Search for:

Suara Perempuan Joyosuran untuk Kali Jenes

Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Lingkungan Berperspektif Bencana

Sampah dan pengelolaanya masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di wilayah perkotaan padat penduduk. Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon yang termasuk sebagai wilayah padat penduduk juga merasakan dampak dari keberadaan sampah. Sampah menyebabkan tersumbatnya saluran pembuangan  limbah rumah tangga, yang sering mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan. Air yang seharusnya masuk saluran pembuangan menjadi tergenang di depan rumah warga, hal ini membuat warga tidak nyaman untuk beraktifitas.

Sejak tahun 2010, Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ) bersinergi dengan multi stakeholder di tingkat Kelurahan melakukan berbagai kegiatan untuk mengajak masyarakat untuk peduli terhadap persoalan lingkungan melalui gerakan bersama yang dinamai “Gerakan Cinta Bumi”. Gerakan ini mengajak keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah organik yang mudah diurai dengan non organik yang sulit diurai, selain itu pemilahan sampah juga dapat menambah ekonomi keluarga. Gerakan Cinta Bumi juga meliputi : memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk kegiatan tanaman pangan, pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga,

Sejalan dengan Gerakan yang diinisiasi oleh Kelompok Perempuan Joyosuran (KPJ), Pemerintah Kota Surakarta bersama dengan Pemerintah Kelurahan Joyosuran merancang Program “Pengelolaan Kali Jenes”, dengan merevitalisasi Kali Jenes yang selama ini kotor oleh limbah, baik rumah tangga maupun industri kecil. Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta “Air minum di sekitar Kali Jenes mengandung bakteri e-colli, karena tingkat pencemaran Kali Jenes sudah sangat tinggi.

(http://www.solopos.com/2014/08/28/pencearan-air-di-solo-50-sumur-di-sekitar-kali-jenes-tercemar-limbah-530862).

Program pengelolaan Kali Jenes dicanangkan oleh Pemerintah Kelurahan pada tanggal 22 September 2014 di Balai Kelurahan Joyosuran. Acara tersebut dihadiri oleh unsur masyarakat, LPMK, LSM, kelompok-kelompok masyarakat, dan CSR (Pabrik Batik, Konveksi, BUMN, Provider Telekomunikasi, dan Bank). Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kelurahan mengukuhkan dengan pembentukan Paguyuban Merawat Kali/Lepen dengan pengurus :

Ketua               : Bapak Sukarno Hendri

Wakil Ketua     : Elfian

Seketaris         : Nana Misdiati (KPJ), Triyono

Bendahara      : Atik Sri Martini (KPJ)

Pelaksana        : Dwi S (KPJ), F. Sulastri Admoyo (KPJ), perwakilan dari 12 RW

Tim Monev      : H. Umar Said (Perwakilan CSR)

                             Pemerintah Kelurahan bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Konsep pengelolaan Kali Jenes akan melibatkan seluruh masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan kali. Sehingga semua warga, baik yang berada di pinggir kali maupun yang tidak, akan bertanggung jawab untuk memelihara kebersihannya. Dalam paparannya, Lurah Joyosuran Bapak Suwarno  menyampaikan bahwa program ini akan dilakukan mulai tahap jangka pendek, menengah dan panjang. Kegiatan akan dimulai dengan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan tentang pengelolaan sampah pada masyarakat luas. Kegiatan akan dijadwalkan pada awal Oktober 2014. KPJ memiliki peran yang strategis untuk membangun kesadaran kritis masyarakat tentang pengelolaan sampah yang dapat disinergikan dengan Gerakan Cinta Bumi.

Berbarengan dengan kegiatan sosialisasi, akan dilakukan pemasangan tong sampah di sepanjang Kali Jenes yang panjangnya 750 M, dengan kebutuhan tong sebanyak 60 buah. Ada komitmen dari CSR yang menjadi salah satu sumber pendanaan yang akan membiayai kegiatan ini, selain juga ada anggaran dari APBD Kota Surakarta tahun 2015. Selain melibatkan warga Joyosuran, pengelolaan Kali Jenes juga akan dikoordinasikan dengan wilayah yang berbatasan dengan Joyosuran yaitu  Kelurahan Dawung  dan kelurahan Pasar Kliwon.

Semoga hasil pemetaan partisipatif ini tidak hanya sekedar data dan temuan masalah, tetapi menjadi sumber-sumber perencanaan program, sehingga suara-suara perempuan bisa lebih didengar melalui program-program berperspektif gender, bencana  dan berbasis lingkungan.

