Search for:

Pelatihan Riset Partisipatif

Pelatihan Riset 2SPEK-HAM dengan misinya untuk mendorong lahirnya komunitas yang mandiri yang mampu memperjuangkan kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat. SPEK-HAM bergerak bersamaan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang. Seiring dengan hal tersebut, SPEK-HAM merasa perlu memberikan tambahan amunisi kepada para staf untuk bisa lebih berkembang bersama masyarakat.

Desa Pengkol, Kecamatan Musuk, Boyolali. 8 – 10 Februari 2014. SPEK-HAM bersama para staf dan pelaksana harian, belajar bersama dengan Pak Ahmad Mahmudi dari LPTP Surakarta. Belajar tentang “Riset Partisipatif”.

Pembelajaran dibagi menjadi beberapa sesi, setiap harinya. Sesi turun l apangan dan sesi presentasi hasil temuan lapangan serta sesi materi belajar. Materi belajar diberikan dengan cara melihat hasil presentasi temuan lapangan yang kemudian dikritisi bersama untuk diberikan masukan. (nuel/spekham)

Pelatihan Riset 1

Caleg Perempuan Bukan Sekedar Pelengkap Menuju Kursi Kekuasaan

“Peran Perempuan dalam Penentuan Kebijakan yang Berperspektif  Gender“

Keberadaan Caleg perempuan pada bursa Pemilihan Umum April 2014, semakin semarak dan segar karena kenaikan jumlah kuota dari pemilu tahun 2009. Data dari KPU Surakarta, jumlah Caleg perempuan pada pemilu tahun 2009 sebanyak 3.910 orang atau 34,6%,  dan pada bursa Caleg tahun 2014 sebanyak  2.434 orang atau 37,3% dari total Caleg. Bertambahnya jumlah Caleg perempuan ini diharapkan juga diimbangi dengan meningkatnya kualitas Caleg perempuan, sehingga peningkatan kuantitas para Caleg perempuan juga akan berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas para Caleg perempuan di kota Surakarta.

Melihat geliat dan respon para Caleg perempuan di Kota Surakarta. Beberapa Caleg muncul dari komunitas mitra maupun jaringan, maka SPEK-HAM menyelenggarakan  kegiatan sarasehan dengan judul “SARASEHAN KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARLEMEN“ menuju Pemilu tahun 2014. Kegiatan ini dilaksanakan di kantor SPEK-HAM, pada tanggal 20 November 2013, dengan mengundang komunitas perempuan dari Kelurahan Joyosuran, Sriwedari, Kemlayan, Gilingan, Kestalan, serta beberapa mitra LSM di Surakarta. Selain itu, SPEK-HAM juga mengundang perwakilan dari Caleg dan Leg dari beberapa Partai Politik.

Sarasehan ini menghadirkan narasumber dari berbagai unsur, seperti : aktivis perempuan nasional Mira Diarsi, Indriati Suparno, KPU Surakarta, serta pengelola Komunitas Bloger, Blontang. Para narasumber menyampaikan informasi tentang situasi terkini menuju Pemilu 2014. KPU Surakarta yang diwakili Nurul Sutarti menyampaikan bahwa paradigma Pemilu tahun 2014 lebih terbuka , mekanisme kampanye juga lebih bervariasi melalui berbagai media kampanye selain rapat-rapat dan kampanye secara terbuka karena sudah ada aturan proses kampanye sampai pencoblosan dilakukan. Data terakir disampaikan bahwa 54% data pemilih tetap, 30 persennya sudah terpenuhi. Sedangkan bursa kursi yang akan diperebutkan pada penCalegan tahun 2014 sebanyak 45 kursi.

