Search for:

Membingkai Permasalahan Buruh Migran Lewat Media Film

Ratusan orang menghadiri acara Pemutaran Film Dokumenter yang berjudul “Dispereert Niet” dan Diskusi Permasalahan Buruh Migran di Bale Tawang Praja, kompleks Balaikota Surakarta, jumat 7/8. Hadir sebagai narasumber dalam acara ini adalah Yasmine Soraya dan Ratna Saptari dari Indonesian Migrant Workers Union (IMWU), Agusdin Subiantoro (Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI), Anjani (Staf Ahli Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi), dan Rangga Aditiawan (Pegiat Fim Dokumenter). Sementara itu sebagai moderator adalah Cak Mul dari Yayasan Sari Surakarta.

Dispereert Niet adalah sebuah film dokumenter yang berdurasi 1 jam 10 menit, menceritakan tentang kehidupan sehari-hari pekerja migran Indonesia di Belanda. Film ini merupakan karya dari seniman Irwan Ahmett, Tita Salina, dan Rangga Aditiawan. Irwan dan kawan-kawan mengangkat banyak isu pekerja migran Indonesia dalam film ini, diantaranya mengenai permasalahan seperti tempat kerja yang tak layak, upah tak dibayar, beban kerja yang berat, hubungan dengan majikan, penipuan yang dilakukan oleh agen dan lain-lain.

Kawan-kawan pekerja juga menghadapi permasalahan sosial dalam kehidupan sehai-hari, seperti dalam hidup berkeluarga, hidup dalam kekhawatiran akan penangkapan, sembunyi bila ada polisi, kehidupan sosial untuk berkumpul dengan kawan-kawan, olahraga dan rekreasi, isu transgender, kursus bahasa, masalah mengakses kesehatan ke rumah sakit, serta proses kepulangan. Semua tertangkap dan disajikan dalam film ini.

Acara ini juga menyajikan beberapa testimoni dari mantan buruh migran yang bekerja di luar negeri. Maryani misalnya, mengaku pernah bekerja di Belanda dan menjadi korban penipuan calo. Selama berada di Belanda, ia mendapatkan surat ijin tinggal dari Pemerintahan Belanda. “Saya bekerja di Belanda selama 3 bulan dan tidak mendapatkan upah, semua saya ikhlaskan,” ungkapnya. Selain itu ia juga mengaku pernah ditangkap Polisi dan akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Pengakuan lain disampaikan oleh Mufti asal Karanganyar yang pernah bekerja di Belanda. Ia mengatakan bahwa bekerja di negara Belanda memanglah tidak mudah karena harus beradaptasi dengan cuaca yang berbeda dengan Indonesia, dan minimal harus mengeluarkan uang sejumlah 250 Euro per bulan untuk bayar kos-kosan, saya bertahan hanya 1,5 bulan saja. “Mending kerja di Indonesia saja. Saya merasa kapok, tidak akan bekerja di sana lagi,” ungkapnya.

Mengawali diskusi, Agusdin Subiantoro, Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI menyatakan bahwa sesuai dengan yang tertulis di Undang-Undang, negara yang tak boleh dijadikan sebagai tujuan TKI adalah suatu negara yang sedang mengalami kerusuhan dan tidak ada perlindungan TKI di Negara tersebut. Agusdin melanjutkan, Pemerintah Indonesia mempunyai kriteria dalam penempatan TKI, diantaranya memiliki tingkat proteksi optimal bagi para pekerja di negara tujuan, dan yang berangkat adalah mereka yang merupakan TKI yang formal dan profesional yang bekerja pada perusahaan dan berbadan hukum berdasar Undang-Undang.

Sementara itu untuk pekerja non-formal, Agusdin menyatakan sangat tergantung dengan Undang-Undang yang berlaku negara setempat. “Persoalannya, untuk keamanan pekerjanya harus dipastikan dimana kerjanya, kepada siapa, dan haknya apa saja. Jika sudah maka harus dituangkan dalam Perjanjian Kerja atau PK yang biasanya dilakukan antara TKI dengan perusahaan yang berbadan hokum,” jelasnya. Selain itu pekerja yang baik harus memiliki kemampuan tertentu seperti keahlian, kemampuan bahasa, psikis, mental, dan mempunyai uang saku untuk perjalanan berangkat ke negara tujuan. Apabila terjadi sesuatu yang tak sesuai maka bisa dilaporkan ke BNP2 TKI.go.id. Nanti akan kami tindaklanjuti dan kita beri sanksi.

