Search for:

Sosialisasi Pencegahan Stunting di Desa Pundungan Kecamatan Juwiring

Danang Setiawan, Kepala Desa Pundungan Kecamatan Juwiring

Ada hal menarik terjadi di Balai Desa Pundungan Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten saat diadakan sosialisasi pencegahan stunting pada Rabu (30/10). Pemandangan tersebut adalah jumlah peserta warga laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, sekira dua pertiga dari keseluruhan peserta.

Henrico Fajar moderator sekaligus fasilitator dari SPEKHAM mengatakan bahwa tujuan diadakannya pelatihan adalah untuk membangun kesepahaman bersama antara laki-laki dan perempuan dalam menyukseskan program pencegahan stunting. Menurutnya, beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari kaum laki-laki terkait pencegahan stunting adalah gizi ibu hamil, sanitasi, penyediaan air bersih, PHBS, sebab itu sangat berdampak kepada ibu hamil. Sebab menanggapi realitas kehidupan yang lebih mementingkan laki-laki daripada perempuan, pentingnya kecukupan asupan protein hewani juga menjadi pertimbangan. Sebab angka di Indonesia ini sangat kecil. Kaum laki-laki hendaknya juga tidak merokok di dekat ibu hamil maupun di rumah. Dukungan tidak hanya secara fisik, namun psikologis, karena ibu hamil rentang terkena baby blues serta Post Partum Depression (PPD).

Suasana pelatihan pencegahan stunting

Danang Setiawan, Kepala Desa Pundungan yang menjadi narasumber mengemukakan situasi kesehatan desanya saat ini dengan memaparkan ciri-ciri stunting pada anak. Menurut hasil riskesdas 2018 stunting di Indonesia berjumlah 30,6% atau sekira tujuh juta balita. Sedangkan di Klaten angkanya cenderung menurun antara tahun 2014-2018. Tetapi menurutnya masih dibutuhkan lagi perhatian yang lebih besar. Desa Pundungan memiliki program pencegahan stunting yang bernama “Punya Ceting” atau Pundungan Nyata Cegah Stunting. Ini adalah program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yakni stop buang air besar sembarangan dan pemberian subsidi pembangunan jamban dengan target pada 2010 semua warga mempunyai jamban sendiri dan pembuatan perdes pelarangan BABs. (red)

Pelatihan Dasar-Dasar Koperasi Syariah oleh BAZNAS Boyolali

Jamal Yazid, Ketua Baznas Kabupaten Boyolali menjadi narasumber pelatihan dasar koperasi syariah

Selawat Nariyah terdengar membahana di sebuah rumah warga di Dukuh Tutup, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk. Seorang perempuan memegang pengeras suara dan melantunkan dengan sedang dan diikuti para perempuan dan laki-laki. Selain Selawat Nariyah, juga terdengar Selawat Badar menjelang hadirnya Jamal Yazid, Ketua BAZNAS Kabupaten Boyolali dan tamu lainnya.

Hari itu, 50 orang anggota Kelompok Putri Mawar, Kelompok Berkah Tani dan mustahik pengurus masjid sekitar menjadi peserta pelatihan dasar-dasar koperasi syariah yang diselenggarakan oleh SPEKHAM bekerja sama dengan BAZNAS Kabupaten Boyolali. Selain menghadirkan Jamal Yazid, ketuanya, juga hadir Agus Handoyo, Kabid Koperasi Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali serta Suryati, Kepala Desa Cluntang. Para mustahik mendapatkan pelatihan selama dua hari 29-30/10 secara gratis karena difasilitasi oleh BAZNAS.

Agus Handoyo memaparkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendirikan sebuah koperasi. Agus berpesan kepada calon pengurus dan anggota koperasi syariah untuk tidak meremehkan saat koperasi masih kecil, karena jika dikelola dengan baik, maka koperasi bisa menjadi besar. Menurutnya memang sudah ada koperasi di desa, namun hendaknya tidak saling bersaing tetapi bersinergi. Karena tentu koperasi syariah beda dengan koperasi konvensional. Dalam pendirian koperasi ini memang butuh kader muda, kalau bisa yang sekolahnya tamatan SMK/SMEA, dan bisa menjadi pengurus.

