Search for:

Dinas Kominfo Kabupaten Boyolali Dokumentasikan Posyambing Desa Musuk

Posyambing Desa Musuk

Bertempat di basecamp, rumah Ibu Welas hari ini Rabu (13/11) berlangsung Posyandu Kambing di Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Putri dan Rukun Makmur, Musuk, Kecamatan Musuk Boyolali dengan peserta 20 serta hewan ternak kambing sejumlah 25 ekor. Mengapa posyambing? Karena mereka para perempuan tersebut ingin serius menjaga kualitas kesehatan kambing-kambing dengan mengukur berat badan mencatat dan memeriksa perkembangannya juga diberi vaksin dan makanan tambahan

Dari Puskeswan hadir Dokter Dian Kirana dan empat staf ahli obat,kandungan, serta kulit yang memeriksa semua kambing. Dari pemeriksaan ditemukan penyakit scabies yang menyerang  kambing-kambing. Posyambing pagi ini juga diliput dalam bentuk laporan oleh Dinas Kominfo Kabupaten Boyolali dan beberapa media massa.

Kelompok Wanita Tani Rukun Makmur yang diketuai oleh Ibu Sri Surani berdiri pada 12 Desember 2012. Saat awal terbentuk kelompok ini banyak yang memandang sebelah mata. Bahkan berpikiran buruk hingga mencibir atas kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Karena kegiatan banyak dilakukan di waktu senggang selepas mereka bekerja tani yakni pada malam hari, hujatan berupa omongan yang tidak baik menghampiri mereka.

Kemudian SPEKHAM sebagai salah satu LSM yang bergerak salah satunya di isu pemberdayaan ekonomi masuk ketika konsep kampung kambing yang berangkat dari obrolan ala ibu-ibu rumah tangga. Ide tersebut lalu dieksekusi menjadi sebuah aksi secara terintegrasi. Awalnya dana segar didapat dari Yayasan Indonesia Untuk Kemanusiaan (YS IKA) tahun 2014 untuk membeli 10 ekor sapi. KWT kemudian memelihara dan merawatnya dengan serius.  (red)

Posyambing Desa Musuk

MENGEMBANGKAN TERNAK KAMBING BERBASIS KAWASAN, UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELUARGA MELALUI PENINGKATAN JIWA ENTERPRENEUR

Hari kamis 19 Mei 2016, dukuh Tawang Rejo terasa ada yang berbeda, banyak ibu-ibu hilir mudik di rumah Ibu Sri Surani selaku ketua Kelompok Perempuan Rukun Makmur yang berada di dukuh Tawang Rejo RT 03 RW 01 Desa Musuk Boyolali. Halaman yang tidak seperti biasanya, terpasang dengan brak dan kursi-kursi yang tertata rapi, meja-meja yang tertata  dengan makanan-makan khas pedesaan dari umbi-umbian, dengan papan background tertuliskan “DIALOG WARGA”. Ada apa yaaa ????

Sambutan dari bapak Sidiq, Sekcam Musuk.
Sambutan dari bapak Sidiq, Sekcam Musuk.

Pagi itu SPEK-HAM bersama dengan Kelompok Perempuan Rukun Makmur dan Sekar Putri sedang ada kegiatan Launcing Posyambing (Posyandu Kambing) dan dialog warga dengan tema “Peningkatan Peran Perempuan Melalui Peternakan Kambing Berbasis Komunitas Sebagai Upaya untuk Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender”. Tema ini diambil tentunya dengan berbagai alasan; pertama mereka harus melakukan suatu pengembangan kegiatan peternakan dan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama, supaya peternakan kambing menjadi usaha yang memberikan keuntungan bagi masyarakat, maka kesehatan kambing harus diperhatikan. Kedua, desa Musuk merupakan salah satu desa yang memiliki potensi kerentanan terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, dari data yang diterima oleh paralegal desa Musuk, ada 6 kasus KDRT dan KDP. Angka tersebut baru yang terlaporkan, bagai fenomena Gunung Es masih banyak kasus yang tidak terungkap.

