Hari Senin 29 Januari 2019 bertempat di Hotel Dana, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat (PPPAPM) melakukan Diskusi Kelompok Terbatas ( DKT ) yang dihadiri sekitar 70 orang yang terdiri dari OPD, PN, PA, Kejaksaan, BAPAS, Rumah Sakit, Ormas dan LSM. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menghimpun masukan-masukan dari stakeholder terkait dengan program kerja Dinas PPPAPM tahun 2020 seperti yang di sampaikan sekretaris dinas ,Titi Budi Rahayu.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas PPPAPM, Drs Widdi Srihanto, MM sekaligus memberi pengarahan diskusi yang pada intinya program dinas lebih konsen pada non fisik yang merupakan implementasi dari Visi, Misi kota Surakarta yang kemudian diturunkan dalam visi, misi Dinas PPPAPM.
Pemaparan Program Kerja tahun 2020 dilakukan masing masing kabid yang diawali dari bidang perlindungan anak disusul bidang perlindungan perempuan, bidang pemberdayaan masyarakat dan UPT PTPAS.
Spek-Ham sebagai lembaga layanan untuk perempuan dan anak korban kekerasan memberi masukan usulan secara tertulis yang terkait dengan penanganan kasus terutama perlu adanya mekanisme rujukan dalam penanganan kasus berjejaring, adanya evaluasi layanan berbasis partisipasi korban. Juga terkait dengan sinkronisasi data kekerasan yaitu perlu adanya sinkronisasi data kekerasan dari berbagai lembaga layanan yang ada di Surakarta yang dalam implementasinya diperlukan sistem data kekerasan yang terintegrasi ( Ani Staf PPKBM )
Hamparan bukit menghijau, bentangan ladang luas di kaki Merapi , serta hiasan kabut tipis yang elok bak lukisan indah, menuntunku berjalan menyusuri jalan setapak di kaki bukit Gunung Merapi sebelah timur. Tujuanku adalah Desa Cluntang yang sudah dua tahun menjadi tempatku belajar tentang arti menghargai kebersamaan, dan keberagaman. Hal ini semakin membuatku dahaga untuk lebih jauh tahu tentang arti semangat, kegotongroyongan yang kucoba pahami dengan melihat, mendengar, menyentuh hatinya dengan tutur kata, sikap dan komitmen yang aku miliki .
Mengenal satu persatu sosok inspiratif penduduk desa ini membuatku merasa sangat kecil dibandingkan dengan besarnya keinginan hatiku untuk berbuat. Namun dengan semangat dan besarnya tekad aku mencoba urai satu persatu apa yang aku temukan. Aku melihat dan mendengar bersama dengan mereka, insting liarku untuk menuntun dan mengajak mereka berbuat untuk desanya. Mereka pun yang sebelumnya cenderung tidak memiliki kepercayaan diri, perlahan mereka mulai bisa menghargai dan mengapresiasi dirinya bahwa tidak ada yang mustahil jika ada niat dan kemauan. Dengan satu kata yang saya simpulkan bahwa masih adanya semangat muda yang warga desa miliki, menurutku ini magma gerakan yang tak bisa diukur
Di Dukuh Tutup Desa Cluntang banyak pemuda kampung yang memiliki semangat yang perlu diapresiasi karena dengan ketekunan dan kreativitas dan keswadayaan, mereka mengelola potensi desa seperti lembah, bukit, panorama alam, makanan olahan menjadi konsep desa wisata. Memaksimalkan pertanian dan peternakan meskipun masih secara manual dan konvesional tetapi itu semua bisa dipelajari sehingga cara mengolah potensi itu menjadi sumber pendapatan. Banyak hal positif yang bisa dipetik dari kehidupan dan penghidupan masyarakat Dukuh Tutup, dukuh kedua teratas di Desa Cluntang.
