Search for:

KELOMPOK PEREMPUAN DI LERENG MERAPI MEMBENTUK JARINGAN “KEMBANG WANGI”

Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali berada di ujung barat dan selatan Kabupaten Boyolali, lereng Merapi menjadi salah satu ciri khas yang cukup dikenal oleh masyarakat luas. Di kecamatan yang terkenal dengan penghasil susu segar yang cukup baik ini, setahun lalu perempuan-perempuan yang mulai resah dan gelisah dengan berbagai hal seperti kondisi pertanian dan peternakan yang semakin terpuruk, kondisi kekerasan yang marak,  mulai menginisiasi untuk bertemu, berkumpul mendiskusikan berbagai hal, baik soal ekonomi, soal ternak, soal usaha rumahan, sampai soal peran dan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan. Maka bertempat di Desa Cluntang pada bulan September sampai November 2017 tiga kelompok perempuan menginisiasi menjadi perempuan penggerak di masyarakat dengan menamakan diri Jaringan Perempuan : KEMBANG WANGI

Refleksi satu tahun kelompok Kembang Wangi

Satu tahun sudah jaringan perempuan tingat kecamatan ini terbentuk, belum banyak yang bisa di lakukan untuk merubah dunia seperti moto dan spirit mereka pada saat malam refleksi setahun lalu. Jaringan yang diinisiasi kelompok perempuan Rukun Makmur Desa Musuk, Sekar Putri Desa Musuk, dan Putri Mawar Desa Cluntang tersebut mendeklarasikan diri disaksikan Camat Musuk, DPRD Kab Boyolalali  serta Kepala bidang pemberdayaan perempuan DP2KB P3A Kab. Boyolali Dinuk Prabandini.

Selama satu tahun kelompok ini berjalan berbagai aktifitas dilakukan baik dalam bentuk kegiatan di kelompok masing-masing atau dalam kegiatan jaringan bersama seperti sekolah tani perempuan, bazar UMKM perempuan serta kegiatan dikusi tematik yang setahun dilakukan dua kali, yaitu isu Trafficking pada Maret 2018,  serta  Pemanfaatan Potensi Lokal untuk Produk Olahan Makanan.

Selain memperkuat di bidang ekonomi, jaringan kerja ini juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi baik di tingkat kecamatan maupun di tingkat kabupaten. Beberapa kegiatan audiensi yang pernah dilakukan pada pmerintah kecamatan seperti usulan rancangan program, memberikan masukan program. Sedangkan advokasi pada pemerintah kabupaten yang pernah dilakukan antara lain lihat dalam kegiatan festival peternakan, hari pangan maupun event lainya dimana kegiatan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan OPD terkait terhadap kerja kelompok maupun jaringan.

Upaya advokasi pada pemerintah membuahkan hasil, terlihat dari tiga kelompok yang menginisiasi jaringan perempuan ini beberapa kali mendapatkan program dari pemerintah seperti program pasca panen, program kemitraan simpan pinjam modal bergulir serta program tanaman pekarangan.

Perempuan Menggerakan Dunia

Satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi diperingati pada tanggal 10-11 September 2018 dengan tema “PEREMPUAN MENGGERAKAN DUNIA“. Saat ini bergabung dua kelompok baru yaitu PPT-TPPO Kecamatan Musuk dan Kelompok Perempuan Berkah Tani, sehingga jumlah anggota mencapai lebih dari 100 orang. Kelompok PPT-TPPO bekerja untuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Sudah 7 bulan terakhir bergabung memperkuat kerja-kerja jaringan khususnya untuk issue kekerasan yang saat ini cukup marak di Kecamatan Musuk. Sedangkan kelompok perempuan Berkah Tani  fokus pada kegiatan pertanian dan peternakan di Desa Cluntang.

Sambutan Kepala Desa Cluntang

Pada refleksi peringatan satu tahun Jaringan Perempuan Kembang Wangi, dilakukan beberapa rangkaian kegiatan antara lain : Refleksi program dan penyusunan program, pelatihan media sosial untuk advokasi dan jejaring pemasaran, outbound leadership dan dialog. Kegiatan diikuti 5 kelompok perempuan di Kecamatan Musuk Boyolali serta 1 kelompok dari Desa Balerante Kabupaten Klaten.