Acara pagi itu diawali dengan sambutan dan launching secara resmi kegiatan Posyambing, oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Boyolali, Bapak Bambang Jiyanto yang akan berkomitmen untuk mendukung kegiatan peternakan kambing di desa Musuk dan dengan menerjunkan team medis untuk pengecekan dan pengobatan kesehatan kambing secara berkala 3 bulanan. Selain itu juga akan memfasilitasi jika ada peluang-peluang program baik berupa penguatan skill tentang pemeliharaan kambing maupun stimulan kambing dengan link program yang bisa diakses.

Dokter Hewan Anggoro dari Puskeswan Boyolali memberikan tanggapan pertanyaan hadirin
Dokter Hewan Anggoro dari Puskeswan Boyolali memberikan tanggapan pertanyaan hadirin

Kegiatan dilanjutkan dengan Dialog Warga melibatkan 10 desa yang ada di Kecamatan Musuk, yang terdiri dari Kepala desa, BPD, kelompok tani, klompok tenak dan juga forum anak. Dalam kegiatan dialog ini hadir sebagai narasumber dari  BP3AKB Kabupaten Boyolali yang diwakili oleh  ibu Dinuk Prabandini selaku kepala bidang pemberdayaan anak dan perempuan dan Bapak Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Boyolali. BP3AKB banyak mengupas program-program pemerintah terkait upaya pencegahan dan penanganan kekerasan yang berbasis masyarakat dan upaya penguatan ekonomi perempuan melalui kegiatan ternak kambing dan pertanian ramah lingkungan yang banyak disinggung oleh kepala dinas peternakan dan kesehatan dalam dialog tersebut.

Launching Posyambing ini merupakan  rangkaian promosi yang selalu digaungkan bersama untuk mengemas menjadi paket wisata yang menarik yang menggabungan dari peternakan, pertanian, kuliner dan juga budaya, serta tidak lupa edukasi tentang tema-tema pertanian dan peternakan melalui narasumber yang baik.

Lomba Makanan dari Umbi
Lomba Makanan dari Umbi

Dalam acara tersebut juga diadakan lomba makanan olahan non beras dan non gandum, dimana bahan-bahan utama dari umbi-umbian seperti singkong, ketela rambat, entik, waloh labu, pisang dan lain-lain yang merupakan hasil produk pertanian yang selama ini harganya sangat rendah. Dengan acara lomba ini diharapkan ada kreatifitas yang muncul dari masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil produk pertanian.

Kegiatan ini ternyata menginspirasi dan menarik, begitu yang disampaikan dua kepala desa perempuan dari desa Pager Jurang dan desa Sumur, Ibu Prihatin dan Ibu Iput, begitu panggilan akrab kepala desa yang terkenal tegas dan sigap, serta kepala desa yang juga seorang perias pengantin yang selalu berpenampilan menarik. “Kapan mas acara seperti ini bisa dilakukan di desa kami?” begitu kata-kata yang diucapkan saat acara usai. Melalui kegiatan ini mampu menginspirasi para remaja yang hampir luntur dan hilang rasa kepemilikan terhadap potensi wilayahnya yang sebenarnya menjadi penopang kehidupan mereka, karena jiwa kewirausahaan juga harus mulai ditanamkan kepada para anak-anak dan remaja sejak dini.

Ketika acara ini usai, teringat dengan statement seseorang di media sosial ketika acara ini diunggah di facebook dengan judul yang sangat menarik dan menggelitik, hingga ada satu komentar APA HUBUNGANE KAMBING DENGAN KEKERASAN?” Sebuah pertanyaan yang cukup kritis dan menjadi tantangan tersendiri bagi saya, bagaimana mengemas dialog yang melibatkan 100 peserta ini sehingga antara peternakan kambing dan upaya pencegahan kekerasan bisa saling terkait, dan kedua narasumber menjawab itu semua. (Sunoko – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

