Search for:

Tingkatkan Capaian Program, SPEK-HAM Beraudiensi Dengan Dinsos PPPA dan KB Klaten

Audiensi diselenggarakan pada Jumat 3/1 di kantor Dinsos PPPA dan KB atau Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Klaten. Rombongan di terima langsung oleh Veronika Retno, Kepala Bidang Dalduk dan KB di ruang kerjanya. Dalam kesempatan ini Direktur SPEK-HAM Rahayu Purwaningsih menyampaikan program yang telah dilakukan di Kabupaten Klaten terkait dengan program PEKERTi (Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan Terintegrasi).

Audiensi dengan Dinsos PPA dan KB

Ayu menjelaskan beberapa kegiatan yang telah dilakukan, yaitu Pelatihan Kader Perempuan Dewasa dan Perempuan Muda di Kecamatan Juwirng, Klaten Tengah dan Bayat. “Kader perempuan di 3 Kecamatan tersebut telah dibekali materi-materi terkait dengan Kesehatan Reproduski untuk disampaikan ke kelompok-kelompok perempuan yang lainnya”, jelas Ayu. Ayu menambahkan 400 perempuan dewasa dan 250 perempuan remaja telah menerima manfaat dari program ini.

Antonius Danang Wijayanto selaku Manajer Program PEKERTi SPEK-HAM menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan PLKB (Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana) dan pelibatan PIK R atau Pusat Informasi Konseling Remaja dalam implementasi program ini. “Kami sangat berharap PLKB bisa berkolaborasi dengan kader-kader yang telah terbentuk, sementara itu PIK R bisa berkolaborasi dengan kelompok remaja”, jelas Danang.

Bersama Kabid Dalduk dan KB Klaten

Menanggapi hal tersebut Veronika Retno, Kabid Dalduk dan KB menerima dan mempersilakan SPEK-HAM untuk mengajak PLKB dan PIK R yang berada di tingkat Kecamatan yang telah dibentuk untuk berkolaborasi dalam program ini. “Kami ada program Kampung KB, saya kira ini juga bisa menjadi peluang untuk diajak kerjasama karena menurut saya ini bisa nyambung”, ungkap Retno. Dia sangat berharap dengan berjalannya program ini bisa meningkatkan angka kepesertaan KB dan peningkatan derajat kesehatan perempuan. Henrico Fajar/Divisi Kesmas SPEK-HAM.        

MENINGKATKAN PENDAPATAN PEREMPUAN, KELOMPOK RUKUN MAKMUR BOYOLALI OLAH SUSU SAPI MENJADI ICE CREAM

Kelompok Rukun Makmur, Boyolali

Hari ini, Sabtu 4 Januari 2020, tepat 7 tahun terbentuknya Kelompok Perempuan Rukun Makmur yang berlokasi di Desa Musuk, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali berdiri. Saat ini tidak kurang  dari 32 orang perempuan terlibat dalam kegiatan kelompok perempuan yang fokus pada pengembangan bidang peternakan dan pertanian ramah lingkungan. Bertepatan dengan hari ulang tahun kelompok, perayaan ditandai dengan peresmian Rumah Produksi Es Cream Rukun Makmur

Kelompok Rukun Makmur saat ini tengah mengembangkan produk olahan susu sapi, atas dukungan program dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali. Potensi susu sapi di Desa Musuk masih cukup banyak, 12 orang anggota Rukun Makmur memiliki sapi perah baik keberadaan sapi tersebut milik sendiri ataupun gaduhan. Karena harga susu yang cukup rendah yaitu Rp. 5000,00/ liter,maka berbagai ide muncul untuk mengolah susu menjadi bernilai ekonomis yang tinggi.