Di antara pemuda pemuda Dukuh Tutup yang memiliki kepedulian pada tanah kelahiranya , ada satu pemuda yang sangat menginspiratif, seorang petani muda yang memiliki impian dan cita-cita sangat tinggi, namanya Solihin. Solihin, pemuda lulusan SLTA dan berumur 22 tahun, lahir dari keluarga sederhana. Sehari-hari ia membantu orang tuanya, Sukidi dan Sri Widodo, seorang mustahik yang hidup dari buruh tani gaduh ternak, bekerja di ladang dan juga beternak sapi gaduhan. Pemuda berperawakan kurus ini banyak bercerita tentang keinginannya untuk membahagakan keluarga, mengangkat derajat orangtua hingga keresahannya yang belum bisa membalas budi pada orang tuanya. “Sedih, Mas. Kalau berbicara tentang orangtua,” ungkap Sholihin.
Hingga pada bulan September 2018, ada peluang program sekolah tani di Malang selama tiga minggu, dan kabar ini ternyata direspon baik oleh Sholihin. Melalui berbagai tes wawancara dan tertulis akhirnya ia lolos dan bisa mengkuti pelatihan bertaraf provinsi ini bersama perwakilan dari beberapa kabupaten di Indonesia. Lepas dari pelatihan tersebut menurut Sholihin serasa dunia pengetahuan dan jaringan terbuka, maka kesempatan terbentang luas menembus batas. Hingga Sholihin dikandidatkan pelatihan kedua di Ciamis oleh Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali selama 3 bulan.
Di sana ia digembleng skil dan juga mentalnya terkait filosofi pertanian, keterampilan komunikasi, salah satunya pelajaran Bahasa Jepang. Hal ini menambah semangat karena bagi siswa yang lolos seleksi nanti akan di kirim magang di Negeri Sakura Jepang selama 3 tahun. Segala keperluan seperti passport, visa dan lain sebagainya sudah siap, karena kalau tidak ada perubahan bulan Juli nanti ia akan berangkat ke Jepang
Pengalaman ini setidaknya bisa menginspirasi pemuda-pemuda lainya bahwa apapun, yang diinginkan dan dicita citakan akan bisa terwujud dengan dibarengi kerja keras dan doa serta restu orang tua. Orangtua Sholihin juga sangat bangga pada anaknya, dan akan selalu mendukung anaknya menjadi seorang petani muda yang memiliki ketrampilan bertani moderen dan bisa menjunjung martabat keluarga , di tengah kondisi keluarga yang sederhana ada semangat dan doa orang tua yang tulus. Ke depan, semoga akan ada Sholihin-Sholihin lainnya yang bisa membawa nama baik Desa Cluntang yang saat ini juga mengembangkan pebangunan tematis yaitu “pembangunan desa wisata terpadu dan berperspektif anak, perempuan dan lingkungan .“
Di akhir cerita sore itu saya bersama Sholihin menikmati senja di lereng Merapi, duduk di bale –bale menghayal dan dia berucap “ Masih seperti mimpi ya, Mas , saya akan bisa belajar ke Jepang selama tiga tahun.Saya akan meninggalkan keluarga saya dalam waktu yang lama.Saya pasti akan kangen semua, orang tua, teman teman serta kabut tipis yang selalu datang di sore hari.Tapi di sana nanti akan ada salju yang lama saya impikan dan ingin saya pegang kala rindu itu melanda . “ (Sunoko)
Proses pembuatan pupuk Kompos petani Desa Cluntang
Selasa, 29 Januari 2019, 25 petani warga Desa Cluntang berkumpul di halaman rumah Bapak Anwar, Dukuh Tutup Desa Cluntang Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Mereka begitu semangat dan antusias mencari dan mengumpulkan kotoran hewan ternak (sapi) dibuktikan dengan mereka bekerja selama dua jam tanpa jeda. Kotoran sapi ini nantinya akan digunakan sebagai salah satu bahan utama untuk membuat pupuk organik. Ini salah satu bentuk dari komitmen para petani Desa Cluntang untuk mengerjalan budidaya pertanian ramah lingkungan khususnya tanaman bawang merah.