Oleh Noko Alle (CO Divisi Sustanable Livelihood)

Photo : Joshua Intan

Tulisan Cinta dari Ujung Kota Klaten

www.aidsindonesia.comAku ingin hakku…
Bersatu dalam masyarakat..

Melantun merdu terbahak-bahak…
Walau HIV menggantungi…
Walau AIDS menghantui…
Namun, aku ingin berkarya…
Membanggakan IndonesiaS…..

Sepenggal puisi di atas adalah bentuk dari suara hati kami, teman-teman IRT ODHA, yang bisa kami suarakan untuk memompa semangat hidup kami. Kami punya hak! Kami punya keistimewaan, dan “ODHA” memang “ISTIMEWA”

Kisah perjalanan dan cerita cinta Ibu rumah tangga ODHA dari ujung kota klaten (Hasil obrolan dengan Ibu rumah tangga ODHA).

Klaten. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sering menjadi bahan perbincangan masyarakat umum dari sisi negatifnya saja, tanpa melihat sisi positifnya. Paling tidak, itulah yang banyak saya jumpai di lingkungan pergaulan saya. Sebenarnya banyak pembelajaran dan hal positif yang bisa didapatkan dari mereka, seperti yang kami dapatkan dari hasil ngobrol dan diskusi dengan beberapa Ibu rumah tangga (IRT) ODHA di Klaten.

Ibu “D” adalah seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Tahun 2011, “D” mempunyai satu anak dari perkawinannya yang pertama  (status negatif). Dia merupakan ODHA yang berani membuat pengakuan kepada keluarga dan pimpinan di mana dia bekerja, bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Dia menuturkan asal muasal pertama kali terinfeksi HIV. Setelah “D” ditinggal pergi oleh suaminya, dia berpacaran dengan seseorang yang ternyata pengguna narkoba suntik (Penasun). Dia terinfieksi HIV dari pacarnya ini. Gejala pertama yang dialaminya berupa sakit menaun yang tidak kunjung sembuh (pilek, diare, flu dan lain-lain) dan kemudian dilakukan pemeriksaan. Pada tahun 2011, “D” dinyatakan positif HIV. Hal yang sangat luar biasa adalah “D” sekarang bukannya terpuruk dengan status ODHA, tapi dia bangkit menata hidup kedepannya bersama putri tercinta. “D” juga menjadi berkat bagi teman-teman sesama ODHA. Saat ini “D” bekerja di Lembaga “Peduli Kasih” sebagai pendamping teman-teman ODHA.

Kisah lain muncul dari Ibu “W” yang belum siap untuk dipublikasikan. “Butuh keberanian yang luar biasa untuk mengakui pada publik kalau saya sudah terinfeksi oleh virus mematikan. Kala itu masyarakat belum seperti sekarang yang mulai agak terbuka dengan ODHA,” ujarnya. Dia menjelaskan, bahwa sampai saat ini ibu “W” belum memberi tahu kepada keluarga karena belum siap dengan segala yang akan terjadi. Ibu “W” terinfeksi HIV dari suaminya yang pada saat mudanya (sebelum menikah) suka memakai jarum tato bersama-sama. Pada waktu itu Ibu ‘W” juga tidak tahu kalau suaminya terkena HIV, yang dia tahu pada waktu itu suaminya hanya sakit biasa. Kecurigaan bu “W” semakin besar setelah diketahui muncul jamur di lidah suaminya, dan penurunan berat badan, sampai meninggal. Kini bu “W” menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga besarnya dengan berdagang.

IRT ODHA yang lain adalah Ibu “B”, yang menceritakan kisah hidupnya sampai bagaimana dia bisa terinfeksi HIV postif. Ibu “B” dulunya adalah seorang karyawati perusahan kosmetik, kemudian dia menikah dan dikarunia seorang anak. Dalam proses perjalanan hidupnya, Ibu “B” dalam aktifitas kerjanya bertemu dengan seorang laki-laki lain di luar rumah (PIL), dan sampai menjalin hubungan yang sangat dekat. Tanpa dia sadari, ternyata si laki-laki membawa virus HIV. Semua disadari setelah kelahiran anak keduanya. Setelah proses kelahirannya, anak ini mengalami sakit yang tidak sembuh-sembuh dan harus keluar masuk Rumah Sakit. Yang lebih membuat ibu “B” terpukul dan menyesal adalah bahwa suami tercintanya, yang pernah diduakannya, dinyatakan positif HIV juga. Ada hal menarik dari keluarga Ibu “B” ini. Ibu “B” menyadari dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat hingga sampai menularkan HIV kepada anak kedua dan suami. Suami dari ibu “B” berkata “Ini adalah proses hidup kita, jadi apapun yang menimpa kita harus kita jalani sampai nanti maut memang benar-benar menjemput kita.”