Pada bagian lain, Rangga, salah seorang yang terlibat dalam pembuatan film Dispereert Niet menyampaikan bahwa film ini dibuat berdasarkan penemuan kasus-kasus yang dialami para pekerja buruh migran oleh rekan-rekan yang tergabung dalam IMWU, seperti buruh yang tidak diberi gaji, buruh yang dikejar-kejar polisi karena illegal, hingga tidak adanya perlindungan bagi pekerja buruh di sana.

Sementara itu Yasmine Soraya, seorang buruh migrant dari IMWU, mengaku sengaja membuat film ini karena ingin menunjukkan kepada dunia tentang kondisi Belanda yang tak seindah seperti yang dibayangkan. “Saya mendapat dukungan dari rekan-rekan buruh migrant, bukan hanya IMWU di Belanda tetapi juga banyak negera termasuk IMWU Hongkong,” jelasnya. Yasmine menambahkan, ada beberapa perkumpulan yang berkaitan dengan pekerja di Belanda. Mereka mengadakan pertemuan di tiap kota, seperti di Den Hag, Amsterdam, dan Roterdam. Mereka mendengungkan “Mari Bersatu” dan bersolidaritas antar sesama buruh migran.

Ratna Saptari dari IMWU menyampaikan tentang kebijakan Pemerintah Belanda tentang buruh migrant yang menurutnya sangat berbeda bila dibandingkan dengan tahun 1980-1990an yang dipengaruhi oleh kesepakatan politik Uni-Eropa. Maka di tahun-tahun berikutnya, Pemerintah Belanda mempunyai kebijakan sendiri mengenai buruh mingran. “Agak sulit dalam mengurai persoalan buruh migran termasuk buruh migran illegal, keberadaannya tidak bisa dihilangkan. Baru-baru ini ada 20 orang pekerja migran yang ditahan polisi, 7 antaranya orang Indonesia,” ungkap Ratna. Ratna menambahkan bahwa polisi lokal masih sering melakukan penggrebekan dan mengambil barang-barang pribadi milik pekerja migran.

Narasumber lainnya, Anjani, yang merupakan staf ahli Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memaparkan bahwa masih banyak pendatang di Belanda yang tak memiliki dokumen. Mereka bekerja di sana, agar bisa pulang, mereka mengirimkan uang sebesar 1000 Euro ke Indonesia. “Sebenarnya kami lebih mendorong untuk menciptakan wirausahawan. Beberapa waktu yang lalu, bersama BNP2TKI mengundang beberapa organisasi, instansi pengusaha, dan mitra industri untuk membuat suatu kegiatan yang bisa saling mendukung,” urai Anjani. Ia menambahkan, program bersama tersebut untuk mendukung industri dengan melibatkan wirausaha yang sudah memiliki usaha dan mengajak warga di sekitar untuk bisa turut berusaha.

Sementara itu Endang Listiani dari SPEK-HAM menyampaikan tentang pentingnya negara hadir dalam setiap permasalahan yang dihadapi buruh migran. “Ketika menyaksikan bagaimana buruh migran mengalami perlakuan yang tidak baik maka itu menjadi PR bagi Pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan,” terangnya. Lebih lanjut Ia menyatakan bahwa selama ini permintaan pekerja luar negeri dipandang cocok dilakukan oleh perempuan, hal ini mengakibatkan kerentanan terhadap perempuan semakin tinggi, sebagian besar mereka berada pada usia produktif dan bekerja pada sektor domestik. “Pekerja migran perempuan rentan mendapatkan perlakuan tidak baik, seperti kekerasan, diskriminasi, upah tidak layak, minim perlindungan, tidak adanya perlindungan sosial dan sebagainya,” terang Eliest, sapaan Endang Listiani.

Mengawali sesi tanya jawab, Harno, aktifis buruh, menyampaikan tanggapannya tentang masalah buruh migran. Menurutnya persoalan buruh migran terjadi pada saat proses perekrutan hingga pemberangkatan. “Masalah-masalah buruh migran sudah berlangsung lama, tapi kenapa ya selalu dibiarkan tidak ada upaya-upaya perbaikan? Menurut saya, tanpa menonton film ini sebenarnya masalah buruh itu selalu sama saja,” ungkapnya.