Gayung Bersambut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali mendukung melalui pelatihan pengolahan susu dan memberikan stimulant program olahan susu berupa peralatan produksi dan rumah produksi. Lokasi produksi berada di rumah Ibu Tutik dukuh Pengkol RT 01 RW 01 Desa Musuk. Saat ini kelompok Rukun Makmur memproduksi ice cream dalam 3 varian, original dijual dengan harga Rp. 2000/ cup, untuk toping coklat / meses di jual dengan harga Rp. 2500/ cup sedangkan yang premium dengan toping varian rasa buah akan di jual Rp 3000 / cup.

Olahan susu sapi menjadi ice cream

Usaha olahan susu ini di harapkan menjadi terobosan yang baik untuk menopang peningkatan pendapatan perempuan anggota Rukun Makmur. Potensi ketersediaan bahan baku susu sapi, dan masih sedikitnya usaha sejenis di Desa Musuk menjadi peluang besar usaha ini berkembang. Point penting yaitu memetakan potensi desa dan menggali peluang kerjasama dari Pemerintah Daerah maupun pihak lain menjadi strategi peningkatan ekonomi pedesaan. (Noko/Nila)

BERBAGI BERKAH DARI BANK SAMPAH “Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019”

Salah satu Bank Sampah yang didampingi SPEK-HAM yaitu Bank Sampah Mayang RT 03 RW 06 Kelurahan Kestalan Surakarta melakukan aksi sosial tepat pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 2019 yang lalu. Murtiyanti, Ketua Bank Sampah Mayang menyampaikan bahwa aksi sosial tahun ini di prioritaskan bagi perempuan lansia dan perempuan kepala keluarga yang ada disekitar RT 03 RW 06 Kestalan.

Sumbangan untuk perempuan lansia

“Aksi kami tahun ini memberi sumbangan berupa uang tunai pada perempuan lansia dan kepala keluarga yang membutuhkan. Sumbangan tersebut berasal dari hasil penjualan sampah yang kami kumpulkan selama 1 tahun”, kata Murtiyanti.

Bentuk kegiatan sosial inilah yang menjadi perhatihan Lurah Kestalan Bapak Suyono saat menghadiri pertemuan Kelompok Perempuan Mayang beberapa waktu yang lalu. Hasil penjualan sampah tidak sepenuhnya dibagikan kepada anggota, bahwa sudah menjadi kesepakatan bersama jika sebagian hasil digunakan untuk sosial. “Kegiatan sosial ini yang menjadi penyemangat anggota Bank Sampah untuk mengumpulkan sampah setiap bulan. Dari sampah yang dipandang menjijikkan mereka ingin berbagi berkah”, ungkap Soepadmin atau yang akrab dipanggil Pakdhe selaku pendamping dari SPEK-HAM.

Kegiatan Sosial

“Setelah mengetahui situasi keadaan rumah ibu-ibu Kepala Keluarga yang dikunjungi sangat memprihatinkan, semoga ada perhatian dari Pemerintah untuk memberdayakan mereka”, harap Murtiyanti kepada Pemerintah Daerah Kota Surakarta. Semoga aksi Bank Sampah Mayang Kestalan mampu menginspirasi Bank Sampah lain, bawa dari sampah bisa menjadi berkah. (Padmin/Nila)

SPEK-HAM meminta maaf atas kesalahan pemberitaan Asuhan Paska Keguguran di RSD BAGAS WARAS

Klaten, Jumat, 13 Desember 2019, SPEK-HAM diwakili oleh Badan Pengurus yayasan meminta maaf atas kesalahan pemberitaan di website kami yang menyangkut kredibilitas Rumah Sakit Daerah Bagas Waras, Klaten

Bertempat di RSD Bagas Waras Klaten, Tim SPEK-HAM bertemu dengan manajemen Rumah Sakit untuk memberikan klarifikasi terkait pemberitaan yang menyudutkan dan tidak benar perihal asuhan paska keguguran dengan metode AVM yang ada di RSD Bagas Waras.

Dari pertemuan tersebut, SPEK-HAM secara tertulis melalui surat meminta maaf atas kesalahan pemberitaan yang mempengaruhi kredibilitas Rumah Sakit Daerah Bagas Waras, Klaten.

