Search for:

JUMINI : POTRET PEREMPUAN MERAWAT ALAM MELALUI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA CLUNTANG BOYOLALI

Jumini sedang menanam bawang merah bersama suami

Jumini merupakan seorang perempuan yang berprofesi sebagai petani bawang merah di Dusun Tutup, Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Yang menjadi pembeda dengan petani-petani pada umumnya, dia menanam tanaman bawang merah tersebut tanpa menggunakan pupuk kimia. Beliau hanya menggunakan pupuk kompos dari bahan alami.

Ibu Jumini mulai menanam tanaman bawang merah tanpa bahan kimia dari tahun 2019, sejak adanya program dan pendampingan dari Yayasan SPEK-HAM dan BAZNAS yang masuk ke komunitas mereka. Terhitung sudah dua kali panen bawang merah tanpa menggunakan bahan kimia hingga saat ini. Dari yang awalnya hanya coba-coba dan untuk perbandingan dengan cara tanam lamanya yang masih menggunakan pupuk kimia.

Menurut penuturan beliau, hasil panen bawang merah yang didapat dengan menggunakan pupuk berbahan dasar organik non kimia lebih unggul kualitasnya jika dibandingkan dengan hasil panen dengan menggunakan pupuk kimia.  “Kalau yang pakai ZA (kimia) itu hasilnya satu banding 3,yang non kimia ya sama. Tapi kualitasnya berbeda. Bedanya yang pakai no kimia lebih tahan lama. Umbinya lebih keras” tutur Ibu Jumini

Selain kualitas yang dihasilkan lebih unggul, biaya yang dikeluarkan untuk pupuk dan obat dengan menggunakan pupuk organik non kimia lebih hemat jika dibanding dengan menggunakan pupuk dan obat kimia. “ya lebih irit mbak, tidak perlu beli. Tinggal nyari bahan-bahan di kebun banyak, tambah Jumini

Bahan-bahan yang digunakan untuk pupuk dan obat dalam penanaman non kimia memang diambil dari bahan alami. Dan banyak ditemukan disekitar pemukiman. Bahan tersebut diantaranya adalah, rebung (bambu muda), alang-alang, akar bambu, puteri malu, toge, jantung pisang dan masih banyak lagi.

Bu Jumini mulai mengenal pertanian tanpa menggunakan bahan kimia dari pelatihan-pelathan yang dilakukan oleh yayasan SPEK-HAM. Pelatihan tersebut mendatangkan narasumber yang sudah berhasil mengembangkan pertanian bawang merah organik. Dari itu, Bu Jumini langsung termotivasi dan tertarik untuk menerapkan apa yang dapat dari pelatihan ke dalam pertanian yang sedang dijalankan.

Hasil panen bawang merah

Menurut Ibu Jumini, tidak ada kesulitan tersendiri dalam penanaman bawang merah dengan menggunakan pupuk organik non kimia. Hanya membutuhkan kesabaran dan juga waktu lebih dalam pengolahan pupuk yang memang berbeda dengan pupuk kimia di pasaran yang bisa langsung digunakan.

Sebetulnya, harga dipasaran untuk bawang merah organik tanpa pupuk kimia sama dengan bawang merah pada umumnya. Karena pasar hanya melihat besar kecilnya ukuran bawang merah. Namun, ada kepuasan tersendiri untuk petani bawang merah tanpa pupuk kimia karena kualitas yang dihasilkan lebih unggul, bawang merah yang dihasilkan lebih keras dan tahan lama, pohon bawang yang tumbuh lebih kuat dengan cuaca, dan juga lebih hemat dalam pembiayaan pupuk dan obat.

Tugas Ibu Jumini di dalam pertanian adalah sebagai mitra dari suami tidak ada ketimpangan dalam pembagian tugas diantara kedua pihak. Semua mengambil peran yang besar didalam kegiatan pertanian yang dihasikan. Mulai dari penentuan jenis tanaman yang akan ditanam, penentuan jenis obat dan pupuk, sampai dengan penentuan pemasaran yang semua diputuskan bersama. (Mira- mahasiswa magang UNS)

Sebagian Pemerintah Desa Belum Paham Kesehatan Reproduksi

Berswafoto bersama Kader Kesehatan “Permata” Kecamatan Juwiring.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Diskusi bersama Kader Kesehatan “Permata” se-Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada rabu, 12/2 di Sanggar Kespro “Permata” Desa Tanjung. Hadir dalam kegiatan ini kader kesehatan perempuan perwakilan 19 desa yang ada di Kecamatan Juwiring.