17an di Kampung Kambing

17an di Kampung Kambing

“GELIAT PEMANFAATAN POTENSI LOKAL“

(Membangun Desa Mandiri dan Sejahtera Melalui Gerakan Cinta Potensi Lokal)

Suasana menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa sangat terasa. Dua hari sebelumnya dan dua hari setelahnya dapat dipastikan banyak kegiatan yang dilakukan Pemerintah maupun masyarakat Indonesia, dengan tujuan untuk mengenang jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Momentum HUT RI yang ke 70 menjadi sangat berarti dengan gerakan “Ayo Kerja oleh Pemerintah Pusat. Gerakan ini mampu menginspirasi masyarakat yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satunya adalah Kelompok Perempuan Rukun Makmur (KPRM) yang berada di Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali.

Kelompok perempuan yang berada di lereng Gunung Merapi ini melakukan gerakan bersama untuk memanfaatkan potensi lokal pada hari Minggu, 16 Agustus 2015. Gerakan berupa gerakan menanam, ternak kambing, pemanfaatan produk berbahan baku yang bisa ditanaman sendiri. Adapun gerakan tersebut mendukung pencanangan Desa Musuk sebagai Kampung Kambing.

 

Kegiatan ini menjadi pengalaman yang cukup berarti untuk Kelompok Perempuan Rukun Makmur, salah satu kelompok dampingan SPEK-HAM ini. Dalam kegiatan ini mereka tidak hanya bekerja sendiri, berbagai multistakeholder seperti Gapoktan, Harian Solopos sebagai media partner, PKM UNS, STIKES Widya Mulya Klaten terlibat bersama memeriahkan HUT RI bertema 17AN DI KAMPUNG KAMBING.

Kegiatan ini juga mengusung kampanye gerakan makan makanan berbahan baku lokal, seperti: umbi-umbian, buah, jagung melalui lomba karya cipta makanan yang diikuti oleh 19 group.

Acara yang paling menarik pengunjuang adalah adanya Kontes Kambing, Posyandu Kambing dan Sarasehan Kampung Kambing. Ada sekitar 24 kambing mengikuti kontes kambing. Indikator penilaian juri ada 3 yaitu kesehatan (50%), penampilan (30%), dan keunikan yang dimiliki kambing tersebut (20%). Keluar sebagai jawara adalah kambing jenis Etawa berwarna hitam milik Bapak Margono.

Acara ditutup dengan sarasehan untuk merealisasikan Musuk sebagai Kampung Wisata Kambing. Sarasehan melibatkan Pemerintah Desa, 3 KWT, pengurus dan anggota Gapoktan, para calon investor, dan juga BPD Desa Musuk. Sarasehan ini difasilitasi oleh Nila Ayu Puspaningrum, Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK-HAM. Peserta dipandu untuk mendiskusikan tentang bagaimana mengoptimalkan pengelolaan ternak kambing di Desa Musuk, agar Musuk menjadi salah satu desa pemasok kambing di seluruh penjuru Solo Raya.

Banyak masukan dari peserta, seperti dari Gapoktan yang menginginkan gerakan Posyambing ini harus diperluas di seluruh Kadus, bahkan sampai tingkatan Kelurahan. Tokoh masyarakat juga mengharapkan supaya peternak mulai cerdas memilih jenis kambing yang akan dipelihara, kambing yang laku dengan harga jual tinggi. Hal ini akan mendorong geliat peternak di Musuk dalam budidaya kambing. Jika banyak peternak yang cerdas di Musuk, maka impian tentang Musuk menjadi sentral kambing berkualitas bukanlah hanya sebatas impian.

Dukungan juga diberikan oleh HARPI Melati Boyolali. Melalui ketuanya, Ibu Chety Nuraini menyatakan bahwa mereka siap menjadi investor.

Akhir sarasehan ini diperkuat dengan pernyataan dari salah satu Perangkat Desa “Bagaimana dukungan Pemerintah Desa Musuk untuk memujudkan konsep Kampung Kambing ini menjadi nyata dan masuk dalam program pembangunan jangka pendek maupun panjang di Desa Musuk,“ demikian imbuh Bapak Suhadi, Kepala Kadus 1 Desa Musuk.