Dia juga menyatakan bahwa Polisi sudah terlalu banyak menangani permasalahan. “Ada beberapa kawan di Jogja menanyakan ke kami, mereka sering keluar masuk lembaga pelatihan yang tak memiliki kapasitas mengirim TKI ke luar negeri, dan anehnya lembaga-lembaga itu bekerjasama dengan Kemenakertrans. Sejauh mana perlindungan yang diberikan negara ini, misalnya dari BNP2TKI, kalau ada pelanggaran di luar negeri bagaimana?” ungkapnya bertanya.

Seorang peserta lainnya, Takdir dari NTT, menyampaikan kenapa TKI banyak mendapatkan penyiksaan? Padahal mereka direkomendasi oleh Negara, tapi sampai di luar negeri mendapat perlakuan yang tidak baik. Pada bagian lain saya juga mengkritik, kenapa ya orang-orang yang bekerja di luar negeri tanpa dokumen hanya sebagai buruh? Padahal di Indonesia banyak pekerjaan seperti itu, jadi kenapa juga harus ke luar negeri?

Indra dari LPMK Kelurahan Jebres angkat bicara soal film tersebut. Ia menyatakan bahwa segala sesuatu yang illegal pasti akan menimbulkan berbagi permasalahan. Untuk itu saya menghimbau supaya disiapkan tenaga ahli profesional dan yang berkemampuan untuk diberangkatkan ke luar negeri. “Selama ini motivasi TKI bekerja di luar negeri karena motivasi mendapatkan uang yang lebih tanpa pernah melihat kemampuan dan kelengkapan administrasinya,” ungkapnya.

Agusdin Subiantoro dalam tanggapannya mengiyakan pendapat Takdir. Ia menyatakan bahwa banyak warga NTT yang menjadi korban trafiking, mereka banyak bekerja di sektor perkebunan. Kemudian permasalahan legal dan illegal menjadi suatu masalah sendiri, sebagai contoh di Malaysia sekarang ada sekitar 2 juta orang TKI, sehingga apabila melakukan pendampingan maka BNP2TKI harus menyediakan ratusan orang yang ditempatkan di sana. “Bekerja di Malaysia tidak perlu visa, hanya menggunakan paspor yang masih berlaku. Ketika masa berlaku paspornya habis, mereka tidak memperpanjang paspornya maka karena merasa keenakan sehingga bablas menjadi TKI illegal,” terangnya.

Anjani dalam tanggapannya menyatakan perlunya political will dari berbagai pihak untuk berperan aktif dalam memperkuat jaringan di masyarakat di tingkat bawah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Jadi yang perlu dikerjakan bukan hanya advokasi hak, namun juga peningkatan ekonomi dan pengembangan potensi local,” ungkapnya. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa saat ini yang sedang dikembangkan BNP2TKI adalah melakukan koordinasi lintas sektoral.

Sementara itu Ratna menyatakan pentingnya memperkuat jaringan yang sudah ada untuk bekerjasama dan membantu pada buruh migran di luar negeri. “Penting dipahami bahwa buruh legal dan illegal wajib mendapatkan perlindungan di manapun mereka berada,” terang dia. Pada bagian akhir diskusi, Endang listiani meminta kepada negara untuk bisa menyiapkan pekerja migran yang memenuhi syarat dan melakukan perlindungan di luar negeri secara terintegrasi.

Acara pemutaran film dan diskusi ini terselenggara atas kerjasama dari beberapa NGO yang peduli pada permasalahan buruh migran, terutama perempuan dan anak, yaitu IMWU, MIGRANT CARE, JALA PRT, JARINGAN BURUH MIGRAN, SARI dan SPEK-HAM. Peserta terdiri dari Dinas Pemerintahan, Akademisi, Sekolah-Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan, Ormas Kemahasiswaan, NGO, Kelompok Buruh Migran dan Media Massa. (Henrico Fajar Kristiarji W – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat/spekham.org)

Peran Gender dalam Berternak Kambing Musuk

Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali merupakan daerah potensial bagi pengembangan sapi perah di Propinsi Jawa Tengah. Alamnya yang subur serta dekat dengan gunung berapi menjadi nilai lebih untuk pembibitan sapi perah dan pertanian lahan basah.

SPEK-HAM telah mendampingi Komunitas Perempuan Tani di Dusun Pengkol, Desa Musuk, Kecamatan Musuk sejak tahun 2012 hingga sekarang. Pertemuan rutin bulanan yang dikemas dalam diskusi komunitas kali ini diadakan di Kelompok Tani Perempuan Rukun Makmur. Kelompok ini memiliki program inovatif untuk pengelolaan kambing, yakni Posyandu Kambing, yang diadakan minimal 2 bulan sekali oleh kelompok dan didampingi oleh Community Organizer.

