Search for:

Sholihin, Pemuda Pantang Menyerah dari Kaki Merapi

Sholihin saat bekerja di persawahan

Hamparan bukit menghijau, bentangan ladang luas di kaki Merapi , serta hiasan kabut tipis yang elok bak lukisan indah, menuntunku berjalan menyusuri jalan setapak di kaki bukit Gunung Merapi sebelah timur. Tujuanku adalah Desa Cluntang yang sudah dua tahun menjadi tempatku belajar tentang arti menghargai kebersamaan, dan keberagaman. Hal ini semakin membuatku dahaga untuk lebih jauh tahu tentang arti semangat, kegotongroyongan yang kucoba pahami dengan melihat, mendengar, menyentuh hatinya dengan tutur kata, sikap dan komitmen yang aku miliki . 

Mengenal satu persatu sosok inspiratif penduduk desa ini membuatku merasa sangat kecil dibandingkan dengan besarnya keinginan hatiku untuk berbuat.  Namun dengan semangat dan besarnya tekad aku mencoba urai satu persatu apa yang aku temukan. Aku melihat dan mendengar bersama dengan mereka, insting liarku untuk menuntun dan  mengajak mereka berbuat untuk desanya.  Mereka pun yang sebelumnya cenderung tidak memiliki kepercayaan diri, perlahan mereka mulai bisa menghargai dan mengapresiasi dirinya bahwa tidak ada yang mustahil jika ada niat dan kemauan.  Dengan satu kata yang saya simpulkan bahwa masih adanya semangat muda yang warga desa miliki, menurutku ini magma gerakan yang tak bisa diukur

Di Dukuh Tutup Desa Cluntang banyak pemuda kampung yang memiliki semangat yang perlu diapresiasi karena dengan ketekunan dan kreativitas dan keswadayaan, mereka mengelola potensi desa seperti lembah, bukit, panorama alam, makanan olahan menjadi konsep  desa wisata. Memaksimalkan  pertanian dan peternakan meskipun masih secara manual dan konvesional tetapi itu semua bisa dipelajari sehingga cara mengolah potensi itu menjadi sumber pendapatan. Banyak hal positif yang bisa dipetik dari kehidupan dan penghidupan masyarakat Dukuh Tutup, dukuh kedua teratas di Desa Cluntang.

Di antara pemuda pemuda Dukuh Tutup yang memiliki kepedulian pada tanah kelahiranya , ada satu pemuda yang sangat menginspiratif, seorang petani muda yang memiliki impian dan cita-cita sangat tinggi, namanya Solihin. Solihin, pemuda lulusan SLTA dan berumur 22 tahun, lahir  dari keluarga sederhana. Sehari-hari ia membantu orang tuanya, Sukidi dan Sri Widodo, seorang mustahik yang hidup dari buruh tani gaduh ternak, bekerja di ladang dan juga beternak sapi gaduhan. Pemuda berperawakan kurus ini banyak bercerita tentang keinginannya untuk membahagakan keluarga, mengangkat derajat orangtua hingga keresahannya yang belum bisa membalas  budi pada orang tuanya. “Sedih, Mas. Kalau berbicara tentang orangtua,” ungkap Sholihin.

Hingga pada bulan September 2018, ada peluang program sekolah tani di Malang selama tiga minggu, dan kabar ini ternyata direspon baik oleh Sholihin.  Melalui berbagai tes wawancara dan tertulis akhirnya ia lolos dan bisa mengkuti pelatihan bertaraf provinsi ini bersama perwakilan dari beberapa kabupaten di Indonesia. Lepas dari pelatihan tersebut menurut Sholihin serasa dunia pengetahuan dan jaringan terbuka, maka kesempatan terbentang luas menembus batas.  Hingga Sholihin dikandidatkan pelatihan kedua di Ciamis oleh Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali selama 3 bulan. 

