Search for:

PEREMPUAN PEDESAAN BERGERAK MENYIKAPI DAMPAK COVID-19

Virus corona yang sejak bulan Maret 2020 menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Di awal – awal muncul pemberitaan di media tidaklah menjadi topic yang menarik untuk di bicarakan, hanya sekilas-kita lihat berita di televisi atau media social. Di desa-desa khususnya di Kecamatan Musuk orang-orang lebih tertarik berbicara tentang harga bunga mawar, penanaman tembakau, dan ternak di banding ngobrol tentang Covid-19 ini.

Dari data nasional, provinsi dan juga kabupaten/ kota yang di muat di media tv yang awalnya hanya memberitakan 2 sampai 5 kasus yang di temukan. Semakin lama data yang meninggal karena Covid19 semakin gencar diberitakan, kasus sudah mencapai ribuan hingga akhirnya tembus ke angka 14.000. Pemerintah desa mulai mengambil sikap untuk mencegah, minimal melakukan koordinasi dengan bidan desa, puskesmas tingkat kecamatan untuk meng-update data dan juga informasi pada masyarakat untuk melakukan PHBS demi mencegah penularan virus Corona.

Ternyata Pandemic Covid19 tidak hanya berbicara tentang kesehatan. Dampak dari pandemic ini sangat luas, terutama di sector ekonomi. Hal ini sangat dirasakan oleh perempuan di Desa Cluntang Kecamatan Musuk Boyolali. Biasnaya pada bulan ruwah adalah berkah bagi petani mawar di Desa Cluntang. Masyarakat yang selama ini mengandalkan bunga mawar menjadi primadona menjelang bulan ruwah, harus menelan pahit dengan adanya pembatasan sosial dan larangan berkegiatan ritual, keagamaan dll. Pada tahun-tahun sebelumnya saat bulan ruwah bunga mawar bisa laku sampai Rp. 200.000 per rinjing. Namun setelah ada Covid19 ini, bunga mawar hanya laku Rp. 10.000 per rinjing.

Hasil pertanian seperti sayuran juga tidak bisa keluar bebas karena ada pembatasan para orang luar masuk wilayah Desa Musuk dan Desa Cluntang termasuk para tengkulak. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya perempuan di Musuk dan Cluntang. Bahkan angsuran pra koperasi simpan pinjam kelompok perempuan tidak ada yang mengangsur, karena tidak adanya pendapatan yang masuk. Saya mencoba melakukan diskusi dengan ibu-ibu baik di kelompok Putri Mawar Desa Cluntang, Rukun Makmur Desa Musuk, kelompok Sekar Putri Desa Musuk juga komunitas peduli TPPO Kecamatan Musuk untuk menyikapi situasi ini, apa yang bisa dilakukan? Solusi yang bisa dilakukan oleh perempuan adalah membuat produksi aneka makanan dari bahan-bahan lokal seperti aneka lauk, kue kering, es cream, minuman tradisional, termasuk hasil pertanian bawang merah dll. Pemasaran dibantu oleh pendamping dari SPEK-HAM secara langsung maupun secara online lewat media social.

Tidak disangka ternyata hasilnya cukup membuat para perempuan di komunitas bersemangat. Setiap dua atau tiga hari sekali pada datang kerumah saya untuk berdiskusi, setor produk, ambil uang dan juga menciptakan produk baru. Peluang-peluang seperti ini yang harusnya di respon cepat oleh perempuan, karena mereka yang lebih paham kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Situasi pandemic yang kita belum tahu kapan akan berakhir, harus di sikapi dengan bijaksana, segala upaya dilakukan, tetapi persoalan ekonomi keluarga harus menjadi focus. Setiap individu di kelompok saling mensuport, program-program pra koperasi menjadi solusi saat sulit seperti ini sehingga kita bisa lewati bersama dengan baik. (Noko/NL)

JAMUR TIRAM SUMBER PENDAPATAN PEMUDA WLAHAR BREBES

Budidaya Jamur Tiram

SPEK-HAM dengan dukungan Kedutaan New Zeland dan Baperlitbangda Kabupaten Brebes, mendampingi Kelompok Petani Jamur di Dusun Karangsari dan Kedungabad Desa Wlahar Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Ada sekitar 10 orang petani muda yang terjun dalam pengelolaan jamur tiram sejak Januari 2020 lalu. Budidaya jamur tiram ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Brebes, salah satunya dengan mengurangi angka pengangguran pada kelompok pemuda. Program ini sinergi dengan upaya Pemerintah Kabupaten Brebes dalam mengurangi angka kemiskinan di Brebes yang masih 17,17 % pada akhir tahun 2019 (https://jateng.tribunnews.com/2019/11/21/dari-34-desa-miskin-di-brebes-10-di-antaranya-kategori-sangat-miskin).

Sudah kali kedua periode budidaya jamur tiram sejak awal dibentuknya kelompok. Pada Sabtu (02/5/2020) yang lalu, kelompok petani jamur Dusun Karangsari Desa Wlahar Kecamatan Larangan melakukan pembibitan jamur. Adapun proses pembibitan jamur dimulai dengan tahapan : (1) menyiapkan kancing baglog (pipa paralon), (2) menyiapkan kertas koran, (3) menyiapkan kawat sepeda, (4) menyiapkan alcohol, (5) menyiapkan karet gelang, (7) menyiapkan lilin.

