Search for:

LGBTIQ ; Realitas Kehidupan dan Orientasi Seksual

LGBTIQ (Lesbian, Gay, Transgender, Queer) sebagai bagian dari orientasi seksual selain heteroseksual harus diakui keberadaannya. LGBTIQ bukan merupakan fenomena modernisasi. Keberadaannya sendiri sudah dimulai sejak jaman Nabi-Nabi (Alkitab dan Al-Qur’an). LGBTIQ bukanlah merupakan gangguan kejiwaan. Hal ini dinyatakan oleh WHO 17 Mei 1990 dan kemudian Departemen Kesehatan RI meratifikasi ketetapan WHO ini dan mencantumkannya dalam Buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983.

Masyarakat dan Negara Indonesia pada umumnya masih melakukan diskriminasi dan memandang sebelah mata terhadap hak-hak dari kawan-kawan yang mempunyai orientasi seksual sebagai lesbian, gay, transgender dan queer. Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat bagi LGBTIQ untuk bisa mengeksplorasi dan mengekspresikan diri mereka serta menunjukkan potensi yang ada pada mereka. Seorang LGBTIQ dengan kemampuan dan kelebihan yang dimiliki belum banyak mampu mengangkat keberadaan diri mereka ke “strata” yang setara ataupun lebih tinggi dari kawan-kawan heteroseksual.

“Kesadaran akan orientasi seksual sebagai seorang LGBTIQ harus berawal dari diri sendiri. Penerimaan akan diri sendiri sebagai seorang LGBTIQ akan mempermudah dalam penyadaran dan advokasi keluar untuk LGBTIQ” ungkap Reny Kristiyanti, Koordinator Talita Kum (Lembaga Advokasi Lesbian di Solo) pada acara Sarasehan “Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi bagi Perempuan dalam Perspektif Agama” di Hotel Loji, 14 Agustus 2014.

Kegiatan besutan Talita Kum, SPEK HAM dan HIVOS menghadirkan Husein Muhammad dari Komnas Perempuan, Stephen Suleeman dari STT Jakarta, Endang Listiani dari SPEK HAM dan Renny Kristiyanti dari Talita Kum sebagai narasumber. Selain berdiskusi terkait dengan hak-hak perempuan terhadap kesehatan seksual dan reproduksinya, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan Talita Kum sebagai lembaga yang konsern terhadap persoalan-persoalan perempuan khususnya adalah persoalan yang dialami oleh kawan-kawan lesbian di Solo.

Upaya membangun kesadaran akan hak-hak perempuan khususnya hak kesehatan seksual dan reproduksi terutama hak kawan-kawan lesbian untuk advokasi lebih lanjut kepada Pemerintah.

Apa yang anda lakukakan ketika tiba-tiba mengetahui anak anda seorang HOMOSEKSUAL?

(nuel oei/spekham/dok photo:spekham)

Kesehatan Reproduksi bagi Kelompok Dawis Banyuanyar

Kepedulian dan antusias Pengurus  Kelompok  Dawis 1 dan 2dari  RT03 RW 06, Kelurahan Banyuanyar, tentang kesehatan reproduksi sangat terlihat pada kegiatan Pemeriksaan bersama yang dilakukan di rumah Bapak Pramono Agung Nugroho, Pengurus RT 03 RW 06, Dukuhan Taruma Negara Gang U.I, Kelurahan Banyuanyar pada tanggal 6 Juni 2014.

DIGITAL CAMERAKegiatan dilakukan untuk Pemeriksaan IVA, IMS dan VCT. Merupakan kerjasama Yayasan SPEK HAM dan layanan Klinik IMS dan VCT dari Puskesmas Sangkrah. Semula direncanakan 20 orang akan mengikuti pemeriksaan ini. Karena kegesitan Ibu Itaselaku Pengurus Dawis dan didukung oleh Ibu PutriPramonoAgung selaku tuan rumah, akhirnya 27 orang ibu mengikuti pemeriksaan tersebut dengan antusias. (soepadmin/spekham)

Geliat Kelompok Perempuan Mawar Desa Balerante

Kelompok Mawar, Kelompok perempuan dari Desa Balerante sebagai wadah berkumpul, berdiskusi dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan para perempuan Balerante.

