Search for:

Memutus Kekerasan dari Perempuan Sendiri

Suasana diskusi.
James Pennebaker, Ph.D dari Texas University USA, memelopori menulis sebagai terapi. Seorang peneliti lain, Karen Baiki Pd.D dari Clinical Psychogist University New South Wales USA melakukan penelitian jika menulis mampu menjadi terapi yang menyembuhkan diri sendiri. Ternyata itu telah terbukti secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan.

Fitri Haryani, Manajer PPKBM, Pencegahan dan Penanganan Kasus pada Yayasan SPEKHAM menyatakan di hadapan 14 perempuan penyintas peserta FGD, Kamis (24/10) di kantor SPEKHAM bahwa dirinya biasa menerima kasus dan sampai terkesan. Ia melihat dampak yang dialami kemudian oleh para perempuan korban. Kekerasan yang dialami seorang perempuan itu berdampak pula kepada anaknya. Satu kasus yang diterimanya itu yang kemudian mengajak untuk berpikir panjang kembali, terutama karena anaknya mengalami kekerasan pula. Ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak mampu saja. Bisa jadi orang yang tidak punya pendidikan, sekolahnya tidak tinggi, pada orang-orang tidak mampu. Ini yang terjadi pada status sosial yang begitu mapan, pendidikan yang tinggi.

Ia kemudian melihat persoalan itu akan selalu terulang dan selalu terjadi kembali karena tidak ada yang berani mengungkapkan sehingga korban, dan dampaknya anaknya jadi depresi. Kemudian dia sendiri tidak berdaya, dia tidak mampu mengembangkan skillnya. Dengan menuliskan permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan tersebut, Fitri berharap beban psikilogis akan berkurang.

Setelah berani mengungkapkan, dan menyampaikan, lalu muncullah perubahan. Fitri sangat mengapresiasi perempuan yang mampu membuka diri, karena terkait persoalan ini adalah bagian dari memutus kerentanan. Ada kasus telah berumur 20 tahun, dan kekerasan itu baru muncul dan kemudian menimbulkan dampak. Yang terjadi sekarang perempuan penyintas itu mampu bekerja, sudah stabil ekonomi, serta dapat memahami kondisi sosial yang dialaminya.

Menurut Elisabeth Yulianti Raharjo, Lawyer SPEKHAM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada beberapa perempuan, mematahkan anggapan bahwa KDRT terjadi di strata bawah. Menurutnya ini tumpukan masalah yang tidak dikomunikasikan. Atau mungkin tidak tahu cara melepaskannya. ” Selama 20 tahun dipendam lalu meledak, bisa sampai wow gitu, jika hal ini kita tidak memiliki media untuk melepaskan beban psikologis,” tutur Liza.

Sharing sesama penyintas dengan menuliskan pengalaman hidupnya terkait kekerasan yang dialami ini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan yang ingin dikeluarkan oleh para korban. Sebagian besar para penyintas merasa susah untuk mengungkapkan rasa (marah, takut, jengkel, sedih, cemas). Sedangkan kekerasan terutama bagi anak korban perceraian adalah anak menjadi sensitif. Perasaan negatif menjadikan dampak yang lebih besar.

Lalu bagaimana cara memanage rasa negatif?

Fitri mengungkapkan bahwa proses di SPEKHAM ada yang sampai tujuh tahun lamanya. Ada yang lebih parah tetapi bagaimana melakukan hingga menjadi perempuan yang mengalah (legowo)? Karena kekerasan itu yang memutus harus datang dari perempuan itu sendiri. Dan tujuan menulis ungkapan hati itu untuk menyampaikan pikiran negatif kemudian mengambil hal positif dari rasa negatif itu. (red)

FGD Korban KDRT dan Kekerasan Lainnya : Setiap Bulan Tren Korban Meningkat

FGD Korban Kekerasan di Kantor SPEK-HAM

Selasa (24/9), bertempat di Kantor SPEK-HAM, 15 orang korban/penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan lainnya berdiskusi tentang kasus yang dihadapinya. Dari 15 orang tersebut, lebih dari setengahnya adalah wajah-wajah baru. Itu artinya jumlah perempuan korban kekerasan semakin bertambah. Selain korban yang bertambah, kasus juga semakin beragam,  demikian dikatakan Atik Tri Wahyuni, pendamping para korban, relawan SPEK-HAM.

Diskusi selain mengajak para korban untuk berbagi cerita tentang keluarga, ataupun kasus yang dihadapinya juga berbagi progress. Para korban oleh fasilitator tak hanya diajak untuk bercerita, namun juga berbagi kisah dengan menggambar atau menulis. Meskipun tidak semua dengan media gambar, ada beberapa dalam bentuk tulisan, tetapi mereka mampu berkisah satu per satu tentang apa yang ditulis/digambarnya.

fasilitasi menulis dan menggambar

Kompas.com pernah menulis bahwa segala bentuk kekerasan berakibat buruk, baik fisik maupun psikis. Bahkan, jika tidak segera ditangani, perkembangan dan pertumbuhan anak akan terganggu. Kekerasan seksual yang dialami anak-anak tidak selalu menimbulkan dampak langsung. Karena pemahaman seorang anak pada peristiwa yang dialaminya berbeda-beda. Pada anak usia remaja, mereka langsung mengerti peristiwa kekerasan seksual akan merusak hidupnya sehingga reaksi mereka akan langsung terlihat. Anak membutuhkan pendampingan dan harus terus dipantau kondisinya. (red)