Sekira 2,5 ton kotoran sapi terkumpul di halaman rumah Pak Anwar. Kotoran sapi tersebut didapat dari gotong-royong para petani. Tiap petani mengumpulkan sekitar satu kuintal kotoran sapi dari hewan ternak mereka masing-masing. Dari 2.5 ton kotoran sapi tersebut ditumpuk menjadi empat lapis. Setiap lapisan diberi abu dari kayu bakar, katul, dan disemprot pakai EM4 yang dicampur gula tetes. Proses tersebut menghabiskan EM4 sebanyak 2 liter, gula tetes 2,5 kg, katul 15 kg, dan abu 2 karung. Setelah semua selesai dicampur, selanjutnya ditutup terpal dengan rapat agar fermentasinya berhasil dan menghasilkan pupuk organik yang membutuhkan waktu penyimpanan kurang lebih 2 minggu. Agenda selanjutnya, minggu depan pada hari Rabu, mereka akan membalik kotoran sapi tersebut dengan didampingi petugas dinas pertanian untuk mengevaluasi pembuatan pupuk tersebut. (Ans-Mgg)
Pagi di Dukuh Tutup, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk cuaca mendung, kabut meyelimuti lereng Gunung Merapi sebelah timur, aktivitas warga desa seperti biasanya. Mereka berangkat ke ladang yang berada di lereng-lereng gunung, di balik bukit dengan berjalan kaki. Sesekali melintas motor-motor yang mengangkut pupuk kandang.Perempuan-perempuan dengan bersemangat menuju ladang-ladang penuh sayuran menghijau berselimutkan udara dingin khas pegunungan
Senin 22 Januari 2019, agenda kegiatan adalah pelatihan budidaya bercocok tanaman yang ramah lingkungan, khususnya budidaya Bawang Merah (Brambang) yang melibatkan 27 peserta yang terdiri dari petani muda, petani perempuan dan calon mentor sekolah tani. Kegiatan ini sebenarnya dilatarbelakangi dari keresahan warga tentang budi daya bawang merah yang sudah pernah dilakukan sebelumnya di mana harga dari hasil panen selalu menurun harganya. Apalagi dengan cuaca yang cukup ekstrem di Desa Cluntang sering kali menjadikan gagal panen. Belum lagi kalau Gunung Merapi mengalami erupsi maka kondisi petani sangat memprihatinkan dan terpuruk.
Seperti pada Lebaran Idul Fitri tahun 2017, dikarenakan adanya erupsi Merapi maka petani melakukan panen awal dan bersamaan, khawatir akan kena abu panas. Kemudian harga di pasaran, bawang merah menjadi Rp.9.500/kg. Para tengkulak yang datang ke Desa Cluntang membeli dengan harga Rp. 9000 sampai Rp. 10.000 sedangkan petani sudah membuat perhitungan kalau harga perkilo minimal Rp. 12.500 petani baru bisa mendapatkan laba. Hingga akhirnya para petani yang didamping SPEK-HAM menginisiasi membuat gerakan beli hasil petani Cluntang kepada para pejabat pemerintahan dari kepala OPD, rumah sakit, dunia pendidikan. “Kami mempaking bawang merah satu kiloan dengan harga Rp. 16.000 disertai label branding brambang sehat,”ujar salah seorang petani.
Pelatihan yang dilaksanakan dua hari ini 22 dan 24 Januari 2019, melibatkan 27 peserta dengan narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, narasumber inspiratif dari Poktan Utomo Jayan Cepogo dan juga dari Baznas Boyolali. Dari tahapan-tahapan pelatihan, masing-masing narasumber menyampaiakan materi yang cukup menarik seperti dari Baznas Boyolali memaparkan bagaimana program Zakat Community Development (ZCD) ini harus dijalankan dan bisa membuat peningkatan pada masyarakat khususnya keluarga mustahik (penerima zakat). Bagaimana kekuatan masyarakat dibangun dengan potensi dan kearifan lokal khususnya pertanian yang lebih ramah lingkungan. Begitupun dari Dinas Pertanian yang di sampaikan Bapak Suwaldi bersama Bapak Bambang dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Musuk tahapan tentang bertani yang mudah dan menyenangkan.