Untuk kegiatan yang terakhir yaitu dialog Lereng Merapi menjadi acara puncak sekaligus penutup rangkaian acara refleksi setahun kembang wangi.  Dengan melibatkan 140 peserta turut hadir Haryani Saptaningtyas dari representasi SRI Belanda yang menyampaikan bahwa perempuan-perempuan harus bergerak dan mempengaruhi kebijakan public dengan memanfaatkan media sosial. Acara ini ditutup oleh Dinuk Prabandini kepala bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak DP2KB P3A Kabupaten Boyolali yang menyampaiakan peran pemerintah dengan kebijakan yang mendukung untuk program pemberdayaan perempuan, salah satunya adalah program pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta penguatan ekonomi keluarga yang kreatif.

Sari pati dan point penting dari kegiatan ini adalah memperkuat jejaring perempuan untuk mendorong program yang pro perempuan. Pada refleksi 1 tahun, dihasilkan program bersama antara lain : 1. Memperkuat jejaring produksi dan pemasaran produk komunitas, 2. Advokasi mendorong program dan anggaran pro perempuan, 3. Penguatan internal kelembagaan perempuan, karena dengan lembaga yang kuat mampu menjalan program dan advokasi untuk mendorong pemenuhan hak-hak perempuan.

Noko Alee (Community Organizer)

Perempuan di Kuncen Beralih dari Kimia menjadi Organik

Kuncen adalah Desa di sebelah Utara Kabupaten Klaten, dimana sektor pertanian menjadi penopang ekonomi masyarakatnya. Fasilitas pengairan cukup memadai dengan menggunakan irigasi teknis, meskipun ada sebagian kecil yang tadah hujan. Padi dan jagung menjadi komoditas unggulan di Desa Kuncen, disamping produksi emping melinjo, ternak puyuh yang banyak digeluti masyarakat sebagai sumber pendapatan rumah tangga.

Melimpahnya limbah ternak puyuh menjadi satu pemikiran bersama untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik. Pupuk sudah tentu dibutuhkan oleh petani untuk membantu meningkatkan produktivitas pertaniannya. Hari Sabtu tanggal 15 September yang lalu, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Desa Kuncen dan Kelompok Wanita Tani mengikuti praktik pengolahan pupuk organik di Rumah Bapak Sutiyono. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang diawali pada 25 Agustus 2018 yang lalu. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama antara SPEK-HAM, PT. Agri Kencana Persada, dan Pemerintah Desa Kuncen. Sudah ada sekitar 200 kg pupuk organik yang diolah dengan bahan yang sederhana seperti : kotoran burung puyuh, arang sekam/ serbuk gergaji, dolomit/ batu kapur, bakteri pengurai, dan sampah organik rumah tangga. Untuk bakteri pengurai penyediaannya dibantu oleh PT Agri Kencana Persada sebuah perusahaan yang memproduksi bakteri sebagai bahan pupuk organik dan kebutuhan industri besar lainnya.

Pembuatan pupuk organik ini terbilang mudah bagi perempuan. Seluruh bahan dicampur dengan rata dan ditutup dengan plastik. Setelah satu minggu dibalik, ditambah air dan ditutup kembali. Proses ini dilakukan setiap minggu, selanjutnya pupuk akan matang setelah 40 hari. Di dampingi oleh Priyo Jatmiko selaku konsultan dari PT Agri Kencana Persada dan Soepadmin, CO SPEK-HAM, setiap hari Sabtu KP3A dan KWT memproduksi kompos yang bahan-bahannya diperoleh dengan

Praktik membuat pupuk organik

swadaya anggota. Anggota yang datang membawa kotoran organik dari rumah masing-masing, ada yang membawa kotoran puyuh, sisa sayuran, bahkan -daunan kering. Ditanya akan digunakan untuk apa nanti hasilnya, Cobawati selaku pengurus KP3A mengatakan “Ya nanti kalau sudah jadi pupuknya akan dipakai memupuk tanamannya sendiri-sendiri”.

Berbeda dengan Cobawati, menurut Kristiyana yang penting adalah gerakan perempuan mengolah sampah. Menurut Bu Carik biasanyaperempuan setiap hari pasti menghasilkan sampah dari aktivitas memasak, ke pasar dan sebagainya. Paling tidak sampahnya sendiri diolah biar tidak mengganggu lingkungan.