Pertemuan ini adalah pertemuan pertama setelah Puasa dan Lebaran, oleh karenanya salah satu agenda dalam pertemuan kali ini adalah Syawalan. Syawalan merupakan acara halal bihalal yang masih diadakan sampai sebulan setelah lebaran usai. Acara pertama yakni refleksi pengelolaan kambing, titipan dari  Divisi Sustainable Livelihood SPEK-HAM selama 1 tahun terakhir. Salah satu yang menjadi refleksi yaitu mengenai berapa keuntungan dari pengelolaan kambing kelompok yang diterima anggota, siapa saja anggota kelompok yang sudah merawat dan menjual kambing kelompok selama setahun ini, serta kendala dari pemeliharaan kambing kelompok. Diskusi yang diadakan pada hari Minggu, tanggal 2 Agustus 2015 ini bertempat dirumah Ibu Komah.

Diskusi dilanjutkan dengan penggalian data untuk pemetaan peran perempuan dan laki-laki dalam pemeliharaan kambing pada Kelompok Tani Perempuan Rukun Makmur. Pemetaan dilakukan dengan mengelompokkan hal-hal yang biasanya dilakukan saat pemeliharaan, seperti pemberian kombor (makanan ternak), mencari rumput, memandikan ternak, merawat ternak bila sakit, merawat ternak setelah melahirkan, hingga pengambilan keputusan saat penjualan ternak. Dalam pemetaan tersebut banyak anggota yang mau terbuka tentang hal-hal diatas, tetapi juga masih ada yang malu-malu dalam mengungkapkan peran yang mereka ambil saat berternak.

Dipilihnya berternak sebagai contoh tentang pembagian peran perempuan dan laki-laki karena beternak adalah hal paling mendasar di Desa Musuk. Semua penduduk memiliki ternak meskipun sedikit. Dari pemetaan pemeliharaan ternak tersebut, dapat dilihat bagaimana interaksi antara bapak, Ibu serta anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemeliharaan biasanya dilakukan bersama-sama antara bapak, ibu dan anak-anak, misalnya mencari rumput dilakukan oleh bapak dan ibu, memberi makan ternak dilakukan ibu diikuti oleh anaknya. Dalam hal penjualan ternak juga melalui musyawarah, meskipun ditemukan juga anggota yang menunggu ijin suaminya untuk menjual ternak.

Pemeliharaan ternak merupakan potret kecil dari pembagian peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga, masih banyak hal-hal lain yang juga bisa dipotret untuk menggambarkan pembagian peran ini. Pembagian peran yang adil antara laki-laki dan perempuan dapat mencegah terjadinya ketimpangan gender dalam keluarga. Pembagian peran yang adil antara suami dan istri bisa mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Harapannya diskusi tentang pemetaan pembagian peran ini bisa membantu melihat relasi ketimpangan gender yang ada di Desa Musuk.  (Laily Anisah – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat)

Jurnalisme Warga, Sarana Pencegahan Korupsi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan Roadshow 10 kota di Indonesia untuk memperkenalkan media baru yang dimiliki oleh lembaga anti korupsi tersebut, yakni Kanal KPK. Kota Surakarta merupakan kota pertama yang disinggahi KPK, dilatarbelakangi penggunaan internet di Kota Surakarta cukup tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia.

Acara yang dikemas dalam workshop yang bertajuk “Citizen Jurnalism: Berani Lawan Korupsi” tersebut dihadiri oleh penggiat anti korupsi Kota Surakarta, Lembaga Swadaya Masyarakat, Seniman dan Mahasiswa, diadakan di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta pada 30 Juli 2015.

Acara diawali dengan sambutan oleh Humas KPK, Priharsa Nugraha, yang menjelaskan latar belakang dihadirkannya Kanal KPK, salah satunya sebagai media massa alternative yang berbeda dengan arus media massa lainnya. Kanal KPK ini berbentuk Siaran Televisi dan Siaran Radio streaming yang isinya mengajak masyarakat ikut mengawasi penggunaan anggaran publik di lingkungan sekitar mereka.

Kanal KPK juga mengundang masyarakat untuk dapat mengabadikan berita-berita baik (good news) dan dapat dikirimkan ke Kanal KPK. Berita baik misalnya mengenai Sosok Kepala Desa yang transparan dan menjadi panutan bagi warganya. Menurut Priharsa, berita baik ini menjadi salah satu langkah pencegahan tindak pidana korupsi.