Semua bahan bisa diperoleh di lingkungan sendiri seperti pupuk kandang, kompos, urin, serta kerja-kerja kelompok yang meringankan sehngga menjadi kegiatan pertanian yang menyenangan. “Karena Allah sudah memberikan tanah yan subur yang perlu diolah dengan baik,”begitu paparan narasumber dari Potan Utomo Jayan, Bapak Widodo yang memberikan pengalamannya dalam mengolah tanaman Brambang dengan organik, proses panjang sampai mendapatkan serifikasi organic, dan akhirnya saat ini mendapatkan pasar expor di Belanda dan supermarket-supermarket di Indonesia .
Pertanian, kearifan, perempuan, pemuda adalah faktor penting dalam pelatihan dua hari ini. Pertanian di mata para pemuda itu harus dilakukan dengan bahagia. Jiwa muda yang masing bersemangat untuk membangun desanya melalui pertanian, bisa dilakukan mengolah area wisata pertanian dan diharapkan para pemuda mampu mengelaborasikan dengan ektor pertanian yang ramah lingkungan.
Dari hasil kerja keras satu tahun ini ada salah satu petani muda yang bernama Solikin akan mengikuti magang kerja di Jepang selama tiga tahun dan hal ini tentunya diharapkan menginspirasi pemuda di Dukuh Tutup Cluntang yang berjumlah 34 orang. Begitu pun dengan perempuan muda yang selama ini hanya menjadi orang kedua dalam hal mengolah lahan. Memutuskan hal-hal penting dalam hal pertanian, dengan pelatihan ini ada peningkatan ketrampilan bercocok tanam yang ramah lingkungan , mampu bertani secara mandiri baik di kebun, halaman serta mampu memanfatakan ruang-ruang kosong dengan lebih produktif. Dengan dukungan dari Baznas pusat maka mimpi dan harapan warga masyarakat di Desa Cluntang bersama pendampingan dari SPEK-HAM akan bisa terwujud
Pelatihan ini tidak hanya menjadi pengetahuan yang berlalu begitu saja. Banyak rencana tindak lanjut yang sudah dirancang yakni membangun pertanian yang ramah lingkungan dengan dimplot tanaman Brambang sehat non pestisida. Dan juga pertanian ujicoba satu hektar dari para anggota sebagai bentuk komitmen tindak lanjut, serta mengadvokasi peran Gapoktan Desa Cluntang sebagai wadah resmi kelompok tani menjadi tujuan berikutnya. Apapun rencana dan cita-cita, para petani mustahik berharap pertanian akan terus berjalan dengan menanam, memanen dan memanfaatkan kesuburan dari berkah Gunung Merapi. (Sunoko)
Kalimat itu keluar dari mulut ibu Parmi warga Desa Blumbang, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali di sela-sela kegiatan pertemuan kader kesehatan pada kamis 17/1 di Balai Desa Blumbang. Dia merasa malu bila alat kelaminnya harus dibuka saat pemeriksaan IVA tes. “Terus terang saya malu kalau alat kelamin saya dibuka dan dilihat-lihat”, ungkapnya. Lebih lanjut disisi lain dia menyadari bahwa IVA tes amatlah penting salah satunya untuk mengetahui status kesehatan utamanya kesehatan reproduksi perempuan.
Rohma, Bidan Desa Blumbang menyebutkan bahwa masih tingginya budaya malu perempuan desa sehingga berdampak pada keengganan perempuan untuk mengakses IVA tes. “Kami sudah sampaikan kepada masyarakat untuk mengikuti kegiatan IVA tes, agar tahu apakah dalam tubuhnya ada bibit kanker atau tidak”, ungkap Rohma. Dia menambahkan layanan IVA tes di Puskesemas Klego dilayani setiap hari Rabu.
Terkait dengan rasa malu yang muncul dari saat IVA tes, sebenarnya itu tidak perlu terjadi. Henrico Fajar dari SPEK-HAM menyampaikan bahwa setiap tenaga medis mempunyai kode etik dalam memeriksa pasien dan tentu saja menjaga kerahasiaan akan status atau hasil pemeriksaan IVA. “Jadi kecil kemungkinan tenaga medis itu menceritakan kepada orang lain perihal status kesehatan atau hasil IVA tes ke banyak orang, yang diberitahu hasil IVA tes ya orang yang bersangkutan tersebut yang ikut IVA tes”, ungkap Fajar.