Mereka belum berfikir hasil produksi kompos akan dijual. Fokusnya digunakan untuk pribadi masing-masing sambil mengamati hasilnya. Dibutuhkan waktu dan proses yang berkelanjutan untuk  merubah paradigma pertanian kimia ke pertanian organik. Saat ini sudah ada niat dan kemauan dari perempuan untuk memulai. Sunarsi (60 th) salah satu perempuan yang ingin belajar dan memulai. Sehari-hari beliau bekerja sebagai buruh tani, berangkat ke sawah mulai jam 06.00 hingga tengah hari. Tetapi setiap hari Sabtu beliau pasti menyempatkan diri untuk mengikuti praktik mengolah kompos. Sunarsi berangkat ke sawah lebih awal supaya jam 10.00 bisa ikut. Baginya kegiatan ini bisa menambah pengetahuan, yang selama ini tahunya dan biasa memakai pupuk kimia.

Nila Ayu – Manager Divisi Sustainable Livelihood

Memperkenalkan Komoditas Sereh Wangi Perempuan Petani Sereh Wana Makmur ikut Karnaval

Keikutsertaan KTH (Kelompok Tani Hutan) Wana Makmur dalam kegiatan ini berawal dari celetukan bapak-bapak petani ketika sedang diskusi kelompok yang ingin ikut karnaval dengan tujuan memperkenalkan sereh wangi ke masyarakat luas. Namun dalam proses persiapannya, justru petani sereh perempuan yang sangat antusias. Moment ini dirasa tepat karena pada saat kegiatan dipastikan akan banyak sekali orang berkumpul untuk menyaksikan karnaval, sehingga dapat digunakan sebagai ajang promosi sereh wangi. Meskipun tidak semua anggota mengikuti kegiatan ini, hanya beberapa orang sebagai perwakilan namun acara tetap meriah meskipun cuaca cukup panas.

Diharapkan dengan keikutsertaan dalam kegiatan karnaval ini, masyarakat lebih mengenal tanaman sereh wangi dan mengetahui bahwa di Desa Parereja sudah mulai merintis budidaya sereh wangi. Di spanduk yang dibawa oleh kelompok pun ditampilkan foto-foto tentang aktifitas dari mulai penanaman, pemanenan sampai penyulingan sereh wangi. Hal ini bisa membuat “penasaran” masyarakat hingga akhirnya mencari tahu dan bertanya pada kelompok. Melalui karnaval ini diharapkan semakin banyak petani di Desa Pereja yang tertarik mengembangkan komoditas sereh wangi dilahan-lahan marginal yang tidak subur untuk menambah pendapatan petani.. Terlebih lagi untuk pemerintah desa, diharapkan agar dapat memberi perhatian lebih kepada kelompok dan kegiatan budidaya ini.

Amalia Astuti (Community Organizer Brebes)

Apem Kampung Sewu, Berdaya dengan Kuliner

Solo, SpekHam.org – Setiap kampung binaan Yayasan Spek-Ham memiliki potensinya masing-masing. Di daerah Kampung Sewu yang juga menjadi bagian dari kampung binaan Spek-Ham, makanan apem jadi barang dagang potensial yang masuk dalam program pemberdayaan. Program pemberdayaan melalui kuliner apem ini juga dijalankan bersama dengan  Kelompok Perempuan Kampung Sewu (KPKS).

Nina, salah satu anggota KPKS yang juga menjadi salah satu pedagang Apem, mengatakan kalau memang di Kampung Sewu terkenal dengan apem sewu. Bahkan Dinas Koperasi & UMKM sampai membuatkan shelter di dekat kelurahan. Tujuannya adalah untuk ikut mempromosikan apem sewu ke khalayak umum. Sayangnya, Nina belum berani membuat apem di luar pesanan, karena resikonya lebih besar.

”Tapi saya sendiri tidak hanya menjual Apem, saya juga menjual ketan, kolak dan lain-lain. Itu untuk tambahan saja. Yang jelas, apem itu sebenarnya yang saya andalkan. Satunya seharga seribu rupiah, kolak, ketan, dan alinnya saya jual tiga ribuan,” ungkap Nina, Selasa (14/8)

Sulis, yang juga merupakan anggota KPKS adalah salah satu pedagang apem yang sudah cukup lama berjualan. Sulis mulai berjualan sejak tahun 2013. Apem yang dijualnya ada beraneka ragam rasa. Ia, tapi sama dengan Nina, belum berani menjual di luar orderan. Ia hanya berani membuat jika ada orderan saja. ”Risikonya itu lho Mas, soalnya Apem kan umurnya ga bisa lebih dari tiga hari,” ujarnya, Selasa (14/8).