Di sana ia digembleng skil dan juga mentalnya terkait filosofi pertanian, keterampilan komunikasi, salah satunya pelajaran Bahasa Jepang. Hal ini menambah semangat karena bagi siswa yang lolos seleksi nanti akan di kirim magang di Negeri Sakura Jepang selama 3 tahun.  Segala keperluan seperti passport, visa dan lain sebagainya sudah siap, karena kalau tidak ada perubahan bulan Juli nanti ia akan berangkat ke Jepang  

Pengalaman ini setidaknya bisa menginspirasi pemuda-pemuda lainya bahwa apapun, yang diinginkan dan dicita citakan akan bisa terwujud dengan dibarengi kerja keras dan doa serta restu orang tua. Orangtua Sholihin juga sangat bangga pada anaknya, dan akan selalu mendukung anaknya menjadi seorang petani muda yang memiliki ketrampilan bertani moderen dan bisa menjunjung martabat keluarga , di tengah kondisi keluarga yang sederhana ada semangat dan doa orang tua yang tulus. Ke depan,  semoga akan ada Sholihin-Sholihin lainnya yang bisa membawa nama baik Desa Cluntang yang saat ini juga mengembangkan pebangunan tematis yaitu “pembangunan desa wisata terpadu dan berperspektif anak, perempuan dan lingkungan .“

Di akhir cerita sore itu saya bersama Sholihin menikmati senja di lereng Merapi, duduk di bale –bale  menghayal dan dia berucap  Masih seperti mimpi ya, Mas , saya akan bisa belajar ke Jepang selama tiga tahun. Saya akan meninggalkan keluarga saya dalam waktu yang lama. Saya pasti akan kangen semua, orang tua, teman teman serta kabut tipis yang selalu datang di sore hari. Tapi di sana nanti akan ada salju yang lama saya impikan dan ingin saya pegang kala rindu itu melanda . “  (Sunoko)

Pelatihan Budidaya Tanaman Bawang Merah Ramah Lingkungan dan Cita-Cita Para Petani Mustahik

Suasana pelatihan budidaya Brambang oleh Baznas

Pagi di Dukuh Tutup, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk cuaca mendung, kabut meyelimuti lereng Gunung Merapi sebelah timur, aktivitas warga desa seperti biasanya. Mereka  berangkat ke ladang yang berada di lereng-lereng gunung, di balik bukit dengan berjalan kaki. Sesekali melintas motor-motor yang mengangkut pupuk kandang.Perempuan-perempuan dengan bersemangat menuju ladang-ladang penuh sayuran menghijau berselimutkan udara dingin khas pegunungan

Senin 22 Januari 2019, agenda kegiatan adalah pelatihan budidaya bercocok tanaman yang ramah lingkungan, khususnya budidaya Bawang Merah (Brambang)  yang melibatkan 27 peserta yang terdiri dari petani muda, petani perempuan dan calon mentor sekolah tani. Kegiatan ini sebenarnya dilatarbelakangi dari keresahan warga tentang budi daya bawang merah yang sudah pernah dilakukan sebelumnya di mana harga dari hasil panen selalu menurun harganya. Apalagi dengan cuaca yang cukup ekstrem di Desa Cluntang sering kali menjadikan gagal panen. Belum lagi kalau Gunung Merapi mengalami erupsi maka kondisi petani sangat memprihatinkan dan terpuruk.

Seperti pada Lebaran Idul Fitri tahun 2017, dikarenakan adanya  erupsi Merapi maka petani melakukan panen awal dan bersamaan, khawatir akan kena abu panas. Kemudian harga di pasaran, bawang merah menjadi Rp.9.500/kg. Para tengkulak yang datang ke Desa Cluntang membeli dengan harga Rp. 9000 sampai Rp. 10.000 sedangkan petani sudah membuat perhitungan kalau harga perkilo minimal Rp. 12.500 petani baru bisa mendapatkan laba. Hingga akhirnya para petani yang didamping SPEK-HAM menginisiasi membuat gerakan beli hasil petani Cluntang kepada para pejabat pemerintahan dari kepala OPD, rumah sakit, dunia pendidikan. “Kami mempaking bawang merah satu kiloan dengan harga Rp. 16.000 disertai label branding brambang sehat,”ujar salah seorang petani.