Sedangkan Jamal Yazid, lebih banyak berbicara tentang kaidah0kaida yang ada di dalam koperasi syariah. Menurutnya, mengapa harus koperasi syariah dan bukan yang lainnya karena koperasi ini memiliki akad (perjanjian) yang sesuai prinsip-prinsip syariat Islam yakni hukum Islam yang berdasarkan fatwa MUI melalui Dewan Syariah MUI. Dirinya berharap para mustahik, 50 orang yang hadir ini akan menjadi cikal bakal koperasi syariah. Selain menjelaskan tentang hukum akad (perjanjian), Jamal juga memaparkan tentang perbedaan zakat, sedekah, dan infaq.

Suryati, Kades Cluntang, Nila Ayu, petugas BAZNAS dan Sunoko

Nila Ayu Puspaningrum dari SPEKHAM sebelumnya mengatakan bahwa pelatihan ini selain memberi pembekalan ilmu pengetahuan, juga akan ada dana stimulan per anggota koperasi sebesar 1 juta rupaih dari BAZNAS yang digunakan untuk modal (ditabung) dan tidak boleh diambil. Pelatihan hari kedua nanti lebih pada praktik langsung tentang pembukuan yang akan difasilitasi oleh SPEKHAM serta penyusunan kepengurusan koperasi syariah. (red)

Diskusi SPEKHAM dan KP3A Bahas Tantangan Perdes Perlindungan Perempuan

FGD KP3A Desa Kuncen, Ceper, Klaten

Hal klasik dalam kerja-kerja pendampingan pada masyarakat adalah saat pergantian tampuk pimpinan sebagai pemangku kebijakan, misalnya kepala desa. Tantangan terbesar adalah membangun lagi pemahaman tentang pentingnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan terhadap anak. Demikian yang terjadi di Desa Kuncen, saat beberapa bulan lalu terpilih kadesa baru, Muryadi, rencana penyusunan perdes yang diusulkan oleh Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten akhirnya mentah kembali.

Sujiyanto, ketua KP3A mengatakan bahwa beberapa pertemuan sebelumnya sudah ada sinyal bahwa Muryadi akan mendukung penerbitan perdes ini, namun kemudian ada tantangan dan hambatan, sehingga penerbitan perdes ditunda. Demikian yang menjadi latar belakang FGD yang diselenggarakan oleh KP3A di Balai Desa Kuncen, Jumat (25/10) tanpa kehadiran kades. Henrico Fajar dari SPEKHAM menyatakan ingin melihat tantangannya seperti apa, mengapa KP3A dengan usulan terbitnya perdes belum diterima oleh kades, apakah karena jumlah anggotanya yang sedikit? Fajar berharap anggota kelompok tidak pesimis. Ia berharap ke depan lebih bagus lagi.

Fitri Haryani di hadapan anggota KP3A

Fitri Haryani, juga dari SPEKHAm kemudian memetakan tantangan pemerintah desa yakni pertama adalah lawan politiknya, kedua belum ada rekonsiliasi, disinyalir ada pihak ketiga, terakhir adalah ada yang belum paham KP3A. Sedangkan rekomendasinya adalah pendekatan kepada kepala desa dan perangkat desa dan memahamkan kepada mereka bahwa keberadaan KP3A untuk memenuhi kebutuhan masyarakat desa. Yang butuh untuk segera dilakukan adalah menemui kepada desa dalam waktu selekasnya, serta pertemuan antara perangkat desa, SPEKHAM dan Kades serta masyarakat. Masyarakat di sini penting dilibatkan karena untuk sosialisasi keberadaan KP3A, sehingga memperoleh informasi yang benar dan  menerima keberadaannya. (red)

Memutus Kekerasan dari Perempuan Sendiri

Suasana diskusi.
James Pennebaker, Ph.D dari Texas University USA, memelopori menulis sebagai terapi. Seorang peneliti lain, Karen Baiki Pd.D dari Clinical Psychogist University New South Wales USA melakukan penelitian jika menulis mampu menjadi terapi yang menyembuhkan diri sendiri. Ternyata itu telah terbukti secara ilmiah, melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan.

