Search for:

KELOMPOK PEREMPUAN DI LERENG MERAPI MEMBENTUK JARINGAN “KEMBANG WANGI”

Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali berada di ujung barat dan selatan Kabupaten Boyolali, lereng Merapi menjadi salah satu ciri khas yang cukup dikenal oleh masyarakat luas. Di kecamatan yang terkenal dengan penghasil susu segar yang cukup baik ini, setahun lalu perempuan-perempuan yang mulai resah dan gelisah dengan berbagai hal seperti kondisi pertanian dan peternakan yang semakin terpuruk, kondisi kekerasan yang marak,  mulai menginisiasi untuk bertemu, berkumpul mendiskusikan berbagai hal, baik soal ekonomi, soal ternak, soal usaha rumahan, sampai soal peran dan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan. Maka bertempat di Desa Cluntang pada bulan September sampai November 2017 tiga kelompok perempuan menginisiasi menjadi perempuan penggerak di masyarakat dengan menamakan diri Jaringan Perempuan : KEMBANG WANGI

Refleksi satu tahun kelompok Kembang Wangi

Satu tahun sudah jaringan perempuan tingat kecamatan ini terbentuk, belum banyak yang bisa di lakukan untuk merubah dunia seperti moto dan spirit mereka pada saat malam refleksi setahun lalu. Jaringan yang diinisiasi kelompok perempuan Rukun Makmur Desa Musuk, Sekar Putri Desa Musuk, dan Putri Mawar Desa Cluntang tersebut mendeklarasikan diri disaksikan Camat Musuk, DPRD Kab Boyolalali  serta Kepala bidang pemberdayaan perempuan DP2KB P3A Kab. Boyolali Dinuk Prabandini.

Selama satu tahun kelompok ini berjalan berbagai aktifitas dilakukan baik dalam bentuk kegiatan di kelompok masing-masing atau dalam kegiatan jaringan bersama seperti sekolah tani perempuan, bazar UMKM perempuan serta kegiatan dikusi tematik yang setahun dilakukan dua kali, yaitu isu Trafficking pada Maret 2018,  serta  Pemanfaatan Potensi Lokal untuk Produk Olahan Makanan.

Selain memperkuat di bidang ekonomi, jaringan kerja ini juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten. Beberapa kegiatan audiensi yang pernah dilakukan pada pmerintah kecamatan seperti usulan rancangan program, memberikan masukan program. Sedangkan advokasi pada pemerintah kabupaten yang pernah dilakukan antara lain lihat dalam kegiatan festival peternakan, hari pangan maupun event lainya dimana kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan OPD terkait terhadap kerja kelompok maupun jaringan.

Upaya advokasi pada pemerintah membuahkan hasil, terlihat dari tiga kelompok yang menginisiasi jaringan perempuan ini beberapa kali mendapatkan program dari pemerintah seperti program pasca panen, program kemitraan simpan pinjam modal bergulir serta program tanaman pekarangan.

Perempuan Menggerakan Dunia

Satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi diperingati pada tanggal 10-11 September 2018 dengan tema “PEREMPUAN MENGGERAKAN DUNIA“. Saat ini bergabung dua kelompok baru yaitu PPT-TPPO Kecamatan Musuk dan Kelompok Perempuan Berkah Tani, sehingga jumlah anggota mencapai lebih dari 100 orang. Kelompok PPT-TPPO bekerja untuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Sudah 7 bulan terakhir bergabung memperkuat kerja-kerja jaringan khususnya untuk issue kekerasan yang saat ini cukup marak di Kecamatan Musuk. Sedangkan kelompok perempuan Berkah Tani  fokus pada kegiatan pertanian dan peternakan di Desa Cluntang.

Sambutan Kepala Desa Cluntang

Pada refleksi peringatan satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi, dilakukan beberapa rangkaian kegiatan antara lain : Refleksi program dan penyusunan program, pelatihan media sosial untuk advokasi dan jejaring pemasaran, outbound leadership dan dialog. Kegiatan diikuti 5 kelompok perempuan di Kecamatan Musuk Boyolali serta 1 kelompok dari Desa Balerante Kabupaten Klaten.

Untuk kegiatan yang terakhir yaitu dialog Lereng Merapi menjadi acara puncak sekaligus penutup rangkaian acara refleksi setahun kembang wangi.  Dengan melibatkan 140 peserta turut hadir Haryani Saptaningtyas dari representasi SRI Belanda yang menyampaikan bahwa perempuan-perempuan harus bergerak dan mempengaruhi kebijakan public dengan memanfaatkan media sosial. Acara ini ditutup oleh Dinuk Prabandini kepala bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak DP2KB P3A Kabupaten Boyolali yang menyampaiakan peran pemerintah dengan kebijakan yang mendukung untuk program pemberdayaan perempuan, salah satunya adalah program pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta penguatan ekonomi keluarga yang kreatif.