Pelatihan yang dilaksanakan dua hari ini 22 dan 24 Januari 2019, melibatkan 27 peserta dengan narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, narasumber inspiratif dari Poktan Utomo Jayan Cepogo dan juga dari Baznas Boyolali. Dari tahapan-tahapan pelatihan, masing-masing narasumber menyampaiakan materi yang cukup menarik seperti dari Baznas Boyolali memaparkan bagaimana program Zakat Community Development (ZCD) ini harus dijalankan dan bisa membuat peningkatan pada masyarakat khususnya keluarga mustahik (penerima zakat). Bagaimana kekuatan masyarakat dibangun dengan potensi dan kearifan lokal khususnya pertanian yang lebih ramah lingkungan. Begitupun dari Dinas Pertanian yang di sampaikan Bapak Suwaldi bersama Bapak Bambang dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Musuk tahapan tentang bertani yang mudah dan menyenangkan.

Semua bahan bisa diperoleh di lingkungan sendiri seperti pupuk kandang, kompos, urin, serta kerja-kerja kelompok yang meringankan sehngga menjadi kegiatan pertanian yang menyenangan. “Karena Allah sudah memberikan tanah yan subur yang perlu diolah dengan baik,”begitu paparan narasumber dari Potan Utomo Jayan, Bapak Widodo yang memberikan pengalamannya dalam mengolah tanaman Brambang dengan organik, proses panjang sampai mendapatkan serifikasi organic, dan akhirnya saat ini mendapatkan pasar expor di Belanda dan supermarket-supermarket  di Indonesia .

Pertanian, kearifan, perempuan, pemuda adalah faktor penting dalam pelatihan dua hari ini. Pertanian di mata para pemuda itu harus dilakukan dengan bahagia. Jiwa muda yang masing bersemangat untuk membangun desanya melalui pertanian, bisa dilakukan mengolah area wisata pertanian dan diharapkan para pemuda mampu mengelaborasikan dengan ektor pertanian yang ramah lingkungan.

Dari hasil kerja keras satu tahun ini ada salah satu petani muda yang bernama Solikin akan mengikuti magang kerja di Jepang selama tiga tahun dan hal ini tentunya diharapkan menginspirasi pemuda di Dukuh Tutup Cluntang yang berjumlah 34 orang. Begitu pun dengan perempuan muda yang selama ini hanya menjadi orang kedua dalam hal mengolah lahan. Memutuskan hal-hal penting dalam hal pertanian, dengan pelatihan ini ada peningkatan ketrampilan bercocok tanam yang ramah lingkungan , mampu bertani secara mandiri baik di kebun, halaman serta mampu memanfatakan ruang-ruang kosong dengan lebih produktif. Dengan dukungan dari Baznas pusat maka mimpi dan harapan warga masyarakat di Desa Cluntang bersama pendampingan dari SPEK-HAM akan bisa terwujud

Pelatihan ini tidak hanya menjadi pengetahuan yang berlalu begitu saja. Banyak rencana tindak lanjut yang  sudah dirancang yakni membangun pertanian yang ramah lingkungan dengan dimplot tanaman Brambang sehat non pestisida. Dan juga pertanian ujicoba satu hektar dari para anggota sebagai bentuk komitmen tindak lanjut, serta mengadvokasi peran Gapoktan Desa Cluntang sebagai wadah resmi kelompok tani menjadi tujuan berikutnya.  Apapun rencana dan cita-cita, para petani mustahik berharap pertanian akan terus berjalan dengan menanam, memanen dan memanfaatkan kesuburan dari berkah Gunung Merapi. (Sunoko)

Kirab Budaya “Bersih Desa Cluntang“

PROMOSI USAHA  WISATA YANG DIKELOLA BUMDES LENTERA DESA CLUNTANG

30 April 2017, ada yang berbeda di Desa Cluntang. Berbagai persiapan dilakukan Pemerintah Desa, BUMDes Unit Usaha Wisata Juang Kelompok Putri Mawar, dan PKK Desa guna mempersiapkan acara tersebut. Kirab budaya ini diharapkan menjadi acara tahunan Pemerintah Desa Cluntang dalam membangun BUMDes Usaha Wisata. Diyakini acara ini menjadi salah satu strategi pemasaran produk usaha wisata Tikungan Cinta yang sudah diinisiasi kurang lebih 6 bulan terakir yang menyuguhkan aneka pilihan spot selfie, gardu pandang, kuliner khas pegunungan, serta pertunjukan seni budaya seperti reog, ketoprak, karawitan, dan orkes melayu.

Kirab budaya dihadiri Dinas Pemerintahan Kabupaten Boyolali: Dinas UMKM dan Koperasi, Disparbud, DP2AKKB Kabupaten Boyolali yang tentunya untuk mendorong percepatan pembangunan pedesaan berbasis potensi local, baik SDM maupun SDA.