Gadoh Sapi 1Diskusi dan pertemuan rutin dilakukan untuk kemajuan bersama. Seperti yang dilakukan pada hari Rabu, 21 Mei 2014 di rumah Bu Darsi. Pertemuan kali ini membahas tentang pengelolaan ternak kelompok. Dengan memperhitungkan pengeluaran, pemasukan dan pembagian hasil, kelompok mempunyai keinginan untuk beralih dari pengelolaan sapi penggemukan ke pengelolaan sapi perah.

Pengalaman kelompok “MAWAR” dalam gadoh sapi penggemukan selama 5 bulan ini dirasa belum bisa mencukupi kebutuhan yang berkelanjutan. Penggadoh merasa masih kurang dan tidak seimbang antara harga jual dibandingkan dengan tenaga penggadoh, pola pakan, rumput, dan air. Air diperhitungkan karena daerah Balerante merupakan daerah yang mempunyai kesulitan dalam memperoleh air, air diperoleh dengan cara membeli atau memanfaatkan dari tadah hujan. Sedangkan dari pengalaman pribadi anggota kelompok yang mempunyai sapi perah, ada pemasukan rutin yang didapatkan setiap bulannya dari penjualan susu.

Gadoh Sapi 2Kelompok Mawar belum pernah melakukan penggadohan sapi perah, oleh karena itu perlu pendalaman lagi. Pendalaman tentang sistem penggadohan, serta pemanfaatan kotoran sapi yang memungkinkan untuk mendapatkan tambahan pemasukan bagi kelompok ini.

Perencanaan pertama adalah pembelian sapi perah, sapi perah yang akan dibeli adalah sapi perah yang dalam kondisi hamil 5 atau 7 bulan. Keuntungan pembelian sapi saat dalam kondisi hamil adalah anakkan sapi itu sendiri, dan susunya juga bisa langsung diperah, jadi ada pemasukan tiap bulannya. Sapi dapat menghasilkan jumlah dan kualitas susu yang baik sampai pada tahap 4 kali beranak. Setelah beranak 4 kali, sapi masih menghasilkan susu, akan tetapi jumlah dan kualitasnya sudah menurun. Sapi indukkan tersebut akan dijual saat hamil yang ke 2 atau 3 kali, agar harga jual sapi tidak merosot jauh. (eko nur/edit:nuel/spekham)

“Walk for HIV and AIDS, Stop AIDS Dissemination”

Malam Renungan AIDS Nusantara atau yang akrab disebut MRAN merupakan salah satu bentuk kepedulian teman-teman aktivis HIV AIDS yang rutin diadakan setiap tahunnya. Sederet aksi-aksi atau kegiatan bermunculan dari berbagai pemerduli HIV AIDS tersebut, tak ketinggalan salah satunya adalah SPEK-HAM yang digawangi oleh teman-teman Petugas Penjangkau wilayah Klaten, yang bekerja sama dengan KPAD Kabupaten Klaten, DINKES Kabupaten Klaten, Ikatan Waria Klaten (IWAK), BEM UNWIDHA, MURAL, STUCK, KOMPAK, teman-teman dari Sekolah Kesehatan Klaten dan teman-teman musisi Akustik Klaten, mengadakan sebuah Aksi di Jalan Pemuda yang pagi itu menjadi kawasan Car Free Day (Minggu, 1 Juni 2014). Kegiatan ini mengusung tema “Walk for HIV and AIDS, Stop AIDS Dissemination”.