sarasehan 2

Dalam paparannya, Mira Diarsi menyampaikan catatan penting bagi para caleg perempuan Surakarta, Caleg perempuan harus mengingat kultur kewilayahan di mana kearifan lokal perlu menjadi strategi bagi para Caleg, khususnya kultur Jawa yang masih memegang kuat budaya menghargai, menghormati,  ngajeni ( nguwongke ) terhadap konstituenya. Lebih lanjut, tugas para legislatif  terpilih adalah membuat aturan dan kebijakan, bukan membuat program. Berbeda dengan Mira Diarsi, aktifis perempuan dari Surakarta, Indriati Suparno menyentil soal bagaimana para Caleg harus memahami Dapilnya, bagaimana Caleg memiliki kemampuan loby dan bekerja berjaringan, serta membangun strategi yang tepat setelah terlebih dahulu memahami issue dan konstituen di Dapilnya. Blontang yang selama ini dikenal sebagai pengelola Komunitas Bloger juga memberikan startegi, bahwa Caleg harus benar-benar menguasai kontituenya di Dapil masing-masing dengan melibatkan orang lain yang direkrut menjadi relawan untuk melakukan assessment dan belanja masalah, sehingga akan diperoleh kedekatan yang baik dengan para konstituenya. Media sosial tidak akan berpengaruh banyak dibanding dengan pendekatan persuasif secara langsung di masyarakat.

Sarasehan ini membalut berbagai masukan dan juga sudut pandang para peserta dengan para Caleg, sehingga masing-masing akan bisa memberikan hak pilihnya, serta para caleg mampu menyusun strategi pencalonannya menuju kursi parlemen dengan lebih humanis, mengenali issue, dekat dan dicintai konstituenya. SPEK-HAM sebagai lembaga swadaya masyarakat berperan sebagai media dan fasilitator dalam mempertemukan berbagai kebutuhan dan kepentingan publik. (noko alee/spekham)

“Akses Keadilan Untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Berbasis Gender”

 Program Bantuan Hukum

 “Akses Keadilan Untuk Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Berbasis Gender”

Sejak bulan Juli 2013 SPEK-HAM bekerjasama dengan Kementrian Hukum dan HAM, melakukan Program Bantuan Hukum  Gratis bagi masyarakat miskin. Program bertujuan untuk mendekatkan akses bantuan hukum pada perempuan dan anak korban kekerasan  berbasis gender. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan mengadakan serangkaian acara penyuluhan hukum di beberapa wilayah dampingan SPEK-HAM, antara lain di Kelurahan Gilingan, Kelurahan Joyosuran, Kelurahan Kestalan, Kelurahan Sewu. Pelaksanaan penyuluhan hukum yang dilakukan selama ini juga bekerjasama dengan stakeholder serta  komunitas dampingan wilayah setempat. Diharapkan  dengan terselenggaranya kegiatan ini, kekerasan berbasis gender bisa semakin menurun. (spek-ham/fitri hr, email : fitrijunanto@yahoo.com)

Bantuan Hukum Kemenkumham

Penyuluhan Hukum di Kelurahan Gilingan.

Bantuan Hukum Kemenkumham 2

Penyuluhan Hukum di Kelurahan Joyosuran.

Diskusi Kespro pada Kelompok Laki-laki Risiko Tinggi di Kabupaten Boyolali

Diskusi HRMKegiatan diskusi komunitas laki-laki berisiko tinggi di Kabupaten Boyolali dilakukan pada komunitas-komunitas laki-laki yang ada pada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan bergiliran di rumah anggota komunitas tersebut.

Kegiatan dilakukan satu bulan sekali dan setiap pertemuan dilakukan menurut kalender Jawa, contohnya setiap selasa pon atau rabu pahing tiap bulannya. Kegiatan diskusi komunitas diadakan karena melihat semakin banyaknya orang terinfeksi HIV/AIDS di Kabupaten ini. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai HIV\AIDS dan infeksi menular seksual atau IMS di kalangan warga dan komunitas yang sangat mungkin beresiko tertular HIV/AIDS dan IMS, khususnya laki-laki. Terutama laki-laki yang sudah berkeluarga, karena istri dan anak-anak mereka juga berisiko tertular. Oleh karena itu, kegiatan diskusi komunitas High Risk Man (HRM) atau laki-laki beresiko tinggi sangat penting untuk dilakukan.