Fitri Haryani, Manajer PPKBM, Pencegahan dan Penanganan Kasus pada Yayasan SPEKHAM menyatakan di hadapan 14 perempuan penyintas peserta FGD, Kamis (24/10) di kantor SPEKHAM bahwa dirinya biasa menerima kasus dan sampai terkesan. Ia melihat dampak yang dialami kemudian oleh para perempuan korban. Kekerasan yang dialami seorang perempuan itu berdampak pula kepada anaknya. Satu kasus yang diterimanya itu yang kemudian mengajak untuk berpikir panjang kembali, terutama karena anaknya mengalami kekerasan pula. Ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak mampu saja. Bisa jadi orang yang tidak punya pendidikan, sekolahnya tidak tinggi, pada orang-orang tidak mampu. Ini yang terjadi pada status sosial yang begitu mapan, pendidikan yang tinggi.

Ia kemudian melihat persoalan itu akan selalu terulang dan selalu terjadi kembali karena tidak ada yang berani mengungkapkan sehingga korban, dan dampaknya anaknya jadi depresi. Kemudian dia sendiri tidak berdaya, dia tidak mampu mengembangkan skillnya. Dengan menuliskan permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan tersebut, Fitri berharap beban psikilogis akan berkurang.

Setelah berani mengungkapkan, dan menyampaikan, lalu muncullah perubahan. Fitri sangat mengapresiasi perempuan yang mampu membuka diri, karena terkait persoalan ini adalah bagian dari memutus kerentanan. Ada kasus telah berumur 20 tahun, dan kekerasan itu baru muncul dan kemudian menimbulkan dampak. Yang terjadi sekarang perempuan penyintas itu mampu bekerja, sudah stabil ekonomi, serta dapat memahami kondisi sosial yang dialaminya.

Menurut Elisabeth Yulianti Raharjo, Lawyer SPEKHAM, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada beberapa perempuan, mematahkan anggapan bahwa KDRT terjadi di strata bawah. Menurutnya ini tumpukan masalah yang tidak dikomunikasikan. Atau mungkin tidak tahu cara melepaskannya. ” Selama 20 tahun dipendam lalu meledak, bisa sampai wow gitu, jika hal ini kita tidak memiliki media untuk melepaskan beban psikologis,” tutur Liza.

Sharing sesama penyintas dengan menuliskan pengalaman hidupnya terkait kekerasan yang dialami ini bertujuan untuk mengungkapkan perasaan yang ingin dikeluarkan oleh para korban. Sebagian besar para penyintas merasa susah untuk mengungkapkan rasa (marah, takut, jengkel, sedih, cemas). Sedangkan kekerasan terutama bagi anak korban perceraian adalah anak menjadi sensitif. Perasaan negatif menjadikan dampak yang lebih besar.

Lalu bagaimana cara memanage rasa negatif?

Fitri mengungkapkan bahwa proses di SPEKHAM ada yang sampai tujuh tahun lamanya. Ada yang lebih parah tetapi bagaimana melakukan hingga menjadi perempuan yang mengalah (legowo)? Karena kekerasan itu yang memutus harus datang dari perempuan itu sendiri. Dan tujuan menulis ungkapan hati itu untuk menyampaikan pikiran negatif kemudian mengambil hal positif dari rasa negatif itu. (red)

FGD dan Layanan Mobile HCT Puskesmas Kalicacing Salatiga

Petugas Puskesmas dan Ucok M. Sirait, koordinator kegiatan

Junaedi , S.Kep,Ners.M.Kes, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Salatiga dalam paparan diskusi multistakeholder pada Agustus lalu membicarakan perihal Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian HIV-AID dengan tujuan Mencegah dan Mengendalikan epidemi HIV-AIDS di Indonesia pada 2030, dengan tujuan khusus mewujudkan Three Zero: Menurunkan hingga mengeliminasi infeksi HIV baru, menurunkan hingga mengeliminasi kematian terkait HIV-AIDS, menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

