Search for:

Forum Peduli Kespro Boyolali Gelar Diskusi

SPEK-HAM bersama Forum Peduli Kespro Boyolali kembali menggelar diskusi tentang persoalan kesehatan reproduksi perempuan pada Selasa, 4/8 di sebuah rumah makan di Kabupaten Boyolali. Pertemuan dihadiri oleh 20 orang anggota yang perwakilan dari beberapa kader kesehatan dari Kecamatan Selo, Ampel, Klego, Andong, Boyolali, Mojosongo, Musuk dan Sawit.

Beberapa hal mengemuka dalam diskusi ini, antara lain persoalan mobile IVA tes yang tak lagi d tanggung BPJS, informasi tentang kejelasaan penggunaan alat kreoterapy di layanan kespro, kasus AKI yang masih tinggi di tahun 2019: 13 kasus, 2018: 15 kasus. Sementara itu AKB di tahun 2019: 142 kasus dan 2018: 138 kasus.

Hal lain yang mengemuka dalam forum ini adalah informasi dari beberapa kader kesehatan yang menyebutkan kegiatan posyandu balita, lansia dan kelas ibu hamil  dilakukan. “Di tempat kami posyandu balita, lansia, kelas bumil belum dilakukan, kami masih menunggu kebijakan dari desa dan Puskesmas Selo di bulan Agustus ini”, ungkap Fatime, kader kesehatan asal desa Suroteleng.

Senada, Fikri kader kesehatan asal desa Blumbang, Klego menyampaikan kasus covid di Klego yang masih sehingga kegiatan yang mengumpulkan banyak orang belum bisa dilakukan, seperti kelas ibu hamil, pertemuan kader kesehatan, posyandu remaja dan lansia.

Rahayu Purwaningsih selaku Direktur SPEK-HAM menyampaikan pihaknya akan mempelajari profil kesehatan Kabupaten Boyolali tahun 2018 dan tahun 2019 serta temuan-temuan yang disampaikan kader sebagai bahan untuk kegiatan audiensi bersama Kepala Dinas Kesehatan dan Diskusi Terbatas bersama dengan para pemangku kepentingan di Kabupaten Boyolali. Sebagai informasi Diskusi Forum Peduli Kespro Boyolali ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, yaitu Sosialisasi hasil riset JKN-BPJS untuk Kesehatan Reproduksi Perempuan, pembentukan Forum Peserta JKN Boyolali, Audiensi dengan BPJS Kesehatan dan Dinkes. Kegiatan ini diselenggarakan SPEK-HAM bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Jaringan Perempuan Peduli Kesehatan (JP2K), dengan dukungan AUSAID Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan). (Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat/spekham.org)

SPEK-HAM Libatkan Kelembagaan Tingkat Desa dalam Program PEKERTi

PM menyampaikan informasi temuan kasus Kespro di Kabupaten Klaten

SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia dan Pemerintah Desa Tlogorandu menggelar kegiatan pertemuan kelembagaan kesehatan tingkat desa pada selasa, 28/7 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) dan mengidentifikasi peran-peran kelembagaaan tingkat desa ini diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri dari perangkat desa, bidan desa, kader PKK, kader posyandu, SKD dan perwakilan Karangtaruna.

Danang Wijayanto selaku Manajer Program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) mengatakan, bahwa fokus program ini adalah pada pendidikan masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Menurutnya kabupaten Klaten masih mempunyai pekerjaan rumah dalam hal tingginya kasus-kasus Angka Kematian Ibu (AKI). Pada tahun 2017: 18 kasus, 2018: 13 kasus dan tahun 2019: 12 kasus. Sementara itu jumlah kasus keguguran, pada tahun 2017: 508, 2018: 442 dan tahun 2019: 465 kasus.   

Oleh karena itu butuh dukungan dan keterlibatan semua elemen masyarakat, baik itu pemerintah, perempuan, laki-laki, remaja, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan, dsb. Dalam kegiatan ini peserta mendiskusikan tentang peran-peran dan tantangan dalam mengimplementasikan program kesehatan khususnya kesehatan reproduksi perempuan di tingkat Desa.

Beberapa peran-peran kelembagaan desa yang terdiri dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK Posyandu, SKD dan Karangtaruna telah teridentifikasi. Misalnya PKK melalui Pokja IV telah menjalankan program kesehatan, meliputi: sosialisasi dan konseling KB, sosialisasi tentang kesehatan lingkungan, sosalisasi pencegahan stunting, pembagian dan penyuluhan gizi untuk anak, sosialisai dan penyuluhan reproduksi remaja, sosalisasi dan pembuatan biopori dan sosialisasi tentang PHBS.

Sementara itu Dita Prasetyawati perwakilan Karangtaruna Desa Tlogorandu menyampaikan  guna mengupayakan penurunan angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), perkawinan anak, kehamilan remaja. Saat ini Karangtaruna telah memberikan pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi kepada para remaja. Hanya saya menurutnya partisiapasi remaja dalam kegiatan ini masih rendah.     Sebagai informasi Yayasan IPAS bersama dengan SPEK-HAM saat ini sedang menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Fokus di tahun 2020, selain melibatkan perempuan remaja, juga melibatkan kelompok laki-laki, tokoh agama dan masyarakat. Henrico Fajar/Divisi Kesmas/SPEK-HAM.