Disampaikan mayoritas kader kesehatan yang hadir, bahwa saat ini pemerintah desa belum paham tentang informasi Kesehatan Reproduksi (Kespro). Sutiyem Kader dari Desa Serenan menyampaikan bahwa pemerintah desa belum mengerti dan paham tentang apa itu Kesehatan Reproduksi. “Setahu saya ya belum paham (Kespro), makanya sampai dengan saat ini belum menjadi prioritas penganggaran,” ungkap Sutiyem.

Diskusi Kader Kesehatan “Permata” Kecamatan Juwiring.

Feri Ariningsih salah seorang Kader Kesehatan dari Desa Trasan mengatakan bahwa Pemerintah Desa saat ini masih berorientasi pada pembangunan fisik atau infrastruktur dan belum menganggap bahwa Kesehatan Reproduksi menjadi kebutuhan. “Persoalannya adalah pemerintah desa tidak peduli, tidak ngerti apa itu kesehatan reproduksi. Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes), pemerintah desa banyak menganggarkan untuk pembangunan fisik daripada pembangunan manusia,“ jelas Feri.

Sementara itu hal lain disampaikan oleh Rini Dwi Lestari Kader Kesehatan dari Desa Pundungan, menurutnya Pemerintah Desa Pundungan sudah memberikan dukungan dalam program Kespro, yaitu berupa anggaran. “Pada saat pembahasan anggaran, saya masukkan kegiatan tentang Kespro, kebetulan saya kan ketua PKK,” ungkap Rini.

Dia menambahkan Kepala Desa juga telah memberikan dukungan, salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang Stunting, Kesehatan Reproduksi dan perlindungan anak pada kelompok laki-laki atau suami. Harapannya agar laki-laki atau suami memiliki keberpihakan pada perempuan dan anak. Henrico Fajar dari SPEK-HAM yang hadir dalam kegiatan ini, menyampaikan pentingnya melakukan lobi dan advokasi kepada pihak-pihak terkait agar muncul keberpihakan pada isu Kesehatan Reproduksi. “Lobi-lobi harus dilakukan kepada pihak-pihak potensial yang bisa diajak untuk mendukung program atau kegiatan ini dan tidak harus formal, lobi bisa dilakukan di dimanapun dan kapapun,” ungkap Fajar. Pihak-pihak potensial yang dimaksud adalah Kepala Desa, Perangkat Desa, Ketua PKK, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Karangtaruna dsbnya. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM

Pemdes Tlogorandu Dukung Program Kespro

Suasana koordinasi SPEK-HAM bersama Perangkat Desa, Bidan Desa dan Kader Kesehatan

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan koordinasi SPEK-HAM bersama dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten pada kamis, 6/2 bertempat di Balai Desa Tlogorandu. Hadir pula dalam kegiatan ini Bidan Desa dan Kader Kesehatan.

Disampaikan Joko Supriyadi selaku Sekretaris Desa, pihaknya berkomitmen mendukung sepenuhnya program Kesehatan Reproduksi (Kespro). “Kami mewakili Pemerintah Desa mendukung penuh apa yang menjadi program ini (Kespro), inikan hal yang mendasar bagi kita semua,” ungkap Joko. Dia menambahkan apalagi program ini ke depan akan menyasar pada kelompok suami atau bapak-bapak, maka harapannya suami atau laki-laki bisa lebih peduli pada kesehatan perempuan.

Sebelumnya Henrico Fajar dari SPEK-HAM menjelaskan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di Desa Tlogorandu. Kegiatan akan menyasar pada kelompok suami atau laki-laki, selain itu juga menyasar pada kelompok remaja. Dijelaskan Fajar bahwa program Kespro bertujuan untuk menekan kasus angka kematian ibu, kehamilan tidak dikehendaki, kasus kehamilan remaja, keguguran, dispensasi pernikahan, dsb.

Diskusi di Tlogorandu dalam Program Kespro

 “Angka Kematian Ibu di Klaten pada tahun 2017 yang mencapai 18 Kasus dan merupakan peringkat ke 7 di Jawa Tengah. Kehamilan pada remaja di tahun 2016 mencapai 125 kasus, tahun 2017 naik menjadi 295 kasus dan tahun 2018 sampai bulan September mencapai 158 kasus, jelas ini butuh perhatian banyak pihak,” ungkap Fajar.