IVA tes merupakan kepanjangan dari Insfeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim.
Sementara itu informasi dari Puskesmas Klego menyebutkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 23 orang perempuan yang mengikuti IVA tes, dari jumlah itu 6 orang dinyatakan positif IVA dan semuanya sudah dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut. Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM
Komunitas Perempuan Kelurahan sewu (KPKS) dengan didampingi SPEK-HAM, mengadakan pertemuan lanjutan terkait hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrengbangkel), pertemuan yang diadakan di RW.06, pada hari Senin, 21 Januari 2019 menghasilkan beberapa progam tambahan antara lain beberapa usulan progam yang diajukan pada bidang Sosial Budaya (SOSBUD) dan bidang EKONOMI , pada bidang SOSBUD progam tambahan yang diusulkan antara lain: pengadaan sarpras meliputi Gerobak, Kompor, dan bahan baku sebagai penunjang progam umkm yang akan dilakukan KPKS, untuk bidang Ekonomi progam Pelatihan Pemasaran secara on-line juga dijadwalkan akan dilaksanakan untuk menunjang pemasaraan produk yang akan dihasilkan dan dipasarkan KPKS.
Selain menindaklanjuti hasil Musrengbangkel kampung Sewu yang menghasilkan beberapa ususlan progam baru, pertemuan awal tahun 2019 juga membahas tentang pelaksanaan Pra-koperasi yang memasuki periode baru setelah RAT tahun 2018, diharapkan dengan adanya penambahan beberapa anggota baru, tujuan akhir untuk pembentukan koperasi pada KPKS dapat terwujud dan berfungsi sebagai penunjang ekonomi keluarga, yang di mana para ibu dari anggota KPKS dapat memaksimalkan potensi dengan ikut andil dalam progam KPKS
Dengan adanya pertemuan tersebut dapat menghasilkan progam yang kedepannya dapat mendorong pemasaran produk Usaha MIkro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari KPKS serta dapat mengembangankan potensi yang ada di dalam anggota kelompok dan akan dilaksanaan pemasaran setiap minggu serta bekerjasama dengan kelompok bazar di kota Solo, yang akan di kordinatori oleh ibu Nina. (MhssMgg)
Suasana pertemuan rutin bulanan kader kesehatan Desa Suroteleng yangdiikuti oleh 30 perempuan
Pentingnya Keluarga Berencana (KB) bagi pria mengemuka dalam kegiatan Pertemuan Kelompok Perempuan Suroteleng, Sabtu sore 19/1 di rumah Sofi Dukuh Bulurejo Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Menurut Ibu Sri, perempuan sejak dari dulu banyak yang sudah ikut KB sehingga tidak salah kalau para pria juga didorong berpartispasi untuk menjadi akseptor KB. Menurutnya ada salah satu desa di Kecamatan Selo, yaitu desa Senden yang sukses dalam tingkat partisipasi pria menjadi akseptor KB dan itu bisa menjadi contoh.
Dalam kegiatan ini juga sampaikan beberapa alasan perempuan bersedia menjadi akseptor KB. Dari informasi yang disampaikan peserta diskusi menyebutkan sebagian besar memilih suntik sebagai alat kontrasepsi, alasannya mudah, efektif, kemungkinan gagal kecil dan tidak perlu membuka organ reproduksi. Namun dampak buruknya bagi tubuh perempuan juga ada, yaitu siklus menstruasi tidak teratur, dan banyak orang menyampaikan tubuh menjadi gemuk.
Sebagian lain memilih IUD mereka menyatakan bahwa kontrasepsi jenis IUD mempunyai banyak kelebihan, antara lain jangka waktu pemasangan bisa sampai 3-6 tahun, efektif, tidak menganggu siklus menstruasi dan kemungkinan gagal KB Kecil.
