Search for:

SPEK-HAM Ajak Pemkab Klaten Jalankan Program Pemenuhan HKSR

SPEK-HAM bersama Pemerintah Kabupaten Klaten akan menjalankan Program Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), sebagai wilayah di pilot dipilih Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring. Kegiatan Kick Off Program ini diadakan pada Rabu, 23 Desember 2020 bertempat di Omah Mbah Lurah, Pokak, Ceper.

Hadir dalam kegiatan ini, Dinkes, Dinsos P3AKB, Diskominfo, P2TP2A, Camat Juwiring, Kepala Puskesmas Juwiring. Bidan Desa, Kepala Desa Pundungan, TP PKK Pundungan, Karangtaruna dan Posyandu Remaja.

Rahayu Purwaningsih selaku Direktur SPEK-HAM menyampaikan pentingnya mengedukasi perempuan agar mau mengakses layanan kesehatan reproduksi. “Kita sangat berharap perempuan berani datang ke layanan sebagai salah satu cara melakukan pencegahan, misalnya IVA tes” ungkap Ayu. Dia menambahkan perempuan punya hak yang sama dalam pemenuhan jaminan kesehatan, jangan sampai layanan tersedia tetapi tidak ada perempuan yang mengakes.

Sementara itu Fitri Haryani selaku Manajer Program Pemenuhan HKSR menyatakan pentingnya meningkatkan pemahaman dan kesadaran perempuan terhadap HKSR yang berpusat pada perempuan. Menurutnya kasus-kasus Kespro yang terjadi, akan manjadi bagian dari edukasi yang akan disampaikan kepada perempuan dewasa dan perempuan remaja.

Menanggapi hal tersebut Sinung dari Dinsos P3AKB menyampaikan komitmennya untuk bersedia berkolaborasi dalam program ini. “Kami bisa menyatakan SPEK-HAM hebat. Kami mendukung dan berterima kasih karena SPEK-HAM sudah melakukan aksi nyata. Kita butuh konsolidasi pada bidang P3A dan pengendalian penduduk yang terkait dengan kespro, kita siap mendukung untuk data dan akselerasi program ini,” ungkap Sinung.

Sementara itu Danang Setiawan selaku Kepala Desa Pundungan menyatakan saat ini pendidikan seksualitas masih dianggap tabu. “Seks edukasi sering dianggap tabu, kami ingin dalam jangka pendek warga terbiasa membicara ini dan memahaminya. Jangka panjang lahirnya generasi yang baik, salah satunya lewat ibu-ibu dengan pemenuhan gizi,”ungkap Danang. Dia berjanji akan menyediakan fasilitas-fasilitas untuk pendukung kegiatan program ini.

Sebagai informasi Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Klaten tahun 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus, tahun 2019: 12 kasus dan tahun 2020 sampai bulan September: 12 kasus. Penyebab AKI antara lain pendarahan, Eklamsi, infeksi dan lain-lain. Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2017: 162 kasus, 2018: 170 kasus dan 2019: 162 kasus. Kasus Abortus tahun 2017: 508 kasus, 2018: 442 kasus dan 2019: 465 kasus.

Sementara itu Perkawinan anak di Kabupaten Klaten pada tahun 2017: 130 kasus, tahun 2018: 112 kasus dan tahun 2019: 141 kasus. Jumlah remaja yang hamil di tahun 2017: 295 kasus, 2018: 450 kasus dan tahun 2019: 315 kasus. Sementara itu jumlah remaja yang bersalin di Kabupaten Klaten pada tahun 2017: 200 orang. 2018: 136 orang dan 2019: 144. Henrico Fajar – Divisi Kesmas SPEK-HAM


	

Remaja Pundungan Gelar Diskusi HKSR

Puluhan Remaja dari Desa Pundungan mengikuti Diskusi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pada Sabtu, 19/12 di Balai Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Pengisian materi oleh fasilitator (sumber: dok.pribadi)

Kegiatan ini menghadirkan Fasilitator Danang Wijayanto dan Elizabeth Yulianti Raharjo dari SPEK-HAM. Pada awal sesi peserta diajak untuk mengenali hal positif dan negatif pada diri mereka. “Silakan teman-teman menuliskan hal-hal baik dan menggambarkan karakter diri dalam simbol,” pinta Danang.

Selanjutnya beberapa peserta diminta untuk menyampaikan hasil gambarnya. Beberapa peserta menggambar matahari, bunga, wajah tersenyum dan sebagainya. Sesi berikutnya dipandu oleh Elizabeth Yulianti Raharjo peserta diminta berkelompok. Mereka mendiskusikan tentang potensi diri dan persoalan remaja. Dari hasil diskusi diperoleh jawaban tentang potensi diri, antara lain: jumlah remaja yang banyak, kerukunan masyarakat dan partisipasi remaja dalam kegiatan tinggi.

Sesi diskusi dengan peserta (sumber: dok. pribadi)

Sementara itu beberapa persoalan remaja yang berhasil dipetakan, antara lain: Penyalahgunaan narkoba dan miras, pernikahan anak, serta Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Menanggapi hal tersebut Putri salah seorang peserta menyampaikan tentang sosialisasi terkait kenakalan remaja yang pernah diikuti di sekolahan.

“Sebenarnya sudah ada sosialisasi tentang permasalahan remaja di sekolahan, selain itu diskusi untuk pendewasaan usia perkawinan juga sudah kami dapatkan di Posyandun Remaja,” ungkap Putri. Dia menambahkan walaupun begitu nampaknya kenakalan remaja sampai saat ini masih kerap terjadi dan semakin menjadi-jadi.

Kegiatan diselenggarakan rutin setiap 2 bulan sekali dengan target sasaran adalah perempuan muda pedesaan yang minim akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi. Diskusi mengusung tema persoalan kesehatan reproduksi pada perempuan muda (dispensasi perkawinan, kehamilan tidak dikehendaki, aborsi tidak aman), hak seksual dan kesehatan reproduksi, dan mekanisme layanan Asuhan Paska Keguguran yang bisa diakses. Sebagai informasi kegiatan ini terselenggara atas kerjasama dan dukungan dari GF For Women, SPEK-HAM, Dinas Kesehatan dan Pemerintah Desa Pundungan. Henrico Fajar – Divisi Kesmas SPEK-HAM