Pembukaan dilanjutkan dengan materi Teknik-Teknik Jurnalisme Warga. Ada 3 film dokumenter yang diputar yang merupakan hasil kiriman warga ke Kanal KPK. Ketiga Film tersebut memiliki tema berlainan tetapi masih dalam kesatuan benang merah, yakni urusan publik dan transparansi. Penyampaian materi tentang teknik jurnalisme warga ini disampaikan oleh Pakar Citizen Jurnalism. Dalam pemaparannya dijelaskan bagaimana warga membuat konten video secara sederhana dan tips agar tidak mendapatkan tuntutan pidana dikemudian hari.

Kanal KPK ini ditujukan untuk menggalang advokasi yang bisa dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama. Masyarakat diajak lebih sensitif mengawal dana-dana yang akan turun nantinya, misalnya dana desa. Misalnya saja warga bisa memanfaatkan program radio di Kanal KPK untuk menyampaikan pendapatnya tentang pengelolaan dana desa. Program radio masih menjadi media interaktif dua arah yang digandrungi masyarakat. Kesempatan ini semestinya dapat ditangkap oleh masyarakat, khususnya masyarakat di pedesaan terlebih dengan turunnya dana desa pada akhir tahun 2015 ini. Harapannya penggunaan dana desa bisa tepat sasaran dan transparan pertanggungjawabannya. (Lailiy Anisah – CO Divisi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Masyarakat/spekham.org)

Media Massa Sebagai Sarana Pendidikan

Penyampaian informasi, atau kalau boleh bilang istilah kerennya sosialisasi, sangatlah penting dilakukan dalam usaha membangun kesadaran individu maupun komunitas (masyarakat) terhadap sesuatu hal, salah duanya adalah kesadaran akan kesetaraan gender dan juga tentang pentingnya kesehatan reproduksi.

Peran media massa yang daya jangkaunya lebih luas, seperti koran, majalah, website, media sosial, televisi, dan radio menjadi sangat diperhitungkan. Selain daya jangkau yang luas, media-media tersebut cenderung lebih mudah mempengaruhi perpektif yang ada di masyarakat. Yayasan SPEK-HAM Surakarta dalam hal ini mencoba membangun kerjasama dengan radio lokal baik di Solo, Klaten dan Boyolali.

SPEK-HAM bersama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dan Radio Karisma berencana mengadakan kegiatan siaran radio dalam rangka menyampaikan informasi dan kegiatan SPEK-HAM maupun perkembangan HIV dan AIDS di Kabupaten Boyolali.

 

Drs. Purwoko dari Dinas Kesehatan Ub. Kepala Bagian Promosi Kesehatan (Promkes) Kabupaten Boyolali menyampaikan “Kita mendapatkan jatah siaran 10 kali dalam satu tahun di Radio Karisma untuk beberapa SKPD. Jika SPEK-HAM menghendaki untuk memberikan isian dalam siaran bisa mengajukan surat permohonan dan sekalian dilampiri tema yang akan dibicarakan.” Siaran pertama untuk kerjasama ini sudah dilakukan tanggal 23 Juni 2015. (Soepadmin – CO Divisi Kesehatan Masyarakat wilayah Boyolali/Nuel Oei/spekham.org)

KPP Award 2015 Kluster Solo Raya

KPP Award 2015, sebuah penghargaan yang diberikan kepada agen perubahan masyarakat, yaitu Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) sanitasi sebagai wujud apresiasi atas dukungan dalam program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi,” sekaligus sebagai penutupan program kerjasama Yayasan SPEK-HAM Surakarta dengan USAID-IUWASH periode 2014-2015.

KPP Award 2015 diberikan kepada 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah ; Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Rembang. Penghargaan dibagi menjadi 2 Kluster, yaitu Kluster Solo Raya yang meliputi Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, dan Kluster Semarang Raya yang meliputi Kabupaten Semarang, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Rembang.

Penerima penghargaan KPP Award 2015 Kluster Solo Raya adalah KPP Kampung Baru Sehat, Surakarta sebagai Juara Pertama. KPP Ngudi Serasi Singopuran, Sukoharjo sebagai Juara Kedua. KPP Sehat Sentosa, Krecek, Delanggu, Klaten sebagai Juara Ketiga. Penghargaan ini didasarkan pada perubahan yang terjadi selama masa pendampingan dari SPEK-HAM.