Acara ini juga menjadi ajang pameran UMKM produk-produk dampingan SPEK-HAM, seperti Kelompok Perempuan RUKUN MAKMUR, SEKAR PUTRI, dan PUTRI MAWAR yang memiliki usaha kecil menengah produk aneka makanan seperti keripik, kue kering, teh mawar, sirup mawar, pilus, dan kripik mawar. Pengunjung kirab budaya yang diperkirakan tidak kurang dari 1.700 orang ini memberikan pemasukan keuangan dari parkir dan retribusi sebanyak 7.875.000

Kawasan Tikungan Cinta saat ini masuk dalam 15 besar destinasi wisata terlaris versi diskominfo Kabupaten Boyolali. Promosi Cluntang sebagai desa wisata sedang digalakkan oleh Pemkab Boyolali dengan pembuatan film profil desa yang akan dibawa oleh Duta Seni Boyolali 2017 ke Rusia dan Belgia. Keterlibatan Putri Citra Boyolali 2016  dan Duta Wisata Boyolali 2016 dalam promosi wisata diharapkan dapat membawa nama Desa Wisata Cluntang ke tingkat nasional maupun internasional

Selain untuk mempromosikan desa wisata, kegiatan ini juga menantang masyarakat Desa Cluntang dalam mempersiapkan diri guna menyambut Desa Cluntang sebagai desa wisata yang memadukan potensi pertanian, peternakan, dan pelibatan perempuan, remaja, dan anak dalam proses pembangunan desa yang berkelanjutan. Demikian yang disampaiakan ibu Suryati S.Pd selaku Kepala Desa Cluntang diakir wawancara. (Noko Alee – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

Pelatihan Pengorganisiran Komunitas Berperspektif Feminis dan HAM

Pelatihan difasilitasi oleh Bapak Achmad Mahmudi
Pelatihan difasilitasi oleh Bapak Achmad Mahmudi

Cluntang. Selama tiga hari di dukuh Jelok, desa Cluntang, Kecamatan Musuk, SPEK-HAM mengadakan pelatihan pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh staff SPEK-HAM dan local leader dari komunitas dampingan. Komunitas dampingan yang terlibat antara lain; dari Komunitas Sawahan, Kelompok Perempuan Rukun Makmur, Kelompok Perempuan Sekar Putri, Kelompok Perempuan Joyosuran, KPKS Sewu, KP3A Kuncen, Komunitas Pacing, Komunitas Kemlayan dan Kestalan. “Inti dari kegitan ini adalah untuk membangun serta menguatkan spirit dan komitmen pengorganisasian masyarakat yang berorientasi pada perubahan sosial, menguatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang substansi pengorganisiran masyarakat yang berperspektif feminis dan HAM, serta mendorong refleksi kerja pengorganisiran masyarakat untuk menyusun strategi pemberdayaan masyarakat yang strategis” tutur Elist, Direktur SPEK-HAM.

Sesi Diskusi
Sesi Diskusi

Fasilitator pelatihan ini adalah Bapak Ahmad Mahmudi, direktur LPTP Surakarta yang kompeten dalam hal pengorganisasian masyarakat. Selama pelatihan ini peserta diajak untuk mengasah ketrampilan metode dan teknik dalam pendekatan sosial yang baik, refleksi kerja CO dalam pengorganisiran selama ini, belajar konsep dasar pengorganisiran masyarakat, penelitian perubahan sosial, kerangka kerja penghidupan yang berkelanjutan.

Di akhir pelatihan, peserta sharing mengenai pengalaman selama tiga hari mengikuti pelatihan. “Ini hal yang luar biasa, banyak hal saya dapatkan dipelatihan ini; mengenai pengorganisiran masyarakat dan setelah ini kami bisa praktek di lapangan, umur bukan kendala dalam belajar “, tutur salah seorang local leader dari Pacing.

“CO potensial adalah orang yang selalu menggelisahkan kehidupan social, bukan menggelisahkan kehidupannya sendiri”, kata mahmudi saat menutup pelatihan pengorganisiran masyarakat berperspektif feminis dan HAM. (Galih Novianto/spekham.org)