Siang itu, Rabu (24/10), ada 18 orang dari populasi kunci yang melakukan Mobile HCT yang difasilitasi oleh layanan kesehatan Puskesmas Kalicacing Kota Salatiga. ke-18 orang itu berasal dari poupulasi kunci. Tiga orang Penjangkau Lapangan (PL) dari Program HIV dan AIDS dukungan Global Fund tampak sedang sibuk mempersiapkan administrasi untuk pendataan bagi klien mereka. Lima orang petugas Puskesmas Kalicacing saat datang langsung mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan saat memeriksa darah. Nia, seorang staf Global Fund yang bekerja di Dinas Kesehatan tampak pula sibuk.

Sementara itu dikoordinir oleh Ucok M. Sirait, para PL memastikan bahwa klien-klien mereka segera datang ke tempat kegiatan. Beberapa orang klien datang dengan mobilitas mereka sendiri. Namun delapan orang klien dari populasi kunci mesti dijemput oleh para PL. Mereka tidak memiliki alat transportasi.

Para klien tengah menunggu antrean layanan kesehatan Mobile HCT

Para PL yang saya tanyai tentang bagaimana edukasi diberikan memastikan bahwa edukasi dilakukan oleh para petugas layanan kesehatan sembari mereka melakukan pemeriksaan. Sedangkan para klien juga telah melakukan komunikasi dengan para PL.

Kegiatan FGD dan Mobile HCT berlangsung selama dua jam dengan lancar. Namun dari target 22 orang yang siang itu hendak melakukan pemeriksaan , hanya 18 orang saja yang mengakses layanan mobile HCT. Empat orang klien urung melakukan pemeriksaan. “Aku takut jarum suntik, enggak ah,” kata Anto sambil ngacir meninggalkan tempat.

Para petugas Puskesmas Kalicacing memberi kelonggaran bahwa keempat calon klien yang siang itu batal memeriksa, bisa datang ke Puskesmas keesokan harinya. Dan para PL menyanggupi. Male Sex Male (MSM) termasuk yang rentan atau berisiko tinggi untuk penularan virus HIV. (red)

Mahasiswa Magang, Eksistensi dan Perannya dalam Kelembagaan

Suasana serah terima

Senin (14/10) serah terima kembali sembilan mahasiswa magang Program Pengalaman Lapangan (PPL) dilakukan oleh SPEKHAM kepada dosen yang mewakili dari IAIN Surakarta. Kesembilan mahasiswa telah melakukan PPL Selama dua bulan dan terlibat secara aktif di berbagai divisi yang ada di SPEKHAM. Aktivitas tersebut baik pendampingan kepada komunitas, maupun berkunjung dan berkegiatan di Sanggar Kespro yang berada di Klaten Tengah, Juwiring dan Bayat. Dan mengikuti diskusi di kelompok penyintas kekerasan juga belajar program terkait HIV dan AIDS.

Para mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Dakwah Jurusan Bimbingan Konseling Islam tersebut juga aktif dengan mencatat rekam proses, melakukan pendokumentasikan dan bentuk foto. Selain itu mereka mendapat pula pengetahuan dasar tentang menulis reportase.

Nur Puji Sekarrini mengatakan bahwa selama dua bulan di SPEKHAM, ia serasa bukan sebagai mahasiswa magang, yang biasanya di tempat PPL lain tugasnya membikin kopi, teh, memfotokopi, tetapi diajarkan memanusiakan manusia tanpa diskriminasi.

Selain Nur Puji, ada Maulida Larasati yang beranggapan bahwa ia tak hanya menanggapi realita kehidupan di lapangan, yang tak hanya cukup berbekal pikiran, namun juga dibutuhkan hati untuk mengerti dan memahami masyarakat. Seiring dengan Maulida, Wahyu NH berpendapat bahwa mengkaji psikososial yang terjadi di lapangan lebih menantang daripada sekadar mengkaji literasi.