Penyerahan KPP Award 2015 Kluster Solo Raya dilaksanakan di Hotel D’Wangsa HAP, 28 Juli 2015. Penyerahan KPP Award 2015 menjadi bagian dari workshop KPP “Menggalang Keberlanjutan Pembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat Menuju Universal Akses.”

Workshop dihadiri oleh SKPD terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum, BAPPEDA, Dinas Kesehatan, dan BAPERMAS dari 3 Kabupaten/Kota yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo. Selain itu, workshop juga dihadiri Pengurus KPP yang telah didampingi SPEK-HAM sejak Bulan Juni 2014.

Narasumber dalam workshop adalah Bapak Riza Taftani (Kementrian Pekerjaan Umum), Bapak Ir. Taufan Basuki Supardi (Dinas Pekerjaan Umum Kota Surakarta), Ibu Endang Listiani (Direktur Yayasan SPEK-HAM Surakarta), dan Bapak Dani (AKSANSI Pusat). Diskusi panel dipandu oleh Bapak Sofyan Iskandar dari IUWASH Nasional.

Workshop ini bertujuan untuk menguatkan komitmen bersama antara Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan sanitasi berbasis masyarakat menuju 100% akses air bersih, 0% kawasan kumuh, 100% sanitasi yang layak. (Wahyu Pratiwi – Korwil wilayah Solo untuk Program IUWASH /Nuel Oei/spekham.org)

 

Dukungan Akses Sanitasi untuk Masyarakat

Program “Pengembangan Perubahan Perilaku Masyarakat yang Berkelanjutan di 6 Kabupaten/Kota  di Jawa Tengah untuk Mendukung Peningkatan Layanan Sanitasi” adalah program yang lebih difokuskan pada bidang sanitasi. Program ini akan mendukung program Pemerintah yang berhubungan dengan program-program sanitasi seperti Infrastruktur Sanitasi Perkotaan Pedesaan (USRI) dan SLBM yang telah berjalan di Provinsi Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Rembang, Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten.

Dukungan yang bisa diberikan dari program ini berupa upaya-upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan memanfaatkan mekanisme perubahan perilaku yang berkelanjutan. Kontribusi program ini adalah mendukung dan mengembangkan keberlanjutan dalam program-program sanitasi yang dilakukan oleh Pemerintah.

Salah satu hal yang dilakukan untuk mendukung program ini berupa kegiatan pertemuan KPP dengan multistakeholder, dengan mengikutkan beberapa pihak dan komponen yang terlibat langsung dalam Program USRI dan atau SLBM. Kegiatan pertemuan KPP dengan multistakeholder dilaksanakan di 2 wilayah yaitu Sukoharjo dan Klaten. Pertemuan di Sukoharjo dilaksanakan di ruang rapat BAPPEDA Sukoharjo pada tanggal 28 mei 2015. Sedang kegiatan pertemuan KPP dengan multistakeholder di Klaten dilaksanakan di ruang rapat Kantor BAPPEDA Klaten pada tanggal 5 juni 2015, kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai selesai.

Tujuan dari  Pertemuan KPP dengan multistakeholder ini adalah terjalin kerjasama antara KPP dengan multistakeholder  untuk meningkatkan sarana sanitasi.

Peserta yang  terlibat dalam Pertemuan KPP dengan multistakeholder  ini ada 25 orang yang berasal dari unsur: Pengurus KPP, Lurah, BAPPEDA, DPU, SPEK-HAM, Dinkes, BLH, BAPPERMAS.

Kegiatan dilaksanakan satu hari dengan materi yang disampaikan adalah sebagai berikut;

  1. Sharing hasil assessment dari SPEK-HAM.
  2. Sharing perwakilan dari setiap lokasi IPAL/ sarana sanitasi.
  3. Masukan dan pengarahan dari BAPPEDA.

Metode yang digunakan selama pelatihan adalah :

  1. Ceramah,
  2. Tanya jawab,
  3. Curah pendapat,
  4. Diskusi,

Kegiatan  pertemuan KPP dengan multistakeholder  ini menghasilkan rencana tindak lanjut yaitu akan dialokasikan pendanaan dari APBD untuk pengembangan sarana sanitasi, agar kemanfaatan maksimal.