Sebagai informasi pada tahun 2018 SPEK-HAM bersama dengan Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Bayat dan Klaten Tengah. 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Salah satu fokus kegiatannya adalah layanan Asuhan Paska Keguguran (APK). Mustika Ayu, Novenda/Magang, Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM.

Karang Taruna Desa Blumbang Gelar Diskusi Sex Education

Suasana diskusi Sex Education di Balai Desa Blumbang

Karang Taruna Desa Blumbang menggelar diskusi dengan tema Sex Education pada Sabtu malam, 1/2 di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Kegiatan dihadiri 45 orang anggota Karang Taruna, mereka nampak antusias mengikuti kegiatan ini.

Henrico Fajar dari SPEK-HAM menjadi Narasumber dalam diskusi ini menyampaikan pentingnya Pendidikan Seksualitas sejak usia dini. Ia menyampaikan bila remaja mengetahui dan memahami informasi tentang seksualitas secara benar, maka harapanya bisa menekan angka kasus kekerasan seksual, kehamilan pada remaja, kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan pernikahan anak.

“Berhenti menganggap Pendidikan Seksualitas sebagai hal yang tabu, Seksualitas adalah ilmu pengetahuan yang wajib dipahami semua orang tanpa terkecuali”, ungkap Fajar. Dia menambahkan bila semua orang paham tentang seksualitas maka laki-laki dan perempuan akan saling menghormati dan menghargai serta tidak coba-coba melakukan hubungan seksualitas sebelum menikah.

Beberapa orang peserta menyampaikan pengalaman pertama kali saat menstruasi dan mimpi basah. Gita Lestari misalnya, merasa terkejut dan kaget saat mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. ”Jujur saya kaget dan terkejut waktu itu, saya pusing, lemas dan rasanya pengen marah-marah saja”, ungkap Gita. Dia mengaku lebih nyaman bercerita dengan ibu saat mengalami menstruasi pertama pada saat itu.

Sementara itu Kresno Pambudi mengaku senang saat mengalami mimpi basah pertama kali. “Rasanya senang dan bangga pada diri sendiri serta merasa lega karena sudah menginjak masa remaja”, terang Kresno. Peristiwa mimpi basah untuk pertama kali ini menjadi ngobrolan bersama dengan teman-teman sebayanya waktu itu.

Menanggapi hal itu Fajar menyampaikan menstruasi dan mimpi basah adalah hal yang wajar yang dialami banyak remaja dan merupakan salah satu tanda orang memasuki masa pubertas. Perempuan sudah menstruasi berarti berpotensi besar untuk dibuahi atau hamil, sementara laki-laki yang sudah mimpi basah berarti dia berpotensi besar bisa membuahi atau menghamili.

Berwafoto bersama peserta diskusi Seks Education

Oleh karena itu penting untuk memahami masa pubertas, salah satunya dengan membangun  relasi yang dinamis dan seimbang dengan lawan jenis (laki-laki dan perempuan) yang sesuai dengan batasan-batasan atau norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Tentu saja norma-norma itu yang tidak membelenggu salah satu pihak, baik laki-laki maupun perempuan.   Sebagai informasi kegiatan Diskusi Sex Education ini terselenggara atas kerjasama SPEK-HAM, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Salatiga, Pemerintah Desa dan Karang Taruna Desa Blumbang. Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM

Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang Boyolali

Penyerahan Bantuan Modal Pra Koperasi Syariah oleh Ketua BAZNAS Boyolali kepada Ketua Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula Desa Cluntang/foto : Chika

Selama dua hari, SPEK-HAM bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyelenggarakan kegiatan dalam program Zakat Community Development (ZCD) yang bertajuk Penguatan Pengurus Pra Koperasi Syariah Miftahul Uula bertempat di Dukuh Cluntang, Boyolali. Pelatihan yang diselenggarakan di rumah Bapak Qofar, ketua Pra Koperasi Miftahul Uula, tersebut dihadiri oleh pengurus pra koperasi, beberapa anggota SPEK-HAM, Baznas, dan warga Cluntang. Acara diisi oleh Jamal Yazid, Dewan Pengawas Syariah bersertifikasi di Kabupaten Boyolali.

Pra Koperasi Simpan Pinjam Syariah didirikan dengan prinsip-prinsip yang meringankan, dan tolong-menolong. Pra Koperasi Syariah menjawab kebutuhan adanya lembaga keuangan yang membantu kesejahteraan masyarakat dengan prinsip-prinsip syariah.  