Apa yang menimpa Ibu “M” tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Ibu-ibu rumah tangga ODHA yang lainnya. Ibu “M” mendapatkan HIV dari suaminya yang bekerja sebagai sopir, yang beresiko tinggi untuk “jajan” di luar rumah. Selain itu, suami Ibu “M” ini adalah seorang penghobi tattoo. Setelah anaknya sering keluar masuk Rumah Sakit selama sebulan, akhirnya diketahui status anaknya positif.  “Hari-hari saya seakan penuh dengan penyesalan dan sangat berat. Apalagi ditambah dengan bocornya status anak saya di tengah masyarakat yang pada waktu itu dibocorkan oleh kelurga saya sendiri. Masyarakat melihat saya dan anak itu seperti sesuatu yang tidak berharga, selalu menjadi topik pembicaraan di satu Desa. Baginya, hal itu tidak berlangsung lama. Saya bisa diterima lagi secara untuh oleh masyarakat. Saya sekarang aktif dalam kegiatan PKK dan Posyandu.

(antonius danang/edit : nuel/spekham.org)

Hari Ini Sampah, Besok Emas…!!!

Tabungan Sampah “Sumber Rejeki” RW II, Kelurahan Kemlayan, Surakarta.

Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh Negara di dunia. Sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia menghasilkan puluhan ton sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja di tempat yang sudah disediakan tanpa diapa-apakan lagi. Dari hari ke hari sampah itu terus menumpuk dan menjadi bukit sampah seperti yang sering kita lihat. Pendidikan dan kesadaran di bidang pengelolaan sampah kini semakin penting dari perspektif global dan manajemen sumber daya.

Pemilahan
Pemilahan Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Program-program pengelolaan sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Begitu juga kegiatan pengelolaan sampah yang dijalankan oleh komunitas perempuan di RW II Kelurahan Kemlayan, Solo. Bersama komunitas dampingan, SPEK HAM (Divisi Sustainable Livelihoods) di tanggal 14 September lalu melakukan program penimbangan sampah sebagai tabungan sampah, yang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi lingkungan setempat. Program ini diberi nama tabungan sampah Sumber Rejeki.

Melalui kegiatan yang dilakukan, diaharapkan komunitas mampu melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang meliputi pemilahan sampah  ditingkat rumah tangga secara mandiri dan pemanfaatan sampah untuk peningkatan ekonomi komunitas. Program ini akan terus berlanjut setiap dua minggu sekali. Anggota yang mengikuti kegiatan program ini sebanyak 15 orang, yang terdiri dari komunitas perempuan RW II Kemlayan.

Adapun penggunaan uang hasil tabungan akan dimasukkan sebagai tambahan aset pra koperasi komunitas yang sudah ada. Program ini memiliki kepengurusan tersendiri dan memiliki pencatatan pembukuan yang terpisah dengan pembukuan yang ada. Adapun pembukuan yang dilakukan meliputi buku register anggota tabungan sampah, buku tabungan anggota, dan buku pencatatan jenis dan berat sampah anggota yang dikumpulkan.

“Melalui kegiatan tabungan sampah ini, anggota komunitas perempuan ini berharap supaya kampung kita lebih bersih, ibu-ibu juga mampu melakukan pemilahan sampah, dan  terlebih ini dapat membantu biaya belanja yang terkumpul dari tabungan sampah ini. Hasil penjualan pertama terkumpul Rp 70.000, diharapkan untuk kegiatan selanjutnya ibu-ibu akan lebih semangat dan tidak malas melakukannya kembali, karena ini merupakan kegiatan yang inspiratif” tegas ibu Ninuk (Pengurus tabungan sampah Sumber Rejeki).

(onie/photo : nuel/spekham.org)

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK TUMBUH & KEMBANG BAGI ANAK“

Sosialisasi hak-hak anak dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2014.