Menurut Kustanto, salah satu anggota kelompok petani jamur Dusun Karangsari, sekarang jadi punya pengalaman budidaya jamur. “Panen kemarin sebagian dikonsumsi sendiri, sebagian dijual. Hasil penjualan dikumpulkan untuk membeli baglog jamur yang lebih banyak”, tambah Kustono.

Awalnya hanya 500 baglog jamur, dari jumlah tersebut petani sudah mampu memanen sekitar 2-3 kg setiap hari dengan harga jual 20.000/kg. Pemasaran jamur langsung ke konsumen dan produsen olahan makanan dari jamur. Permintaan jamur setiap minggu adalah 30 kg, sedangkan kapasitas produksi tiap kelompok rata-rata 2-3 kg setiap hari. Untuk mencukupi kebutuhan pasar, pada tahap kedua ini tiap kelompok mengelola 2000 baglog jamur tiram.

Jamur dipilih karena mudah tumbuh dan setiap hari panen. Dengan omset Rp. 40.000 – 60.000 tiap hari, diharapkan menjadi sumber pendapatan dan mampu meningkatkan pendapatan para pemuda desa. Dukungan dan sinergi dari pemerintah Kabupaten Brebes diharapkan untuk keberlanjutan program ini, sehingga angka kemiskinan di Kabupaten Brebes bisa menurun. (Nila)

MANFAAT PEREMPUAN IKUT MENABUNG DI PRA KOPRASI SRIKANDI

Ibu Dita
Anggota Pra Koperasi Srikandi

Di dalam situasi pandemic Covid19 yang meresahkan saat ini, kita belum tahu sampai kapan selesainya. Namun harapan dan optimisme selalu ada. Seorang anggota kelompok perempuan Srikandi Kelurahan Gilingan Kota Surakarta merasa beruntung, dia Dita Apriliana ibu muda umur 25 tahun, menyampaikan senang dengan ikut bergabung dalam Kelompok Perempuan Srikandi di RW 05 Kelurahan Gilingan-Surakarta, banyak manfaat yang didapatkan.

Salah satunya dengan mengikuti Pra Koperasi Simpan Pinjam. Dengan menjadi anggota pra koperasi, sedikit demi sedikit dapat menyisihkan tabungan sukarela yang dibagi setiap menjelang Lebaran. Saat ditanya oleh pendamping, Dita mendapat tabungan sukarela yang yang paling banyak diantara anggota yang lain, sebesar Rp 1.111.000, – (Satu juta seratus sebelas ribu rupiah). Uang tersebut sangat bermanfaat untuk tambahan biaya hidup saat masa pandemic Covid19, membayar pendaftarkan anak saya masuk ke TK. “Saya merasa senang dan akan saya tingkatkan lagi tabunganya karena anak sudah mulai masuk sekolah, jadi untuk persiapan biaya anak sekolah,” ucap Dita.

Awal terjun dalam kegiatan Kelompok Perempuan Srikandi Gilingan, karena sering melihat perempuan-perempuan di lingkungan RW 5 mengadakan pertemuan setiap bulan di gedung warga. Mereka menyebutnya pertemuan SPEK-HAM, karena di damping oleh SPEK-HAM. ternyata banyak sekali kegiatannya. Ada Bank Sampah, pembuatan karak non-borax, maupun Pra Koperasi. “Yang saya sangat tertarik pada kegiatan Bank Sampah, disitu ada pemilahan dan penimbangan sampah, ini berarti sudah mengacu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam lingkungan. Disitulah saya ikut bergabung, setiap tanggal, 28 mengadakan penimbangan dan terus terjual, “penjelasan Dita lebih lanjut. 

Dita juga menegaskan bahwa Pra Koprasi/ simpan pinjam yang ditangani oleh ibu – ibu, ada pembukuan yang tertib dibuat setiap bulan. Pengurus selalu transparan dalam menyampaikan laporan keuangan secara terinci, dari simpanan pokok, simpanan wajib maupun  tabungan sukarela. Kegiatan kelompok perempuan yang didampingi oleh SPEK-HAM bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, serta kemandirian perempuan dalam mengakses sumber-sumber ekonomi. Terutama bagi perempuan rentan dan perempuan miskin wilayah perkotaan. Sehingga perempuan mampu survive menghadapi berbagai kondisi, termasuk saat pandemic Covid-19 saat ini.

Dalam  tabungan suka rela ini tidak dibatasi dan disepakati bahwa untuk pembagian tabungan Sukarela ini dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri maupun menjelang masuknya anak sekolah. Karena Hari Raya tahun ini jatuh pada bulan Mei 2020. (Pakde/NL)

Remaja Juwiring Gelar Diskusi Kespro Via Zoom

flyer diskusi online Kespro Remaja

Sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi remaja, SPEK-HAM bersama dengan Yayasan IPAS dan Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten menyelenggarakan diskusi on line menggunakan media zoom pada Selasa 5/5. Diskusi yang diikuti oleh 20 orang peserta remaja dari Juwiring ini, mengangkat tema: Ada Apa Dengan Kespro Remaja? Dan menghadirkan narasumber secara virtual Siti Katrimah, Amd. Keb dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.