Dalam forum diskusi ini juga dibahas tentang pentingnya memahami hak kesehatan, utamanya informasi yang benar terkati kesehatan reproduksi termasuk di dalamnya informasi tentang program KB yang komprehensif dan tepat. Hal ini untuk menghindari terjadinya kasus gagal KB. Jangan sampai menjadi akseptor KB hanya ikut-ikutan saja dan tidak memperhatikan kondisi tubuh karena sejatinya tubuh perempuan satu dengan yang lainnya adalah berbeda.
Di persoalan kesehatan reproduksi yang lainnya, forum ini juga mengingatkan pentingnya deteksi dini kanker leher rahim dengan melakukan IVA tes. Sulami, salah satu kader kesehatan menyampaikan bahwa di desa kita ada 1 kasus kanker serviks, ini harus menjadi perhatian kita. Oleh karena itu dia berharap ada kegiatan IVA tes yang bisa lakukan di desa kita, agar banyak perempuan dapat mengetahui status kesehatan reproduksinya secara tepat.
Sebagai informasi IVA tes merupakan kepanjangan dari Insfeksi Visual dengan Asam Asetat yang merupakan cara sederhana mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA tes bertujuan untuk mengurangi morbilitas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan, selain itu untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Henrico Fajar K.W – Divisi Kesehatan Masyarakat SPEK-HAM
Elizabeth Yulianti sedang memfasilitasi pelatihan.
SPEK-HAM bersama IPAS menyelenggarakan kerja sama dalam program Pendidikan Kesehatan Reproduksi (PEKERTi) dengan menggandeng Puskesmas Klaten Tengah. PEKERti dilakukan pertama kali dengan 100 siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 (MTs N 2) Mlinjon, Klaten Tengah, Klaten, Kamis (17/1) bersama fasilitator yang juga mentor : Elizabeth, Ayun dan Atik. Ketiganya berbagi kelas berupa kelas : Seks, Seksual, dan Seksualitas.
Di kelas Seks pada kelompok pertama yang diampu oleh Elizabeth Yulianti, para peserta diajak untuk berbagi pengalaman pertama menstruasi oleh siswa perempuan yang sudah mendapatkan menstruasi. Pada kelompok satu para peserta perempuan menjawab hampir sama bahwa pengalaman pertama mereka adalah merasakan sakit. Sedangkan rata-rata siswa laki-laki merasakan senang atas pengalaman mereka mengekspresikan saat mendapatkan mimpi basah.
Sementara itu di kelas Seksual, Ayun Wrediningtyas berbagi pengetahuan tentang identitas gender, ekspresi gender, serta orientasi seksualitas. Pada kelas Seksual, Antonius Danang Wijayanto bersama Atik Widarti dalam mengampu kelompok siswa memberikan pengetahuan organ-organ reproduksi, tentang apa itu penis dan vagina. Tak hanya itu, Danang juga menjelaskan apa itu yang dinamakan dengan perkawinan serta perkawinan usia anak dan akibat yang ditimbulkannya. Respon kritis datang dari Hafid, salah seorang siswa, yang menjawab pertanyaan kemudian megungkapkan kembali apa yang diketahui olehnya.
Peserta tak hanya diam, tetapi ikut berinteraksi dengan aktif dengan menjawab pertanyaan tentang bagaimana mereka saat ingin mencurahkan isi hati (curhat) tentang pengalaman-pengalaman tentang seks, seksual dan seksualitas. Sebagian besar dari mereka curhat kepada teman, internet, kaka atau adik, serta orangtua.
Pelatihan atau lebih tepatnya pembelajaran dengan format diskusi ini diakhiri dengan pemutaran film tentang perkawinan usia anak serta ditutup dengan evaluasi antara fasilitator dari SPEK-HAM dan bidan dari Puskesmas Klaten Tengah bahwa penyelenggaran pelatihan/pembelajaran ke depan dengan menggunakan ruang kelas dan bukan aula. “Mungkin akan lebih efektif lagi, dan daya serap para siswa akan lebih optimal,” terang Danang. (AP)