Tantangan yang muncul dari pelaksanaan Program USRI adalah masih minimnya sosialisasi oleh fasilitator kelurahan USRI sehingga muncul pro-kontra di masyarakat. Disamping itu keterbatasan lahan yang digunakan untuk lokasi IPAL komunal juga masih banyak ditemui. Juga adanya keberatan dari warga yang rumahnya menggunakan keramik, kalau harus dibongkar dengan biaya sendiri warga keberatan, perlu musyawarah mufakat tentang biaya tehnis penyambungan, perawatan dan pemeliharaan sarana, terlebih jika didapati bangunan yang tidak berfungsi dikarenakan faktor teknis.

Pembelajaran

  • Leading sektor program USRI di wilayah Klaten dan Sukoharjo ini adalah  Dinas PU. Dalam hal ini, pihak PU semakin memahami, berkomitmen tinggi bersama BAPPEDA, dan merasa memiliki program yang tidak sebatas sebagai “Pelaksana Program USRI  dan SLBM”,  sehingga PU dan BAPPEDA bersepakat untuk mengalokasikan dana pengembangan IPAL agar sarana bermanfaat secara maksimal.
  • Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, BLH, dan BAPERMAS membuktikan komitmennya dalam mendukung upaya pengembangan sarana sanitasi IPAL Komunal. Potensi positif ini perlu selalu dijaga dan dikawal dengan semakin mengintensifkan komunikasi dan koordinasi bersama melalui optimalisasi peran Pengurus KPP di masing-masing lokasi IPAL.

(Wijiatmi – Korlap Program Sanitasi IUWASH untuk wilayah Klaten dan Sukoharjo/spekham.org)

Audiensi DPRD; Informasi, Layanan dan Anggaran Kesehatan Reproduksi Kota Surakarta

Spekham.org, SURAKARTA – 6 Juli 2015. SPEK-HAM Surakarta bersama perwakilan dari beberapa kelurahan mengadakan audiensi dengan Komisi IV DPRD Surakarta. Audiensi tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil diskusi jaringan kota tanggal 12 Juni 2015. Komisi IV DPRD diwakili oleh Ibu Hartanti selaku Ketua Komisi IV DPRD, beserta dengan Pak Paulus Haryoto selaku Wakil Komisi IV DPRD, dan Pak Widodo selaku Anggota Komisi IV DPRD.

Pertemuan diawali dengan pemaparan hasil pemeriksaan IVA tes, VCT, dan IMS oleh Mbak Ayu. Sebelum memaparkan hasil pemeriksaan tersebut, Mbak ayu terlebih dahulu memperkenalkan SPEK-HAM secara umum. “SPEK-HAM fokus kepada pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan.” Tutur Mbak Ayu.  “Pada tahun ini SPEK-HAM bekerja sama dengan BAPERMAS melatih kader kesehatan di 10 kelurahan, pemeriksaan kesehatan reproduksi, dan diskusi komunitas yang membahas hasil pemeriksaan tersebut.” Sambung Mbak Ayu.

Screening kesehatan reproduksi dimulai dari tahun 2014 – 2015 di 24 kelurahan dengan peserta total 868 orang. Berdasarkan hasil screening yang didapatkan dari Klinik/Puskesmas LKB, hampir 47% dari total peserta ibu rumah tangga mengalami persoalan kesehatan reproduksi, mulai dari jamur/kandidiasis, bakterial vaginosis, kencing nanah, dan kandiloma. Selain itu ditemukan 36 orang mengalami gejala awal kanker leher rahim, dan ditemukan 4 kasus HIV (2 orang ibu rumah tangga, 2 orang laki laki). Hasil tersebut memberikan potret realita kondisi kesehatan reproduksi perempuan yang memprihatinkan. “Terima kasih atas informasinya. Data yang saya peroleh hari ini sungguh mencengangkan dan membuat saya miris. Hal ini membuka mata kami, pengetahuan kami tentang kespro.” Ujar Pak Paulus. Selain itu, Pak Paulus juga menambahkan bahwa data tersebut akan menjadi materi Komisi IV DPRD untuk diskusi dengan BAPERMAS dalam upaya menyikapi kondisi yang ada.

Melalui audiensi ini, perwakilan dari beberapa kelurahan juga berkesempatan mengutarakan pengaduan akan kesehatan reproduksi. Banyak dari mereka menuturkan kendala akan anggaran yang tersedia.

“Baru-baru ini kami mengadakan pemeriksaan kespro dan hasilnya banyak yang positif, sehingga kami sebagai kader semangat untuk melakukan pemeriksaan. Kendalanya ada di anggaran Pak.” Tutur Ibu Sri Wahyuni yang mewakili Kelurahan Gilingan.