Menurut Sulis, walaupun banyak resiko seperti itu, apem sewu tetap memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan ia pernah mendapatkan pelanggan dari luar negeri. Tak jarang juga ia mendapat orderan dari luar kota. Untuk solusi apem yang sukar bertahan lama itu Ia sempat mengakalinya dengan menjadikan Apemnya makanan beku dahulu,”Sempat nyari solusi, dan ketemu itu, dijadiin Frozen dulu Mas,” Tambah Sulis.

Pekerjaan rumah bagi pedagang apem sewu lainnya menurut Nina adalah pemasaran dan packagingnya. ”Saya pernah memutar otak untuk memasarkan lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan yang terakhir ini saya memasarkannya melalui Shopee juga,” tukas Sulis.

 

Taufik Nandito

Mahasiswa Psikologi UMS

Manfaat Bank Sampah di Kestalan dan Kampung Sewu

Solo, SpekHAM.org – Sebagai bentuk komitmen Yayasan SPEK-HAM dalam memberdayakan kampung-kampung binaan, SPEK-HAM memilik program andalan berupa bank sampah. Program ini diprioritaskan bagi warga perempuan yang berdomisili asli di kampung-kampung binaan SPEK-HAM. Program bank sampah yang sudah berjalan tersebut di antaranya terdapat di kelompok Menur Kestalan 1, dan Kampung Sewu RW 8.

Pada Selasa (14/8) dua mahasiswa magang dari UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) bersama “Pakdhe” Soepadmin selaku Community Organizer Divisi Sustainble Livelihood SPEK-HAM mengadakan monitoring di dua tempat bank sampah tersebut. Monitoring ini selain bertujuan untuk mengontrol dan memantau  perkembangan bank sampah juga sebagai bentuk penyerapan aspirasi dari permasalahan yang terjadi di lapangan.

Di Kelompok Menur 1 Kestalan, bank sampah menjadi modal awal Kelompok Menur untuk menggagas pra-koperasi. Dari Pra-koperasi yang diawali oleh adanya bank sampah ini, Kelompok Menur 1 mulai mengadakan banyak inovasi yang salah satunya adalah dengan membuat parcel sembako setiap hari raya Idul Fitri tiba. Walaupun hanya beranggotakan 15 orang, dan yang aktif hanya 7 orang, Pra-koperasi dari bank sampah di Menur 1 tetap berjalan hingga hari ini.

Ketua kelompok Menur 1, Heny Paryani berharap dengan keberadaan bank sampah, anggotanya bisa mandiri, ada kegiatan serta tidak mudah terbelit hutang-hutang yang menyulitkan, ”Yang penting itu saya dan teman-teman, program ini setidaknya bisa membantu keuangan. Apalagi yang ikut program ini kebanyakan kan pedagan-pedagang kecil,” Ujar Heny pada Selasa (14/8)

Sedangkan di waktu yang sama, Ketua RW 8 Kampung Sewu Budi Cahyono yang juga koordinator Bank Sampah Kampung Sewu mengungkapkan banyak perbedaan yang terjadi sebelum dan setelah adanya program Bank Sampah, ”Bank sampah di sini itu baru berdiri di tahun 2016, dan sebelum itu ya ada-ada saja keluhan-keluhan ibu-ibu di sini,”.

Menurut Budi, setelah adanya bank sampah, sekarang beberapa tahun belakangan, ada mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) masuk di RW 8. Selain itu bagi perempuan-perempuan di RW 8, bank sampah dapat menjadi penghasilan tambahan dan menambah kegiatan-kegiatan produktif bagi mereka, ”Setidaknya ini bagi ibi-ibu bisa jadi tambahan buat jajan, sangu, atau bayar listrik. Jadi tidak hanya bergantung sama yang laki-laki tok,” Ucap Budi, Selasa (14/8).