“KELUARGA ADALAH TEMPAT TERBAIK  UNTUK TUMBUH & KEMBANG  BAGI  ANAK“

Bulan Juli datang kembali, meski sebagian orang juga tidak peduli atau bahkan tidak mengingat, tetapi anak-anak di RW 03 Tempen Joyosuran ; seperti Agnes, Mayanda Sari, Putri dan Lia pada bertanya  “Mbak, apa tidak ada kegiatan lagi untuk anak-anak seperti tahun lalu ?” Sesaat saya berfikir, apakah kegiatan setahun lalu begitu berarti bagi mereka hingga mereka masih bisa mengingat dan merasakan akan arti dunia anak. Saya berfikir perlu untuk sekedar mengingatkan kepada masyarakat Joyosuran dan sekitarnya bahwa masih ada anak-anak yang perlu diperjuangkan hak-haknya, khususnya hak kesehatan dan pendidikanya.

Saya pun memulai melakukan lobi kepada Pengurus KLA, Bapak Budi, dan juga Pengurus PPT, Bapak Gito. Mereka menyetujui kegiatan yang saya usulkan yaitu sosialisasi hak anak. Bahwa anak memiliki hak untuk partisipasi dan berekspresi,  juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak anak kepada para orang tua.

Langkah selanjutnya, kami bersama beberapa Pengurus Forum Anak Joyosuran (Forajos) berdikusi pada bulan Agustus 2014, dimana kami menyepakati ada 2 kegiatan untuk peringatan Hari Anak Nasional, yaitu pada hari Minggu, 31 Agustus dan 14 September 2014. Kegiatan tanggal 31 Agustus akan diisi dengan pelatihan dan workshop pengelolaan sampah menjadi barang kerajinan dan workshop/sosialisasi pengelolaan sampah. Sedangkan tanggal 14 September, kegiatan penjurian lomba kreatifitas berbahan limbah plastik, lomba mewarnai untuk anak-anak TK dan SD, serta sosialisasi hak-hak anak yang akan mengundang narasumber dari KLA dan SPEK HAM.

Kegiatan tanggal 31 sudah berjalan dengan cukup menarik, meskipun antusias peserta kurang maksimal karena peserta hanya hadir 65%. Sedangkan untuk tanggal 14 September, peserta cukup banyak, hampir 80% undangan dating. Mereka merasakan bahwa kegiatan seperti ini cukup memberikan manfaat dan juga menginspirasi kepada anak-anak dan remaja. Isian materi Sosialisasi Hak Anak 4tentang pentingnya pemenuhan hak-hak anak juga cukup di respon positif, bahkan ada yang baru tahu ternyata orang tua harus memenuhi hak-hak anak. “Mbak acaranya sangat bermanfaat lho, tahun depan diadakan lagi ya?” begitu kata Bu Desi dari RW 04. Dalam kegiatan ini, selain ada respon dari Bapak Gito selaku Ketua PPT (Pos Pelayanan Terpadu) dan juga Ibu F Sulastri A selaku Ketua KPJ. Hadir sebagai  narasumber dari SPEK HAM,  mbak Nila Ayu Puspaningrum,  yang memperkuat pengetahuan ibu-ibu dan anak-anak  tentang hak-hak anak dan juga pemahaman para orang tua bahwa tempat tumbuh dan berkembang bagi anak adalah dalam keluarganya.

Setelah sosialisasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil penjurian  tentang tulisan anak oleh Mas Nocko selaku community organizer di Joyosuran.

Semoga kegiatan ini bisa berlanjut dan respon masyarakat Joyosuran semakin banyak dan positif. Selaku Pengurus KLA dan Pendamping Forajos, kami ucapkan banyak terimaksih .

Sosialisasi Hak Anak 3Sosialisasi Hak Anak 2

Ditulis oleh Ekky Puji Lestari, Pengurus KLA dan Pendamping Forajos.

(edit : nocko/photo : onie/spekham.org)

Sosialisasi TB dan HIV AIDS

Klaten. 12 September 2014. Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka memberikan penyadaran pada masyarakat terkait dengan bahaya dan penyebaran TB dan HIV AIDS. Kegiatan dilakukan di wilayah Deles, Desa Sidorejo, Klaten dengan sasaran warga masyarakat yang meliputi kelompok laki-laki, pemuda, pemudi, PKK dan tokoh masyarakat yang berjumlah kurang lebih 50 orang. Diharapkan, kegiatan ini mampu memberikan informasi kepada masyarakat luas. Acara ini juga direlay langsung oleh Radio Lintas Merapi dan juga disiarkan mela radio streaming di http://lintasmerapi.jatengstreams.com

IMG_20140912_144009

IMG_20140912_144001

Salah satu narasumber, dari BKPM Klaten, Ibu Juniah mengatakan bahwa salah satu menanggulangi TB adalah dengan cara mengurangi merokok dan membuka fentilasi rumah agar udara bisa bebas keluar masuk.