Selanjutnya SPEK-HAM akan melakukan review dan revisi terkait konten berita serta melakukan evaluasi dalam melakukan pemberitaan dan publikasi kedepannya.

Berikut adalah scan surat resmi permohonan maaf dari Yayasan SPEK-HAM. (red)

Catatan Tahunan Penanganan Kasus SPEK-HAM 2018

Elimination of Violence Againts Women

SPEK-HAM sebagai salah satu anggota Forum Pengada Layanan melakukan pendampingan penaganan kasus kekerasan berbasis Gender. Setiap tahunnya kami berupaya untuk melakukan publikasi data kasus Kekerasan terhadap Perempuan yang kami tangani sebagai pembelajaran bagi masyarakat secara luas.

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan jumlah serta keberagaman modusnya. Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) 2018 Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), diketahui ada 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2018, naik 14% dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466. Untuk lebih detailnya bisa unduh disini

Kelompok Perempuan Srikandi RT.02 RW.05 Sebagai Pegiat Lingkungan

Kegiatan kelompok perempuan Srikandi

Berlatar belakang penduduk yang padat dan ketiadaan pohon yang tumbuh di tepi jalan, Kelompok  Perempuan Srikandi Gilingan yang bertempat  RT.02 RW.05 berkeinginan untuk membuat tanaman tabulapot atau tanaman toga. Kelompok perempuan tersebut telah didampingi oleh SPEK-HAM sejak tahun 2013.

Kegiatan kelompok perempuan yang dipimpin oleh Sulis juga selaku Istri KetuaRT.02 Rw.05  ini diawali dari  membuat kompos yang sangat sederhana yang bahan bakunya yakni dari sisa – sisa bahan sayuran atau bahan yang mudah diproses cepat  membusuk, seperti kulit pisang, bekas kulit buah-buahan, daun- daunan  dll. Sebelum pembuatan kompos, diawali dari pembuatan E.4 bertujuan agar lebih mudah untuk membuat kompos. Ini salah satu bahan untuk memudahkan mengurai bahan-bahan untuk kompos dan harapannya bisa menghasilkan pupuk cair maupun pupuk padat.

Setelah menghasilkan pupuk maka akan dimanfaatkan untuk tanaman tabulapot maupun tanaman toga yang direncanakan setiap rumah mempunyai tanaman tersebut.

Tahun 2019 Kelompok Perempuan Srikandi Kelurahan Gilingan telah menerima bantuan sarana dan prasarana yakni tong sampah dari Bapeda Kota Surakarta. Selain itu juga dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta untuk masing – masing rumah tangga untuk  melengkapi Bank Sampah Srikandi yang telah berdiri sejak tahun 2017. Bank Sampah Srikandi juga telah mendapat juara ketiga setelah mengikuti lomba  Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) yang diselenggarakan UPT Puskesmas Gilingan yang mempunyai binaan Kesehatan dibeberapa Kelurahan diwilayah Kecamatan Banjarsari.

Kegiatan tersebut telah dipikul bersama dari semua anggota kelompok perempuan Srikandi maupun warga RT.02 RW.05 Kelurahan Gilingan dengan harapan nanti saat pertemuan bapak- bapak akan disampaikan rencana program tersebut. (Pakde)

Mimbar Bebas SPEK-HAM Bersama Aliansi Perempuan Bergerak Solo Raya

SPEK-HAM bersama Aliansi Perempuan Bergerak Solo Raya terdiri dari Salirang, Jejer Samwa, PMII, IMM, SEATAP, Larasati, PUKAPS, LMND, Lawan Patriarki, Arwis, dan BEM Se-Soloraya menggelar aksi mimbar bebas. Aksi diikuti lebih dari dua ratus orang dengan membawa alat-alat kampanye tentang penghapusan kekerasan seksual seperti. “Hapus Kekerasan Seksual”, “Tubuhku Otoritasku”, “Sahkan RUU P-KS”. Dua rombongan pengunjuk rasa dalam aksi damai tersebut bergerak dari depan Solo Grandmall menuju arah timur, serta dari arah Ngarsopuro bergerak ke barat dan keduanya menuju satu titik dekat Toko Buku Gramedia menggelar mimbar bebas berupa orasi dan perform art, Solo Car Free Day (CFD), Minggu (8/12).