Galih Novianto, Koordinator Biro Supporting System dan Fundrising di SPEKHAM menyatakan bahwa biasanya program PPL juga datang dari STT Jakarta, yang selalu mengirimkan dua mahasiswanya namun tahun ini kosong. Menurutnya, kalau dari IAIN, secara program, lebih aplikatif dibanding saat PPL di kantor pemerintah misalnya. Para mahasiswa PPL di SPEKHAM menurutnya lebih ke praktik lapangan dan mendapatkan ilmu perihal komunitas, ilmu baru yang menurut mahasiswa itu sangat inspiratif, dengan ikut FGD penyintas, datang ke sanggar kespro dan menemui berbagai macam persoalan di masyarakat.

Diskusi di acara serah terima

Nila Ayu Puspaningrum, Manajer Divisi Sustainable Livelihood sekaligus pengurus Yayasan SPEKHAM juga berpendapat bahwa para mahasiswa PPL tersebut memiliki semangat belajar isu isu perempuan, mudah beradaptasi dengan lingkungan dan staf SPEKHAM. Mereka juga mampu melaksanakan tugas yang direkomendasikan di masing-masing divisi. Meskipun tugas tersebut jauh dari jurusan atau studi mereka, tapi mereka berusaha melakukan tugas dengan baik.

Nila Ayu berharap, pembelajaran yang sudah didapat dari SPEKHAM bisa dijadikan bekal ketika terjun ke masyarakat. Mereka banyak mendapat pengalaman bertemu langsung dengan masyarakat diharapkan bisa membangun perspektif mahasiswa terhadap situasi dan persoalan perempuan di Solo Raya. Apalagi kesembilan mahasiswa juga terlibat dalam aksi damai di DPRD bergabung bersama aliansi masyarakat Surakarta untuk mengusung segera disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS). Mereka bisa melakukan kajian-kajian misalnya isu gender untuk mendukung proses advokasi kebijakan yang pro perempuan,” pungkas Nila Ayu. (red) 

Siaran Radio Immanuel-SPEK-HAM : Tantangan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja

siaran bersama Radio Immanuel

Generasi terkini yang lahir tahun 2000-an, di dalam kehidupan sehari sangat banyak mendapat arus informasi, paling jauh.  Para remaja belum banyak yang mau atau peduli kesehatan reproduksi. “Kalau peduli terhadap pendidikan kesehatan dan reproduksi saja saja tidak ada apalagi bicara tentang akses informasi?” papar Henrico Fajar dari SPEKHAM mengawali siarannya bersama Wempie, penyiar Radio Imanuel, Rabu (9/11).

  Menurut Infi, mahasiswa magang di SPEKHAM yang turut siaran menyatakan bahwa  remaja sekarang kurang sadar sehingga masih perlu informasi yang diberikan. Ia sendiri mengakui mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi waktu SMP, itupun tentang HIV dan AIDS. Saat ini generasi seumurnya mengalami perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dengan adanya pengetahuan ini dan dibagikan kepada perempuan muda seusianya, maka untuk menghilangkan kehawatiran, SPEKHAM hadir berkaitan tersebut.

Terkait kesalahkaprahan, banyak terjadi sehingga timbul kasus-kasus seperti Kehamilan yang Tidak Dikehendaki (KTD). Mereka, korban Kekerasan Seksual (KS) dan mengapa ini terjadi karena remaja tak memiliki akses informasi dan mereka terjerumus pada pergaulan yang bebas sehingga mengalami KTD.

Henrico Fajar melihat bahwa KTD ini kemudian nanti ujung-ujungnya pernikahan dini, atau pernikahan anak. Mereka kemudian kehilangan cita-cita, mimpi, jangka panjangnya ke depan, secara cita-cita, ekonomi tidak bisa mapan. Kasus-kasus KS yang menimpa remaja cukup tinggi. Fajar pernah menemukan kasus di salah satu kabupaten di Solo Raya ini yang hampir lulus di semester terakhir. Ia korban KS, hamil, dan karena bidan desa memiliki perspektif baik. Maka bidan desa berhasil mengedukasi korban dan pihak terkait misalnya kelurahan, sekolah. Dan mempertahankan agar si anak tidak dikeluarkan, sehingga ketika lulus kemudian dia menikah dan melahirkan. Banyak terjadi, perempuan korban KS lalu hamil dan dikucilkan, selalu dipersalahkan, diolok-olok lalu dikeluarkan, atau disuruh pindah sekolah. Itu bukan solusi tetapi harus menjamin kebelangsungan pendidikan.