 

Budi juga mengatakan sebenarnya banyak kendala yang dialami oleh warga RW 8 dalam mengelola bank sampah. Jadwal untuk mengumpulkan sebenarnya sudah tetap, sebulan sekali, di minggu ketiga. Namun sayang, tetap saja ada kendala pertemuan bagi kelompok yang diisi oleh 20 orang anggota itu. Bagi Budi, kendala itu tidak jadi masalah, yang terpenting bank sampah ini konsisten, ”Yang penting itu tetap berkesinambungan dan konsisten,” Tukasnya.

Taufik Nandito

Mahasiswa Magang UMS

GELIAT KELOMPOK WANITA TANI SUBUR MAKMUR MENGOPTIMALKAN LAHAN PEKARANGAN

Kelompok Wanita Tani Subur Makmur menjadi salah satu dari 3 Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Brebes yang mendapatkan Program Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan (OPP) dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. KWT Subur Makmur merupakan salah satu kelompok yang di dampingi SPEK-HAM sejak tahun 2014. Kelompok ini terpilih karena dilihat dari keaktifan kegiatan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan kelompok yang diketuai oleh Wiwin ini adalah budidaya jahe gajah dan tanaman sayuran lainnya di kebun bersama. Di samping kegiatan pertanian, KWT juga membentuk Pra Koperasi yang hingga saat ini masih berjalan lancar. Pertemuan rutin pun dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Program OPP ini bertujuan meningkatkan kemampuan KWT dalam memanfaatkan lahan pekarangan untuk kesejahteraan keluarga. Program ini terbagi dalam 3 tahap :

  1. Tahap pertama dilaksanakan pada bulan Juli 2018, meliputi sarana produksi untuk seperti pupuk kandang, polybag, tray semai dan terpal untuk budidaya perikanan.
  2. Tahap keduan diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Oktober 2018, meliputi pengadaan bibit tanaman (bibit jambu air dan bibit jambu kristal) dan sarana pertanian (benih tanaman sayuran : sawi, cesim, tomat, kacang panjang, terong, cabe rawit, pare dan paranet serta plastik UV)
  3. Tahap ketiga diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Agustus s/d Oktober 2018 meliputi bibit ikan lele dan sarana budidaya perikanan (pakan ikan type I dan II, shadingnet dan probiotik kolam)

Setelah mendapat bantuan tahap I, kelompok membuat kolam ikan lele sembari menunggu bantuan tahap II. Hal ini dikarenakan, kolam harus disiapkan jauh-jauh hari agar terbentuk habitat yang sesuai untuk lele dengan indikator sudah terbentuk lumut alami. Kolam terdiri dari 2 kolam untuk lele besar dan 2 kolam untuk lele kecil dan penyortiran dengan ukuran masing-masing 2×3 m.

Berbagai dinamika pelaksanaan program ini dirasakan oleh kelompok. Proses pembuatan kolam ini tidaklah mudah, KWT melakukan pertemuan khusus untuk membahas bantuan OPP ini. Karena kendala utama di Buara saat musim kemarau seperti sekarang ini adalah ketersediaan air yang sangat langka, bahkan untuk mandi dan kegiatan rumah tangga lainnya saja sudah sangat sulit. Musim kemarau bagaikan musim paceklik di desa ini, tidak ada pemasukan dari sektor pertanian yang merupakan matapencaharian utama di desa ini. Supaya pengelolaan ternak lele optimal nantinya akan dibuat jadwal pemberian pakan sehari 2 kali yang harus dilakukan oleh anggota, sedangkan untuk penggantian air 2 minggu sekali, pemanenan, penyortiran akan dilakukan oleh semua anggota kelompok secara bersama-sama.

Oleh : Amalia Astuti (Community Organizer Brebes)

Sosialisasi Program Pertanian Terpadu Ramah Lingkungan Untuk Penguatan Ekonomi Perempuan di Desa Kuncen Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten

Pada Hari Senin (13/8) SPEK-HAM melakukan sosialisasi program pertanian ramah lingkungan di Desa Kuncen Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten bersama Pemerintah Desa Kuncen dan PT. Agri Kencana Perkasa. Pada pertemuan tersebut dihadiri oleh Muspika Ceper, BPD, anggota KP3A, pengurus BUMDES, dan KWT. Peserta diberi pengarahan untuk membangun semangat dalam memanfaatkan lahan pertanian mereka dengan metode pertanian yang ramah lingkungan. Harapan Kepala Desa Ibu Kristiyana pertanian dapat membentuk sebuah icon sebagai ciri khas Desa Kuncen.