Berlatarbelakang rasa keprihatinan yang sama terkait semakin tingginya angka kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia, yang menurut Catatan Akhir Tahun (CATAHU) Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2018, ada 406.178 kasus yang dilaporkan. Untuk provinsi Jawa Tengah adalah 2.503 kasus, di antaranya kekerasan seksual 907, fisik 940 serta kekerasan lainnya. Hal ini tidak bisa dibiarkan saja dan para pengunjuk rasa menuntut adanya peran negara untuk mengapus kekerasan dengan memberikan perlindungan kepada perempuan dan mensahkan segera Rancangan Undang-Undang  Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Orasi di Solo CFD, Minggu (8/12)

Bentangan poster bertuliskan 16 HAKtP, Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Aliansi Perempuan Bergerak Solo Raya melakukan longmarch
Mimbar bebas berupa orasi saat organisasi Lawan Patriarki melakukan orasi
para pengunjuk rasa aksi damai dengan alat kampanye di tangan mereka
Aksi teatrikal dari BEM ISI
Komunitas larasati saat berorasi
para peserta aksi mimbar bebas

Pemberdayaan Penguatan Masyarakat untuk Pelaporan dan Pencatatan Kasus

Beberapa kasus seksual kekerasan seksual yang terjadi di populasi kunci sering dianggap sebagai persoalan biasa karena banyaknya kasus. Padahal biasanya ada persoalan gender juga misal Transgender (TG) yang mengalami kekerasan dari pasangannya, juga kekerasan  oleh pacarnya. Demikian dikatakan oleh Hafidz, Penjangkau Lapangan (PL) Boyolali untuk Program HIV-AIDS. Hafidz dulu pernah mengalami kekerasan, namun perkaranya tidak dilanjutkan. “Saya takutnya akan ketahuan identitas kalau dari komunitas. Saya pernah mengalami penganiayaan,” tutur Hafidz pada Diskusi Pemberdayaan dan Penguatan Masyarakat untuk Pelaporan dan Pencatatan Khusus didukung Kemenkumham yang berlangsung pada Jumat (6/12). Diskusi yang diikuti oleh para PL serta CO tersebut difasilitasi oleh Nila Puspaningrum.

Menurut Nila Puspaningrum, Hafidz mengalami kekerasan karena dianggap sebagai minoritas. Ada diskriminasi yang ditimpakan kepada Hafidz. Bisa saja persoalannya secara pribadi, Hafidz punya relasi. Dan karena relasi yang tidak seimbang maka ia mengalami kekerasan.”Saya ingin bertanya bagaimana teman-teman, apakah ada relasi yang tidak seimbang dari kawan-kawannya selama ini?” tanya Nila di depan audiens.  

Wahyu, salah seorang PL yang saat ini juga bekerja untuk Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) mengemukakan terkait kasus kekerasan yang dihadapinya biasanya mentok di wilayah. Dan tidak masuk perkotaan. Pertanyaan yang langsung dijawab oleh Nila bahwa terkait kasus yang terjadi di Boyolali maka melaporkannya juga di Boyolali, dan lokasinya ada di mana. Ini seperti yang dilakukan oleh SPEK-HAM.

SPEK-HAM saat ini menangani kasus berbasis perempuan termasuk TG. Kasus tersebut misalnya dia tinggal bersama lalu terjadi penganiayaan. “Kita menangani. Di luar itu kita tidak menangani. Kalau terkait TG dan MSM mungkin ranahnya IAC, nah tinggal mitranya siapa. Tapi teman-teman belajar untuk pelaporan dan pencatatan kasus pada hari ini sangat bermanfaat, ” terang Nila Puspaningrum. (red)