(Sunoko – CO Divisi Sustainable Livelihood/spekham.org)

“BUKAN BETINA BIASA“

(relasi saling membutuhkan antara ternak dan yang memelihara ternak)

“Aku seekor kambing betina muda. Umurku 14 bulan, warna kulitku coklat keemasan. Aku bahagia karena aku telah melahirkan anak pertamaku dengan kelahiran normal dengan dibantu orang yang memeliharaku selama 6 bulan ini, namanya Ibu Yuli . Sekarang aku bahagia bisa merawat dan menyusui dengan sepenuh kasih. Aku berharap bisa membawa anak lelakiku di Posyambing (Pusat Pelayanan Kesehatan Kambing) Rukun Makmur, Desa Musuk, Boyolali. Aku merasa sempurna sebagai seekor kambing betina seutuhnya…..” Itu sepenggal hayalanku sebagai manusia dimana selama 6 bulan ini merawat kambing milik kelompok Rukun Makmur.

Kedatangan pertama kali

Pertama kali datang ke kandang milik Bu Yuli pada tanggal 29 April 2014 dengan kondisi bunting, kata pedagang yang mengantar (Bapak Sukoyo) tanpa dicek langsung oleh Bu Yuli sebagai penggaduh. “Makannya gampang dan minumnya (ngombor) juga mudah”, tutur Bu Yuli.

Siap ber-reproduksi

Kambing yang menurut penjualnya sudah bunting tersebut ternyata mengalami masa birahi lagi (siap kawin). Aku sempat terkejut karena selang dua minggu setelah dibeli, kambing sering mengembik dan menendang pinggiran kandang dengan tubuhnya. Karena tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang masa birahi kambing, saya menunggu suami saya untuk menceritakan yang terjadi pada kambing tersebut. Sore hari setelah suamiku di rumah, dia memberitahu kalau kambingnya birahi lagi. Beruntung, di kandang sudah ada kambing pejantan yang cukup baik kualitasnya, yang bisa dilihat dari ciri-ciri berikut : perawakan tinggi , kulitnya lentur. Membedakan kualitas kambing yang baik dan kurang baik aku peroleh dari kebiasaan dan menurut pengalaman banyak orang.

Nah, proses mengawinkannya tinggal mendekatkan saja mereka akan bereproduksi sendiri.  Selang sebulan kemudian, tepatnya awal bulan Mei, kambing sudah tidak bertingkah aneh-aneh lagi dan sekarang sikapnya semakin tenang, bulunya halus dan makannya semakin lahap. Menurut suamiku itu pertanda sudah bunting.

Inilah pakan kambing

Aku semakin perhatian dengan kondisi kesehatan kambing betinaku. Pagi, siang, dan sore saya kontrol makanannya. Yang biasanya tidak diberi bekatul, sekarang aku kasih bekatul karena bekatul mengandung banyak zat mineral. Selain itu juga setiap pagi diberi makan bekatul yang dicampur air hangat. Pakan-pakan dari dedaunan segar seperti lamtoro, kaliandra juga aku rajin berikan agar susu yang dihasilkan banyak.

Pada saat bunting 4 bulan, aku melihat semakin besar perutnya. Apakah kira-kira anaknya nanti satu atau dua? Asal jangan tiga, karena menurut teman-temanku di Kelompok, kalau tiga maka akan rumit perawatannya. Hal ini dikarenakan puting susunya hanya dua, sehingga satu anak harus memakai dot jika menyusui. Berdasarkan pengalaman  beberapa orang biasanya anak yang ketiga pertumbuhanya kurang maksimal karena tidak bisa menyusu langsung pada induknya.