Dari pihak SPEK-HAM diwakili oleh Nila Ayu Manager Divisi Sustainable Livelihood. SPEK-HAM menyampaikan bahwa salah satu program strateginya adalah pengelolaan sumber daya alam untuk penghidupan berkelanjutan, khususnya untuk peningkatan ekonomi perempuan rentan. Kuncen memiliki potensi pertanian yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Pengelolaannya bisa melibatkan kelompok perempuan maupun BUMDES.

Sedangkan dari PT Agri Kencana Perkasa, sebuah perusahaan yang membidangi pertanian organik di kawasan Ceper, sekaligus yang nantiny berperan sebagai CSR (Corporate Social Responsibility) yaitu Pak Priyo Jatmiko menyatakan siap membantu perkembangan di bidang pertanian Desa Kuncen dengan bimbingan SPEK-HAM seperti mengajarkan membuat kompos dengan menggunakan bakteri pengurai dari perusahaan tersebut. Yang menarik perusahaan tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun dari usaha ke depan nanti, malah Pak Priyo mengatakan, “kami akan membantu dengan apa yang kami punya sekuat tenaga kami, bahkan kami akan membantu menjual hasil panen nanti jika hasilnya memuaskan, langsung ke penadah atau lewat kami terlebih dahulu dan kami tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun”.

Peserta yang pada awalnya masih bingung, dia akhir acara terlihat antusias dengan rencana tindak lanjut berupa praktek pembuatan kompos sebagai persiapan mendasar untuk memulai pertanian ramah lingkungan. Rencananya praktek pembuatan kompos akan dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2018 bersama dengan PT Agri Kencana Persada dan SPEK-HAM.

(Andrey & NL)

 

Assesment Desa Kuncen untuk Pengembangan Pertanian

Solo, SpekHAM.org – Lembaga Swadaya Masyarakat Spek-Ham Solo beserta lima mahasiswa magang melakukan assesment di Desa Kuncen, Klaten pada Kamis (2/8). Pertemuan itu diadakan di Balai Desa Kuncen dengan melibatkan kepala desa setempat secara langsung.

Assesment yang berlangsung siang hari itu membahas potensi desa yang dapat dijadikan komoditi dengan melibatkan penduduk perempuan di Desa Kuncen. Kepala Desa, Kristiana mengungkapkan bahwa Desa Kuncen sudah menjadi rujukan desa-desa lain di Klaten mengenai pemberdayaan perempuan. Kristiana pun mengungkapkan asanya agar potensi SDM yang ada dapat bersinergi dengan SDA yang tersedia di lapangan.

“Di sini itu permasalahannya tanahnya tanah tadah hujan. Jadi kita sering kesulitan dengan air. Karena tanahnya berjenis tadah hujan, pertanian jadi agak sulit dikembangkan. Pernah dulu tembakau laris di tahun 1980 dan itu sudah lama. Kemarin kemarin coba menjadikan jenis-jenis pangan seperti emping dan rengginang, akhirnya mentok karena beberapa faktor,” ujar Kristiana, Kamis (2/8).

Namun, intinya Spek-HAM dalam pertemuan itu berkomitmen untuk ikut mengembangkan potensi pertanian Desa Kuncen. Lantas seusai mendengar permasalahan yang dipaparkaan oleh kepala desa, pengairan disepakati menjadi fokus utama sebelum memulai pengembangan pertanian. Kepala desa mengiyakan dan mengatakan akan segera melakukan pertemuan dengan perangkat desa yang lain.

Di sisi lain, Kristiana dengan terbuka mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada LSM Spek-HAM. Lantaran program-programya dijalankan bersama Spek-Ham, penduduk desa kuncen menjadi lebih terbuka terhadap isu-isu perempuan, terutama masalah kesehatan reproduksi. Menurutnya, kerja sama antara Spek-HAM dengan Desa Kuncen bisa dipererat lagi dengan diadakan program-program lainnya.

“Sekarang penduduk desa jadi lebih terbuka dan peka sama kasus-kasus seperti itu. Bahkan kalau ada apa-apa tidak segan mengadu ke saya. Saya jadi ibunya mereka. Intinya kemajuan desa itu kan nggih tergantung dari penduduknya dan perangkat-perangkat desanya,” tandas Kristiana.

 

Taufik

Mahasiswa magang Psikologi UMS