Pada hari Selasa (28/1) disampaikan materi tentang pengenalan konsep pra koperasi syariah kepada para peserta. Menurut penjelasan Jamal Yazid yang akrab dipanggil Pak Jamal, salah satu kegiatan usaha yang bisa dilakukan oleh sebuah KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) adalah dalam bentuk simpanan dengan dua jenis imbalan yaitu tabungan atau wadiah (titipan) dan simpanan berjangka atau mudharabah (bagi hasil). Jenis usaha yang sering dilakukan adalah Murabahah (jual beli) dan Ijarah (jasa).

Selain pendalaman tentang konsep dan produk KSPP, dalam pelatihan ini para pengurus pra koperasi juga belajar tentang praktik tata cara pembukuan pra koperasi syariah. Materi disampaikan oleh Sri Sumarti dari Koperasi Mitra Sejahtera. Pra Koperasi yang berjalan mulai Oktober 2019 yang lalu saat ini sudah beranggotakan 50 orang. Dalam kegiatan tersebut, juga diserahkan bantuan modal pra koperasi sebesar 50 juta bagi 50 anggota yang masuk dalam kelompok masyarakat miskin. Bantuan diberikan secara simbolis dari Baznas ke pihak Pra Koperasi disaksikan oleh peserta pelatihan, Direktu Yayasan SPEK-HAM Rayahu Purwa dan Kepala Desa Cluntang Suryati yang saat itu menyempatkan diri untuk hadir. (Chika)

Pemerintah Desa Blumbang Gelar Musrenbangdes

Widayanto, Kepala Desa Blumbang menyampaikan sambutan dalam kegiatan Musrengbandes

Pemerintah Desa Blumbang Menggelar kegiatan Musrenbangdes pada Jumat, 24/1 di Balai Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Hadir dalam kegiatan ini Camat beserta Muspika Kecamatan Klego, Kepala Desa beserta perangkat, BPD, para RT dan RW, anggota PKK, kader kesehatan, tokoh agama dan tokoh masyarakat, pendamping desa dan sejumlah elemen masyarakat lainnya.

Partisipasi Perempuan dalam Musrengbandes Blumbang

Kepala Desa Blumbang Widayanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa Musrenbangdes tahun ini akan menghasilkan usulan atau program kegiatan di tahun 2021 yang terdiri atas rencana kegiatan bidang sosial budaya (kemiskinan, kesehatan, pendidikan, kepemudaan, lingkungan hidup), ekonomi (industri, home industri, UMKM, pertanian) dan infrastruktur (pengelolaan sampah, pengelolaan air bersih, pembangunan jalan, jembatan, dsb).

“Kegiatan ini akan merumuskan dan menetapkan pembangunan desa, menentukan prioritas kegiatan yang akan diajukan ke Musrenbang Kecamatan. Semua warga bisa memberikan usulan terkait dengan program pembangunan desa di tahun 2021 yang sesuai dengan kebutuhan desa”, jelas Widayanto.

Dia menambahkan Musrenbangdes merupakan forum musyawarah desa yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Selain merumuskan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan, Musrenbangdes ini juga akan menentukan tim delegasi di tingkat Kecamatan.

Drs. Sudarmadi, MM Selaku Camat Klego menyampaikan musrenbanges ini bertujuan untuk menyusun rencana prioritas pembangunan desa, misalnya pemberdayaan terutama di bidang ekonomi. Pemberdayaan menurutnya sangat berguna untuk meningkatkan pendapatan dalam rangka menyejahterakan masyarakat.

“Jadi saya berharap agar pembangunan itu tidak hanya infrastruktur saja, tetapi juga pemberdayaan itu juga penting bagi masyarakat agar kesejahteraan warga bisa tercapai dengan maksimal”, terang Sudarmadi. Sementara itu Fikri salah seorang kader kesehatan akan mengusulkan kegiatan pelatihan kesehatan reproduksi perempuan dan remaja. ”Nanti di sesi diskusi per bidang pembangunan saya mengusulkan kegiatan untuk perempuan, yaitu pelatihan kesehatan reproduksi untuk perempuan dan remaja”, ungkap Fikri. Menurutnya kegiatan ini penting dilakukan karena masih banyak perempuan yang belum paham tentang kesehatan reproduksi. Mustika Ayu, Novenda/magang, Henrico Fajar K.W/Divisi Kesmas SPEK-HAM