Untuk dapat melakukan kegiatan ini, para penjangkau mencari tahu komunitas apa saja yang ada pada suatu daerah. Setelah mendapat informasi yang cukup, kemudian kami melakukan pendekatan kepada salah satu anggota atau pengurus komunitas tersebut untuk dapat masuk dan melakukan kegiatan diskusi mengenai HIV/AIDS dan IMS kepada komunitas tersebut pada saat komunitas tersebut melakukan kegiatan pertemuan rutin yang dilakukan tiap bulan. Pada saat acara diskusi komunitas, selain memberikan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS, kami juga menyampaikan layanan kesehatan yang dapat diakses jika ada yang terkena HIV/AIDS dan IMS, sehingga diharapkan tidak ada diskriminasi dan mereka tahu apa yang harus diperbuat jika ada yang terinfeksi HIV/AIDS dan IMS. (spekham/ivan andy)

Pengalaman Kelompok Dampingan SPEK-HAM di Boyolali tentang VCT

VCT

 

 

 

1. Yuni   (Waria)

Saya bangga dan senang sekali karena di Boyolali sudah ada mobil klinik VCT. Ini bukanlah kali pertama saya melakukan tes VCT, saya sudah beberapa kali melakukan tes VCT. Saya melakukan tes VCT ini dengan kesadaran sendiri dan bukan karena paksaan orang lain. Saya menyadari kalau perilaku seksual saya berisiko tinggi, oleh karena itu saya menginginkan adanya tes VCT ini dilakukan secara rutin dalam 3 bulan sekali. Saya juga semakin berhati-hati dalam melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.

2.Roni  (Laki-laki Risiko Tinggi)

Saya senang sekali dengan adanya VCT, karena saya bisa mengetahui status kesehatan saya. Saya merasa perilaku seksual saya masih tergolong risiko tinggi, dan dengan adanya tes ini saya bisa merubah perilaku saya. Hasil dapat dilihat dari REAKTIF atau NON REAKTIF dari tes yang dilakukan. Untuk itu saya juga berterima kasih kepada teman saya yang memberikan informasi  dan dukungan agar saya lebih  mengerti apa tujuan VCT ini. Terima kasih  pada teman-teman semunya.

Sosialisasi HIV AIDS di Kabupaten Salatiga

Salatiga, Jawa Tengah.

Pertemuan kempok Laki-laki beresiko

klub VespaUntuk memutus mata rantai penularan HIV AIDS yang semakin hari semakin meningkat angka penambahan kasusnya maka Tim dari Grahamitra di bawah koordinasi SSR SPEK-HAM, melakukan kegiatan diskusi komunitas kelompok lelaki beresiko. Kegiatan tersebut dilakukan pada bulan Mei 2013. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk diskusi untuk memberikan Debt colectorinformasi tentang  HIV AIDS, dilakukan melalui kelompok-kelompok seperti pemuda karang taruna, klub motor, pecinta Jeep, klub Vespa dan kelompok debt collector. Didalam kegiatan ini selain berbagi informasi seputar HIV dan AIDS juga berbagi informasi terkait permasalahan yang ada di komunitas. Penjangkauan dan pendampingan pada komunitas-komunitas beresiko juga dilakukan, sebagai bentuk usaha perubahan perilaku pada populasi kunci HRM.

Diskusi IDU (Pengguna Narkoba Suntik)      

Diskusi IDU dilakukan secara roadshow, karena karakterisktik komunitas yang berkelompok dan seringkali ada beberapa kelompok yang tidak bisa dipertemukan karena ada masalah personal sehingga kegiatan diskusi harus dilakukan secara berpindah. Materi yang disampaikan lebih kepada pengetahuan tentang program HR dan IMS.