Pengalaman Fajar dalam mendampingi banyak, ia mendampingi kasus terkait KTD, mereka korban KS mengapa ini terjadi kaeena remaja tak memiliki akses informasi dan mereka terjerumus pada pergaulan yang bebas sehingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Kami melihat bahwa KTD ini kemudian nanti ujung-ujungnya pernikahan dini, atau pernikahan anak. Mereka kemudian kehilangan cita-cita, mimpi, jangka panjangnya ke depan, secara cita-cita, ekonomi tidak bisa mapan. Kasus-kasus KS yang menimpa remaja cukup tinggi.

Fajar pernah menemukan kasus di salah satu kabupaten di Solo Raya, yang hampir lulus di semester terkahir, dia korban KS, hamil, karena bidan desa perspektif baik, maka bidan desa berhasil mengedukasi korban dan pihak terkait misalnya kelurahan, seolah, mempertahankan agar si anak tidak dikeluarkan, sehingga ketika lulus kemudian dia menikah dan melahirkan. Banyak terjadi, sudah hamil dikucilkan, selalu dipersalahkan diolok-olok dikeluarkan, atau disuruh pindah sekolah. Itu bukan solusi tetapi harus menjamin keberlangsungan pendidikan.

Sedang pengalaman SPEKHAM terkait mendampingi remaja saat pertama kali mengalami menstruasi dan mimpi basah adalah dengan melakukan edukasi di usia SMP dan SMA di Solo Raya. Ada yang mimpi basah bagi cowok, mens bagi cewek dan kebanyakan perempuan lebih terbuka, daripada cowok. Perempuan lebih bisa menyampaikan secara terbuka. Kalau cowok ketika saya tanya kapan terakhir mimpi basah? Bagaimana rasanya? mereka lebih tertutup. Hasil diskusi tersebut membuktikan bahwa remaja putri lebih nyaman dengan ibu. Laki-laki lebih kepada bapaknya. Yang jadi tantangan saat ini adalah bagaimana orangtua yang mendengar dari anaknya bahwa anaknya sudah mens, dan hal apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Bisa jadi banyak ortu yang berpikiran bahwa ngobrolin tentang mimpi basah,mens, seksualitas itu hal tabu. Padahal pendidikan tentang seksualitas harus kita berikan kepada anak-anak sedini mungkin supaya banyak yang paham setelah mens apa yang harus dilakukan bagaimana remaja menjalin relasi dengan laki-laki dan perempuan. “Ini masa puber ya yang saya maknai sebagai masa yang rentan. Remaja putri rentan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh kawan remaja laki-laki, pacarnya. Begitu pun sebaliknya sehingga kita akan tahu batasan-batasan interaksi yang sehat di antara mereka akan aman,”terang Fajar.

Terkait pada usia berapakah anak diberi pendidikan kespro, yakni di usia dini, dengan bahasa yang sederhana, misal usia 3 tahun sudah mulai misal pipis harus di kamar mandi, bahkan mandi di luar ruang. Pada usia 3-5 tahun melihat laki-laki dan perempuan, misal mau pipis maka toilet sesuai dengan jenis kelamin. Intinya sedini mungkin dengan bahasa sederhana. Kalau melihat perkembangan, dari bayi, anak bisa mememgang, sejak usia bayi. Kalau masa remaja, suka tidka suka oranagtua membuka ruang diskusi, banyak di zaman sekarang, karena kesibukan mereka memberi alat perangkat, gagdet misalnya.

Lalu karena kesibukan tidak ada komunikasi dan menganggap itu tidak ada masalah padahal sebenarnya itu awal masalah. Di masa remaja perlu diajak komunikasi pengalaman seharian di sekolah ngapain saja, pengalaman dia menstruasi. Menciptakan komunikasi dua arah itu penting. Kedua terkait korban perkosaan supaya tidak minder, pertama yang harus dilakukan adalah memastikan korban mendapat pendampingan dan pemulihan, perhatikan hak korban kalau masih sekolah ya harus tetap sekolah, jangan hilangkan haknya, hak mendapat perlindungan, dan kepastian hukumnya.