Proses melahirkan

Lamanya kambing bunting sekitar 5 bulan. Menurut perkiraan suamiku, kambing akan beranak sekitar bulan akhir Agustus atau awal September. Aku juga berdebar-debar menunggu kelahiran anak kambing yang sudah aku pelihara selama 6 bulan ini. Aku selalu bertanya kepada tetangga maupun suami tentang bagaimana merawat dan menunggui kambing pada saat persalinan, ini pasti tidak mudah bagiku. Untungnya di pertemuan Kelompok Rukun Makmur bulan Agustus, aku dapat bertanya pada warga yang memiliki pemahaman dan ketrampilan memelihara ternak. Menurutnya kita harus tahu tanda-tanda kapan waktu kambing beranak. Tanda-tandanya seperti : Ketika menggembek, suaranya berbeda dari biasanya, terus dia sering tiduran dari pada berdiri, dan ada lender cairan putih di vaginanya.

Tanda-tanda ini sudah kelihatan pada awal bulan September. Suaranya berubah, sering tiduran, dan terakhir ada lendir bening di kemaluannya. Aku berperan layaknya bidan, aku menunggui beberapa menit tapi belum ada tanda–tanda, kemudian aku tinggal memasak dan mengurus anak dan suami, setelah sebelumnya aku jauhkan terlebih dahulu dari kambing-kambing lainnya. Di sekitar tempat beranak aku beri “larahan (daun kering) agar anaknya lahir di tempat yang aman dan bersih serta hangat.

Pada tanggal 2 September, kira kira jam 15.15 WIB, kambing sudah waktunya beranak. Dia terus mengembik lirih, dia berdiri dan duduk sering sekali, dan lendirnya semakin banyak. Pada waktu tepat jam 15.30 WIB, kaki kecilnya sudah kelihatan tetapi belum lahir-lahir. Aku bingung, apakah didiamkan saja atau ditarik? Pengalaman dari warga yang lain, waktu menunggu kelahiran dia menarik kaki anak kambing menggunakan kaos.  Aku lalu menyiapkan air hangat yang diberi garam, serta kaos untuk menarik. Kambing tersebut semakin kuat berkontraksi. Disaat seperti itu aku beranikan diri memegang kaki kambing yang baru kelihatan beberapa sentimeter, dan seiring kambing itu mengembik panjang dan aku menariknya dengan gemetar. Seketika terlihat bayi kambing masih terbungkus lendir putih dari kaki sampai kepalanya. Aku lihat, secara alami induk kambing spontan mendekati anaknya dan menjilati perlahan. Aku membantu membuka cairan di hidung dan matanya agar bisa bernafas. Ajaibnya, tidak kurang dari 3 menit kambing itu belajar berdiri dan mau berjalan, dan luar biasanya lagi anak kambing mencari punting susu ibunya dan perlahan meminum susu untuk pertama kalinya. Aku hanya tertegun melihat pengalaman menakjubkan selama 15 menit tadi. Aku masih menunggu apa akan ada bayi lahir setelah anak pertama? Tetapi sampai 15 menit tidak keluar lagi, berarti hanya ada satu bayi dengan warna coklat kehitaman, berat 2,7 kg dan panjang 45 cm.

Sehari, dua hari, kambing itu semakin tumbuh besar dan sudah bisa berlari-larian dan bermain dengan induk dan juga kambing lainnya. Dari pengalaman ini dapat ditarik kesimpulan bahwa hewan ternak juga perlu diperhatikan. Tidak hanya dieksploitasi untuk mendapatkan laba saja, karena mereka juga makluk hidup. Terbersit dalam benakku untuk memberi nama anak kambing itu dan akan aku bawa dalam Posyambing bulan Oktober nanti untuk ditimbang dan diberi vitamin dan obat cacing, …hememmm kamu memang bukan kambing betina  biasa…

 

****Di tulis oleh Yuliati (Anggota Kelompok Perempuan Rukun Makmur)

edit oleh Noko alee (CO kelompok Perempuan  Rukun Makmur desa Musuk ) dan Nila Ayu (Manager Divisi Sustainable Livelihood SPEK HAM)