Warga Tlogorandu Gelar Diskusi “Peran Suami dalam Mendukung Bumil”

Pertemuan Regular Bapak-Bapak

SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia kembali menggelar kegiatan pertemuan regular RT/RW di Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Kegiatan digelar pada Sabtu malam, 1/8 di rumah Bapak Dwi Sunano yang beralamat Dukuh Kemiri RT 01/RW 05 Tlogorandu. Hadir sebagai Narasumber Mufidati Ikrimah selaku bidan desa setempat.

Pertemuan yang dihadiri 25 orang peserta ini membahas tentang “Peran Suami dalam Mendukung Bumil”. Di jelaskan oleh Mufidati bahwa ibu hamil membutuhkan dukungan baik dalam hal pemenuhan gizi, lingkungan yang aman dan nyaman hingga kebutuhan psikologi dari suami dan orang-orang terdekat.

“Jadi pemenuhan gizi untuk ibu hamil itu sangat penting, selain itu lingkungan yang bebas dari asap rokok dan dukungan rasa nyaman dan aman dari suami dan orang-orang terdekat juga wajib di penuhi”, ungkap Mufi.

Suasana Pertemuan Regular Bapak-bapak

Mufi menambahkan ibu hamil harus mengikuti pemeriksaan tinggi badan, lingkar lengan atas minimal 23,5 cm, pemeriksaan laboratorium dan bagi ibu dengan kehamilan berisiko maka harus mendapatkan PMT.

Triono salah seorang peserta menyampaikan bahwa pada saat istrinya hamil dia memberikan makanan yang bergizi dan selalu rutin memeriksanya ke bidan maupun ke dokter. Sementara itu Roudal menceritakan pengalamannya saat mendampingi istrinya melahirkan anak pertama yang harus mendapatkan tambahan 4 kantong darah karena mengalami pendarahan.

“Waktu itu anak saya lahirnya normal, namun entah mengapa paska melahirkan terjadi pendarahan, akhirnya butuh transfusi 4 kantong darah. Beruntungnya anak ke 2 dan 3 tidak mengalami hal serupa, ungkap Roudal. Sebagai informasi sejak tahun 2018 SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia telah menjalankan program Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi (PEKERTi) di Kecamatan Juwiring, Klaten Tengah dan Bayat. Sebanyak 250 orang perempuan muda dan 400 orang perempuan dewasa sudah menerima manfaat dari program ini. Kini di tahun 2020 program ini mengajak keterlibatan laki-laki, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kelompok remaja dalam mendukung program ini. Henrico Fajar (Kesmas SPEK-HAM)

Bu Bidan: Seksualitas Bukan Hal yang Tabu

Bidan Desa menyampaikan Informasi HKSR

Demikian disampaikan narasumber Mufidati Ikrimah selaku bidan desa Tlogorandu dalam kegiatan Diskusi Interaktif Remaja dengan Tema: Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) pada minggu 26/7 di Balai Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Dijelaskan Mufida tentang pentingnya remaja memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi secara benar. Misalnya dengan memahami fungsi organ reproduksi perempuan dan laki-laki, memahami tahapan masa pubertas dan akses layanan kespro remaja di Puskesmas.

“Sudah saatnya remaja harus paham seksualitas, bagian dan fungsi organ reproduksi secara benar serta tidak menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu”, terang Mufi. Dia berharap dengan semakin banyaknya remaja teredukasi tentang Kespro remaja maka kasus perkawinan anak, KTD dan kehamilan pada remaja bisa ditekan seminimal mungkin.

Pejabat lurah Tlogorandu MS Yulianto, SH menyambut baik kegiatan ini. Dia berharap agar remaja bisa semakin aktif berkegiatan dan saling berbagi informasi kesehatan reproduksi. “Saya mendukung penuh kegiatan semacam ini dan berharap agar remaja semakin aktif berkegiatan sehingga peran-peran remaja dapat terlihat”, ungkap Yuli.

Beberapa peserta mengaku senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Dita misalnya merasa terbantu dengan kegiatan ini karena bisa mendapat informasi kespro yang benar. “Selama ini kan banyak remaja mengakses informasi yang salah dan ini bisa menjerumuskan mereka pada pergaulan bebas”, ungkap. Dia berharap semakin banyak remaja yang memahami Kespro, maka mereka bisa bergaul bersama teman sebayanya dengan penuh tanggungjawab.

Senada Nur Qumarrudin juga menyampaikan bahwa saat ini banyak remaja yg tidak peduli dengan kondisi lingkungannya, kurang bersosialisasi dan hampir tidak pernah mengakses informasi tentang kesehatan reproduksi. Hal ini menurutnya bisa mendorong terjadinya KTD, kehamilan remaja dan perkawinan anak.

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama SPEK-HAM bersama Yayasan IPAS Indonesia dan Karangtaruna Tlogobakoh ini diikuti oleh 20 orang peserta dan merupakan kali ketiga dilakukan, 2 sebelumnya dilakukan secara on line menggunakan media zoom meeting. Henrico Fajar (Divisi Kesmas SPEK-HAM)