Terkait media kespro bisa dalam bentuk infografis atau slide-slide yang sesuai dengan remaja milenial atau justru edukasi konseling pribadi atau kelompok. Fajar menambahkan media pembelajaran tergantung kebutuhan misalnya misalnya kalau di sekolah, infografis lebih visual, kalau ada remaja korban KS penting didampingi face to face, komunikasi dua arah, komunikasi antar personal adalah penting. Misalnya ngobrol saat makan itu penting. Masalah edukasi SPEKHAM banyak melakukan berbagai cara, yang penting tujuan pendidikan tercapai sehingga ada harapan kekerasan seksual menurun.

SPEK-HAM bergabung dengan PTPAS, lembaga yang mengurusi korban korban KS ketika ada korban KS maka disambungkan jejaring. Kalau butuh psikolog maka tugas RSJD untuk dampingi.

Berbicara tentang pernikahan dini atau pernikahan anak, hal itu adalah pilihan. Artinya kalau ada korban KS lalu hamil, menikah atau tidak menikah itu pilihan. Itu dijamin oleh Undang-Undang namun realitanya untuk saat ini masih banyak orang berpandangan kalau sudah hamil maka ya dinikahkan, padahal itu bukan satu-satunya solusi.

Fajar menutup siaran dengan menanyakan jangan malu bicara soal seks dan seksualitas dan jangan tabu karena dari situ dapat dilihat perkembangan anak remaja. Ketika seksualitas bukan hal tabu harapannya banyak orang teredukasi sehingga menegaskan jika kurikulum di sekolah penting pendidikan terkait kespro.

Fajar juga menyatakan terkait konsultasi bisa di surel www.spekham.org. Bagi guru atau orangtua bisa bertelepon di hotline : 0271 715047. (red)

Koperasi Simpan Pinjam Membuat Saya Mandiri

Veronika Sri Mujiati

Salah  seorang anggota Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) yang merasakan keberhasilan setelah mempunyai usaha makanan /wedangan adalah Mujiati. Menurut keterangan perempuan yang memiliki nama lengkap Veronika Sri Mujiati atau akrab  dipanggil Ibu Handoko awal bulan Juni 2019 diberi ijin untuk berjualan di samping Pendopo Alit Kelurahan Sewu dengan modal awal Rp 500.000. Pembeli dagangannya adalah beberapa pelanggan selain Staf Kelurahan, Linmas dan warga sekitarnya. Setelah ada proyek di Bengawan Solo, Mujiati mendapat kesempatan dari Lurah Sewu untuk berjualan di Shelter di jalan beton yang sudah dibuat oleh Dinas Perdagangan Kota Surakarta.

Mujiati saat berjualan di warung dan dibantu oleh dua orang

“Bulan Juli 2019 pindah tempat jualan shelter,  disitulah saya mempunyai kesempatan untuk mengembangkan usaha warung makan Masakan Jawa. Modal awal untuk usaha saya pinjam Pra Koperasi KPKS Sewu Mulya Sejahtera sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah),” ungkap Mujiati. Di sinilah ia merasakan keuntungan menjadi anggota KPKS, karena modal awal Rp 500.000 ditambah Rp 1.000.000,- bisa untuk membesarkan usahanya

Mujiati sangat bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa bahwa dengan berjualan beberapa jenis makanan dan minuman ia mampu mendapat omset penghasilan Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) tiap hari. Setiap hari ia melayani karyawan proyek Bengawan Solo. Sekarang ia sudah mempunyai karyawan dua  orang yang dibayar Rp 50.000,-/orang per hari. “Saya merasa senang selain mendapat penghasilan juga bisa membantu orang lain yang untuk bekerja di warung makan”, tutur Mujiati. Ia merasa beruntung menjadi anggota KPKS, karena dengan kegiatan koperasi dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri. (Pakdhe/Nila)