Menurut nara sumber lainnya, Bapak Eko, TB terkait dengan HIV AIDS. Banyak kasus  TB terjadi di Kabupaten Klaten, namun tidak terekspos.

Acara ini terselenggara atas kerjasama BKPM Klaten, SPEK HAM, KPA Klaten, dan Radio Komunitas Lintas Merapi dan masyarakat Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. (erfan/spekham.org)

“Warga Heboh Karena Banyak Wartawan. Ada Apa di Joyosuran?!”

Jam 10 tepat, iring-iringan tamu dari Parlemen Nasional Timor Leste tiba di Pasar Kabangan Solo. Setelah setengah jam kami menunggu, kemudian kami mengantar rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut ke tujuan pertama yaitu Batik Merak Manis di Laweyan untuk melihat proses pembuatan batik, dari proses membatik sampai packing dan dipajang di show room. Selama proses berlangsung, sesekali terjadi dialog antara tamu studi banding dengan Bapak Heri, pengelola Batik Merak, tentang bagaimana usaha ini dibangun dan juga  perkembanganya. Kegiatan studi banding diakhiri dengan berbelanja di show room Merak Manis yang memajang baju dan perlengkapan rumah tangga dengan harga terjangkau.

Karena kami sudah di telpon oleh KPJ (Kelompok Perempuan Joyosuran) kalau Joyosuran sudah rame dan heboh (karena dari Babinsa, Wartawan Media, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan sudah datang) maka rombongan yang terdiri dari dua mobil berplat Jogjakarta itu langsung menuju Kelurahan Joyosuran yang berjarak sekitar 5 Km, atau kurang lebih 20 menit perjalanan. Pukul 10.45 WIB, rombongan tiba di Griya Lilin Joyosuran. Karena “Griya Lilin“ tidak terlalu luas maka kesannya penuh sekali, apa lagi tidak kurang dari 10 media cetak juga hadir dalam acara ini, juga perwakilan dari PKK Kecamatan Pasar kliwon, PKK Kelurahan Joyosuran dan Babinsa Pasar kliwon maka semakin rame acara kunjungan ini.

DSCN9509Diawali dengan ucapan selamat datang oleh Ibu F. Sulastri Admoyo selaku ketua KPJ, yang mennyampaikan tentang awal mulainya dibentuk KPJ sejak tahun 2009 lalu, sampai kegiatan-kegiatan program KPJ dari tahun 2012-2015 yang dihasilkan dari pemetaan yang dilakukan secara partisipatif, serta bagaimana peran KPJ dalam mengorganisir anggota  serta memfasilitasi temuan-temuan di komunitas, baik persoalan kesehatan, pendidikan dan hak dasar serta persoalan penguatan ekonomi perempuan sebagai penopang penghidupan di perkotaan. Setelah itu  dilanjutkan sharing pengalaman dari Divisi Ekonomi dari KPJ yang diwakili Ibu Ekky Puji Lestasi  selaku koordinator KPJPU (Kelompok Perempuan Joyosuran Punya Usaha) sekaligus pemilik usaha rumahan “Griya Lilin“, yang menceritakan awal usaha ini dirintis, suka dukanya, support dari Pemerintah serta bagaimana produk ini di pasarkan mulai dari dijual sendiri di kegiatan Kelurahan hingga saat ini sudah dipercaya mewakili Solo dan Jawa Tengah di event Pameran Pembangunan di PRPP Semarang setiap tahun. Saat ini sudah dua tahun berturut-turut mewakili Solo dalam pameran berskala Nasional di Jakarta dalam INACRAFF, tahun 2013 dan 2014.

DSCN9516

Pada sesi tanya jawab, perwakilan dari Timor Leste, Ibu Rosalinda, koordinator  rombongan bertanya bagaimana dengan permodalan, pemasaran, dan pelatihan kepada ibu-ibu serta bagaimana melibatkan tetangga untuk terlibat dalam kegiatan ini. Banyak kisah dan cerita inspiratif yang disampaikan kepada peserta, dari dicuekin teman dan tetangga pada awal usahanya, sebagai narasumber untuk mengajari ibu-ibu pejabat, sampai pengalaman mengikuti pameran di Jakarta di mana sangat banyak sekali kenangan manis dan pahit.

