Dusun yang disasar dalam kegiatan ini adalah : Dusun Cikorowok dan Dusun Buara di Desa Buara, Kecamatan  Larangan dan Dusun Kali Banteng dan Mingkrik di Desa Pamulihan, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Praktek pembuatan kompos ini nantinya akan menjadi salah satu sarana dalam pengembangan pertanian serta mewujudkan pertanian terpadu melalui pemanfaatan seluruh potensi alam dan daya dukung lahan sehingga mampu mengarahkan dunia pertanian di kedua Desa menuju kemandirian dan peningkatan produktifitas. Kegiatan praktek yang diutamakan untuk membangkitkan kemampuan perempuan petani di kedua Desa sehingga mampu memberikan motivasi bagi pengembangan kehidupan mereka.

Kegiatan pembuatan pupuk organik dilaksanakan di 4 lokasi yang berbeda. Pada hari Senin tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Cikrowok dan Dusun Buara, Desa Buara Kecamatan Ketanggungan, Brebes. Sedangkan pada hari Selasa tanggal 24 November 2014 dilaksanakan di Dusun Mingkrik dan Dusun Kali Banteng, Desa Pamulihan Kecamatan Larangan Brebes. Melibatkan sekitar 20 peserta di masing-masing lokasi.

Stake holder yang berperan kali ini adalah Dinas Peternakan Kabupaten Brebes yang telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan pertanian terpadu, salah satunya proses pembuatan kompos.  Penggunaan teknologi mikroba yang telah dilaksanakan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Brebes cukup mampu untuk menjadikan kondisi pertanian di wilayah Kabupaten Brebes mampu menjadi salah satu potensi yang dapat diandalkan.  Bantuan teknis dan sarana yang diberikan Dinas Peternakan Brebes dalam mendukung kegiatan ini sangat besar dan dapat memberikan indicator keseriusan stake holder dalam membangun wilayah.

Berikut ini proses pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah/kotoran ternak yang bisa diaplikasikan di wilayah lain.

Bahan dan Alat Pembuatan Pupuk Organik :

  1. Hasil samping peternakan (kotoran ternak sapi dan kambing)
  2. Serbuk gergaji
  3. Dedaunan
  4. Dolomite
  5. MA 11
  6. Tetes/molasses
  7. Air sumur
  8. Air kelapa
  9. Air cucian beras
  10. Cangkul
  11. Pengki
  12. Terpal
  13. Karung plastik
  14. Raffia
  15. Sprayer

Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  •  Air : 15 liter
  • MA 11 : 250 ml
  • Tetes : 500 ml
  • Ketiga bagan dicampur merata dan didiamkan selama 10 menit.
  1. Kotoran ternak (1.000kg), serbuk gergaji (50kg), daun kering/seresah (20kg), dan dolomite (20kg) dicampur merata di lokasi yang ternaungi.
  2. Campuran bahan padat tersebut kemudian disemprot cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 10 menit tadi dengan menggunakan spayer sambil dilakukan pengadukan sehingga terjadi pencampuran merata.
  3. Karena lokasi prosesing yang tidak ternaungi sempurna, maka dilakukan proses fermentasi dengan memasukkan bahan kompos tersebut dalam karung. Diperoleh sekitar 21 karung yang kemudian ditumpuk dihalaman petani yang ternaungi dan ditutup dengan plastik sampai rapat.
  4. Proses fermentasi dilakukan selama 3 (tiga) hari dan akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.

Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair:

  1. Pembuatan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik :
  • MA 11 : 100 ml
  • Tetes : 250 ml
  • Kedua bagan dicampur merata dan didiamkan selama 20-30 menit.
  1. Air leri (cucian beras) dan air kelapa sebanyak 20 liter dipersiapkan. Tidak menggunakan urine/cairan kandang karena petani tidak menyiapkan.
  2. Campuran bahan cair tersebut bersama dengan cairan campuran mikroorganisme pengurai bahan organik yang sudah diperkaya selama 20 – 30 menit tadi dan dimasukkan dalam wadah tertutup di botol-botol air kemasan dan didiamkan selama 3 (tiga) hari.
  3. Akan dilakukan pembongkaran pada hari Kamis, 27 November 2014.
  4. Dosis pengenceran pupuk organik cair : air = 1 : 10.

 

(eka budhi sulistiyo/spekham.org)