Sari pati dan point penting dari kegiatan ini adalah memperkuat jejaring perempuan untuk mendorong program yang pro perempuan. Pada refleksi 1 tahun, dihasilkan program bersama antara lain : 1. Memperkuat jejaring produksi dan pemasaran produk komunitas, 2. Advokasi mendorong program dan anggaran pro perempuan, 3. Penguatan internal kelembagaan perempuan, karena dengan lembaga yang kuat mampu menjalan program dan advokasi untuk mendorong pemenuhan hak-hak perempuan.

Noko Alee (Community Organizer)

Perempuan di Kuncen Beralih dari Kimia menjadi Organik

Kuncen adalah Desa di sebelah Utara Kabupaten Klaten, dimana sektor pertanian menjadi penopang ekonomi masyarakatnya. Fasilitas pengairan cukup memadai dengan menggunakan irigasi teknis, meskipun ada sebagian kecil yang tadah hujan. Padi dan jagung menjadi komoditas unggulan di Desa Kuncen, disamping produksi emping melinjo, ternak puyuh yang banyak digeluti masyarakat sebagai sumber pendapatan rumah tangga.

Melimpahnya limbah ternak puyuh menjadi satu pemikiran bersama untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik. Pupuk sudah tentu dibutuhkan oleh petani untuk membantu meningkatkan produktivitas pertaniannya. Hari Sabtu tanggal 15 September yang lalu, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen dan Kelompok Wanita Tani mengikuti praktik pengolahan pupuk organik di Rumah Bapak Sutiyono. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang diawali pada 25 Agustus 2018 yang lalu. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama antara SPEK-HAM, PT. Agri Kencana Persada, dan Pemerintah Desa Kuncen. Sudah ada sekitar 200 kg pupuk organik yang diolah dengan bahan yang sederhana seperti : kotoran burung puyuh, arang sekam/ serbuk gergaji, dolomit/ batu kapur, bakteri pengurai, dan sampah organik rumah tangga. Untuk bakteri pengurai penyediaannya dibantu oleh PT Agri Kencana Persada sebuah perusahaan yang memproduksi bakteri sebagai bahan pupuk organik dan kebutuhan industri besar lainnya.

Pembuatan pupuk organik ini terbilang mudah bagi perempuan. Seluruh bahan dicampur dengan rata dan ditutup dengan plastik. Setelah satu minggu dibalik, ditambah air dan ditutup kembali. Proses ini dilakukan setiap minggu, selanjutnya pupuk akan matang setelah 40 hari. Di dampingi oleh Priyo Jatmiko selaku konsultan dari PT Agri Kencana Persada dan Soepadmin, CO SPEK-HAM, setiap hari Sabtu KP3A dan KWT memproduksi kompos yang bahan-bahannya diperoleh dengan

Praktik membuat pupuk organik

swadaya anggota. Anggota yang datang membawa kotoran organik dari rumah masing-masing, ada yang membawa kotoran puyuh, sisa sayuran, bahkan -daunan kering. Ditanya akan digunakan untuk apa nanti hasilnya, Cobawati selaku pengurus KP3A mengatakan “Ya nanti kalau sudah jadi pupuknya akan dipakai memupuk tanamannya sendiri-sendiri”.

Berbeda dengan Cobawati, menurut Kristiyana yang penting adalah gerakan perempuan mengolah sampah. Menurut Bu Carik biasanyaperempuan setiap hari pasti menghasilkan sampah dari aktivitas memasak, ke pasar dan sebagainya. Paling tidak sampahnya sendiri diolah biar tidak mengganggu lingkungan.

Mereka belum berfikir hasil produksi kompos akan dijual. Fokusnya digunakan untuk pribadi masing-masing sambil mengamati hasilnya. Dibutuhkan waktu dan proses yang berkelanjutan untuk  merubah paradigma pertanian kimia ke pertanian organik. Saat ini sudah ada niat dan kemauan dari perempuan untuk memulai. Sunarsi (60 th) salah satu perempuan yang ingin belajar dan memulai. Sehari-hari beliau bekerja sebagai buruh tani, berangkat ke sawah mulai jam 06.00 hingga tengah hari. Tetapi setiap hari Sabtu beliau pasti menyempatkan diri untuk mengikuti praktik mengolah kompos. Sunarsi berangkat ke sawah lebih awal supaya jam 10.00 bisa ikut. Baginya kegiatan ini bisa menambah pengetahuan, yang selama ini tahunya dan biasa memakai pupuk kimia.

Nila Ayu – Manager Divisi Sustainable Livelihood