Diskusi dan Pendampingan Pedila (Perempuan yang Dilacurkan)

Pada kelompok ini disampaikan informasi seputar HIV, IMS serta tambahan ketrampilan berupa membuat aksesoris sebagai bentuk kegiatan pemberdayaan dan sumber pendapatan alternative. Kegiatan pendampingan dilakukan pada semua populasi kunci tidak terkecuali kepada Pedila, bentuk edukasi dari tempat kost satu ke tempat kost yang lain merupakan strategi untuk mensiasati kendala mengganggu jam kerja dari kelompok dampingan. (spek-ham/graha mitra)

Karnaval Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Boyolali

Karnaval HAS 2

SPEK-HAM bersama dengan PEPARI mengadakan karnaval untuk memperingati Hari AIDS Sedunia yang diadakan di Jalan protokol kota Boyolali tepatnya di Bundaran Tugu Pasar Kota Boyolali, serta di sekitar Taman Kridanggo yang dimulai dari pukul 06.00 – 07.30 WIB. Kegiatan diadakan pada tanggal 1 Desember 2013 yang telah ditetapkan sebagai Hari AIDS Sedunia .

Karnaval HAS 1

Kegiatan juga diikuti oleh masyarakat umum Boyolali karena juga bertepatan dengan car free day, selain itu juga terdapat teman-teman kelompok dampingan yang juga ikut menyebarkan KIE (leaflet informasi) yang berisi tentang apa itu HIV AIDS, bagaimana cara menularnya, serta bagaimana cara untuk mencegahnya. Selain itu PMI Kota Boyolali juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut untuk mendukung pencegahan HIV AIDS khususnya di Kota Boyolali.

Kegiatan tersebut pada khususnya bertujuan untuk membuka wawasan yang lebih pada masyarakat secara luas tentang bahaya penyakit AIDS. Bahwasanya penyakit tersebut juga dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali, apabila melakukan perilaku yang menyimpang, diantaranya yaitu sex bebas, penggunaan narkoba suntik secara bergantian, penggunaan jarum tattoo yang tidak steril dan lain-lain. Agar masyarakat Boyolali secara khusus dapat terhindar dari bahaya penyakit HIV AIDS, setelah mengikuti kegiatan, masyarakatdiharapkan menjadi lebih peduli akan kesehatan orang-orang terdekatnya.  (Agung Sri Kuncoro)

Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Boyolali

HAS 1Minggu, 1 Desember 2013. Dalam rangka memperingati dan Hari AIDS Sedunia (HAS), SPEK-HAM bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali menyelenggarakan kegiatan seminar dengan tema  “Pencegahan HIV & AIDS di Lingkungan Kerja, Meningkatkan Kinerja Dunia Usaha, Masyarakat, dan Pemerintah serta Melindungi Kesehatan Keluarga Menuju Kesejahteraan Bangsa”.  Seminar ini dilaksanakan di Taman Sono Kridanggo dan diikuti berbagai  elemen masyarakat yang konsen terhadap isu HIV/AIDS, diantaranya seluruh Kelompok Kerja yang tergabung menjadi mitra KPAK Boyolali, perwakilan dari perusahaan-perusahaan yang berada di Boyolali,  Kelompok Dampingan Sebaya (KDS), Komunitas Sehati Boyolali (KSB), dan perwakilan dari siswa-siswa sekolah menengah atas (SMA/SMK) di Boyolali.

Selain narasumber dari SPEK-HAM yang menjelaskan kondisi dan situasi penyebaran HIV/AIDS di Boyolali, Seminar ini menghadirkan narasumber dari KPA, Komisi IV DPRD, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinsosnakertrans, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali. Masing-masing narasumber menjelaskan tentang tugas, peran, dan fungsi, serta komitmen lembaganya dalam usaha penanggulangan dan pencegahan penularan HIV dan AIDS di Boyolali.?Seminar ini bertujuan menyebarluaskan informasi mengenai HIV/AIDS di masyarakat Boyolali khususnya di lingkungan kerja, sehingga masyarakat menjadi paham dan peka terhadap  HIV/AIDS. Dengan demikian diharapkan secara bertahap penyebaran virus HIV/AIDS di Boyolali dapat berkurang dari tahun ke tahun. (spek-ham)