Kunjungan ini diakiri dengan foto bersama, wawancara dengan media serta beramah tamah sambil menikmati jajanan pasar produk dari Ibu-Ibu Joyosuran. Tidak lupa, semua tamu membeli produk dari Griya lilin untuk dijadikan oleh-oleh untuk teman dan juga keluarga. Kunjungan semacam ini sudah dua kali dilakukan, dimana sebelumnya para Walikota dari Monggolia datang pada bulan April lalu. Diharapkan kegiatan seperti ini mampu memberi inspirasi dan semangat kepada kelompok-kelompok perempuan yang menjadi mitra dampingan SPEK HAM, dan mendukung peran perempuan dan masyarakat dalam “Gerakan Cinta Bumi“. (nocko alle/spekham.org)

DSCN9519

Syuting lagiiiiiiiiiiii, Promo lagiiiii…….

“ Peran media dalam upaya meningkatkan penjualan & promosi produk komunitas “

Selasa, 9 September 2014 bertempat di Griya Lilin, Kampung Gabudan Joyosuran, kami  mempersiapkan  beberapa keperluan syuting dari Trans7, yang menelpon  mau mengadakan liputan untuk program acara “TAU GA SEHH“ yang tayang setiap pukul 12 siang. Kami dibantu satu tim dari Griya Lilin ; ibu Nana, Ibu Dwi, Ibu Linda, Ibu Atik dan ibu Yani yang sehari-hari bekerja di bengkel Griya lilin. Sedangkan dua tim yang lain sedang mengadakan pameran di PRPP Semarang selama 15 hari.

Syuting Trans7Pada pukul 14.30 WIB, Kru dari Trans7 sudah datang, dua laki-laki dan satu perempuan. Kami mengikuti instruksi dari Cameraman dan beberapa kali dibantu CO dari SPEK-HAM agar lebih menarik dan hidup dalam proses pengambilan gambar. Pengambilan gambar dimulai dari proses awal melelehkan bahan utama, yaitu lilin. Kemudian proses pewarnaan dan pembentukan lilin menjadi aneka bentuk seperti es buah, es cream dan aneka bunga. Proses syuting diakiri dengan wawancara dengan dua anak dari Forum Anak Joyosuran (FORAJOS) yaitu Putrid dan Lia yang mengutarakan tentang kota solo dengan berbagai makanan kas solo.

Kegiatan liputan seperti ini sudah beberapa kali dilakukan, seperti dari Indosiar untuk acara Jelita, RCTI dengan acara Seputar Indonesia siang, TATV untuk Pernik Bisnis dan beberapa media cetak seperti Solo Pos, Kompas, Femina, dan Sekar, selain itu juga beberapa media online seperti Antara, Detik.Com yang telah datang dan meliput kegiatan di Griya Lilin. Kegiatan kegiatan tersebut menjadi salah satu media yang cukup efektif untuk sebuah pemasaran produk kami, dari yang belum dikenal orang banyak sampai produk kami dikenal dan dipesan dari luar pulau. Selama ini kami hanya promosi dan menjual produk dari bazaar, event pameran dan dari Facebook. Dengan semakin dikenal maka semakin banyak pula media lokal maupun nasional yang datang dan meliput usaha kami.  “Senang mas, kami bisa diliput dan nongol di TV kaya artis. Makanya sekarang kalau ada syuting, saya minta gentian  teman-teman yang diambil gambarnya, bukan saya terus yang muncul“ Begitu Ibu Eky Puji Lestari menuturkan pengalamanya.

Promosi memang menjadi faktor penting dalam sebuah usaha. Setidaknya dengan mengenalkan produk kepada masyarakat luas yang menjadi target market akan mempermudah dan evisiensi dalam meningkatkan penjualan. Seperti Griya Lilin yang dirintis sejak tahun 2004 dan mengalami pasang surut, tetapi sejak 2009 semangat itu semakin membara. Semakin dikenal berarti semakin  banyak pesanan yang dating, tidak hanya dari dalam kota tetapi juga dari luar kota, bahkan luar pulau. Kegiatan yang semakin maju ini juga berdampak pada para tetangga di RW 3, yang sekarang juga dilibatkan dalam usaha ini. “Dari kegiatan ini, mereka bertambah pengalaman.” begitu dituturkan Ibu Nana, Ibu Atik dan Ibu Dwi. “Kami bahkan jadi pemenang sebagai penunggu stan terbaik seSolo lho dalam Peringatan Hari Kartini kemarin.“ timpalnya sambil mengakiri perbincangan kami sore itu.(Reportase by noko alee/spekham.org)