Dalam paparannya Siti Katrimah menyampaikan pentingnya memahami Kesehatan Reproduksi Remaja secara benar, salah satunya dengan memperhatikan tahapan masa pubertas. Ada perubahan kerja hormon, perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan serta perubahan psikologis yang harus dipahami setiap remaja.

“Mestinya remaja harus paham ya, kalau perempuan ditandai dengan menstruasi, sementara laki-laki mimpi basah dan bila ada keluhan organ reproduksi atau siklus menstruasi yang tidak normal harus periksa ke dokter,” ungkap Katrimah. Dia mengajak kepada remaja untuk tidak menganggap tabu saat mendiskusikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas, dengan demikian informasi bisa disampaikan secara utuh dan benar.

Diskusi yang dipandu oleh Fitri Haryani dari SPEK-HAM ini, mengajak peserta untuk berani berbagi informasi maupun menyampaikan pertanyaan kepada narasumber. Salah seorang peserta Tari Sekar menyampaikan, tentang penggunaan sabun khusus untuk organ reproduksi perempuan setiap hari. Peserta lain Chelsea Ardya Prameswari menyampaikan memimum jamu kunyit asam saat menstruasi.

Diskusi online via Zoom Meeting

Menanggapi hal tersebut, Katrimah menyampaikan pada saat menstruasi boleh menggunakan sabun untuk membersihkan sisa kotoran seperti lendir, tetapi tidak boleh terlalu sering. Menurutnya bila terlalu sering justru akan membunuh bakteri-bakteri baik yang ada vagina, sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan. Beberapa manfaat meminum jamu kunyit asam menurut, antara lain untuk memperkuat daya tahan tubuh, mengatasi rasa nyeri pada perut dan memperlancar siklus haid.

Lebih lanjut Katrimah menegaskan agar remaja mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang serta menerapkan gaya hidup yang sehat dengan olahraga. Selain itu agar organ reproduksi perempuan tidak mengalamj persoalan, mereka harus menjaga kebersihan organ reproduksi dengan melakukan cebok secara benar setiap selesai buang air kecil. Sebagai informasi sejak tahun 2018 Yayasan IPAS bersama Dinas Kesehatan Klaten dan SPEK-HAM telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun ini, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Sebanyak 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.  

USAHA UMKM YANG DIKELOLA PEREMPUAN TETAP BERTAHAN DITENGAH PANDEMI COVID 19

Produksi karak non borax oleh KPKGS

Pandemi COVID-19 tidak hanya persoalan kesehatan, namun sudah berdampak pada persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Ditengah anjuran untuk social distancing, orang mulai mengurangi keluar rumah serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tentu ini berdampak pada menurunnya pendapatan para pelaku usaha kecil yang berjualan di pinggir jalan, atau di event Car Free Day.

Tidak jauh berbeda, beberapa perempuan pemilik usaha kecil yang didampingi SPEK-HAM juga terdampak usahanya. Melihat kondisi tersebut, SPEK-HAM menyelenggarakan diskusi-diskusi on-line sebagai wadah sharing dan mencari solusi usaha yang dibutuhkan pada masa pandemic covid19 saat ini. 

Jamu Seduh

Ibu Ratna dan Ibu Sulastri anggota Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS) Kelurahan Sewu Surakarta cukup kreatif, mereka mampu membaca situasi pasar dengan menjual berbagai makanan dan minuman yang dibutuhkan masyarakat. Saat orang takut keluar membeli makanan, mereka menyediakan aneka makanan dan minuman yang sudah dikemas dengan rapi dengan system pesan antar secara on line. Ada pula yang membidik pasar masyarakat yang tengah ekstra menjaga imunitas tubuh, yaitu dengan beralih usaha menjual aneka jamu-jamuan siap seduh. Seperti yang dilakukan Ibu Sulistyorini anggota KPKS Kelurahan Sewu.

Berbeda dengan Kelompok Perempuan Kelurahan Gilingan Srikandi (KPKGS), pada awal-awal pandemic covid19 usaha karak non borax sempat terhenti karena khawatir produk tidak laku. Setelah ada sosialisasi dari SPEK-HAM tentang standar produksi yang aman seperti menggunakan masker dan sarung tangan, maka perlahan usaha karak non borax kembali bangkit. Apalagi saat bulan puasa untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri banyak pesanan lewat WA, bahkan penjualan sampai diluar kota maupun luar jawa. Setiap minggunya mereka mampu memperoduksi tidak kurang dari 10-20 kg/ minggu.  Menangkap peluang usaha baru dan pemasaran on line menjadi strategi bertahannya usaha kecil di tengah situasi saat ini. Harapannya pandemic covid19 segera berakhir dan usaha kecil yang dikelola perempuan kembali bangkit. Pakdhe Padmin -CO Divisi SL