mran cfd 2

Walk for HIV and AIDS, Stop AIDS Dissemination ini dimulai sejak pukul 06.30 WIB dan berakhir pukul 09.00 WIB. Dalam kegiatan ini, semua elemen bergabung menjadi satu dalam satu barisan dan berjalan menyusuri Jalan Pemuda. Tidak sekedar berjalan, teman-teman pemerduli HIV AIDS ini juga melakukan orasi untuk menyampaikan berbagai informasi tentang HIV AIDS, membagikan 1000 leaflet, 1000 PIN yang bertuliskan informasi kasus HIV AIDS di tahun 2014 dan 1000 Permen berpita merah. Teman-teman ini berjalan mulai dari depan kantor BRI Klaten dan berakhir di Depan Alun-alun Klaten.

mran cfd 4

Di depan Alun-alun Klaten ini mereka menggelar sebuah aksi yang tak kalah menarik yakni berupa pertunjukan Live Akustik, Pembacaan Puisi dan Aksi Pembubuhan Tandatangan (signature sign) sebagai bentuk dukungan dan partisipasi masyarakat Klaten. (butet harahap/spekham)

Rapat Tahunan Badan Pembina 2014

“Kreatifitas untuk Perubahan”

Sebuah semangat kreatif untuk terus-menerus berkembang dan melakukan perubahan positif bagi diri, organisasi dan khususnya perubahan positif bagi masyarakat, terutama masyarakat perempuan yang menjadi kelompok dampingan SPEK-HAM.

Satu tahun berlalu bagi SPEK-HAM untuk melakukan Program-program yang tersusun dalam Program 4 Tahunan. Karangasem, Solo, 27 Mei 2014 merupakan sebuah momentum bernilai bagi SPEK-HAM. Moment untuk melakukan evaluasi terhadap kerja-kerja yang telah dilakukan, baik kerja bersama masyarakat, Pemerintah ataupun Donor direview dan dibahas secara detail untuk menghasilkan langkah yang akan diambil di tahun kedua.

Rapat Badan Pembina Tahun 2014 dihadiri oleh Badan Pembina ; Indriati DSCN8503Suparno, Kelik Ismunandar, dan Tri Hastuti Nur, serta dihadiri seluruh Pengurus serta Staf SPEK-HAM. Disampaikan  paparan Program SPEK-HAM untuk tahun kedua, Mei 2014 – April 2015. Setiap Manager Divisi melakukan presentasi terhadap rencana Program masing-masing Divisi. Begitu juga Direktur SPEK-HAM, memaparkan apa yang menjadi rencana Programnya di tahun kedua ini.

Rapat Badan Pembina menghasilkan beberapa langkah perbaikan terhadap Program yang sudah dilaksanakan. Selain itu, juga menghasilkan perubahan-perubahan susunan keanggotaan Badan Pengawas, Badan Pembina serta Badan Pengurus.

Harapannya adalah bahwa apa yang menjadi semangat SPEK-HAM “Kreatifitas untuk Perubahan” dapat terlaksana dan tercapai seiring dengan dianamika yang terjadi di dalam Organsasi dan masyarakat. (nuel/spekham)

Sosialisasi dan Penapisan di Lapas 2B Klaten

Klaten, 20 Mei 2014.

Kegiatan sosialisasi yang dilakukan atas kerjasama antara lapas 2B Klaten, Dinkes dan KPAD Klaten serta SPEK-HAM Surakarta ini melibatkan kurang lebih 100 warga binaan Lapas. Kegiatan yang bertempat di Masjid Al-Dzikru yang sekaligus menjadi pondok pesantren di area Lapas ini, diharapkan warga binaan menjadi lebih tahu tentang bagaimana penularan dan pencegahan HIV AIDS serta mengetahui informasi tentang kesehatan lainnya.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan Pemeriksaan VCT dan IMS. Pemeriksaan akan dilakukan secara maraton selama 3 hari, yaitu pada tanggal 20, 21 & 22 Mei 2014, dengan target peserta 100 orang. Diharapkan melalui pemeriksaan dan sosialisasi ini, warga binaan dapat terlindung dari penyebaran HIV AIDS. (erfan/spekham)