“Anggaran kita dulu memang mendapatkan 5% dari DPK, dan untuk saat ini jumlahnya menurun. Sekarang kita tidak ada patokan berapa dana yang bisa kami akses, jadi tolong kami dikasih tahu patokan berapa % misal untuk WPA.” Kata Ibu Tri Murniati yang memakili Kelurahan Keprabon.

“Saya ingin menyampaikan kalau antusiasme masyarakat di wilayah Tipes dalam melakukan periksa itu sudah tinggi. Terbukti pada pemeriksaan yang pertama ada 100 orang yang mendaftar, namun hanya 63 orang yang dilayani. Untuk pemeriksaan yang kedua ada 55 pendaftar, tapi baru 27 orang yang dilayani. Yang menjadi kendalanya ialah kenapa kuota dari penyedia layanan dibatasi hanya 20 orang. Saya mohon untuk pelayanan dari Puskesmas itu sekali periksa 50 orang, dan juga sosialisasi ke kelurahan itu supaya berkesinambungan. Hasil dari pemerikaan juga membuat kami terkejut karena banyak yang positif.” Sambung Ibu Yuni yang mewakili Kelurahan Tipes.

Ibu Hartanti juga berharap, melalui audiensi ini kegiatan seperti yang sudah diutarakan tadi bisa dilaksanakan di 51 kelurahan. Sependapat dengan dengan Pak Paulus, Bu Hartanti juga sangat prihatin dengan temuan yang diperoleh dari pemeriksaan tersebut.  Ibu Hartanti juga menjanjikan akan mengkoordinasikan dengan Pak Sekda.

“Hasilnya sangat memprihatinkan, kita harus menyadarkan kesadaran bapak yang pada intinya kita harus bisa menanggulangi. Yang bisa saya bantu adalah nanti saya akan koordinasi dengan Pak Sekda dan bisa membuat surat edaran.” Pungkas bu Hartanti.

Selain itu, Bu Hartanti juga berharap SPEK-HAM mau bekerjasama dengan DPRD. “Saya mohon dari SPEK-HAM ada sharing terkait perkembangan kespro ibu-ibu. Tidak usah sungkan datang ke DPRD.” Ujar Bu Hartanti. Di akhir diskusi Bu Hartanti juga sepakat dana kegiatan di kelurahan digunakan untuk pemeriksaan, bukan hanya sosialsiasi.

(Paul Sinaga – Mahasiswa Magang dari STT Jakarta)

Membangun Kesadaran Pentingnya Kesehatan Reproduksi

Spekham.org, PAJANG – Pertemuan Jaringan Kota komunitas perempuan yang menjadi kelompok dampingan SPEK-HAM telah dilakukan 12 Juni 2015. Jaringan Kota ini konsern pada isu kesehatan masyarakat, terutama kesehatan reproduksi pada perempuan.

Pajang merupakan salah satu kelurahan yang menjadi bagian dari Jaringan Kota ini, yang saat sebelum pertemuan Jaringan Kota ini dilakukan sudah berproses dan belajar bersama SPEK-HAM mengenai kesehatan reproduksi dan banyak hal lainnya.

Sosialisasi dan Pelatihan Kader Kesehatan telah dilakukan guna membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi. Kesadaran yang sudah mulai tumbuh ditindaklanjuti dengan adanya pemeriksaan bersama di Kelurahan Pajang pada tanggal 26 Mei 2015.

Pemeriksaan kesehatan reproduksi berupa IVA tes, pemeriksaan IMS dan VCT. Dari 35 orang peserta pemeriksaan ditemukan kasus IMS positif sebanyak 60% dan IVA positif 6%. Adanya kasus ini tidak menyurutkan niat Ibu-ibu untuk mengikuti pemeriksaan karena merasa pentingnya untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksi lebih dini. Melihat jumlah peserta pemeriksaan yang melebihi kapasitas (terdaftar 45 peserta, yang terlayani 35 peserta) maka pemeriksaan akan dijadwalkan kembali untuk dilakukan di Kelurahan Pajang.

Peserta pemeriksaan mendapatkan konseling terlebih dahulu sebelum pada akhirnya dilakukan pemeriksaan oleh pihak Puskesmas. Salah satu tujuan konseling adalah untuk mengetahui perlu atau tidaknya peserta mendapatkan pemeriksaan. Ada 3 orang peserta yang tidak mendapatkan pemeriksaan dikarenakan 1 orang menopause dan 2 orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual. (Soepadmin/editor : Nuel Oei)